Hello Bella

Hello Bella
Episode 48 : Family Is Not An Important Thing, It's Everything (1)


__ADS_3

Rasa penasaran mengenai perkataan Bu Mar yang menyatakan kalau Bu Ratih telah mengenal keluarnya jauh sebelum pindah ke komplek ini, Bella kesampingkan dulu.


Nantilah akan Bella pikirkan lagi, sekarang ada hal penting yang akan dia lakukan yaitu makan malam bersama ayah dan bundanya.


Rasa bahagia tak terkira Bella rasakan saat ini. Bella merasa kalau ini akan menjadi langkah awal bagi keluarga untuk kembali bersama.


Sekarang bukan saatnya menyalahkan ayah atau bundanya, sekarang saatnya menata kembali hidup mereka sebagai keluarga.


Bunda Alya memang belum menyatakan kesediaannya untuk menerima Ayah Aiman dalam kehidupannya kembali secara utuh, namun Bella yakin, sangat yakin malah kalau sebenarnya Bunda Alya telah membuka hatinya kembali untuk ayahnya.


Tinggal menunggu waktunya saja keluarganya kembali bersama. Tidak sabar rasanya Bella menantikan saat ini tiba.


Jadi acara makan malam kali ini harus jadi momen untuk memulai kembalinya keluarga mereka.


Bella mulai mencari-cari informasi tentang restauran yang cocok untuk acara makan malam mereka.


Bella tidak ingin asal pilih restauran mengingat acara ini sangat penting baginya.


Mencari-cari restauran yang sesuai dengan harapannya namun lokasinya harus dekat dengan tempat tinggalnya di internet ternyata tidak mudah.


Setelah 30 menitan searching ternyata tidak membuahkan hasil, akhirnya Bella memutuskan untuk menghubungi Abiyan, mengingat dia seorang eksekutif muda yang terbiasa makan di restauran bersama rekan kerjanya pasti tahu restauran yang sesuai harapan Bella.


Kemudian Bella membuka aplikasi chatting di ponselnya dan segera mencari nama Abiyan.


Pesan yang Bella kirim langsung mendapat balasan dari Abiyan. Tentu saja hal ini membuat Bella senang karena biasanya pada jam seperti saat ini Abiyan agak sulit dihubungi.


Bella meminta rekomendasi restauran dari Abiyan dan Abiyan pun langsung menyarankan sebuah restauran yang katanya tempat yang istimewa buat dia.


Mengetahui kalau Abiyan memiliki tempat yang istimewa yang tidak Bella ketahui membuat pikiran Bella berkelana kemana-mana, ada satu dugaan di pikirannya kalau tempat itu adalah tempat favorit Abiyan dan mantannya yang entah yang mana.


Bella overthinking, ya. Terkadang dia seperti kaum wanita lainnya yang suka menyesatkan diri dalam prasangka kalau tiba-tiba mengetahui orang yang dia cintai memiliki tempat istimewa dimana tempat itu tidak memiliki kenangan dengannya.


Tanpa Bella duga, Abiyan meminta ikut serta dalam acara makan malam itu. Sekalian ingin mengakrabkan diri dengan calon mertua katanya.


Bella pun menyetujuinya. Abiyan berjanji akan datang menjemput Bella dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Selain penasaran tentang tempat istimewanya Abiyan, Bella juga merasa senang akhirnya bisa bertemu dengan Abiyan setelah beberapa hari tidak bertemu.


Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati atau sambil menyelam minum air, entahlah pokoknya hari ini Bella senang bisa berkumpul dengan orang tuanya dan bisa bertemu juga dengan Abiyan.


Saatnya bersiap-siap. Dilihatnya kamar sang bunda tertutup rapat. Pasti sedang siap-siap juga tuh, pikir Bella sambil tersenyum geli.


Bunda Alya yang tadinya berniat ke tokonya sebentar, membatalkan niatnya tersebut karena kedatangan Bu Mar tadi.


Lagipula di toko sedang tidak ada pesanan yang harus ditangani oleh Bunda Alya, jadi semua urusan toko hari ini Bunda Alya serahkan kepada Bu Indah dan para pegawainya yang lain.


