
Bella sudah terbiasa melihat Abiyan dalam berbagai mode. Tiga tahun yang lalu, Abiyan selalu terlihat dalam mode serius dan perhatian saat bersamanya, mengingat dulu Abiyan ini cenderung pendiam dan terkesan dingin.
Setelah bertemu kembali, Bella mulai sering melihat Abiyan dalam mode lain, mode usil, romantis, cerewet dan lain-lain.
Tapi saat ini, Abiyan dalam mode serius yang berbeda dari biasanya membuat Bella merasa aneh.
Duduk berhadapan dengan Abiyan dan Adzriel di kedai bakso Mas Anto, Bella dapat dengan jelas melihat ekspresi Abiyan.
Beberapa menit yang lalu, saat Bella dan Adzriel hendak keluar komplek menuju ke kedai bakso Mas Anto yang tepat berada di seberang komplek, mereka dikejutkan dengan kehadiran Abiyan.
Beberapa menit sebelumnya...
"Hemmm..."
Bella dan Adzriel yang sedang asyik ngobrol sambil berjalan serentak melihat ke arah sumber deheman tersebut yang ternyata adalah Abiyan.
Masih dengan setelan kerja, Abiyan berdiri di hadapan mereka sambil menatap tajam ke arah Adzriel. Seolah mata Abiyan mengirimkan sinyal peringatan kepada Adzriel agar menjauh dari Bella.
"Eh Bang Ian, baru pulang kerja ya, tumben bisa pulang jam segini?" tanya Bella.
Setahu Bella, Abiyan termasuk orang yang disiplin, termasuk dalam jam kerja. Paling lambat 15 menit sebelum waktunya kerja, Abiyan sudah standby di ruangannya dan baru keluar kantor lebih dari jam pulang.
Jadi melihat Abiyan pada jam seperti ini Bella merasa heran.
"Kenapa? kaget?" jawab Abiyan.
"Tumben saja bisa ketemu Abang jam segini," jawab Bella.
"Berdua saja, mau kemana?" selidik Abiyan.
Mau tahu saja om, kok bisa sih tiba-tiba muncul, merusak momen Aku sama Teh Bella saja, gerutu Adzriel dalam hati.
"Berempat Om," jawab Adzriel asal.
"Om...?" Abiyan mengangkat sebelah alisnya. "Aku belum setua itu."
"Dua orang lagi mana?"
"Itu!" tunjuk Adzriel pada bayangan dia dan Bella.
"Yang sopan ya bocah!' tegur Abiyan.
"Ya kan Om lihat sendiri kami cuma berdua masih nanya lagi," jawab Adzriel santai.
"Dan Om memang sudah tua, umur Om kan jauh di atas Aku, wajar kalau Aku panggil Om, apa Aku panggil bapak saja."
__ADS_1
Abiyan menarik napas dan mengeluarkannya pelan, Abiyan rasa bocah di depannya ini sedang menguji kesabarannya.
"Sudah...sudah... kami mau ke kedai bakso di depan Bang, Abang mau ya makan bakso bareng," pinta Bella setelah melerai debat tidak penting Abiyan dan Adzriel.
"Boleh, kebetulan Abang lagi pengen makan bakso," kata Abiyan.
Jadi di sinilah mereka sekarang, menunggu pesanan bakso dan mie ayam yang sedang diracik Mas Anto.
Baik Abiyan maupun Adzriel enggan untuk saling bicara, mereka bicara jika menanggapi pembicaraan Bella.
Jelas ini membingungkan buat bella, dimana Abiyan yang banyak bicara, dimana Adzriel yang ramah dan banyak bertanya.
Akhirnya yang ditunggu datang. Pegawai Mas Anto membawa pesanan mereka dan segera menyajikannya di meja.
Bella sudah tidak sabar ingin menyantap mie ayamnya, dia sangat lapar. Ternyata menghadapi Bu Ratih dan kawan-kawan sungguh menguras emosinya sehingga dia merasa kelaparan. Memang ada hubungannya? Entahlah hanya Bella yang rasa.
Saat hendak menuangkan sambal untuk kedua kalinya, Abiyan mencegahnya.
"Bel, that's enough, enggak bagus buat pencernaanmu," kata Abiyan.
"Dua sendok saja Bang, enggak apa-apa biasanya juga," protes Bella.
"Enough is enough," tegas Abiyan.
"Memang kalau untuk orang seumuran Om makan sambal segitu kurang bagus untuk pencernaan," kata Adzriel sambil menyendok sambal lagi dan lagi.
"Beda sama anak muda seperti Teh Bella dan Aku, sambal segini mah cetek Om."
Bella merasa Adzriel ini hawa-hawanya cari ribut sama Abiyan. Sementara Abiyan mulai gerah menghadapi mulut Adzriel.
Woi umurku belum juga 30 masa mau disamain sama bapakmu, dasar bocah, gerutu Abiyan dalam hati tentunya.
"Kamu tidak tahu kan kalau Bella punya maag?" kata Abiyan sambil menyendok sambal dan memasukkan ke mangkuk baksonya lagi dan lagi.
