Hello Bella

Hello Bella
Episode 49 : Family Is Not An Important Thing, It's Everything (2)


__ADS_3

Akhirnya Bella memilih masuk ke dalam rumah sebelum ayahnya membatalkan acara makan malam bersama.


Ayah Aiman kembali asyik mengobrol dengan Abiyan.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu, lancar semua?" tanya Ayah Aiman.


"Alhamdulillah lancar Pak," jawab Abiyan.


"Papihmu masih aktif di perusahaan?"


"Masih Pak, papih masih aktif sebagai bagian dari Dewan Komisaris bersama Amang Ahmad, kakaknya papih," jelas Abiyan.


"Mamih kamu apa kabar?"


"Alhamdulillah sehat, Pak," jawab Abiyan.


"Papih dan Mamih titip salam untuk Bapak dan Bunda."


"Kalau boleh, kapan-kapan papih dan mamih ingin bertemu dengan Bapak dan Bunda."


Bapak dan bunda, terasa tidak match, tapi untuk memanggil ayah, Abiyan belum berani.


"Boleh, boleh, Saya juga ingin berkenalan dengan mereka," Ayah Aiman berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ke depannya Saya akan sering ke sini, nanti bisa Kita atur waktunya."


"Ada acara dari kantor lagi Pak?" tanya Abiyan.


"Tidak, urusan pribadi, Saya ingin lebih sering bertemu dengan keluarga Saya," jawab Ayah Aiman.


Ayah Aiman tersenyum, matanya menerawang ke depan. Sebuah rencana telah disiapkan olehnya.


Merasakan adanya respon positif dari Bunda Alya, dia merasa yakin kalau dia dapat kembali bersatu dengan keluarga.


Semoga secepatnya dapat terlaksana, tinggal terus berusaha meyakinkan mantan istrinya.


Apapun yang dibutuhkan, apapun yang harus dia korbankan, dia akan berusaha mempersatukan kembali keluarganya.


Baginya keluarga bukan hanya hal yang penting, tapi keluarga adalah segalanya.


Saat harus berpisah dengan keluarganya, itu adalah saat yang terberat baginya. Selalu merindukan saat-saat kebersamaannya dengan Bunda Alya dan Bella namun tidak bisa bersama.


Saat ini kesempatan itu ada dan tentu saja tidak akan Ayah Aiman sia-siakan. Kalau perlu dia akan bergerak cepat.


"Apa Bella pernah menceritakan masalah Kami kepadamu?" tanya Ayah Aiman kemudian.


"Tentang alasan perpisahan Saya dan bundanya Bella."


"Bella tidak pernah menceritakan hal itu Pak," jawab Abiyan.


"Suatu saat Bella akan ceritakan kepadamu," ucap Ayah Aiman.

__ADS_1


Abiyan mengangguk, ya dia yakin suatu saat Bella akan menceritakan hal itu. Mungkin Bella menunggu saat yang tepat dan Abiyan akan sabar menanti saat itu.


"Saya ingin rujuk dengan bundanya Bella, semoga semuanya berjalan lancar."


"Alhamdulillah...Semoga Allah memberikan kelancaran Pak," rasa syukur Abiyan memenuhi benak Abiyan.


Dia sangat tahu betapa Bella sangat menyayangi kedua orang tuannya dan kebersamaan mereka akan menjadi kebahagiaan terbesar Bella.


"Aamiin."


Mereka kembali mengobrol, sekarang obrolan lebih ke arah obrolan pribadi.


Ayah Aiman bercerita tentang asal usul keluarganya dan keluarga Bunda Alya. Ternyata ada kesamaan antara keluarganya dengan keluarga Abiyan.


Mamih Abiyan ternyata memiliki darah Sunda dari pihak ayahnya sama dengan Bunda Alya yang juga orang Sunda.


Yang membedakan keluarga mereka adalah asal para ayah. Jika papihnya Abiyan asli orang Batak, Ayah Aiman adalah orang Jawa, tepatnya dari Jawa Timur. Namun orang tuanya sudah lama menetap di Jawa Barat.


Tidak lama terdengar adzan magrib berkumandang. Segera Ayah Aiman mengajak Abiyan untuk shalat berjamaah di mesjid yang berada di komplek itu.


Setelah pamit kepada Bunda Alya dan Bella, mereka pun segera berangkat.


Dalam perjalanan menuju mesjid, mereka bertemu dengan bapak-bapak lainnya yang juga hendak pergi ke mesjid.


Beberapa orang tampak penasaran dengan keberadaan Ayah Aiman karena sebelumnya mereka belum pernah bertemu dengannya tapi wajahnya terasa tidak asing bagi mereka.


Rasa penasaran itu terpaksa mereka redam mengingat waktu shalat magrib sudah tiba.


