
Hari bahagia yang ditunggu akhirnya datang dan semua berjalan lancar.
Ayah Aiman yang sebelumnya terlihat gugup, setelah janji suci yang disaksikan oleh seluruh keluarga dan teman dekat akhirnya terucap dan disahkan oleh para saksi, sekarang tidak berhenti tersenyum.
Begitu pun Bunda Alya, aura bahagia begitu kentara terasa.
Tak henti-henti Bella bersyukur dalam hati melihat kedua orang tuanya bersatu kembali.
Allah telah memberikan kesempatan kedua kepada orang tuanya untuk kembali bersama melanjutkan asa akan diraihnya keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah.
Semoga pada kesempatan kali ini, keluarganya akan lebih kuat dalam menghadapi segala cobaan yang mungkin akan mendatangi mereka.
Hidup tidak selamanya mulus, ada kalanya jalan terjal dan berliku harus dihadapi.
Dan terkadang cinta saja tidak cukup untuk menjaga keutuhan suatu hubungan apalagi hubungan dalam suatu rumah tangga.
Komunikasi dua arah sangat dibutuhkan oleh sepasang suami istri agar mereka bisa lebih saling memahami keinginan satu sama lain, lebih bisa saling mempercayai.
Berbekal pengalaman di masa lalu, dimana kesalahpahaman dan fitnah menimpa keluarganya akibat kurangnya komunikasi dan kurangnya rasa percaya antara orang tuanya, Bella berharap di masa mendatang keluarganya akan lebih solid dalam menghadapi setiap masalah.
Acara pernikahan Ayah Aiman dan Bunda Alya diadakan di rumah orang tua Bunda Alya di salah satu kabupaten di Jawa Barat.
Acara yang sederhana yang hanya dihadiri oleh keluarga, teman dekat dan para tetangga saja.
Abiyan dan kedua orang tuanya pun turut hadir. Kesempatan bagi mereka untuk berkenalan dengan keluarga Bella.
"Are you happy?" kata Abiyan yang sedari tadi menemani Bella berkeliling menyapa keluarganya.
"Sangat...sangat...I'm on cloud nine, lebih dari itu malah," jawab Bella dengan senyum yang selalu setia dia tampakkan.
"Alhamdulillah, semoga ayah dan bunda selalu bahagia, they deserve it after all they've been through."
"Aamiin," ucap Abiyan sambil mengalihkan pandangan ke arah Bella.
Merasa dipandang oleh Abiyan, Bella pun yang sebelumnya sedang memperhatikan kedua orang tuanya yang sedang mengobrol dengan orang tua Abiyan di arah depan, mengalihkan pandangannya ke arah Abiyan.
__ADS_1
Bella mendongkak menatap Abiyan, efek tinggi badan mereka yang jomplang.
Bella tidak pendek tapi Abiyan yang terlalu tinggi buat Bella, begitulah menurut Bella.
"Kita kapan?" tanya Abiyan.
Bella yang mengerti arah pertanyaan Abiyan tersipu, semburat merah menghiasi pipi mulusnya.
"Kapan...kapan apanya Bang?" jawab Bella pura-pura tidak mengerti.
"Kapan kayak ayah dan bunda," jawab Abiyan sambil tersenyum.
"Rujuk gitu?" jawab Bella sengaja menggoda Abiyan.
"Kita kan belum pernah nikah Bang, masa ujug-ujug mau rujuk," lanjut Bella dengan wajah polosnya.
Abiyan yang merasa Bella malah bercanda, mengacak puncak kepala Bella.
"Kamu nyebelin," katanya sambil melangkah meninggalkan Bella.
Abiyan berjalan ke arah meja tempat minuman tersaji dan mengambil dua gelas minuman.
"Bang, kita duduk di taman belakang yuk, pegal banget kaki Bella, dari tadi keliling terus," ajak Bella sambil berjalan ke arah belakang rumah kakeknya.
Abiyan dengan setia mengikutinya. Sepertinya Bella ajak kemana pun Abiyan akan dengan senang hati mengikuti Bella.
Baru saja memasuki area taman belakang, tiba-tiba Bella menghentikan langkahnya.
Di depannya ada beberapa wanita paruh baya yang sedang berdiri sambil mengobrol dengan posisi menghadap ke arah taman.
