
Setelah selesai menunaikan shalat Isya berjamaah di mesjid, segera Ayah Aiman dan Abiyan kembali ke rumah Bella.
Mengingat jarak mesjid dan rumah Bella tidak terlalu jauh, mereka memilih berjalan kaki padahal Bunda Alya sudah menawarkan untuk menggunakan sepeda motor yang ada di sana.
Dalam benaknya Ayah Aiman merasa penasaran tentang hubungan Abiyan dengan Galih. Walau tidak terlalu akrab tapi terlihat kalau Abiyan menaruh hormat kepada Galih.
Untuk menuntaskan rasa penasarannya itu, Ayah Aiman kemudian menanyakan hubungan antara Abiyan dan Galih.
"Saya lihat Kamu kenal dekat dengan Pak Galih," ucap Ayah Aiman.
"Iya Pak, Om Galih adalah cucu dari sepupunya kakek Saya dari pihak Mamih," jelas Abiyan.
"Oh begitu, Pak Galih tinggal di komplek ini juga?"
"Iya Pak, Om Galih tinggal di blok D."
Ayah Aiman menghela napasnya pelan. Ada rasa khawatir dalam hatinya saat mengetahui jika Galih ternyata tinggal satu komplek dengan mantan istrinya.
Ayah Aiman percaya Galih tidak akan melakukan apapun untuk mengganggu Bella dan bundanya.
Dia yakin Galih adalah pria yang baik namun sayang dia didominasi oleh istrinya dan istrinya inilah yang dia khawatirkan akan mengusik hidup Bella dan bundanya.
Bukan...bukan istrinya Galih sebenarnya yang harus dia waspadai tapi adik istrinya Galih. Kalau sampai dia mengetahui keberadaan Bella dan bundanya, akankah mereka baik-baik saja.
Tapi semua sudah lama berlalu. Setelah sekian tahun orang pasti berubah bukan?
Ayah Aiman berharap semoga segala kekhawatiran yang tiba-tiba muncul ini hanya pemikiran berlebihan sesaat saja.
Di saat dia tengah mencoba merengkuh kembali keluarganya, dia berharap, sangat sangat berharap tidak ada aral melintang.
Bella dan bundanya Bella adalah keluarganya, hidupnya, segalanya bagi seorang Aiman Nabeel Akbar.
Tanpa mereka, hidupnya selama ini terasa hampa. Jika bukan karena iman dalam dirinya, entah apa jadinya dia.
"Bapak temannya Om Galih?" pertanyaan Abiyan ini membawa kembali kesadaran dari lamunannya.
"Hanya kenalan, Kami tidak begitu dekat."
"Oh begitu."
Setelah menjawab pertanyaan Abiyan tadi, Ayah Aiman terdiam. Abiyan yang merasakan perubahan mood ayahnya Bella itu, tidak mencoba mengajaknya berbicara lagi.
Dalam hatinya Abiyan penasaran, apakah perubahan mood tersebut karena pertemuan mereka dengan omnya tadi di mesjid.
Dengan ujung matanya Abiyan mencoba melihat keadaan Ayah Aiman. Dilihatnya Ayah Aiman menghela napas berkali-kali.
Sangat terlihat dengan jelas ada yang mengganggu pikirannya.
Semoga bukan omnya yang jadi penyebab kegusaran Ayah Aiman, jangan sampai restu ayahnya Bella itu terhalang oleh omnya, harap Abiyan dalam hati.
Tidak terasa mereka pun sampai di rumah Bella. Terlihat Bella dan bundanya telah siap untuk berangkat.
Abiyan tersenyum melihat Bella. Bellanya selalu tampil menarik walaupun dalam balutan outfit yang simple, tidak pernah berlebihan. Sehingga Abiyan dapat melihat aslinya penampakan seorang Arabella Dinara.
Tidak ada make up tebal yang menutupi wajah putih mulusnya. Hanya sapuan tipis bedak dan ulasan lipstick pink di bibirnya membuat Bella terlihat fresh.
__ADS_1
Bella yang bersahaja selalu terlihat cantik di penglihatan Abiyan.
Tidak seperti saat dalam perjalanan tadi, sesampainya di rumah Bella, mood Ayah Aiman berubah 180 derajat.
Ayah Aiman terlihat tenang, jejak kegusarannya tadi tidak nampak sedikitpun.
Tidak lama kemudian mereka pun berangkat menuju restoran yang direkomendasikan oleh Abiyan.
Selama dalam perjalanan, celotehan Bella mendominasi suasana. Ada saja yang dibicarakan gadis itu.
Abiyan yang duduk di belakang kemudi sering kali tersenyum geli melihat tingkah Bella.
Biasanya seorang gadis akan menjaga image-nya jika sedang bersama kekasihnya tapi tidak Bella.
Dia selalu bersikap apa adanya di depan orang-orang yang dekat dengan dirinya.
Ayah Aiman dan Bunda Alya terlihat sangat akrab, komunikasi di antara mereka lancar dan mengalir begitu saja.
Tidak nampak kalau mereka adalah mantan pasangan suami istri.
Kurang dari satu jam, mereka pun sampai ke tempat tujuan.
Saat melihat nama restoran itu, Bella terkejut dan langsung melihat ke arah Abiyan.
Abiyan hanya tersenyum. "Nanti Abang ceritakan."
