Hello Bella

Hello Bella
Episode 46 : Let's Fight Back The Gossipers (5)


__ADS_3

Saat sampai di rumahnya, Bella melihat bundanya sedang duduk di ruang tamu.


"Assalamu'alaikum," salam terucap dari mulut Bella.


"Wa'alaikumussalam," jawab Bunda Alya.


"Bagaimana?" tanya Bunda Alya.


"Apanya Bun yang bagaimana?" Bella balik bertanya, tidak mengerti maksud pertanyaan bundanya.


"Itu warungnya Bu Hana, baik-baik saja kan, tidak Kamu buat berantakan," jawab Bunda Alya.


"Ih Bunda mah, ya kali Bella acak-acak itu warung," sambil cemberut Bella menjawab.


"Kalau ada yang mau Bella acak-acak pastinya bukan warung Bu Hana tapi ibu-ibu bermulut lemes tadi terutama Bu Mar."


"Eh Kok Bunda sudah tahu saja kejadian di warung Bu Mar, siapa yang beritahu Bunda?"


"Bu Hana tadi kirim wa ke Bunda, kabari Bunda kalau Kamu sedang menegur ibu-ibu yang sedang gosipin Kamu," jawab Bunda Alya.


"Bu Hana khawatir Kamu ribut sama mereka."


"Tidak lah Bun, Alhamdulillah Bella masih bisa nahan diri walau sebenarnya pengen ngomelin mereka," kata Bella.


"Sudah pada tua kok tidak sadar umur, kerjaannya gosipin orang saja, pada tidak punya kehidupan apa, sibuk ngurusin hidup orang."


"Aturan ya Bun, kalau ada tetangga berbuat salah atau punya perilaku tidak baik, kalau memang peduli tuh ya ditegur baik-baik, dirangkul, diajak kembali ke jalan yang benar."


"Bukannya diomongin di belakang, heran Bella mah sama orang-orang seperti ini."


"Berasa paling benar saja, sama dosa ghibah pada tidak takut, giliran digertak mau dilaporin ke polisi baru pada takut."


"Ternyata ancaman kurungan penjara atau denda lebih menakutkan buat mereka ketimbang api neraka."


Bella terus mengomel sampai tidak sadar kalau dia pun sedang membicarakan orang lain di belakang mereka.


"Istighfar Bella," potong Bunda Alya sebelum anaknya keterusan membicarakan orang lain.


"Kenapa Bun?" tanya Bella heran.


"Kamu tidak suka dengan orang-orang yang suka membicarakan kejelekan orang lain di belakang Kamu lha barusan Kamu juga membicarakan kejelekan mereka di belakang mereka," terang Bunda Alya.


Sesaat Bella terdiam sampai kemudian dia tersadar.


"Astaghfirullah," ucap Bella memohon ampunan kepada Sang Pencipta atas segala ucapannya tadi.

__ADS_1


"Khilaf Bella, Bun, habis kesal banget tadi."


"Ghibah itu termasuk perbuatan yang tidak disukai tapi banyak dilakukan oleh orang," ucap Bunda Alya.


"Terkadang orang tidak sadar saat kalau mereka sedang menghibahkan orang lain."


"Tadinya sekedar membicarakan orang lain lama-lama pembicaraan itu merembet kemana-mana termasuk ke kejelekan orang."


"Biasanya kalau soal kejelekan bakal panjang ceritanya, apa yang didengar dari orang lain yang belum tentu kebenarannya, dibahas pula."


"Kita harus selalu hati-hati dalam perkataan, apa yang perlu dibicarakan dengan orang lain ya bicarakan, kalau yang tidak perlu seperti kejelekan orang lain atau yang lainnya ya tidak usah."


"Seperti tadi Kamu bilang, kalau tahu ada orang yang berbuat salah ya ditegur baik-baik, dirangkul dan diajak kembali ke jalan yang benar, bukannya dighibahin atau digosipin."


"Kalau tidak mau menegur mereka ya doakan saja mereka semoga segera sadar dan bertaubat."


"Cukup sampai di situ, jangan bisanya terus membahas kejelekan tapi tidak memberi solusi kan jatuhnya jadi ghibah atau gosip tea."


"Ghibah atau gosip kayaknya sudah menjadi kebiasaan Bun, susah untuk dihilangkan," keluh Bella.


"Susah tapi bukannya tidak bisa," kata Bunda Alya.


"Tergantung kitanya itu."


"Serius mau lapor?"


"Tidak Bun, Bella hanya menakut-nakuti saja, semoga saja orangnya terpancing dan datang menemui kita," kata Bella.


