
Sesaat Ayah Aiman terdiam, berpikir bagaimana cara menyampaikan hal yang mengganggu pikirannya kepada Bunda Alya.
Ayah Aiman juga merasa khawatir bagaimana tanggapan bundanya Bella itu atas apa yang akan disampaikannya.
"Ratih... maksudnya Bu Ratih tetanggaku, Mas?" tanya Bunda Alya.
"Iya, Ratih yang itu," jawab Ayah Aiman.
"Sebenarnya ini bukan saat yang tepat membicarakan hal ini."
"Tadinya Mas ingin kita menikmati makan malam ini tapi..."
Ayah Aiman menghela napasnya. Dia berpikir jika Ratih mengetahui siapa Bunda Alya kemudian memberitahu adiknya, hanya skenario buruk yang terbayang di benaknya, mengingat bagaimana dulu wanita itu dengan teganya merusak rumah tangganya.
Dia tahu berprasangka buruk sangat tidak baik tapi rasa insecure begitu menguasai hatinya.
"Ratih itu kakaknya Ratna."
Bunda Alya tersentak kaget, fakta tentang Bu Ratih yang selama ini dia kenal sebagai salah satu tetangganya ternyata memiliki hubungan keluarga dengan seseorang yang pernah membuat hidupnya berantakan.
Dan jika Bella dan Abiyan memang berjodoh, maka dia akan berada di circle yang sama dengan Bu Ratih dan juga Ratna.
Bagaimana jika mereka bertemu kembali. Bunda Alya hanya manusia biasa, dia sudah memaafkan semua perbuatan Ratna, tapi untuk melupakan bukanlah hal yang mudah.
Mengingat semua luka dan duka yang pernah tertoreh, terlalu sulit untuk mengatakan ya sudahlah.
"Mas, sebaiknya nanti kita bicarakan lagi soal ini ya, Aku perlu waktu untuk berpikir," kata Bunda Alya.
"Maafkan Mas, Al, seandainya..."
"Sudah Mas, sudah...Abiyan dan Bella bisa datang kesini kapan saja, tidak enak kalau mereka tahu kita seperti ini," Bunda Alya mengingatkan.
"Tapi Al..."
"Nanti kita bicarakan lagi ya Mas, jangan sekarang."
"Mas harap hal ini tidak membuatmu mengurungkan niatmu untuk menerima Mas kembali."
"Al..."
Sebelum sempat Ayah Aiman melanjutkan pembicaraannya, terdengar pintu diketuk diikuti dengan kehadiran Bella dan Abiyan.
"Ayah, Bunda tadi Bella sudah keliling-keliling, di sini enak banget suasananya," dengan bersemangat Bella mulai bercerita begitu duduk kembali di kursinya.
Di sebelahnya Abiyan dengan setia menyimak cerita Bella.
"Bang Ian sedang membangun area bermain untuk anak-anak di lantai satu."
__ADS_1
"Tinggal dirapihkan sedikit lagi, sudah bisa segera digunakan."
"Nanti di sana ada aneka mainan anak-anak tempo dulu, wah pasti keren banget."
"Seru ya Bang, nanti kita bisa kenalkan mainan itu sama anak-anak."
Bella terus bercerita kepada kedua orang tuanya, dia tidak menyadari situasi yang baru terjadi.
Baik Ayah Aiman maupun Bunda Alya, mereka berusaha untuk bersikap biasa saja walau dalam hati mereka masing-masing merasakan perasaan yang tidak tenang.
Apa yang terjadi di masa lalu masih berbekas bagi keduanya dan saat ini mereka benar-benar ingin terlepas dari apapun yang dulu pernah menimbulkan luka bagi mereka.
Tidak lama kemudian, Ayah Aiman memutuskan untuk mengajak semuanya pulang mengingat hari sudah mulai larut.
Sebelumnya, diam-diam Ayah Aiman mengirim pesan kepada Bunda Alya yang mengatakan kalau dia akan menghubunginya nanti.
Bunda Alya pun menyetujuinya dengan memberikan anggukan sambil tersenyum ke arah Ayah Aiman.
Ayah Aiman tidak ingin menunda apapun lagi. Dia sudah bertekad untuk segera mengajak Bunda Alya untuk rujuk kembali dan sebelumnya dia harus memastikan tidak akan ada gangguan terutama dari Ratna atau pun keluarganya.
Abiyan kemudian mengantarkan Bella dan bundanya terlebih dahulu. Karena sudah malam, dia dan Ayah Aiman tidak mampir terlebih dahulu.
Setelah memastikan Bella dan bundanya masuk ke dalam rumah, akhirnya Abiyan dan Ayah Aiman berlalu meninggalkan komplek tempat Bella tinggal.
