
Hanya suara Aitch dan Ed Sheeran yang terdengar dalam mobil jenis SUV yang sedang dikendarai Abiyan. Saat ini mereka dalam perjalanan menuju rumah Bella.
Tadi Bu Ratih sempat memaksa untuk pulang bersama dengan alasan rumahnya dekat dengan Bella tapi melihat mood Bella sedang tidak baik, Abiyan menolak dengan alasan hendak pergi dahulu ke tempat lain sebelum mengantar Bella pulang.
Abiyan pun berinisiatif memesan taksi online untuk mengantar Bu Ratih dan Saras pulang.
Baik Abiyan maupun Bella sama-sama diam, lebih tepatnya Bella sedang mendiamkan Abiyan.
Bella kesal, ralat sangat kesal kepada Abiyan, bagaimana tidak, bisa-bisanya Abiyan membiarkan Bu Ratih berlaku seenaknya pada Bella.
Bella yakin dengan suara Bu Ratih yang keras tidak mungkin Abiyan tidak mendengarnya. Dimana Abiyan saat Bella membutuhkan kehadirannya untuk membela Bella, dimana Abiyan saat Bu Ratih memberi kesan seakan Bella tidak pantas untuk Abiyan.
Bukankah seharusnya Abiyan ada di sisi Bella tadi. Menjelaskan kepada Bu Ratih kenapa Abiyan memilih Bella bukannya memilih Saras, anak Bu Ratih yang maha sempurna yang seakan disodor-sodorkan kepada Abiyan.
"Kok diam saja, sakit gigi ya," canda Abiyan berusaha cairkan suasana.
Sejak di rumahnya Bella menghindari Abiyan terus, setiap Abiyan mendekat selalu saja ada alasan Bella untuk pergi dari sisinya.
Bicara pun irit sekali, saat ditanya hanya menjawab dengan jawaban singkat, saat diajak bicara hanya memperhatikan saja, sesekali tersenyum untuk sekedar menanggapi.
"Hmmm...," hanya itu terdengar.
Abiyan melirik ke arah Bella sebentar kemudian fokus kembali ke arah depan.
"What's going on?" tanya Abiyan. "Kamu marah sama Abang?"
"Nope," jawab Bella singkat, padat dan tidak jelas.
"Mampir ke coffee shop dulu ya?" tawar Abiyan.
"Terserah."
Abiyan menghela nafasnya. Dia yakin seyakin-yakinnya gadisnya sedang marah besar. Jawaban tidak dan terserah cukup jadi indikasi kalau Bella sedang badmood.
Sepertinya mereka harus bicara dulu sebelum sampai ke rumah Bella. Menunda menyelesaikan masalah hanya akan menambah masalah baru.
Abiyan membawa Bella ke salah satu coffee shop terdekat. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka turun dan berjalan menuju pintu masuk.
Biasanya Bella membiarkan Abiyan membukakan pintu mobil untuknya tapi kali ini Bella memilih keluar dari mobil duluan sebelum Abiyan sempat membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
Abiyan memilih tempat duduk di sudut ruangan coffee shop ini. Suasana coffee yang tidak ramai dirasa cukup nyaman untuk bicara dari hati ke hati.
"Mau pesan apa?" tanya Abiyan.
"Terserah Abang." Masih setia dengan jawaban-jawaban singkat Bella menjawab.
Abiyan kembali menghela nafasnya. Bella benar-benar marah padanya tapi setidaknya ada kemajuan. Jika dari tadi jawaban Bella selalu terdiri dari satu kata sekarang menjadi dua kata.
Kemudian Abiyan memesan espresso untuk dirinya dan latte macchiato untuk Bella. Untuk makanannya, Abiyan memesan chicken sandwich dan caramel cake.
Setelah pesanan mereka tersaji, Abiyan mulai meminum kopinya. Sementara Bella masih setia dengan aksi diamnya.
"Ada yang mau dipesan lagi?" tanya Abiyan.
"Tidak."
"Sepertinya benar ya kata orang," kata Abiyan.
Bella melihat Abiyan dengan tatapan tanya apanya yang benar.
"Being silent is a great way to let someone know they did something wrong."