Bella melihat mangkuk Abiyan dan Adzriel yang merah tertutup sambal. Ini serius mereka mau makan sambal pakai bakso, pikir Bella.
Abiyan dan Adzriel terlihat kepedesan tapi mereka tetap melanjutkan memakan mie ayam dan baksonya. Laki-laki dan egonya, gerutu hati Bella.
"Bang, kok tumben jam segini sudah keluar kantor?" tanya Bella mencoba mengalihkan pembicaraan Abiyan dan Adzriel yang mulai meruncing.
"Bukannya Om itu manajer apa gitu, kok bebas banget keluar kantor," Adzriel mulai berceloteh lagi.
"Kata bapakku jabatan itu amanah lho Om, jadi harus dijaga baik-baik, jangan seenaknya."
"Aku tahu Om punya banyak bawahan yang ditugaskan untuk membantu semua pekerjaan Om tapi kalau semua mereka yang kerjakan Om makan gaji buta dong."
__ADS_1
Abiyan tanpa sadar mendengus, Adzriel benar-benar menguji kesabarannya. Adzriel ini sedikit banyak tahu tentang pekerjaannya ternyata.
Sepertinya dia sedang mempraktekkan ajaran kenali musuhmu sebelum pergi ke peperangan. Ya peperangan dalam memperebutkan hati Bella.
Sekilas saja orang bisa tahu kalau Adzriel ini menyukai Bella. Begitu juga Abiyan, dia sebagai sesama lelaki bisa mengendus gelagat lelaki lain yang menyukai kekasihnya.
"Kamu pernah belajar tentang struktur organisasi perusahaan atau tentang pendelegasian wewenang?" tanya Abiyan kepada Adzriel.
Bella dari tadi sudah kesal dengan ulah mereka berdua. Dimana Abiyan yang Bella kenal sangat dewasa dan tenang. Dimana sosok Adzriel yang tadi Bella kagumi karena bisa dengan sangat sabar menghadapi Bu Ratih dan kawan-kawan.
Keduanya sekarang berdebat tidak jelas, tidak ada yang mau mengalah, saling menjatuhkan.
Ya Allah ingin makan mie ayam dengan nyaman saja begini banget cobaannya, keluh hati Bella.
Bella merasa Abiyan agak cemburu kepada Adzriel tapi ya jangan berlebihan seperti ini. Bella juga tahu Adzriel menyukainya. Sadar disukai dua manusia berjenis kelamin pria dengan usia yang berbeda dan memiliki figur di atas rata-rata membuat Bella bangga. Berasa seperti tokoh-tokoh novel kesukaannya yang selalu diperebutkan cowok-cowok ganteng.
"Maaf, sebentar," kata Abiyan sambil mengambil ponsel dari saku celananya. Rupanya ada pesan yang masuk. Setelah membacanya Abiyan mengetik balasan pesan tersebut.
"Dari kantor Bang?" tanya Bella setelah dilihatnya Abiyan meletakkan ponselnya di atas meja.
"Itu Bima, dia kan ngajak mabar ntar malam eh katanya tidak jadi padahal Abang dan teman-teman yang lain sudah janjian," jawab Abiyan.
"Mabar...main game bareng? Abang masih sering main game bareng sama teman-teman Abang dulu?" tanya Bella.
"Masihlah...buat healing," terkekeh Abiyan menjawabnya.
Sampai seumur sekarang Abiyan dan teman-temanya masih suka main games, biasanya games online multiplayer, buat seru-seruan bareng.
"Om lagi main games apa sekarang?" terlihat Adzriel tertarik pada pembicaraan mengenai game.
Abiyan menjawab pertanyaan Adzriel dengan menyebut nama games online yang cukup terkenal saat ini sampai Bella yang buta soal games saja bisa tahu mengenai games ini.
"Bang tadi katanya mau mabar, undang Aku ya," pinta Adzriel dengan wajah sumringah, hilang sudah wajah datar dan cueknya yang sedari tadi dipasang saat bicara dengan Abiyan.
Panggilan untuk Abiyan pun berubah dari om sekarang abang.
"Kamu main games ini juga?" tanya Abiyan sambil mengambil ponselnya dan membuka aplikasi suatu games. "Abang tambahkan kamu ke daftar pertemanan Abang dulu."
Adzriel dengan semangat mengeluarkan ponselnya dan sekarang mereka berdua asyik dengan bahasan games.
Jika tadi Bella merasa bangga disukai pria tampan dan bocah ganteng, sekarang dia merasa jadi nyamuk. Hanya bisa melihat keakraban yang tiba-tiba terjalin karena sebuah games. Mau ikut nimbrung, tahu apa Bella tentang games. Akhirnya hanyalah mie ayam saja yang setia menemaninya.
"Mas Anto minta baksonya 1 porsi lagi ya," pesan Abiyan kepada Mas Anto.
"Mas, Aku juga ya, baksonya saja jangan pakai mie," Adzriel ikut-ikutan memesan kembali.
__ADS_1
Apa kabar dengan mie ayam dan bakso yang penuh sambal...mereka biarkan begitu saja, jadi tadi tuh hanya ajang pamer kuat-kuatan makan pedas.
Ya ampun, boys will be boys mau bertambah berapapun umurnya.