Pukul 5 lebih Ayah Aiman datang bersama dengan Abiyan. Rupanya Abiyan menjemput Ayah Aiman di hotel tempatnya menginap.


Bella bersyukur melihat Ayah Aiman dan Abiyan bisa berbicara santai, tidak ada muka datar sang ayah ataupun muka tegang dari Abiyan lagi.


Saat ini kedua pria tersebut sedang asyik mengobrol sambil duduk-duduk di kursi rotan yang tersedia di teras rumah Bella.


Ditemani teh manis hangat dan berbagai kue kering dan keripik yang tersaji di atas meja, obrolan mereka semakin asyik.


Dari obrolan seputar masalah politik, ekonomi, sosial dan soal pekerjaan. Selalu ada saja bahan obrolan baru setiap mereka selesai dengan satu topik.


Bella kagum dengan pengetahuan yang Abiyan miliki, setiap ayahnya bring up satu topik pembicaraan, Abiyan selalu bisa mengikutinya.


Pinter benar Abang satu ini, jadi makin sayang deh, batin Bella.


Semoga saja kelak anak-anak mereka bisa mewarisi kepintaran Abiyan, harapan Bella dalam hatinya.


Tiba-tiba berpikir tentang mempunyai anak bersama Abiyan membuat Bella malu sendiri, jauh sekali angannya. Pipinya memerah.


"Bella, Kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Ayah Aiman membuyarkan lamunan Bella.


Abiyan sontak melihat kepada Bella, pandangan selidik menelusuri wajah Bella, memindai barangkali ada yang salah dengan Bella.


"Iya, Yah, kenapa?" Bella terkejut mendapatkan pertanyaan dari ayahnya.


"Kamu lagi sakit, demam tidak, kepalanya sakit?" tanya Ayah Aiman kembali sambil menyentuh kening Bella.

__ADS_1


Abiyan terus mengamati kedekatan Ayah Aiman dengan Bella. Dia bisa merasakan besarnya rasa sayang Ayah Aiman kepada Bella.


Kekhawatiran yang ditunjukkan Ayah Aiman sebagai salah satu buktinya.


Abiyan sangat kagum kepada Ayah Aiman dan Bunda Alya, walaupun mereka tidak bersama tapi Bella tidak pernah kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya.


Abiyan belum mengetahui secara jelas penyebab perpisahan orang tua Bella namun melihat hubungan yang harmonis dalam keluarga Bella, membuatnya penasaran apa yang menyebabkan perpisahan itu.


Tapi sudahlah, apapun itu, Abiyan yakin suatu saat Bella akan menceritakan semua itu kepadanya, saat Bella sudah siap.


Bagaimanapun saat ini Abiyan masih orang luar di keluarga Bella, ada hal yang boleh dia ketahui ada pula yang belum boleh dia ketahui.


"Bella tidak apa-apa Ayah," jawab Bella.


"Memangnya kenapa Yah?"


"Ini wajah Kamu kok merah begini," kata Ayah Aiman sambil menyentuh pipi anaknya.


"Bella tidak apa-apa Ayah."


Semoga ayahnya tidak tahu isi pikiran Bella tadi, bisa tambah malu Bella.


"Kalau Kamu tidak enak badan, Kita makan malam di rumah saja ya."


"Bella tidak apa-apa Ayah, ini biasa Ayah, mungkin bawaan cuaca ya, agak panas kan?" jawab Bella.


"Lagian Bang Ian kan sudah reservasi, tidak enak kalau Kita batalkan," kata Bella lagi sambil melirik ke arah Abiyan, berharap mendapat dukungan dari Abiyan.


"Tidak apa-apa kok kalau Kita batalkan, Kita bisa ke sana kapan-kapan," sahut Abiyan tidak sesuai harapan Bella.


"Sudah ah, pokoknya Bella tidak apa-apa dan Kita jadi makan malam di luar, oke Ayah."


"Ya Yah, ya please..." pinta Bella manja.


Abiyan tersenyum melihat tingkah Bella, jarang sekali dia bisa melihat sisi Bella yang manja. Mengemaskan, ingin rasanya dia bungkus dan bawa pulang.

__ADS_1


Cepatlah lulus Bella, biar Abang bisa segera melamarmu, harap Abiyan dalam hati.


__ADS_2