Bella hanya mengangkat bahunya dan meraih latte macchiato miliknya dan menyesapnya pelan.
Saat sedang marah Bella berusaha untuk selalu diam sampai kemarahannya reda. Bella ingat pesan Bunda Alya, kalau sedang marah atau benar-benar marah sebaiknya tenangkan diri dulu, jangan banyak bicara, untuk menghindari mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan disesali nantinya.
Saat kemarahan menguasai diri biasanya akan sulit untuk mengendalikan lisan. Kata-kata yang terucap terkadang keluar begitu saja tanpa sempat berpikir akibat yang mungkin akan timbul akibat perkataan itu.
Demi memuaskan ego, kata-kata yang tidak seharusnya keluar terlontar begitu saja. Hal inilah yang coba Bella hindari.
Jadi Bella memilih diam dulu sampai hatinya tenang dan siap bicara.
"Abang minta maaf."
"Untuk?"
"Untuk semua yang membuatmu kesal tadi saat di rumah orang tua Abang."
"Oh untuk itu."
__ADS_1
"Abang dengar dengan jelas semua yang Tante Ratih katakan, bukan hanya Abang tapi opung juga papih mendengarnya."
"Abang tahu kata-kata Tante Ratih tadi tidak pantas dia ucapkan."
"Kami tahu kamu pasti kesal sekali tadi."
"Abang rasa kamu kecewa sama Abang karena Abang terkesan diam saja, Abang..."
"Abang memang diam saja, tidak ada niatan buat belain Aku, Abang keterlaluan!" akhirnya keluar juga unek-unek yang sedari tadi ditahan Bella di hatinya.
"Coba kalau Abang jadi Aku, dibanding-bandingin sama orang lain, bundaku dikritik di depan banyak, bagaimana rasanya."
"Asal Abang tahu, buat Aku ayah dan bundaku adalah orang tua terbaik, walaupun mereka tidak bersama lagi, mereka selalu ada buat Aku, banyak hal baik yang mereka lakukan dan ajarkan buat Aku."
"Maaf kalau keluarga Aku tidak sesempurna keluarga Abang atau Bu Ratih."
"Kalau menurut keluarga Abang Aku tidak pantas untuk Abang, tidak apa-apa, Aku akan pergi dari hidup Abang."
"Arabella Dinara, apa yang kamu bicarakan?" sedikit tinggi nada bicara Abiyan cukup membuat Bella berkaca-kaca.
Abiyan tidak terima dengan pemikiran Bella itu. Abiyan tidak pernah mempermasalahkan perceraian orang tua Bella.
Selama ini Abiyan bisa menilai sendiri walaupun berasal dari keluarga yang tidak utuh tapi Bella mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya.
Pasti ada yang kurang dalam hidup Bella, tapi Abiyan rasa kedua orang tua Bella selalu berusaha untuk membuat putri mereka satu-satunya dapat hidup dengan baik dan nyaman walaupun tidak tinggal bersama.
Dulu Abiyan pernah beberapa kali bertemu dengan ayahnya Bella. Dalam pandangannya, ayah Bella ini sosok pria yang baik dan terlihat sangat menyayangi Bella.
Soal alasan perceraian ayah dan bundanya Bella, Abiyan tidak pernah tahu karena Bella tidak pernah menceritakannya dan Abiyan juga tidak pernah menanyakannya
Bukannya Abiyan tidak menaruh perhatian pada keadaan Bella tapi Abiyan menunggu Bella menceritakannya sendiri. Abiyan yakin suatu hari nanti Bella akan terbuka padanya dan menceritakan semuanya tanpa dia minta.
Bella itu termasuk gadis yang cerewet tapi untuk urusan pribadi dia lebih suka menyimpannya sendiri.
"Maafkan Abang ya, Abang tidak bermaksud bicara keras sama kamu."
Bella berusaha menahan air matanya, dialihkannya pandangan matanya keluar jendela.
"Bella, please dengarkan Abang dulu."
__ADS_1
"Bella..."
Bella masih tidak menanggapi Abiyan. Abiyan pernah melihat Bella marah atau merajuk. Rasanya kemarahan Bella saat ini membutuhkan waktu lebih untuk meredakannya.