Hello Bella

Hello Bella
Episode 35 : There Are No Secrets That Time Does Not Reveal (6)


__ADS_3

Setelah mendengar penuturan ayahnya tentang penyebab perceraian ayah dan bundanya, ada rasa kecewa terhadap ayahnya tapi ada rasa lega juga.


Ternyata sang ayah masih sangat mencintai bundanya dan Bella yakin bundanya pun masih mencintai ayahnya.


Ada asa di hatinya akan kembali utuhnya keluarga mereka. Kembali bersama seperti saat dia masih kecil.


Dari semua penuturan ayahnya ada satu hal yang mengganjal di benak Bella.


Bunda Alya yang Bella tahu adalah wanita yang walau terkadang terlihat santai ada kalanya terlihat tegas.


Selain itu Bunda Alya juga wanita penyayang dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.


Rasanya aneh sekali jika setelah semua penjelasan ayahnya dulu Bunda Alya tetap bersikeras untuk bercerai.


Begitu besarkah rasa kecewa bundanya terhadap ayahnya sampai bundanya tidak mau memaafkan ayahnya.


Ingin sekali rasanya Bella segera bertemu dengan bundanya untuk menanyakan hal ini. Bella yakin, malah sangat yakin ada sesuatu yang bundanya rahasiakan.


Bundanya selalu mengajarkan kepadanya untuk selalu memaafkan semua kesalahan orang lain terhadapnya terlebih jika orang itu telah dengan tulus meminta maaf.


Setahu Bella, bundanya selalu berusaha memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan orang-orang terhadapnya.


Bundanya tidak mau mengungkit perlakuan buruk yang dilakukan orang lain terhadap keluarga mereka.


Saat orang itu meminta maaf, bundanya akan memaafkan. Namun jika orang itu tidak mau meminta maaf maka bundanya akan perlahan menjauh dari orang itu.


Dan di saat bundanya memiliki kesempatan atau kuasa untuk membalas perlakuan buruk orang lain, bundanya tidak mau melakukannya, bundanya selalu berkata biar Allah yang membalasnya.


Karena itu Bella berpikir pasti ada sesuatu di balik keteguhan hati bundanya dalam memilih perceraian sebagai jalan terakhir dari persoalan yang dihadapi ayah dan bundanya dulu.


Satu lagi yang selalu Bella ingat pesan bundanya, dalam memilih sesuatu lakukan dengan bijak karena apapun pilihan yang diambil itu akan mempengaruhi kehidupan di masa mendatang.


Jadi bundanya tidak akan mengambil keputusan secara sembarangan, pasti bundanya telah memikirkannya baik-baik.


Termasuk segala akibat dari keputusan yang diambilnya. Bagaimana dampak yang akan terjadi, entah itu baik atau buruk.


Ada apa sebenarnya ini?


Ada apa dengan bundanya?


Apa ada yang bundanya sembunyikan?


Mungkinkah ada hal lain yang tidak ayahnya sampaikan kepadanya?


Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar di kepalanya sehingga kepala Bella terasa berat.

__ADS_1


"Bella," suara berat bernada lembut memanggil nama Bella.


Si empunya nama tidak bereaksi sedikitpun.


"Bell," kembali suara itu memanggil Bella dengan nada lembut yang sama.


"Bella," tiga kali si penanya yang ternyata Abiyan memanggil Bella tapi sepertinya Bella terlalu larut dalam lamunannya sehingga panggilan Abiyan dihiraukannya.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Sebelum pukul empat sore, Abiyan sudah menjemput Bella di hotel tempat Ayah Aiman menginap.


Setelah bercakap-cakap sebentar Abiyan dan Bella pamit kepada Ayah Aiman.


Diusapnya pelan kepala Bella dengan tangan kanannya.


Bella tersentak kaget mendapat perlakuan seperti itu. Lamunannya buyar.


"Abang...kaget Aku," kata Bella.


"What's going on, sweetpie?" tanya Abiyan.


"Dari tadi kamu diam terus, asyik melamun sendiri, enggak ajak-ajak Abang," canda Abiyan.


"Ya kali kita melamun bersama, ntar kita berakhir bersama di UGD Bang," balas Bella sambil tersenyum.


"Nantilah kalau Abang tidak sedang menyetir, Aku ajak Abang melamun bersama."


