Hello Bella

Hello Bella
Episode 36 : Three Things Can't Be Long Hidden:The Sun, The Moon & The Truth (1)


__ADS_3

Sesampainya di rumah Bella, Abiyan langsung pamit kepada Bella dan bundanya untuk segera pergi karena masih ada pekerjaan yang harus dilakukannya.


Beruntung saat itu Bunda Alya sedang duduk-duduk di teras rumah bersama Bu Indah, jadi Abiyan bisa segera pamit.


"Abang hati-hati di jalan ya," kata Bella.


"Jangan ngebut, tahu ada kerjaan ya enggak usah jemput segala."


"Jam segini kok masih saja ada kerjaan, itu badan bukan mesin, perlu istirahat yang cukup."


Bella masih saja mengomel saat mengantar Abiyan keluar. Yang diomelin hanya diam sambil menahan senyum.


Saat mengomel seperti ini Bella terlihat mengemaskan di mata Abiyan. Menunjukkan perhatian tapi dengan mode jutek.


"Calon istri Abang perhatian banget ya," kata Abiyan sambil mengacak puncak kepala Bella.


"Senang banget kayaknya kalau setiap mau pergi kerja ada yang mengantar dan setiap pulang ada yang menyambut."


"I can't wait for the day I get to call you mine."


"Bagaimana kalau kita percepat rencana pernikahan kita?"


"Mau ya, nikah sama Abang secepatnya?"


"Romantis banget ya Bang Ian ini," sindir Bella.


"Melamar Aku di pinggir jalan tanpa cincin tanpa kata-kata mengharukan...ck...ck...ck."


"Sudah lupa sama omongannya sendiri tadi di depan ayah."


"Ehmm...," Bella coba mengatur suara.


"Saya akan menunggu sampai Bella siap untuk menikah," kata Bella menirukan suara Abiyan.


Abiyan terkekeh melihat aksi Bella ini.


"When you realize you want to spend the rest of your life with somebody, you want the rest of your life to start as soon as possible," kata Abiyan sambil menatap Bella.


Kata-kata itu sukses membuat hati Bella jumpalitan. Ya Allah, tenangkan hati Bella jangan norak begini, batinnya.


"Manis benar mulut Abang satu ini, sering kumur-kumur pakai air gula ya," canda Bella mencoba menutupi kebaperannya.


"Sudah sana, katanya masih ada pekerjaan, hati-hati yang Bang."


"Okay...okay... I am off, can't wait to see you again, bye calon istri," kata Abiyan.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Setelah Abiyan berlalu bersama mobil kesayangannya, Bella pun memasuki rumahnya.

__ADS_1


Dilihatnya Bunda Alya dan Bu Indah sedang berbincang di ruang keluarga, sementara anak Bu Indah sedang duduk di karpet sambil memainkan salah satu boneka milik Bella.


"Lama banget pamitannya, kayak mau melepas suami pergi merantau saja," Bunda Alya menggoda Bella sementara Bu Indah tertawa kecil mendengarnya.


"Ih Bunda..."


"Dasar bucin," ejek Bunda Alya.


"Biarin daripada jomblo," balas Bella.


"Iya lah, iya lah yang sudah punya calon, tapi ingat baru calon ya," tak mau kalah Bunda Alya menjawab.


"Calon potensial Bun," balas Bella lagi.


"Sudah ganteng, baik hati, tidak sombong lagi, material husband dong."


"Puji terus, ntar kalau lagi marahan lain cerita tuh," kata Bunda Alya.


"Ada yang ngiri terus tuh, nganan dong mana tahu ada yang nyangkut...ha ha ha," ejek Bella.


Bu Indah yang sedari tadi mengamati keakraban Bella dan bundanya hanya tersenyum.


"Kalau anak sudah besar enak ya Bu," kata Bu Indah.


"Jadinya kayak teman, seru."


"Ya Bu, jadi punya teman ngobrol, teman curhat juga," kata Bunda Alya.


Bagi Bunda Alya, Bella ini ya anak ya teman juga. Banyak hal yang biasa mereka bicarakan.


Seperti kalau ada laki-laki yang sedang melakukan pendekatan kepadanya, Bunda Alya pasti akan berbagi cerita dengan Bella. Begitu pun, masalah teman dan sebagainya pasti dia ceritakan kepada bundanya.


Kecuali dulu saat Bella merasa patah hati karena Abiyan, Bella menutup masalah hatinya itu rapat-rapat. Bella tidak ingin membuat bundanya ikut memikirkannya, biarlah dia galau sendiri.


Bunda Alya pun sama, ada juga yang dirahasiakannya dari Bella. Bunda Alya tidak mau menceritakan alasan yang sebenarnya kenapa dia dan ayahnya Bella bercerai.


Setiap Bella bertanya, kadang dia segera alihkan pembicaraan, kalau tidak dia hanya menjawab sudah tidak ada kecocokan lagi.


