
Sejak dari pagi Bunda Alya pergi ke tokonya, jadi tidak sempat memasak. Salah satu pegawainya mendadak izin tidak masuk kerja karena anaknya sakit sementara hari ini ada pesanan snack box dalam jumlah yang cukup banyak.
Demi kelancaran pengerjaan pesanan tersebut, Bunda Alya turun tangan. Bunda Alya selalu berusaha menjaga kepercayaan pelanggan dengan memberikan kualitas kue dan roti yang sesuai dengan pesanan dan selalu berusaha tepat waktu dalam penyelesaian pesanan tersebut.
Kalau sudah begini, biasanya Bunda Alya bisa seharian berada di toko. Normalnya Bunda Alya akan datang ke toko jam 08.00 sementara toko buka jam 09.00 jadi Bunda Alya dan pegawainya memiliki waktu untuk persiapan.
Namun jika ada pesanan seperti saat ini maka Bunda Alya dan pegawainya akan datang lebih awal.
Dari semalam Bunda Alya dibantu Bu Indah sudah mulai mengerjakan beberapa macam kue seperti bolu gulung, risoles dan pie. Bunda terpaksa mengerjakannya di rumah karena kalau dikerjakan di toko yang merangkap rumah produksi itu akan memakan waktu yang lama, bisa-bisa bundanya pulang malam banget.
Semoga saja rumah sekaligus toko mereka yang sedang dibangun segera rampung jadi akan lebih mudah bagi Bunda Alya untuk mengelola tokonya.
Kalau sudah sibuk begini, biasanya Bunda Alya tidak sempat memasak untuk di rumah. Dan disinilah Bella sekarang, di ruang makan di depan lemari pendingin memandang selembar sticky note berwarna merah muda dengan tulisan sang bunda di sana.
Bel, Bunda enggak masak ya, tapi di kulkas ada ayam ungkep sama tahu tempe, tinggal kamu goreng, kalau mau sayur, ada kangkung, tinggal kamu tumis saja.
Bunda pulang sore ya.
Bunda Alya selalu menyimpan stok masakan setengah jadi di lemari pendinginnya untuk berjaga-jaga jika Bunda Alya tidak sempat memasak.
Alih-alih membuka lemari pendingin untuk mengambil ayam ungkep, tahu dan tempe untuk dimasak, Bella malah membuka lemari tempat bundanya menyimpan stok mie instan.
Yah, mienya enggak ada, keluh Bella.
Entah kenapa hari ini Bella sangat ingin makan mie instan ditambah telur setengah matang dan jangan lupa si pedas cabe setan. Walau pedasnya masih kalah sama pedasnya mulut tetangga julid, tapi cabe ini bisa bikin segar.
Bella bergegas menuju warung Bu Hana yang masih berada di komplek tempat tinggalnya.
"Teh Bella!" teriak seseorang memanggil Bella.
""Hai Adzriel," balas Bella.
Adzriel yang masih mengenakan seragam sekolahnya berlari mendekati Bella.
"Baru pulang sekolah?" tanya Bella.
"Sudah pulang dari tadi Teh, tadi nongkrong dulu sama teman," jawab Adzriel. "Teteh mau kemana?"
"Mau ke warung Bu Hana, pengen beli mie instan."
__ADS_1
"Kebetulan Aku juga mau ke warung Bu Hana, ayuk Teh bareng."
"Teteh, kata Mbakku Teh Bella sudah punya pacar ya," tanya Adzriel kemudian.
"Hmm...iya," jawab Bella.
Walaupun sudah tahu sebelumnya kalau Bella telah memiliki pacar tapi mendengar langsung dari mulut gadis itu kalau memang dia sudah punya pacar kok rasanya lebih menyakitkan.
Yaelah, beneran patah hati Aku, cintaku layu sebelum berkembang, keluh Adzriel dalam hati.
Baru mereka berjalan beberapa langkah terlihat keributan di depan mereka.
Seorang anak laki-laki sedang memukuli seorang anak laki-laki yang lebih kecil darinya.
"Haduh si Topan ini," gerutu Adzriel sambil berlari mendekati anak-anak itu. Bella pun ikut berlari mengejar Adzriel.
"Hei...Topan, berhenti jangan pukulin Adam, berhenti," teriak Adzriel.
Bocah yang dipanggil Topan itu seolah tidak mendengar dia terus memukuli Adam yang berusaha melindungi kepalanya dari kepalan tangan Topan yang terus mengarah ke arah kepalanya.
