
Abiyan menatap lembut Bella, sungguh dia tidak bermaksud meninggikan nada bicaranya.
Disentuhnya tangan Bella yang berada di atas meja, ditepuk-tepuknya pelan. Inginnya dia raih tangan lembut itu dan digenggamnya. Ingin sekali dia mengecup tangan itu.
"Maaf."
Bella mengalihkan pandangannya tepat ke arah gelas latte macchiato-nya, sepertinya saat ini gelas tersebut lebih menarik perhatiannya daripada wajah tampan Abiyan.
"Maafkan Abang ya, maaf Abang sudah bicara keras sama kamu, Abang tidak suka kamu bicara seperti itu."
"Abang dan keluarga Abang tidak pernah mempermasalahkan keadaan keluargamu."
"Mamih salut banget sama bunda, bisa membesarkan kamu seorang diri sambil bekerja."
"Bisa membuat kamu tumbuh jadi gadis yang baik dan dewasa."
"Kata Mamih pasti tidak mudah bagi bunda untuk melakukan semuanya sendiri tapi bunda berhasil melakukannya dengan baik."
"Kamu terlihat baik-baik saja dan usaha bunda semakin berkembang, itu pencapaian yang luar biasa Bella."
"Jadi hilangkan pikiran kalau keluarga Abang merasa kamu tidak pantas buat Abang, ya."
"Satu lagi nih, tidak ada yang namanya sempurna dalam hidup ini, baik keluarga Abang atau keluarga Tante Ratih, kesempurnaan itu hanya milik Allah."
Bella mengangkat wajahnya, manik coklat muda itu memandang Abiyan seolah mencari kebenaran dari semua perkataan yang didengarnya barusan.
"Opung Fatimah sangat menyukai kamu, Bella."
"Tadi waktu mendengar perkataan Tante Ratih sebenarnya opung marah sekali tapi opung berusaha menahan diri padahal biasanya opung tuh paling tidak bisa menahan ucapannya, suka bakal langsung opung bilang suka, kalau tidak suka juga begitu."
"Sewaktu Abang mau hampiri kamu, Opung Fatimah menahan Abang, opung ingin lihat bagaimana kamu menghadapi Tante Ratih."
"Sesuai dugaan opung, kamu bisa sabar."
"Itu menunjukkan kalau kamu itu gadis yang baik dengan pemikiran yang dewasa, bisa membawa diri pula."
"Sebelum bawa kamu ke rumah, Abang cerita tentang kamu sama opung, opung sempat bertanya apa Abang serius sama kamu, ya mengingat perbedaan usia diantara kita dan kamu yang memang masih muda banget."
"Opung sempat ragu apa kita ini bisa terus bersama, opung pikir kalau gadis seumur kamu pastinya kalau punya pasangan itu ingin selalu diperhatikan, selalu ditemani sementara Abang kan punya tanggung jawab yang cukup besar di perusahaan kami."
"Opung mikirnya bisa tidak Abang membagi waktu dan perhatian Abang antara pekerjaan, kamu dan keluarga."
"Terus untuk kamu, bisa tidak kamu menyesuaikan diri dengan kesibukan Abang."
"Abang tidak bisa selalu ada waktu buat kamu, Abang tidak bisa memprioritaskan hubungan kita."
__ADS_1
"Apa kamu bisa menerima itu, begitu menurut opung."
Panjang lebar Abiyan menceritakan apa yang dibicarakan opungnya dan dia.
"Selama ini Aku tidak pernah banyak menuntut ini itu sama Abang," kata Bella.
"Aku bisa mengerti dengan kesibukan Abang."
"Iya memang kadang Aku juga ingin seperti teman-temanku, Aku ingin bisa sering jalan bareng sama Abang atau sekedar makan bareng berdua."
"Tapi Aku sadar prioritas utama dalam hidup Abang sekarang adalah tanggung jawab Abang di perusahaan papih Abang."
"Lain cerita kalau kita sudah menikah tentunya Aku akan minta menjadi prioritas utama dalam hidup Abang."
Abiyan masih setia mendengarkan penuturan Bella. Ujung bibirnya sempat berkedut menahan senyum mendengar Bella mengucapkan kata menikah.
