
Bu Mar masih belum bicara namun tangannya sesekali menepuk-nepuk pelan lututnya.
Untuk kesekian kalinya Bu Mar menghela napasnya kasar. Seakan apa yang ingin disampaikannya hal yang maha berat tapi tidak bisa diucapkan seolah tertahan di ujung lidahnya.
Bella yang mengetahui kedatangan Bu Mar, langsung ke dapur dan membuatkan secangkir teh manis.
Dibawanya nampan berisi cangkir teh tersebut ke ruang tamu dan disajikan ke hadapan Bu Mar.
"Silahkan diminum Bu," ucap Bella.
"Oh ya, terima kasih ya," sedikit kaget Bu Mar menjawab.
Saat dilihatnya Bella hendak kembali ke ruangan sebelah, Bu Mar segera memanggil Bella.
"Bella!"
"Ya Bu," segera Bella menjawab.
"Bisa Ibu bicara sama Kamu," pinta Bu Mar.
"Dengan Bu Alya juga," katanya lagi sambil melihat ke arah Bunda Alya.
Bella kemudian duduk di sebelah bundanya.
"Ada apa ya Bu?" berpura-pura tidak tahu Bella bertanya.
Dalam benaknya Bella sudah menduga maksud dan tujuan kedatang Bu Mar ke rumahnya.
Apalagi kalau bukan mengenai ancamannya yang akan melaporkan si penyebar foto ke pihak kepolisian.
Senyum miring samar terlihat di bibir Bella. Sudah kuduga, batin Bella.
"Itu soal lapor ke polisi itu Kamu serius?" tanya Bu Mar.
"Ya Bu, Saya serius akan melakukannya," Bella berbohong.
Ini termasuk white lie tidak ya, semoga saja, batin Bella kembali.
"Memangnya polisi akan menanggapi laporan seperti ini?"
"Ini kan hal sepele, bisa saja kan hanya keisengan saja."
"Kamu juga tidak dirugikan, hanya jadi bahan pembicaraan dan Kamu juga tadi sudah mengklarifikasinya, semua juga sudah minta maaf kan, jadi semua sudah selesai kan?"
"Saya jelas dirugikan dong," Bella menjawab.
"Secara imateril jelas-jelas Saya merasa dirugikan."
"Nama baik Saya tercemar."
"Saya bisa mengajukan delik aduan ke pihak kepolisian dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan"
"Saya rasa pihak kepolisian bisa menindaklanjuti laporan Saya."
"Dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana telah mengatur mengenai hukuman yang dapat dijatuhkan kepada pelaku perbuatan tidak menyenangkan."
"Untuk penyebaran gambar dalam hal ini foto di muka umum dengan tujuan untuk mempermalukan orang lain maka pelaku dapat diancam pidana dengan penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah."
__ADS_1
"Dan untuk penghinaan ringan yang Saya dapat akibat foto itu dimana setiap penghinaan di lakukan secara sengaja dan dilakukan di muka umum yang bersifat pencemaran terhadap nama baik Saya dapat dijatuhkan hukuman pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah."
Bu Mar terkejut mendengar penuturan Bella, begitu pun Bunda Alya.
Bunda Alya merasa heran dari mana Bella tahu semua ini mengingat Bella adalah mahasiswi jurusan teknik industri yang jauh dari mata kuliah hukum pidana.
Apa karena ayahnya seorang sarjana hukum, makanya anaknya familiar dengan hal seperti ini.
Entahlah, seperti Bunda Alya akan menanyakan hal ini nanti setelah Bu Mar pergi.
"Kalau Ibu tidak percaya silahkan Ibu periksa KUHP pasal 310 ayat 1 dan pasal 315," jelas Bella lagi.
Dalam setiap penuturannya Bella terlihat meyakinkan padahal sebenarnya dia tidak begitu memahami masalah hukum apalagi pasal-pasalnya.
Dia hanya pernah berdiskusi dengan ayahnya mengenai tindakan perbuatan tidak menyenangkan dan segala akibatnya saat mereka sedang bersama tiba-tiba ada berita di televisi yang menayangkan orang-orang yang saling lapor ke polisi karena merasa adanya pencemaran nama baik atas diri mereka.
Semoga saja kesukaan Bu Mar hanya mengulik kehidupan tetangga saja dan bukan mengulik masalah hukum.
Bisa-bisa mental gertakan Bella nantinya kalau ternyata Bu Mar mengerti mengenai hukum, dia bisa berkelit dan berdalih.
"Dan seingat Saya, Bu Mar yang tadi paling semangat menjelek-jelekan Saya."
"Itu...itu...Ibu tidak bermaksud begitu...itu...aduh..." terbata Bu Mar bicara.
Wajah Bu Mar terlihat pucat, kegelisahan semakin kentara.
"Bella, Ibu mohon jangan lapor polisi ya," pinta Bu Mar memelas.
"Ibu hanya asal bicara, Ibu terpengaruh kata orang, tolong maafkan Ibu ya."
'Terus untuk foto itu tolong jangan diusut ya."
"Kenapa Bu, memang Ibu tahu siapa yang memfoto Saya dan menyebarkannya?" tanya Bella.
