
Mendengar kata penjara atau denda, Bu Mar terlihat panik.
"Bercanda Kamu, itu kan hal sepele, bisa saja itu kerjaan orang iseng," kata Bu Mar.
"Mungkin dia hanya bercanda, sekarang kan lagi musim apa itu...prank...iya itu nge-prank teman."
"Kalau itu sekedar candaan, menurut pendapat Saya itu sama sekali tidak lucu," balas Bella.
"Pertama dia sudah melanggar privasi Saya."
"Dia mengambil foto Saya tanpa izin."
"Kedua dia menyebarkan foto itu sehingga orang-orang yang menerimanya menganggap Saya perempuan tidak benar."
"Itu sama saja pencemaran nama baik, pembunuhan karakter Bu."
"Ibu tahu sendiri kan bagaimana orang dengan mudahnya menghakimi orang lain tanpa mencari kebenarannya dulu."
"Seperti yang barusan Saya alami, Saya dituduh macam-macam hanya karena sebuah foto."
"Si-siapa yang nuduh Kamu macam-macam, tidak ada tuh!" Bu Mar berusaha membela diri.
"Bu, Saya sudah dari tadi ada di sini, mendengarkan pembicaraan ibu-ibu tentang saya," sedikit berbohong Bella pikir tidak apa-apa kali.
"A-apa kamu bilang..," Bu Mar tergagap.
"Apa yang tadi dibicarakan ibu-ibu di sini sudah Saya rekam," kata Bella.
Kembali Bella berbohong, bukan dia yang merekam tapi Anggi. Tadi sebelum sampai ke warung Bu Hana, Bella meminta Anggi merekam pembicaraan mereka dan mengirim hasil rekaman itu ke ponsel Bella.
Jadilah Anggi berdiri di antara ibu-ibu itu dengan hati yang kesal karena mereka terus-terusan menjelek-jelekan Bella yang sudah dia anggap teteh ketemu gede-nya.
Tapi demi misi dari sang teteh, dia coba bertahan dan terus merekam.
"Ka-kamu rekam, buat apa, buat apa itu?" Bu Mar semakin panik.
Ibu-ibu yang lain pun terlihat gelisah, seperti maling yang tertangkap basah.
"Untuk bukti Bu, kalau penyebaran foto itu memang memberi dampak negatif buat citra diri Saya," terang Bella.
"Jadi nanti waktu Saya buat laporan Saya tidak khawatir dibilang overthinking."
"Kamu serius mau lapor ke polisi," tanya seorang ibu.
"Saya rasa itu perlu Saya lakukan Bu, Saya sudah capek dijadikan bahan gosip terus," jawab Bella.
"Foto itu seakan menjadi pembenaran atas gosip yang selama ini beredar."
"Selama ini Saya diam saja, berharap kalau gosip itu akan hilang sendirinya."
"Tapi nyatanya malah semakin menjadi, lama-lama mental Saya bisa kena Bu."
"Sekalian buat efek jera Bu, jadi kedepannya orang akan berpikir dua kali sebelum menyebarluaskan foto atau apapun itu yang bisa menimbulkan fitnah."
Setelah mengatakan itu Bella berjalan mendekat ke arah etalase warung.
"Bu Hana mie instant rasa ayam bawang ya dua bungkus sama b*ncabe level 50," kata Bella kepada Bu Hana.
Bu Hana segera mengambil pesanan Bella, membungkusnya dengan kresek dan menyerahkannya kepada Bella.
"Ada yang lainnya bel," tanya Bu Hana kemudian.
"Itu saja Bu, jadi berapa?"
"Rp. 9.000."
Bella mengambil uang dari saku celana jeans yang dikenakannya, beruntung dia ternyata ada selembar uang sepuluh ribu di sakunya itu.
__ADS_1
Karena terburu-buru Bella lupa membawa dompetnya dan dia pun sebenarnya ke warung Bu Hana tidak ada niatan untuk membeli apapun.
Berhubung untuk memberi kesan kalau dia tidak sengaja menangkap basah para penggosip sedang bergosip tentang dia maka membeli mie dijadikan sebagai alibi kedatangan ke warung itu.
Bella menyerahkan uang tersebut dan Bu Hana segera memberi kembaliannya sambil mengucapkan terima kasih.
"Mari ibu-ibu, Saya duluan," pamit Bella.
"Eh Bella..," Bu Mar memanggil Bella.
"Ya Bu," jawab Bella sambil melihat ke arah Bu Mar.
Terlihat kegelisahan di wajah Bu Mar, keringat membasahi pelipisnya.
"Oh tidak, tidak jadi," kata Bu Mar.
"Ya sudah kalau begitu, permisi ya ibu-ibu," Bella kembali pamit.
