Hello Bella

Hello Bella
Episode 42 : Let's Fight Back The Gossipers (1)


__ADS_3

"Bun...Bunda," panggil Bella.


"Hmmm...," respon Bunda Alya.


"Jadi kapan?" tanya Bella.


Bunda Alya menoleh ke arah Bella yang sedang duduk di single sofa di sebelah kiri sang bunda.


"Kapan apanya?"


"Ah Bunda mah sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula."


Bunda Alya terkekeh mendengar ucapan Bella, ada-ada saja bahasa yang digunakan anaknya.


"Kan harus jelas kalau bertanya tuh, Bunda mana tahu arah pertanyaan Kamu."


"Kapan ayah sama Bunda rujuk, nah sudah jelas kan pertanyaannya, mohon dijawab dengan jelas tanpa pengalihan isu dan lain sebagainya."


Bunda Alya kembali terkekeh. Terkadang Bella ini tidak sabaran kalau sudah ingin tahu sesuatu.


"Ayah dan Bunda belum membicarakan soal rencana rujuk, nanti ya, Bunda masih perlu waktu untuk memikirkan semuanya."


"Bun, kata guru ngaji Bella dulu, katanya kalau ada niat baik jangan ditunda-tunda, lebih baik disegerakan."


"Iya Ustadzah Arabella Dinara," jawab Bunda Alya sambil tersenyum.


Sejak Ayah Aiman pulang satu jam yang lalu, Bunda Alya terlihat lebih ceria. Senyum manis begitu mudah tersungging di bibir merah alaminya.


Bagaimana tidak, beban berat menyimpan rahasia yang ternyata karangan seseorang yang telah membuat hatinya merasa tersakiti selama bertahun-tahun perlahan menghilang bersama terungkapnya kebenaran itu.


Dulu kata-kata ikhlaskan saja semua, selalu diucapkannya untuk meredakan kegalauan yang setia menghimpit hatinya.


Namun Bunda Alya hanyalah wanita biasa yang terkadang terlalu larut dalam kenangan pahit. Kata-kata itu kadang kali tidak berpengaruh kepadanya.


Kebenaran yang dituturkan sang mantan suami bagai air hujan yang membasahi tanah yang telah lama mengering.


Menumbuhkan bibit-bibit harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Kehidupan bersama, dia, Bella dan sang mantan suami.


"Ih Bunda mah suka gitu, ini Bella lagi serius," protes Bella.


"Bel, Ayah dan Bunda sudah lama berpisah, kami masing-masing punya kehidupan sendiri."


"Bunda ingin kita jalani yang ada dulu, pelan-pelan saja gitu."


"Bunda takut ya nanti tiba-tiba ada kejutan tak terduga lagi?"


"Percaya deh sama ayah, ayah tuh bucinnya Bunda, selama berpisah dari Bunda, ayah tidak pernah dekat dengan wanita manapun."


"Pernah sih ayah cerita kalau pamannya ayah ingin menjodohkan ayah dengan anak kenalannya tapi ayah sudah tolak."


Mendengar mantan suaminya pernah dijodohkan dengan seseorang, hati Bunda Alya sedikit tercubit.


"Bun, ayah tuh masih ganteng lho, ibarat kelapa semakin tua semakin jadi."


"Banyak yang suka sama ayah."

__ADS_1


"Bunda ingat Agnes, teman kuliah Bella?"


"Ingat, yang cerewet itu kan?"


"Iya itu dia, waktu lihat foto ayah pas hari kapan, terus dia nanya, mau enggak Bella jadi anak tiri dia."


"Coba Agnes saja yang seumuran sama Bella suka sama ayah."


"Mulai deh lebay kamu tuh kumat, berlebihan banget," sanggah Bunda Alya.


Bunda Alya tidak percaya kalau gadis seumuran anaknya akan menyukai laki-laki yang jauh lebih tua darinya.


"Serius Bun, kata Agnes, aura ayah tuh kuat banget, lihat fotonya saja sudah bikin hati Agnes berdebar."


Tanpa sadar Bunda Alya memutar bola matanya, semakin tidak percaya dengan kata-kata Bella.


Ini antara Bella yang hiperbola dalam mempromosikan ayahnya atau Agnes temannya Bella ini yang sama lebaynya dengan anaknya. Entahlah.


"Bel, sabar ya, kalau memang kami ditakdirkan untuk bersama kembali, In Shaa Allah cepat atau lambat kami akan bersama."


"Tapi Bun, besok kan ayah kembali ke Jakarta, selagi ayah masih di sini lebih baik dipastikan."


"Nah itu juga yang harus ayah sama Bunda pikirkan, pekerjaan ayahmu di Jakarta sementara usaha Bunda di sini."