"Abang ingin kita melamunkan masa depan kita, kehidupan kita nanti, anak-anak kita," kata Abiyan sambil sesaat melirik ke arah Bella kemudian fokus kembali ke arah jalanan di depannya.


Hanya dengan membayangkan saja kehidupan mereka kelak, membuat Abiyan tersenyum-senyum sendiri.


"Bang, punya mantan terindah enggak?" tanya Bella tiba-tiba.


Pertanyaan Bella yang tiba-tiba dan tidak berkaitan dengan obrolan mereka sebelumnya membuat heran.


Abiyan jadi teringat cerita teman-temannya tentang kebiasaan pacar mereka yang kadang suka bertanya-tanya tentang mantan pacarnya tapi setelah tahu malah marah-marah.


Sepertinya Abiyan harus memikirkan dahulu jawaban yang akan dia berikan kepada Bella dengan hati-hati jangan sampai salah menjawab.


"Pacar terindah maksudnya, kalau iya dia yang terindah tidak bakalan jadi mantan dong," jawab Abiyan.


"Abang pernah menyesal tidak putus dengan mantan Abang terus suka teringat kenangan bersama dia?" tanya Bella lagi.


"Menyesal...tidak pernah," jawab Abiyan.


"Teringat...pasti akan teringat karena dia pernah menjadi bagian dari hidup Abang."

__ADS_1


Bella memiringkan duduknya sehingga dia bisa melihat Abiyan. Hatinya kok mendadak tidak karuan. Rasa insecure merayap pelan di hatinya.


"Otak manusia itu ciptaan Allah yang sungguh luar biasa, dalam kondisi normal bisa menyimpan teramat sangat banyak kenangan," Abiyan kembali berbicara.


"Kadang tanpa kita ingat-ingat suka tiba-tiba teringat."


"Abang masih suka teringat sama mantan Abang?"


"Teringat...kadang, sengaja mengingat...tidak mau Abang lakukan."


"Untuk Abang apapun yang telah terlewatkan dalam hidup kita berarti memang bukan ditakdirkan untuk kita."


"Jadi untuk apa diingat-ingat, Abang lebih memilih fokus pada apa yang Abang miliki saat ini."


"Dan saat ini yang Abang miliki adalah kamu, jadi di hati dan pikiran Abang akan selalu ada kamu."


"Yah kalau tiba-tiba ingatan tentang mantan muncul, anggap saja ingatan itu numpang lewat saja bukan untuk menetap."


"Ada apa ini, kenapa tiba-tiba kamu bertanya soal mantan Abang?"


"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?"


"Tidak ada apa-apa Bang, hanya tiba-tiba saja teringat cerita teman yang suka teringat sama mantan pacarnya."


"Dia akhirnya memutuskan pacarnya karena tidak bisa melupakan mantannya itu."


Bella berbohong kepada Abiyan. Cerita sang ayah yang dipertemukan kembali dengan mantan kekasihnya yang akhirnya merusak hubungan kedua orang tuanya membuat Bella takut hal ini akan dialaminya juga.


Untuk saat ini Bella memilih tidak berbagi cerita dengan Abiyan mengenai masalah kedua orang tuanya.


Ini masalah pribadi keluarga mereka, Abiyan belum waktunya tahu. Mungkin suatu saat nanti Bella akan menceritakannya.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak ya, just focus on me, focus on us, jangan memikirkan orang atau sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kita, In Shaa Allah kita akan baik-baik saja."


Bella tersenyum dan mengangguk. Hatinya lebih tenang sekarang.


Obrolan mereka pun berlanjut selama dalam perjalanan pulang ini. Obrolan-obrolan ringan yang diselingi tawa mereka.


Apa yang selama ini Bella ingin tahu akhirnya dia mengetahuinya. Namun yang baru dia ketahui baru dari cerita versi ayahnya.


Untuk cerita versi bundanya, Bella berharap dapat segera mengetahuinya.


Semoga bundanya akan bersedia menceritakan apapun yang membuatnya membuat keputusan berat itu.


Bella bukan anak kecil lagi, apapun itu Bella rasa dia dapat menerimanya.

__ADS_1


Bella juga merasa berhak tahu apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya.


__ADS_2