"Bagaimana ini."
"Kita kan hanya ngomongin dia, tidak ada niatan apa gitu."
"Iya, ini siapa sih yang kirim-kirim foto segala, kan kita jadi terbawa-bawa."
"Dia mau laporin yang kirim foto saja kan?"
"Aduh tidak tahu Saya Bu."
"Kok jadi ribet begini sih urusannya."
Demikian kasak-kusuk yang terdengar di pendengaran Bella yang sengaja berjalan agak pelan meninggalkan warung.
Panik kan, panik, maman tuh, batin Bella puas bisa mengerjai ibu-ibu itu.
Tidak lama setelah Bella pergi, Anggi pun pamit kepada semua yang masih bertahan di sana dengan kegalauan yang tiba-tiba mengacau hati mereka.
"Teh...Teteh, tunggu," seru Anggi sambil berlari.
Bella berhenti menunggu Anggi menghampirinya.
"Keren euy Teteh bisa bungkam ibu-ibu itu," kata Anggi begitu sampai di hadapan Bella.
"Anggi tuh sudah kesal banget dari tadi mendengar mereka terus menjelek-jelekkan Teteh."
"Aslinya Teh, kesel banget."
Bella tersenyum, Anggi ini seperti biasa kalau sudah bicara susah berhenti.
"Eh Teteh serius mau lapor ke polisi?"
"Tidak lah," jawab Bella.
"Lha tadi katanya mau laporin yang kirim tuh foto ke polisi," kata Anggi tidak mengerti.
"Buat gertak saja, biar tidak sembarangan lagi mereka," jawab Bella.
"Kepolisian kita sedang banyak menangani kasus penting, ya kali Teteh mau tambahin sama masalah ini."
"Emang Teteh tidak penasaran siapa yang foto dan sebarkan foto Teteh?"
"Ya penasaran sih tapi sepertinya orangnya bakal ngaku sendiri deh," Bella yakin sekali gertakannya akan memancing si pelaku untuk muncul di hadapannya nanti.
"Menurut Teteh siapa tuh?"
"Ada sih yang Teteh curigai."
"Siapa Teh, siapa?"
__ADS_1
"Nanti saja ya, ini masih dugaan, bisa saja Teteh salah."
"Ih Teteh mah, Anggi kan penasaran."
"Sabar ya, nanti kalau dugaan Teteh terbukti, Teteh kasih tahu kamu deh."
"Janji ya Teh."
Tiba-tiba terdengar bunyi ringtone dari arah Anggi. Anggi mengambil ponsel dari saku celananya.
"Assalamu'alaikum, ya Ma."
"….....…..........................."
"Eh...Iya Mah, ini lagi di warung."
"…..................................."
"Iya ingat Mamah."
"Minyak goreng 2 liter, telur 1 kilogram, gula pasir 1 kilogram."
"Ingat dong Mah belanjaan segitu saja masa Anggi lupa."
"…..................................."
"Di warungnya antri Mamah, Anggi tidak mampir kemana-mana."
"…..................................."
"Iya Mamah, nanti langsung pulang."
"…..................................."
"Ya Allah, iya Mamah, langsung pulang nanti."
"Sudah ya Mah, sebentar lagi giliran Anggi."
"Dadah Mamah."
Anggi menutup panggilan telpon itu dan menyimpan kembali ponselnya ke saku celananya.
"Huft...hampir saja," kata Anggi.
"Kebiasaan ya Kamu bohong sama mamah Kamu," tegur Bella sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Nah sekarang belanjaan pesanan mamahmu mana?" tanya Bella, dilihatnya Anggi tidak membawa apapun.
"Itu dia Teh, Anggi lupa tadi gara-gara nyimak ibu-ibu gosipin Teteh," kata Anggi.
"Kamu tuh, ya sudah cepat balik lagi sana ke warung Bu Hana, mamahmu pasti lagi nungguin pesanannya."
"Iya Teh, Anggi ke warung dulu ya, ingat janjinya ya, kasih tahu Anggi ya," pesan Anggi sebelum pergi.
"Iya, ya," balas Bella.
"Dadah Teteh...eh Assalamu'alaikum," salam Anggi sambil nyengir.
"Wa'alaikumussalam."
Anggi pun kembali ke warung Bu Hana untuk membeli pesanan mamahnya.
Beruntung tadi Anggi memberitahu Bella soal ibu-ibu yang menjelek-jelekkan Bella terkait foto yang beredar di antara warga komplek.
Jadi Bella bisa menangkap basah para penggosip itu dan melancarkan aksi gertakannya.
Sekarang Bella tinggal menunggu si pelaku utama atau minimal kaki tangannya muncul di hadapannya.
__ADS_1