Dalam perjalanan menuju hotel tempat Ayah Aiman menginap, Ayah Aiman mengajak Abiyan untuk berbincang dulu sambil minum kopi di coffee shop.
Abiyan merasa suasana yang agak menegangkan karena sedari tadi Ayah Aiman hanya berbicara seperlunya, membuatnya menjadi canggung.
Dilihatnya Ayah Aiman meraih cangkir kopinya dan menyesap kopinya perlahan. Kemudian dia meletakan kembali cangkir itu.
Sesaat jarinya mengusap pinggiran cangkir kemudian mengalihkan tatapannya kepada Abiyan.
Sebelum memulai pembicaraan, Ayah Aiman menghela napasnya.
"Ada yang ingin Saya bicarakan sama Kamu dan ini penting untuk Saya," Ayah Aiman memulai pembicaraan.
Saya sudah tahu Pak, makanya Bapak mengajak ke sini, tidak mungkin kan Bapak hanya ingin nongkrong saja dengan calon mantu, batin Abiyan.
"Iya Pak," ucap Abiyan.
"Ini soal om Kamu, Pak Galih."
Abiyan terkejut, kenapa tiba-tiba ayahnya Bella ingin membicarakan tentang omnya, apakah mereka ada masalah.
Semoga saja tidak, harap Abiyan. Jangan sampai restu terhalang masalah diantara keluarga mereka.
"Apa Pak Galih itu saudara dekat keluargamu?"
__ADS_1
"Om Galih sepupu jauh dari Mamih, Pak."
"Mmm...jadi bukan Bu Ratih yang saudara langsung keluargamu," kata Ayah Aiman sambil mengangguk-angguk pelan.
"Bapak mengenal Tante Ratih?" tanya Abiyan.
"Saya mengenal Bu Ratih juga keluarganya," jawab Ayah Aiman.
"Bagaimana hubungan keluarga Bu Ratih dengan keluargamu?"
Abiyan tidak mengerti mengapa Ayah Aiman mempertanyakan hal ini namun dia kemudian menjawabnya.
"Hubungan Kami baik Pak," jawab Abiyan.
"Sebenarnya Saya tidak terlalu dekat dengan keluarga Om Galih, baru belakangan ini Saya tahu mengenai beliau dan keluarganya."
"Baik mamih maupun papih juga sebelumnya jarang bertemu dengan keluarga mamih lainnya, biasanya kalau ada acara keluarga besar baru Kami bertemu."
Abiyan kemudian teringat dahulu saat keluarga mereka masih belum seperti sekarang. Saat papih dan kakak-kakaknya masih merintis perusahaan mereka.
Mamih jarang sekali menghadiri acara yang diadakan oleh keluarga besarnya. Hanya sesekali saja, itupun jika acaranya penting seperti acara pernikahan saudara.
Jika ada keluarga yang sakit atau ada yang melahirkan, mamihnya lebih memilih menjenguk sendiri tidak bersama-sama dengan keluarga lainnya.
Setelah Abiyan beranjak remaja barulah dia mengerti mengapa mamihnya seakan menjaga jarak dari sebagian besar keluarganya.
Walaupun sang mamih tidak pernah menceritakan apapun mengenai hal itu namun dari cara keluarga mamih berbicara dan bersikap saat bertemu dengan keluarganya, Abiyan bisa menebak mengapa mamihnya seperti itu.
Keluarga mamihnya yang sebagian besar terdiri dari orang berada, memiliki jabatan yang bagus di perusahaan atau di instansi pemerintahan memandang keluarganya sebelah mata.
Ya itulah dulu yang dirasakan dan dilihat Abiyan. Berbeda setelah usaha keluarga papihnya yang semakin maju dan berkembang, semua semakin mendekat.
Tidak jarang Abiyan bertemu dengan keluarga mamihnya yang sama sekali tidak dikenalnya. Namun demi menjaga adab, dia selalu berusaha untuk bersikap baik pada mereka.
Dan sekarang, ayahnya Bella bertanya-tanya mengenai salah satu keluarga mamihnya yang jujur saja baru-baru ini Abiyan kenal.
"Begitu ya," kata Ayah Aiman.
Ayah Aiman kemudian berpikir kembali, apakah dia akan membicarakan mengenai hal yang mengganggu pikirannya yang berhubungan dengan keluarga Abiyan tersebut dengan Abiyan atau sebaiknya membiarkannya saja.
Namun kekhawatiran itu membayangi dirinya, terlebih sekarang ini Bella ada di dalamnya.
Kembali Ayah Aiman meyakinkan hatinya kalau dia tidak ingin berburuk sangka namun dia hanya ingin berjaga-jaga.
Dia tidak ingin Bunda Alya dan Bella mengalami hal buruk lagi.
"Begini Abiyan..."
__ADS_1