Abiyan berharap Bella segera menyelesaikan kuliahnya agar dia bisa segera membawanya menghadap ke penghulu.
Membayangkannya saja hati Abiyan sudah menghangat dan bibirnya pun tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum, ada yang lucu sama omongan Aku?" mata Bella menyipit penuh selidik ke arah Abiyan.
"Jangan berburuk sangka begitu, tidak baik, tadi mendengar kamu bicara soal menikah berasa senang hati Abang."
"Akhirnya pujaan hati Abang mengajak Abang menikah."
"Itu tadi kamu ngomong-ngomong soal menikah, mau dong dinikahi sama kamu" goda Abiyan.
"Ih Abang bukan begitu maksudnya, sudah ah susah bicara sama orang tua mah," balas Bella merasa sedikit malu. Hilang sudah mode marahnya.
"Sembarangan orang tua," tidak terima Abiyan disebut orang tua.
"Om-om atuh."
"Abang-abang Bella."
"Abang tukang bakso."
"Dasar bocah."
"Siapa yang bocah?"
"Kamu si bocah pencuri hati Abang."
"Ngomong apa sih Bang, gombal banget, malu ih sama umur."
__ADS_1
"Balik lagi nih soal Opung Fatimah, jadi waktu lihat kamu bisa menghadapi Tante Ratih akhirnya opung yakin kalau kita In Shaa Allah bisa terus bersama, kita bisa saling mengerti."
"Tadi keluarga Abang juga sudah menunjukkan rasa tidak suka kami atas sikap Tante Ratih."
"Kamu lihat sendiri kan cupcakes yang dibawa Tante Ratih tidak ada yang sentuh padahal Nadia juga Mamih suka banget sama cupcakes itu."
"Eh cupcakes-nya benar kan dari toko bunda?" tanya Abiyan.
"Entah Bang, tapi semalam bunda buat cupcakes yang sama persis dengan cupcakes yang dibawa Saras, kata bunda itu pesanan konsumen yang datang ke toko."
"Ya sudahlah, soal Tante Ratih jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati ya, kamu sabar saja, yang penting Abang juga keluarga Abang menerima kamu apa adanya dan Abang juga berharap kamu juga keluarga kamu bisa menerima kami apa adanya."
"Jadi Dek Bella, kita sudah mengantongi restu dari keluarga Abang, tinggal restu ayah sama bundamu nih."
"Kapan mau bawa Abang menghadap ke calon mertua?"
Bella hanya tersenyum malu.
"Are we good now?" tanya Abiyan dan dijawab Bella dengan anggukan kepala.
Saat Bella hendak memakan kembali caramel cake-nya ternyata piring kecil di hadapan sudah bersih, kapan Bella menghabiskannya, entahlah Bella sendiri bingung kenapa cake-nya tiba-tiba sudah habis.
"Abang, cake-nya Aku sudah habis," kata Bella.
"Aku masih lapar, potongannya cake-nya kecil banget, enggak nendang di perut Aku Bang."
"Tadi di rumah Abang Aku makannya sedikit habis kesal banget sama Abang."
"Ya sudah kita pesan makanan lagi ya, kamu mau makan apa, tapi di sini tidak ada menu makanan terserah Abang lho," canda Abiyan.
"Ih Abang asli nyebelin banget hari ini."
"Tapi sayang kan," kembali Abiyan menggoda Bella.
"Tidaaaak."
"Tidak sedikit ya sayangnya alias sayang banget."
"Manis banget kesayangan Abang nih, jadi makin cinta abangnya."
"Nyebelin banget ya Abang satu ini."
Bella masih belum juga terbiasa dengan Abiyan yang sekarang, yang sering membuatnya tersipu dengan gombalan receh yang sebelumnya belum pernah dia dengar keluar dari mulut seorang Abiyan
Bella kemudian memanggil salah satu waiter dan menyebutkan pesanannya yaitu seporsi spaghetti aglio e olio sementara Abiyan tidak memesan apapun lagi.
__ADS_1
Mereka melanjutkan obrolan mereka sambil menunggu pesanan Bella datang. Abiyan bercerita tentang keluarganya. Mulai dari para opungnya yang sekilas terlihat galak tapi aslinya baik dan perhatian, tentang mamih dan papihnya juga tentang keluarga dekat lainnya.