"Sebenarnya Bella malas Bun berurusan dengan orang-orang seperti ini, buang-buang waktu dan energi."


"Tapi kasihan juga mereka kalau keterusan dengan pemikiran negatif mereka tentang kita."


"Terus-terusan membicarakan kejelekan kita tanpa mencari tahu yang sebenarnya."


"Ya semoga saja setelah Bella jelaskan tadi, pikiran mereka terbuka dan tidak negatif thinking terus."


"Semoga ya Bel, Aamiin," Bunda Alya pun berharap demikian.


Selama ini Bunda Alya bukannya tidak tahu kalau dia maupun Bella sering dijadikan bahan gosip oleh para tetangga.


Bukan hanya di komplek ini, di tempat tinggal mereka sebelumnya pun begitu. Makanya Bunda Alya memutuskan untuk pindah karena merasa tidak nyaman.


Seingat Bunda Alya, baik dia maupun Bella, hidup bertetangga baik-baik saja, tidak pernah terlibat masalah dengan orang lain.


Cara mereka bersikap dan berpakaian pun biasa-biasa saja, masih dalam batasan norma kesopanan yang berlaku di masyarakat.

__ADS_1


Tapi selalu saja ada orang yang mencari-cari kejelekan mereka dan menjadikan sebagai bahan gosip.


Seperti statusnya yang janda, orang terkadang memandangnya dengan sebelah mata.


Ramah dibilang genit, bicara seperlunya dibilang sombong. Jadi serba salah kan.


Mempunyai rezeki lebih dibilang karena hasil menjadi istri simpanan. Saat bercerita kalau dirinya memiliki usaha sendiri, eh ada yang bilang enak ya ada selalu siap kasih modal tidak perlu repot-repot cari modal.


Bunda Alya akhirnya pasrah saja membiarkan orang-orang itu menggosipkan dia. Dalam pikir Bunda Alya yang penting dia dan anaknya tidak seperti yang mereka pikir.


Bunda Alya lebih memilih memfokuskan dirinya pada Bella dan usahanya.


Pemikiran dan perkataan negatif orang tentang dirinya tidak Bunda Alya tanggapi. Kecuali ada yang bertanya mengenai kebenaran gosip-gosip itu barulah Bunda Alya akan menjelaskan.


Waktu mendengar Bella mendatangi warung Bu Hana, awalnya Bunda Alya merasa khawatir.


Khawatir kalau Bella lepas kendali mengingat selama ini Bella banyak menahan diri dari segala gosip tidak jelas tentang mereka.


Tapi ternyata kekhawatirannya tidak terbukti. Bella dapat menahan emosinya sehingga keributan yang tidak perlu dapat dihindari.


Tadi pun menjadi momen bagi Bella untuk menjelaskan tentang siapa Bella dan apa kegiatannya.


Bella juga sedikit menjelaskan tentang usaha yang dikelolanya.


Semoga setelah semua penjelasan Bella dan tentu saja gertakan Bella, para tetangga mereka akan berhenti berpikiran jelek dan berhenti bergosip tidak jelas tentang mereka.


Menjelang siang Bunda Alya yang berniat menengok tokonya sebentar terpaksa menundanya karena kedatangan tamu.


Tamunya tersebut adalah Bu Mar. Bunda Alya merasa heran karena selama ini dia dan Bu Mar tidaklah dekat.


Biasanya mereka hanya bertemu di tempat mangkal Kang Maman atau di tempat arisan RT atau RW.


Mereka pun jarang mengobrol bersama, hanya sebatas mengucapkan salam dan menyapa sekedarnya.


Bukannya Bunda Alya yang tidak mau dekat dengan Bu Mar tapi Bunda Alya melihat Bu Mar seperti menjaga jarak darinya makanya dia tidak berusaha untuk dekat dengan ibu itu.


"Maaf Bu Alya, Saya tiba-tiba datang kemari," kata Bu Mar.


Bu Mar terlihat gelisah, sepertinya ada yang sedang dipikirkannya.


"Tidak apa-apa Bu, ada apa ya Bu?" langsung Bunda Alya bertanya.


"ini Bu...aduh bagaimana ya...maksud kedatangan Saya ke sini...," Bu Mar terdiam.


Bunda Alya semakin penasaran, apa tujuan Bu Mar datang ke rumahnya. Terlebih melihat gestur Bu Mar yang gelisah tidak menentu. Ada apa ini, pikir Bunda Alya.

__ADS_1


__ADS_2