Dari sedikit obrolan mereka yang sempat tertangkap pendengarannya, Bella mendengar nama ayah dan bundanya disebut.
Hal inilah yang membuatnya menghentikan langkahnya dan berniat mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Abiyan yang melihat hal ini, memberi isyarat kepada Bella untuk meninggalkan tempat itu namun Bella menolak dengan gelengan kepalanya dan tetap fokus kepada para ibu di depannya.
__ADS_1
"Ceuk urang mah nya, jang naon balik deui ka si Aiman, pan geus puguh tukang salingkuh," ucap ibu berbaju merah. (Kalau menurut aku tuh, buat apa kembali ke si Aiman, kan sudah jelas tukang selingkuh)
"Heuuh, si Alya kan masih ngora, panggala boga, banda aya, bisa meureun meunangkeun salaki anu leuwih ti si Aiman," ibu berbaju kuning turut berkomentar. (Iya, si Alya kan masih muda, pekerjaan punya, harta ada, bisa kali mendapatkan suami yang lebih dari si Aiman)
"Ih Ceu Ina, Ceu Lala, geus ah, ari geus ngomongkeun batur teh sok kamalinaan, geus takdir Gusti Allah, jodona Alya Jeung Aiman nyambung deui, urang doakeun Weh sing manjang jodona nepikan maut misahkeun," ibu berbaju biru mencoba menghentikan obrolan mereka. (Ih Mbak Ina, Mbak Lala, sudah ah, kalau sudah ngomongin orang tuh suka berlebihan, sudah takdir Allah, jodohnya Alya dan Aiman berlanjut lagi, kita doakan saja semoga langgeng sampai maut memisahkan)
"Lain kitu Nur, Ceuceu mah mang leubarkeun, naha si Alya make kawin deui ka si Aiman, lalaki mah lamun sakali geus salingkuh pasti salingkuh deui, percaya ka Ceuceu lah," kata Bu Ina, yakin sekali dengan pendapatnya. (Bukan begitu Nur, Mbak tuh menyayangkan, kenapa si Alya mau menikah lagi dengan si Aiman, laki-laki tuh kalau sekali sudah selingkuh pasti bakal selingkuh lagi, percaya sama Mbak)
Bella terus mendengarkan obrolan mereka, hatinya sudah panas, ingin rasanya memaki mereka.
Orang-orang yang sok tahu kehidupan orang lain padahal mereka tidak tahu apapun.
Abiyan mencoba menarik tangan Bella, mengajaknya pergi namun Bella bergeming.
"Enya Nur, jang naon coba balikan ka si Aiman, si Alya kan usahana alus, panghasilan gede, si Aiman mah kan ngan ukur pagawe kantoran, sabaraha sih gajihna," Bu Lala kembali bersuara. (Iya Nur, buat apa coba kembali ke si Aiman, si Alya kan usahanya bagus, penghasilannya besar, si Aiman kan cuma pegawai kantoran, berapa sih gajinya)
Saat melihat wajah Bella memerah menahan amarah, Abiyan mencoba menghentikan pembicaraan tersebut.
"Bella, kita duduk di sebelah sana ya," ucap Abiyan sengaja dengan suara keras.
Mendengar tiba-tiba ada suara, ketiga ibu itu berbalik ke arah belakang.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat Bella ada di sana. Raut panik terlihat jelas di wajah Bu Ina dan Bu Lala sementara Bu Nur tampak merasa tak enak hati.
"Lagi ngobrolin ayah sama bunda saya ya Bu?" tanya Bella dengan suara bergetar menahan amarah.
Bukan kali ini saja Bella mendengar orang membicarakan hal yang tidak-tidak soal kedua orang tuanya.
Bahkan di hari yang berbahagia ini masih juga ada yang sepertinya tidak rela melihat orang tuanya bahagia.
Kenapa selalu ada orang-orang seperti ini, orang-orang yang merasa lebih tahu tentang urusan orang lain, orang-orang yang merasa lebih tahu apa yang lebih baik untuk orang lain.
Kenapa...Bella tidak habis pikir dan saat ini Bella merasa cukup sudah dia menahan diri dari orang-orang seperti ini.
"Bu Ina, Bu Lala..."
__ADS_1