Para pegawai restoran yang berpapasan dengan Abiyan selalu menyapanya dengan sopan dan hormat.
Hal ini membuat Bella penasaran karena sikap para pegawai restoran itu terlihat seperti sedang menyapa bosnya ketimbang menyapa tamu.
"Terima kasih ya Mas Danu, tidak usah diantar lanjutkan saja pekerjaannya," Abiyan terlihat akrab dengan pegawai bernama Danu itu.
Abiyan kemudian mengajak Bella dan orang tuanya ke lantai dua dimana di lantai ini terdapat beberapa private room.
Bella kagum dengan restoran yang berkonsep modern minimalis ini. Elemen kayu pada dinding dan furnitur memberikan nuansa yang menarik dan nyaman.
Mereka kemudian memasuki salah satu private room. Tidak lama kemudian pelayan datang dan mencatat pesanan mereka.
Sambil menunggu pesanan mereka siap, mereka pun berbincang kembali.
"Sepertinya restoran ini masih baru ya?" tanya Ayah Aiman.
"Iya Pak, belum setahun," jawab Abiyan.
"Kok Abang tahu?" tanya Bella.
"Abang kenal dengan pemilik restoran ini atau apa restoran ini milik keluarga Abang?"
"Kamu tadi lihat kan nama restoran ini?" Abiyan balik bertanya.
"D'Ara Eatery, terus kenapa?" Bella belum mengerti apa hubungannya nama restoran ini dengan pertanyaan yang dia ajukan tadi.
"D'Ara itu dari kata Dinara, namamu," jelas Abiyan yang sukses membuat Bella terkejut.
Berarti restoran ini milik Abiyan, pantas saja Abiyan bilang kalau restoran ini tempat yang istimewa baginya.
__ADS_1
"Kalau resto ini sudah hampir setahun berdiri berarti resto ini ada sebelum kita bertemu kembali Bang."
Abiyan tersenyum. "Sudah lama Abang berencana buat resto ini buat Kamu, sebelum kita terpisah dulu."
"Entah kenapa Abang selalu yakin kalau kita akan bertemu lagi, makanya setahun yang lalu dibantu Mamih dan sepupu Abang, resto ini dibangun."
"Sebelumnya pengelolaan resto dipegang sepenuhnya sama Mamih tapi sekarang Abang yang awasi, untuk penanggung jawab operasional resto ada orang kepercayaan Abang."
"Nanti Abang kenalin sama Kamu."
Bella tidak tahu harus berkata apa, ternyata Abiyan benar-benar tulus mencintainya bahkan saat mereka terpisah pun, Abiyan terus mengingatnya.
Melihat keseriusan Abiyan, Ayah Aiman dan Bunda Alya tentu senang. Mereka yakin kalau anaknya bersama orang yang tepat.
Mereka berbincang seputar restoran ini. Bunda Alya terlihat antusias mengingat usahanya juga bergerak di bidang makanan walaupun beda jenisnya.
Setelah pesanan mereka datang dan tersaji, mereka pun menyantap hidangan tersebut.
Selesai makan, Abiyan dan Bella pamit untuk melihat-lihat restoran ini. Abiyan juga ingin memperkenalkan para pegawai dan penanggung jawab restoran ini kepada Bella.
Tinggallah Ayah Aiman dan Bunda Alya di ruangan tersebut.
"Mas, sepertinya ada yang mengganggu pikiran Mas dari tadi," kata Bunda Alya.
Ayah Aiman terkejut mendengarnya. Sedari tadi dia sudah berusaha bersikap biasa saja tapi ternyata Bunda Alya bisa mengetahui kalau ada yang mengganggu pikirannya.
"Al, Kamu kenal dengan Galih, salah satu tetanggamu sekarang?" tanya Ayah Aiman.
Bunda Alya mencoba mengingat-ingat adakah tetangganya yang bernama Galih tapi sepertinya nama itu asing baginya.
"Aku lebih kenal dengan ibu-ibunya Mas, kalau dengan para suaminya hanya kenal beberapa," jawab Bunda Alya.
"Kalau Pak Galih sepertinya Aku baru dengar namanya, memangnya kenapa Mas?"
Ayah Aiman terdiam. Dia berpikir, haruskah dia ceritakan tentang siapa Galih sekarang, perlukah dia sampaikan kekhawatirannya pada mantan istrinya itu.
"Mas kenal dengan Pak Galih?" tanya Bunda Alya.
Ayah Aiman mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba Bunda Alya merasa ada sesuatu yang salah dengan hal ini.
"Ada apa dengan Pak Galih ini, sepertinya mengganggu pikiran Mas?" Bunda Alya menjadi penasaran.
"Galih ini omnya Abiyan, dia suami dari Ratih," jelas Ayah Aiman.
"Oh omnya Abiyan, terus kenapa jadi kepikiran gitu sama Mas?"
Ayah Aiman menghela napasnya pelan. Sepertinya lebih baik dia segera memberitahu bundanya Bella tentang hal yang baru diketahuinya ini.
Di saat hubungan mereka semakin membaik, dia tidak ingin ada hal yang menghambat jalannya untuk mempersatukan keluarganya kembali.
"Ratih...'"
"Kenapa dengan Bu Ratih?"
"Ratih itu..."
__ADS_1