Hello Bella

Hello Bella
Episode 37 : Three Things Can't Be Long Hidden:The Sun, The Moon & The Truth (2)


__ADS_3

Bunda Alya berjalan mendekat kemudian duduk di kursi sebelah Bella.


"Wah sepertinya obrolan serius nih," kata Bunda Alya.


Bella menghela napasnya pelan kemudian memiringkan badannya sehingga kini dia menghadap ke arah bundanya.


"Tadi Bella sama ayah bicara banyak hal," Bella memulai bicara.


Bella berharap pembicaraan ini berjalan dengan lancar dan dia akan mendapat jawaban yang selama ini dia cari.


Cerita versi ayahnya sudah Bella dengar dan sekarang Bella ingin mendengar cerita versi bundanya.


Bella berharap setelah mendengarkan kedua versi cerita tersebut semuanya menjadi jelas karena Bella merasa ada yang janggal dalam kejadian yang menimpa keluarganya dulu.


"Oh...terus?" tanya Bunda Alya.


"Bella bertanya kepada ayah tentang alasan ayah dan bunda bercerai."


"Ayah sudah menceritakan semuanya."


Mendengar hal itu, Bunda Alya tampak terkejut tapi kemudian dia cepat berusaha menenangkan hatinya.


"Ayah mengakui semua salah ayah."


"Ayah yang secara tidak sadar telah berselingkuh dengan mantan pacarnya."


"Walaupun ayah tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu dan juga tidak ada maksud lain selain berteman tapi ayah telah membiarkan wanita itu mendekati ayah."


"Ayah terlambat menyadari kalau kedekatan dengan wanita yang bukan mahramnya adalah hal yang tidak baik dan dapat menimbulkan fitnah."


"Ayah juga merasa bersalah karena telah membiarkan wanita itu menjadikan ayah sebagai teman curhatnya."


"Ayah menyesal telah memberikan bantuan kepada wanita itu tanpa sepengetahuan dan seijin bunda."


"Ayah juga menyesal karena kesalahan ayah, bunda mengalami kecelakaan sehingga kita kehilangan adik."


Bunda Alya terus mendengarkan semua yang dikatakan Bella. Ingatan kejadian di masa lalu silih berganti muncul.


"Ayah juga mengatakan kalau ayah masih sangat mencintai bunda."


"Dari dulu sampai sekarang ayah masih sangat mencintai bunda."


Perkataan Bella yang terakhir sukses Bunda Alya terkejut, seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Ayahmu mengatakan itu?"


"Iya Bun."


Tidak, tidak mungkin Mas Aiman mengatakan itu, batin Bunda Alya.


"Bun, apa Bunda masih mencintai ayah?"

__ADS_1


Bunda Alya tidak menjawab. Dia bingung harus menjawab apa. Kalau dia mengatakan iya, dia merasa begitu menyedihkan, mencintai laki-laki yang tidak mencintainya, yang hanya menganggapnya sebagai tanggung jawabnya.


Kalau dia mengatakan tidak, apa Bella akan percaya. Sepertinya tidak, Bella bukan anak kecil lagi, Bella pasti bisa menerka bagaimana perasaan bundanya terhadap ayahnya.


"Bun."


"Bella, apa yang terjadi di masa lalu biarkan berlalu ya, tidak penting bagaimana perasaan bunda kepada ayah," kata Bunda Alya.


"Apa Bunda masih mencintai ayah?" tanya Bella kembali.


"Bella..." tiba-tiba kata-kata yang ingin diucapkan Bunda Alya tertahan di lidahnya.


Bunda Alya teringat tekadnya untuk tidak membiarkan Bella tahu ada yang sebenarnya terjadi.


Bunda Alya tidak ingin Bella membenci ayahnya sendiri.


"Bunda tolong jawab, ini penting buat kita," kata Bella.


"Penting banget karena ini akan menentukan masa depan keluarga kita, jadi tolong bunda jawab dengan jujur, katakan yang sebenarnya."


"Kenapa kamu ngotot ingin tahu, semuanya sudah berlalu, ayahmu dan Bunda, kami memiliki kehidupan masing-masing."


"Bunda bahagia hidup berdua saja denganmu."


"Bunda yakin ayahmu sudah menemukan kebahagiaannya sendiri."


"Dari mana Bunda tahu ayah bahagia, bertahun-tahun ayah menderita," bantah Bella.


"Ayah jatuh bangun sendirian berusaha menata hidupnya kembali."


"Ayah berusaha keras untuk memantaskan dirinya agar bisa kembali kepada kita."


"Ayah sangat mencintai Bunda dan benar-benar berharap bisa kembali bersama kita."