Setelah melaksanakan shalat magrib dan berdzikir, Ayah Aiman dan Abiyan memutuskan untuk menunggu waktu shalat isya bersama bapak-bapak yang lain.


"Eh Pak RT, iya Pak, apa kabar?" Abiyan menjawab sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Pak RT.


"Baik, Alhamdulillah sehat selalu," jawab Pak RT sambil mengalihkan pandangannya ke arah Ayah Aiman.


Melihat hal itu segera Abiyan memperkenalkan Ayah Aiman kepada Pak RT.


"Perkenalkan Pak, ini Pak Aiman, ayahnya Bella."


Ayah Aiman dan Pak RT pun saling memperkenalkan diri, beberapa bapak yang ada di situ pun ikut berkenalan.


Mereka kemudian berkumpul di teras mesjid sambil mengobrol.


"Pak RT, In Shaa Allah kedepannya Saya akan sering berkunjung ke rumah mantan istri Saya," Ayah Aiman sengaja memberitahu hal ini agar kedepannya tidak timbul gosip tidak sedap bagi Bunda Alya.


"Silahkan Pak, komplek ini terbuka bagi tamu yang ingin mengunjungi warga sini tapi Saya harap Bapak memahami aturan yang berlaku di sini," Pak RT mengingatkan.


"Saya mengerti hal itu," Ayah Aiman menjawab.


"Syukurlah kalau begitu."


"Sepertinya akan segera ada kabar baik nih," seorang bapak di sebelah Pak RT berkata sambil tersenyum.

__ADS_1


"Semoga Pak, mohon doanya saja semoga semua berjalan lancar," Ayah Aiman menanggapi.


"Aamiin," terucap dari semua yang ikut berkumpul.


Tak lama berselang datang seorang bapak ke arah mereka.


"Assalamu'alaikum," ucap bapak tersebut.


"Wa'alaikumussalam," serentak semua menjawab.


"Lho ada Abiyan juga," sapanya kepada Abiyan.


Abiyan mendekat dan menyalami bapak itu.


"Iya Om Galih, Saya sedang berkunjung ke rumah Bella, kebetulan ada acara hari ini," sopan Abiyan bertutur.


Bapak yang dipanggil Om Galih oleh Abiyan itu tersenyum sambil manggut-manggut.


Saat pandangan Pak Galih beradu dengan Ayah Aiman, Pak Galih terlihat terkejut.


"Aiman ya!" serunya sambil mendekat ke arah Ayah Aiman.


Ayah Aiman mengangguk sambil tersenyum tipis. Suatu kejutan bisa bertemu dengan orang yang dulu dikenalnya.


Orang yang dekat dengan seseorang yang pernah membuat hidupnya berantakan. Benar-benar kejutan tidak terduga.


Dan kemungkinan besar mereka akan sering bertemu kedepannya. Semoga pertemuan kembali ini membawa kebaikan, harap Ayah Aiman.


Mereka pun bersalaman dan saling menanyakan kabar.


Belum sempat Pak Galih bertanya lebih jauh kepada Ayah Aiman, seorang bapak berbicara kepada Abiyan.


"Nak Abi, Kamu adzan ya, ini sudah waktunya shalat Isya," pintanya kepada Abiyan.


Entah kenapa dari sekian banyak orang di sini, bapak ini meminta Abiyan yang adzan. Abiyan tidak ingin berpikiran negatif maka dia pun akan memenuhi permintaan tersebut.


Abiyan tersenyum dan mengangguk tanda bersedia melakukannya. Beberapa orang tampak ragu, melihat tampang Abiyan yang bule, mereka sepertinya tidak percaya seorang Abiyan bisa mengumandangkan adzan.


Pandangan kagum dan tidak percaya terlihat setelah Abiyan mengumandangkan adzan. Ya, Abiyan dapat melakukannya dengan baik.


Meskipun dia seorang blasteran namun pendidikan agama yang diterimanya sejak kecil cukup baik.


Semua bersiap-siap untuk shalat Isya berjamaah.


Selesai shalat isya, Abiyan menghampiri Pak Galih untuk pamit seraya mengucapkan permohonan maaf karena tidak bisa mampir ke rumah Pak Galih.


Abiyan berpikir kalau dia mampir dulu untuk sekedar menyapa pastinya akan membutuhkan waktu yang lama mengingat bagaimana istri omnya itu.


Pak Galih tidak terlihat keberatan terlebih Abiyan mengatakan ada acara keluarga di rumahnya Bella.


Ayah Aiman pun segera berpamitan dengan bapak-bapak yang ada dan tentu saja dengan Pak Galih.

__ADS_1


Pak Galih merasa heran melihat kebersamaan Abiyan dengan Ayah Aiman. Ingin bertanya tapi sepertinya mereka harus segera pergi.


Sepertinya dia harus menunda rasa penasarannya, nanti dia akan menanyakannya kepada Abiyan.


__ADS_2