"Belum lagi urusan dengan keluarga besar kita."


"Ya Allah kalau banyak pertimbangan ini dan itu kapan Bella punya adik," keluh Bella.


Rupanya Bella keukeuh ingin ayah dan bundanya segera rujuk ini punya keinginan lain yaitu ingin punya adik.


Usia Bunda Alya masih awal empat puluhan, jadi dia masih dalam usia produktif. Kondisi fisiknya pun baik, sehat tidak pernah ada keluhan yang berarti.


Jadi jika Allah berkehendak memberinya rezeki dengan tumbuhnya calon bayi di rahimnya, Bunda Alya rasa dia siap lahir dan batin menerimanya.


Siap lahir dan batin...tiba-tiba muncul keinginan yang sama dengan Bella.


"Bel, ayahmu nanti malam ada acara tidak dengan teman kantornya?" tanya Bunda Alya.


"Setahu Bella tidak Bun, kenapa, wah mau ngajak ayah nge-date ya?" tanya Bella sumbringah.


"Nge-date apaan sih," jawab Bunda Alya agak malu.


"Ajak ayahmu makan malam yuk, dimana gitu."


"Serius nih Bun, oke Bella telpon ayah ya."


Bella pun segera menghubungi ayahnya. Dengan semangat 45, Bella sampaikan ajakan bundanya kepada ayahnya.


Bella terlihat sangat bahagia. Saat berbicara dengan sang ayah melalui ponselnya, nada ceria diselingi tawa terdengar oleh Bunda Alya.


Hati Bunda Alya menghangat. Selama ini yang sangat dia inginkan adalah kebahagiaan Bella.


Ya Allah, semoga ini yang terbaik baginya, mantan suaminya terlebih bagi Bella, harap Bunda Alya dalam hati.


"Beres Bun, ba'da Isya kita berangkat," seru Bella.

__ADS_1


"Ya sudah, Bunda siap-siap dulu," kata Bunda Alya.


"Bun, masih lama kali, ini dhuhur saja belum," kata Bella heran, janjian ba'da Isya kok siap-siap dari sekarang.


"Ciee...ciee...ciee...yang mau kencan sama mantan, biar tampil maksimal ya Bun jam segini sudah mau siap-siap," goda Bella.


"Ke salon yuk Bun, biar Bunda tambah shining, shimmering, splendid."


"Bunda mah tidak perlu ke salon segala, sudah shining, shimmering, splendid dari bayi," balas Bunda Alya sambil berlalu dari hadapan Bella sebelum anaknya itu akan melanjutkan aksinya menggoda bundanya.


"Ha ha ha ha...ada yang malu-malu macan," teriak Bella.


Bunda Alya hanya mengibaskan tangannya sambil terus berjalan ke arah kamarnya.


Tidak lama setelah bundanya masuk ke kamarnya, ponsel Bella berdering, tanda adanya panggilan telpon yang masuk.


Nama Anggi tertera di layar ponselnya, segera Bella menerima panggilan itu.


"Assalamu'alaikum...ya Gi, ada apa?"


"Teteh...cepat ke sini Teh."


"Eh lupa, wa'alaikumussalam."


"Pelan-pelan ngomongnya Gi, ada apa, kemana?"


"Ke sini Teh."


"Ya kemana Anggi, Teteh kan enggak tahu kamu lagi dimana."


"Eh iya ya...he he he maaf Teh."


"Ini darurat Teh, gawat pokoknya, Teteh harus segera ke sini."


"Ho oh oke oke tapi kemana Anggiii..."


"Ke warung Bu Hana, Teh."


"Di sini lagi kumpul ibu-ibu, mereka pada ngomongin Teteh."


"Teteh cepat ke sini ya selagi masih pada kumpul."


"Emang ngomongin apaan sih?"


"Palingan gosip enggak jelas seperti yang sudah-sudah, malas ah Teteh nanggepinnya."


"Ini mah sudah kelewatan Teh, cepet deh Teteh ke sini, Anggi tunggu ya."


"Assalamu'alaikum."


Tut...tut...tut...


Dan Anggi pun mengakhiri panggilan telponnya tanpa menunggu jawaban Bella.


Ada apa lagi ini pikir Bella. Gosip soal dia lagi, kok tidak bosan-bosan sih. Kenapa tidak ngomongin urusan yang lebih penting gitu seperti harga sembako yang mulai merangkak naik, pada berbagi tips kek cara menghemat uang atau bagaimana cara mendapat penghasilan tambahan dari rumah.

__ADS_1


Bella terus mengomel dalam hatinya sambil bersiap-siap pergi ke warung Bu Hana.


__ADS_2