"Itu kata-kata ayahmu atau itu hanya asumsi kamu saja karena kamu sangat mengharapkan kami bersama kembali."


"Itu kata-kata ayah sendiri dan Bella sangat yakin perasaan ayah untuk Bunda itu tulus."


"Bella, kamu sudah dewasa, Bunda harap kamu bisa membedakan yang mana kenyataan dan yang mana angan-angan."


"Bunda tahu kamu sangat menginginkan keluarga kita utuh kembali tapi itu tidak mungkin."


"Kenapa tidak mungkin Bunda?"


"Ayah dan Bunda masih saling mencintai, tidak ada orang lain dalam hidup ayah dan Bunda selama ini, jadi apanya yang tidak mungkin?"


Bunda Alya terdiam kembali, dia tidak bisa membantah perkataan Bella yang menyatakan kalau dia masih mencintai ayahnya Bella.


Tapi untuk kembali bersama, sepertinya ini hanya keinginan Bella saja.


"Bella...Bunda mohon berhenti mengharapkan hal yang tidak mungkin, kamu sudah dewasa, Bunda mohon kamu mengerti keadaan Bunda."

__ADS_1


"Keadaan mana yang harus Bella mengerti, keadaan Bunda yang masih mencintai ayah tapi terus mengingkarinya, keadaan Bunda yang masih selalu merindukan ayah tapi selalu berusaha menjauh dari ayah."


"Bella bukan anak kecil lagi Bunda, Bella sering melihat Bunda melamun saat Bunda sendiri, Bella tahu Bunda masih menyimpan foto-foto ayah dan terkadang Bunda lihat-lihat foto itu lalu menangis."


"Kamu..."


"Bella tahu Bunda, serapat apapun Bunda simpan perasaan Bunda, terkadang secara tidak sadar Bunda memperlihatkan apa yang Bunda rasa."


"Bunda..."


"Ayahmu tidak pernah mencintai Bunda!" sebelum Bella melanjutkan kata-katanya, Bunda Alya berucap dengan nada tinggi.


Bunda Alya menarik napas dan perlahan mengeluarkannya.


"Bunda rasa kamu sudah tahu kalau pernikahan ayah dan Bunda karena perjodohan, ya kan?"


Bella mengangguk sebagai jawaban.


"Ayahmu menerima perjodohan kami sebagai baktinya kepada orang tuanya."


"Karena itu, ayahmu terpaksa melepaskan kekasihnya, cinta pertama ayahmu yang telah bersamanya selama bertahun-tahun."


Dahi Bella mengernyit bingung, kenapa ceritanya berbeda tapi Bella berusaha menahan mulutnya untuk tidak menyela cerita sang bunda.


"Ayahmu sangat baik memperlakukan Bunda walaupun dia tidak mencintai Bunda."


Berulang kali Bunda Alya mengatakan kalau ayah Bella tidak mencintainya padahal sudah berulang kali pula Bella mengatakan kalau ayahnya sangat mencintai bundanya.


Sepertinya pendengaran bundanya menolak kata-kata kalau ayahnya masih sangat mencintai bundanya sehingga informasi ini tidak masuk ke otak sang bunda, Bella berteori dalam pikirannya.


"Kamu tanya apa Bunda masih mencintai ayahmu, jawabannya iya, Bunda masih mencintai ayahmu."


"Awalnya rasa itu tidak ada tapi seiring waktu perasaan cinta tumbuh di hati Bunda tanpa bisa Bunda cegah."


"Sampai kemudian Bunda berharap ayahmu akan bisa mencintai Bunda juga nantinya."


"Tapi harapan tinggal harapan, ayahmu tidak pernah mencintai Bunda."


"Ayahmu hanya mencoba bersikap baik kepada Bunda."


"Lalu kamu hadir di antara kita, itu membuat ayahmu semakin terikat dengan Bunda."


"Tapi jauh di dalam hatinya, ayahmu masih mencintai mantan kekasihnya."


Air mata Bunda Alya mengalir di pipinya tanpa bisa dia tahan lagi.


Terlalu menyakitkan baginya untuk mengingat peristiwa itu.


Melihat bundanya menangis, hati Bella terasa sakit tapi semua harus diungkapkan sekarang.


Bella tetap merasa yakin ada yang salah di sini. Kenapa cerita sang ayah dan bundanya berbeda. Siapa yang benar, siapa yang salah atau mungkinkah ada kesalahpahaman di sini.

__ADS_1


Bunda maafkan Bella, tapi Bella harus tahu ada apa sebenarnya ini, batin Bella.


__ADS_2