
"Mas..."
Bunda Alya menjeda ucapannya, menarik napasnya pelan dan mengeluarkan perlahan juga, berharap rasa sesak di dadanya menghilang.
"Beberapa hari sebelum kita bertemu di rumah orang tua Ratna, Ratna datang ke rumah kita."
"Kenapa tidak pernah kasih tahu Mas kalau Ratna pernah menemui kamu?" tanya Ayah Aiman.
"Ada perlu apa dia menemui kamu?"
"Bicara apa saja dia?"
"Mas bisa dengarkan dulu enggak sih," sedikit emosi Bunda Alya berucap.
Sosok wanita yang selalu terlihat tenang dan sabar perlahan berubah.
"Ratna datang ke rumah kita bersama seorang anak perempuan, usianya lebih tua dari Bella."
"Lalu..."
Sembilan tahun yang lalu...
Beberapa jam setelah Aiman berangkat ke kantornya, Alya kedatangan tamu seorang wanita bersama seorang gadis kecil.
Alya mengenali wanita ini, Alya pernah melihatnya dari beberapa foto yang pernah dikirim oleh seseorang ke nomor ponselnya.
Foto-foto wanita ini bersama Aiman dalam berbagai kesempatan, seperti saat di sekolah, di sebuah restauran, di jalan bahkan foto di depan sebuah rumah.
Memang foto-foto itu tidak menunjukkan kemesraan di antara mereka sama sekali. Tapi sekali lihat orang akan menduga itu foto sepasang suami istri bersama dengan putrinya.
Aiman bukanlah laki-laki yang suka memamerkan kemesraan dengan pasangannya saat di depan umum.
"Saya rasa kamu sudah tahu siapa Saya."
"Ya, Saya tahu siapa Mbak."
"Mbak Ratna kan, teman suami Saya."
"Saya rasa kamu juga sebenarnya sudah tahu kalau hubungan Saya dan Mas Aiman lebih dari teman."
Alya sudah tahu itu tapi mendengar secara langsung kenyataan itu terasa lebih menyakitkan.
Sebelumnya Alya pernah menanyakan hal ini kepada Aiman dan Aiman selalu menjawab kalau Ratna hanyalah mantan kekasihnya dan sekarang mereka hanya berteman.
Tentu saja Alya tidak mempercayai Aiman. Terlebih setelah Alya menerima kiriman foto-foto itu.
Sejak Aiman sering berkirim pesan melalui suatu aplikasi chatting, Alya mulai curiga karena Aiman tidak pernah berlama-lama berbalas pesan dengan seseorang.
Saat Alya bertanya, Aiman hanya menjawab kalau itu teman lamanya tanpa menjelaskan temannya itu laki-laki atau perempuan.
__ADS_1
Kecurigaan Alya terbukti saat secara tidak sengaja Alya melihat pop up pesan di layar ponsel Aiman. Pesan dari seseorang bernama Ratna.
Karena penasaran, Alya membuka pesan tersebut.
Ratna :
Mas Ai, transferannya sudah Ratna terima, Mas memang yang terbaik, terima kasih banyak ya.
Terkejut dengan isi pesan itu, Alya mulai membaca percakapan di antara Aiman dan Ratna sebelumnya.
Isi percakapan mereka kebanyakan tentang keluh kesah Ratna tentang hidupnya, permintaan Ratna untuk bertemu dan terakhir Ratna yang meminta bantuan uang untuk membayar hutang ayahnya.
Alya sangat kecewa mengetahui kedekatan Aiman dengan Ratna. Dari percakapan itu Alya mengetahui kalau mereka dahulu adalah pasangan kekasih
Alya merasa kepercayaannya telah dikhianati oleh Aiman. Tidak seharusnya laki-laki beristri seperti Aiman berhubungan sedekat itu dengan wanita lain.
Dari percakapan mereka pula, Alya mengetahui kalau Ratna dan Aiman sering bertemu. Begitu pun tentang bantuan uang yang Aiman berikan untuk Ratna ternyata bukan sekali dua kali tapi beberapa kali.
Hasil temuan inilah yang menjadi pemicu pertengkaran hebat pertama Alya dan Aiman. Alya menuduh Aiman telah berselingkuh darinya sedangkan Aiman bersikukuh dia hanya berteman dengan Ratna dan sudah sewajarnya membantu teman.
Sejak pertengkaran itu hubungan Alya dan Aiman meregang dan sekarang si penyebab pertengkaran itu ada di depan matanya dan mengakui kalau hubungan dia dengan Aiman lebih dari teman.
"Kalau Mbak mau cari suami Saya, Mbak terlambat, suami Saya sudah pergi kerja dari tadi."
"Mbak bisa telpon Mas Aiman kalau tidak percaya, ada pulsa kan?"