Bunda Alya tahu Bella sangat penasaran dengan apa yang dia rahasiakan tapi demi kebaikan Bella, Bunda Alya memilih bungkam.


Aiman Nabeel Nasution, pria yang menjadi suami selama sebelas tahun, akhirnya harus ikhlas dia lepaskan.


Bukan karena sudah tidak mencintainya lagi tadi karena ada alasan lain yang tidak mungkin dia ceritakan kepada anaknya, Bella.


Bagi seorang anak perempuan, ayah adalah cinta pertamanya dan kelak ayahnya akan menjadi standar dalam menilai seorang pria yang dekat dengannya.


Bunda Alya ingin seorang Aiman tetaplah sosok pria panutan untuk Bella. Bunda Alya ingin ayahnya Bella tetap menjadi pria terbaik dalam hidup Bella.


Karena perceraian dia dan ayahnya Bella, tentu menampilkan sosok ayah terbaik bagi Bella sedikit sulit karena semakin Bella tumbuh dewasa semakin kritis dia menyikapi segala hal di sekitanya, termasuk alasan perceraiannya yang dengan susah payah dia rahasiakan.


Seiring waktu menyimpan rahasia ini ternyata semakin sulit. Bella yang semakin penasaran kerap sekali beratnya.

__ADS_1


Bunda Alya yakin suatu hari Bella akan menanyakan hal ini kepada ayahnya. Oleh sebab itu Bunda Alya meminta mantan suaminya itu untuk tetap merahasiakannya.


Ada yang mengatakan waktu akan mengungkap segala rahasia yang tersimpan dan saat itu kebenaran akan terkuak.


Bunda Alya berharap jika seandainya apa yang selama ini dia rahasiakan terungkap, Bella tetap menghormati dan mencintai ayahnya.


"Bu Alya, sepertinya suami saya sudah di depan, saya pamit ya," kata Bu Indah.


Bunda Alya yang sempat larut dalam lamunan seketika tersadar. Dilihatnya Bella sedang asyik mengajak Naila, anak Bu Indah yang masih balita itu bermain.


Bu Indah sendiri tengah membereskan barang bawaannya.


"Oh ya Bu Indah, besok kita coba resep barunya ya," kata Bunda Alya.


"Siap Bu," jawab Bu Indah sambil kemudian menggendong Naila.


"Ayo Nai sayang salam sama Kakak Bella dan Tante Alya," kata Bu Indah kepada Naila.


Balita cantik itu mencium tangan Bella dan Bunda Alya.


Kemudian Bunda Alya menemani Bu Indah ke depan rumah. Di sana suami Bu Indah sudah menunggu.


"Assalamu'alaikum," kata salam terucap dari bibir Pak Harry, suami Bu Indah.


"Wa'alaikumussalam," jawab Bunda Alya dan Bu Indah.


Bu Indah menghampiri suaminya dan mencium tangannya. Naila yang ada di gendongan Bu Indah meminta gendong kepada ayahnya.


Pak Harry tersenyum dan mengambil alih Naila dari gendongan ibunya. Diciumnya kening Naila.


"Bu Alya, pengiriman barang hari ini sudah selesai, Alhamdulillah semua lancar," lapor Pak Harry kepada Bunda Alya.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Pak, ya sudah sekarang pulanglah, istirahat, besok pagi siap antar pesanan tart untuk pesta pernikahan di Puri Cirame ya Pak," kata Bunda Alya.


"Siap Bu, kami pamit ya Bu," kata Pak Harry.


Setelah mengucap salam, keluarga kecil itu berlalu dari hadapan Bunda Alya.


Pak Harry, suami Bu Indah sejak awal bulan ini resmi menjadi bagian delivery di toko Bunda Alya.


Saat tahu Bunda Alya membutuhkan driver untuk tokonya, Bu Indah memberanikan diri mengajukan suaminya untuk posisi itu.


Hubungan Bu Indah dan suami saat ini semakin membaik. Pekerjaan di toko Bunda Alya tentu jauh dibandingkan dengan pekerjaannya yang dulu.


Namun demi keluarganya, Pak Harry membuang jauh-jauh egonya. Sambil menunggu kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan skill-nya, pekerjaan di toko Bunda Alya sangat disyukurinya.


Bunda Alya masuk kembali ke dalam rumah. Di ruang keluarga dilihatnya Bella sedang duduk diam tanpa melakukan apapun.


"Bun...kita ngobrol dulu yuk," pinta Bella.


Bunda Alya mengernyitkan dahinya, tumben anaknya mengajak ngobrol pakai pembukaan segala biasanya langsung nyerocos saja.

__ADS_1


Tiba-tiba Bunda Alya merasa apa yang ingin dibicarakan Bella bukanlah hal biasa, terlebih dia baru bertemu dengan ayahnya.


Mungkinkah... sepertinya Bunda Alya bisa menebak apa yang ingin dibicarakan Bella.


__ADS_2