"Foto itu...foto itu diambil oleh Dina, anak Ibu."
"Kebetulan hari itu Dina sedang mengantar berkas untuk atasannya yang sedang meeting di salah satu meeting room di hotel itu."
"Tolong jangan lapor polisi, nanti anak Ibu bisa dipecat, Ibu mohon ya Bella, tolong Ibu sekali ini saja."
Bu Mar menangkupkan kedua tangannya, matanya berkaca-kaca.
Dina, nama itu asing di pendengaran Bella. Bella sama sekali tidak mengenal Dina dan Bella juga merasa tidak pernah merasa ada masalah dengannya.
Jadi kenapa Dina anaknya Bu Mar ini melakukan perbuatan seperti ini.
"Apa Dina juga yang menyebarkan foto itu ke warga sini?" tanya Bella.
"Bukan...bukan Dina, dia hanya mengambil fotomu saja dan memperlihatkannya kepada Ibu," jawab Bu Mar.
"Kalau begitu apa Bu Mar yang menyebarkannya?" tanya Bella penuh selidik.
'Sumpah Bella, bukan...bukan Ibu, Ibu berani bersumpah demi apapun, bukan Ibu yang melakukannya."
"Kalau bukan Ibu dan Dina yang melakukannya, lalu siapa?"
Bu Mar terdiam, ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Bella.
__ADS_1
"Kenapa Ibu diam, siapa orang itu Bu?"
Sebenarnya Bella sudah bisa menebak siapa pelakunya tapi Bella ingin memastikan.
Ditunggunya Bu Mar menjawab pertanyaannya. Bu Mar terlihat bimbang antara ingin memberitahu atau merahasiakannya.
Jika dia jujur, kemungkinan dia bisa bebas dari ancaman pelaporan yang akan Bella lakukan tapi dia pun harus siap menghadapi akibat lainnya.
"Aduh Bella, bagaimana ya, bisakah Bella melupakan ini, Ibu janji ini tidak akan terulang lagi, Ibu akan jelaskan soal kesalahpahaman ini sama ibu-ibu di sini," Bu Mar mencoba bernegosiasi dengan Bella.
"Kalau Ibu tidak mau menjawab, Saya anggap Ibu atau Dina sebagai pelakunya," tegas Bella.
"Bukan, bukan Kami, Bu Ratih, Bu Ratih yang menyebarkan foto itu," dengan panik Bu Mar menjawab.
"Ya Tuhan," Bu Mar kaget dengan jawaban yang keluar begitu saja dari mulutnya.
"Jadi Bu Ratih yang menyebarkan foto itu?" tanya Bella.
"Iya...Bu Ratih pelakunya," pasrah Bu Mar mengiyakan.
"Bella tolong jangan sampai Bu Ratih tahu kalau Ibu yang bicara soal ini," mohon Bu Mar.
Sepertinya Bu Mar menyimpan rasa takut kepada Bu Ratih. Pertemanan macam apa yang didasari rasa takut, pikir Bella.
"Tolong maafkan Ibu dan Dina ya, Ibu mohon."
Tiba-tiba Bu Mar bangkit dari duduknya dan bersimpuh di hadapan Bella.
Tentu saja Bella dan Bunda Alya terkejut dengan tindakan Bu Mar ini.
"Bu Mar tolong jangan begini Bu, ayo bangun Bu," kata Bunda Alya.
"Bella," Bunda Alya melihat ke arah Bella, seakan memberi isyarat untuk menghentikan semua ini.
Bunda Alya merasa kasihan melihat Bu Mar yang terlihat menyesal dan ketakutan di saat bersamaan.
"Sudah Bu, sudah, Saya maafkan Ibu dan Dina," kata Bella sambil berusaha membantu Bu Mar untuk bangun.
"Saya juga tidak akan memperpanjang urusan ini."
"Be..benar...Kamu mau memaafkan Kami, Kamu tidak akan lapor polisi?" seakan masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya Bu Mar bertanya.
"Iya Bu, iya," jawab Bella.
"Saya harap Ibu berhenti menyebarkan gosip lagi tentang Saya atau bunda, kalau Ibu ingin tahu sesuatu tentang Kami atau ingin memastikan sesuatu yang berhubungan dengan Kami, Ibu bisa bertanya langsung."
"Iya Ibu mengerti, terima kasih...terima kasih banyak," sambil menangis Bu Mar terus berterima kasih.
Setelah keadaan tenang, selama beberapa saat mereka membicarakan beberapa hal.
Tidak lama kemudian Bu Mar sambil kembali meminta maaf dan berterima kasih.
Hening kembali keadaan rumah Bella, bundanya kembali ke kamarnya. Tinggal Bella sendiri di ruang tamu itu.
Ada satu hal yang mengganjal di benak Bella. Salah satu perkataan Bu Mar yang menyatakan kalau Bu Ratih mengenal keluarganya jauh sebelum mereka pindah ke komplek ini.
Kapan dan dimana keluarganya pernah bertemu dan mengenal Bu Ratih, Bella penasaran.
__ADS_1