"Saya datang ke sini sengaja ingin bertemu sama kamu."
Dahi Alya mengernyit, dia penasaran apa yang mau dibicarakan oleh tamunya ini.
"Silahkan tapi Saya tidak bisa berlama-lama menerima Mbak Ratna karena sebentar lagi Saya harus menjemput anak Saya," ucap Alya.
"Saya dan Mas Aiman sudah lama tidak bertemu."
"Kebetulan beberapa bulan yang lalu kami bertemu di acara reuni."
"Kami banyak mengobrol sampai akhirnya Mas Aiman meminta nomor kontak Saya."
"Sejak saat itu Mas Aiman mulai sering menelpon biasanya saat jam istirahat kerjanya."
"Suatu hari saat kami makan siang di dekat kantor Mas Aiman, Mas Aiman bertanya alasan Saya bercerai dengan suami Saya yang pertama."
"Saya kelepasan bicara penyebabnya adalah akibat perbuatan kami dulu."
"Mantan suami Saya tidak bisa menerima Saya yang sudah tidak utuh lagi."
Alya bingung mendengar kata-kata Ratna, maksudnya apa, tanya Alya dalam pikirnya.
Berbagai dugaan pun berkelebat dalam benaknya, mungkinkah...ah tidak suaminya bukan laki-laki seperti itu.
__ADS_1
"Mas Aiman adalah laki-laki pertama Saya."
Bagai dihantam gada besar, dada Alya terasa sakit. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, Alya tahu apa artinya itu.
"Saat itu kami masih muda dan sedang kasmaran sampai akhirnya lupa diri."
"Mas Aiman berjanji akan selalu setia dan pada saatnya nanti akan menikahi Saya."
"Kami mulai terbiasa melakukan hal itu toh kami sepasang kekasih yang saling mencintai jadi tidak ada salahnya saling menunjukkan cinta kami dengan hal itu."
Bodoh, bodoh, maki Alya dalam hatinya. Itu bukan cinta, itu nafsu. Mana ada cinta tapi saling merusak kehormatan.
"Rencananya kami akan menikah setelah Mas Aiman beberapa tahun bekerja tapi ternyata orang tua Mas Aiman menolak Saya."
"Di mata mereka Saya tidak pantas bersanding dengan anaknya hanya karena Saya dari keluarga miskin."
"Malah mereka menjodohkan Mas Aiman sama Kamu."
"Orang tua Mas Aiman memaksa Mas Aiman untuk menerima perjodohan kalian karena orang tuanya merasa berhutang budi kepada keluargamu."
"Mas Aiman akhirnya setuju karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya terlebih ibunya memiliki riwayat penyakit jantung, dia khawatir penolakannya akan berakibat fatal bagi kesehatan ibunya."
"Bisa Kamu bayangkan bagaimana sakitnya hati Saya saat itu, setelah semua yang kami lakukan akhirnya Saya ditinggalkan."
"Saya tahu Mas Aiman sangat mencintai Saya tapi dia tidak kuasa menentang orang tuanya."
Alya masih berusaha bersabar mendengarkan apapun yang dikatakan Ratna. Gejolak emosinya coba dia redam.
"Waktu mendengar alasan mantan suami Saya menceraikan Saya, Mas Aiman merasa bersalah, Mas Aiman memohon-mohon maaf."
"Saya rasa dulu dia tidak berpikir kalau masa depan saya akan hancur gara-gara dia, makanya dia lebih memilih menuruti kemauan orang tuanya."
"Sejak saat itu, Mas Aiman menjadi lebih perhatian kepada Saya dan anak-anak Saya."
"Mas Aiman banyak membantu Saya bahkan berjanji akan memberikan rumah untuk Saya dan akan berusaha memenuhi kebutuhan Saya dan anak-anak."
"Semua perhatian itu membuat Saya berpikir kalau Mas Aiman masih mencintai Saya makanya Saya tanya dia mau dimana hubungan kami sebenarnya."
"Saya ini janda, kedekatan kami menjadi bahan gunjingan orang, Saya butuh status."
"Dia menjawab kalau sebenarnya dari dulu sampai sekarang dia masih mencintai Saya tapi dia tidak bisa meninggalkan kamu dan anak kalian."
"Dia sangat mencintai anak kalian dan dia juga tidak ingin orang tuanya marah."
"Jadi sekarang maunya Mbak Ratna apa dari Saya?" tanya Alya.
"Kami saling mencintai dan ingin terus bersama, jadi Saya harap Kamu mau mengizinkan Mas Aiman untuk menikahi Saya."
"Saya tidak keberatan menjadi istri yang kedua."
__ADS_1
"Kami rasa dengan izinmu, keluarga Mas Aiman akan menerima Saya nantinya."