Dengan cepat Adzriel mengambil Adam dan menjauhkannya dari Topan. Topan memandang Adzriel tidak suka. Tidak terlihat sedikitpun dia takut kepada Adzriel.
"Awas kamu ya Dam," ancam Topan sambil pergi.
"Hei mau kemana kamu, sini!" kembali Adzriel berteriak sementara Topan terus melenggang pergi.
"Dasar bocah nakal," gerutu Adzriel.
"Dam, kenapa si Topan bisa pukulin kamu, kenapa kamu enggak lawan atau lari saja, malah diam saja."
"Adam enggak sengaja senggol badan Topan tadi, es krim Topan jatuh terus Topannya marah-marah minta ganti."
"Adam sudah bilang mau ganti tapi mau pulang dulu mau minta uang sama mama, eh Topan enggak percaya Topan bilang Adam mau ngadu sama mama," Adam menjawab sambil menangis.
Bella mengamati Adam, ada luka di sudut bibirnya, pipi kiri dan kanan memerah, baju Adam kotor sekali. Ya Allah, kasihan banget Adam, batin Bella.
"Dziel, kita antar Adam pulang yuk," ajak Bella.
"Baik Teh," jawab Adzriel sambil menggendong Adam.
__ADS_1
Dalam perjalan menuju rumah Adam, Adzriel bercerita kalau Topan adalah anak bungsu Bu Dian, salah satu teman dekat Bu Ratih.
Usia Topan baru 9 tahun tapi kenakalannya sudah tersebar di seluruh komplek dan sekolahannya.
Topan tidak segan-segan memukuli anak-anak yang dianggapnya sudah mengganggu dia atau saat mereka menolak meminjamkan mainan.
Selain itu, Topan memiliki kebiasaan kasar saat berbicara. Sederet nama binatang sering terucap dari mulutnya saat dia berbicara atau marah.
Bella terkejut mendengarnya, kok bisa anak sekecil itu memiliki temperamen yang kasar dan ringan tangan. Bahkan dari usia dini, Topan sudah berperilaku seperti ini.
Untuk anak sekecil Topan, perilakunya kemungkinan terbentuk karena pengaruh dari lingkungan terdekatnya dalam hal ini keluarganya.
Bella penasaran bagaimana perlakuan yang diterima Topan dari Bu Dian dan suaminya, kok bisa-bisanya perilaku anaknya jadi seperti ini.
Bella tahu kalau lingkungan di luar juga bisa mempengaruhi perilaku anak tapi berdasarkan cerita Adzriel kalau Topan sudah seperti ini sedari kecil maka Bella pun berkesimpulan kalau sumber dari pengaruh buruk yang didapat Topan berasal dari keluarganya.
"Dzriel, kalau Bu Dian atau suaminya galak enggak sih sama anaknya?" tanya Bella saking penasarannya.
Bukannya kelewat kepo karena mau tahu urusan orang lain tapi Bella benar-benar penasaran.
"Bukan galak lagi Teh, Bu Dian tuh kalau marah sama anak-anaknya, sudah mulutnya mencaci maki, tangannya juga tidak diam, habis anaknya dipukul, dicubit," jawab Adzriel.
"Kok kamu bisa tahu Dzriel?"
"Warga komplek sini sudah khatam Teh sama kelakuan Bu Dian, Bu Dian tuh kalau marahin anak enggak lihat tempat, bisa di mana saja."
"Pernah ada tetangga yang menegur karena kasihan melihat anaknya dipukulin, eh Bu Dian malah balik marahin tetangganya itu, dia bilang anak saya, terserah saya mau ngapain, ini juga buat kebaikan dia biar kapok."
Seumur hidupnya, Bella belum pernah dipukul atau dimarahi dengan kata-kata kasar oleh ayah bundanya jadi mendengar ada hal seperti ini di dekatnya membuat Bella benar-benar terkejut dan dia pun merasa kasihan kepada Topan.
"Kasihan ya Topan," kata Bella.
Mendengar itu, Adzriel menoleh ke arah Bella.
"Kok kasihan si Teh?" tanya Adzriel.
Sebelum Bella menjawab, dari arah belakang mereka seorang ibu yang mengendarai sepeda motor dengan membonceng anak kecil melaju ke arah mereka sambil berteriak-teriak. Di belakangnya ada sepeda motor lain yang dinaiki oleh dua orang ibu mengikuti sepeda motor di depannya.
"Hei...berhenti kalian!"
__ADS_1