
"Begini Abiyan..." Ayah Aiman terdiam sesaat, menghela napasnya kemudian melanjutkan pembicaraannya.
"Saya tidak terlalu mengenal Pak Galih, tapi Saya kenal dengan keluarga istrinya Pak Galih."
"Beberapa tahun yang lalu Saya pernah terlibat masalah yang cukup pelik dengan keluarga tante Kamu."
Ayah Aiman menghentikan sesaat ucapannya. Dia teringat kembali peristiwa bertahun lalu namun rasa sakit yang dulu dirasakannya masih sering teringat.
Bagaimana caci maki yang didapatnya dari keluarga Ratna yang tidak mau menerima penjelasannya dan terus menyalahkannya.
Menganggap dia yang telah memulai segala persoalan yang terjadi, menganggap dia yang telah memberi Ratna harapan palsu.
Mereka tetap meminta pertanggungjawaban karena telah membuat malu keluarga mereka.
Bagaimana mana bisa mereka melakukan itu sementara Ayah Aiman memang tidak pernah menjanjikan apa-apa kepada Ratna.
Sampai kemudian Ratna diagnosa menderita gangguan delusi pun, dia yang disalahkan.
Hal ini tidak dia ceritakan kepada mantan istrinya, dia tidak ingin menambah beban pikiran Bunda Alya.
"Perceraian Saya dan bundanya Bella pun terjadi karena fitnah dari adik tantemu itu."
"Terakhir kali Saya bertemu dengan tantemu dan keluarganya, mereka tetap menyalahkan Saya."
"Kamu bisa tanyakan soal ini kepada Pak Galih, dia juga mengetahui semuanya."
Abiyan dengan serius memberikan segala perhatiannya kepada Ayah Aiman. Dia berusaha mulai mencerna apa yang barusan disampaikan ayahnya Bella tersebut.
"Maksud Saya memberitahu tentang ini kepadamu, bukan untuk menjelek-jelekkan keluarga Pak Galih."
"Saya hanya ingin Kamu tahu kalau ada persoalan diantara Kami yang sampai saat ini belum terselesaikan dan Saya ingin Kamu mendengar cerita versi Saya."
"Jika Kamu dan Bella memang berjodoh, Saya harap apapun yang pernah terjadi diantara Saya dan keluarga Pak Galih tidak akan berpengaruh pada kehidupan kalian kelak."
"Saya juga berharap Bella dan bundanya tidak mendapat masalah atau gangguan lagi dari keluarga tante Kamu."
"Kamu pasti berpikir Saya terlalu berlebihan, mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi."
__ADS_1
"Saya bisa mengerti jika memang Kamu berpikir begitu."
"Tapi untuk Saya tidak ada yang terlalu berlebihan jika itu menyangkut kebahagian Bella dan bundanya."
Abiyan sama sekali tidak mengetahui ada masalah apa antara keluarga Bella dengan keluarga tantenya itu namun satu hal yang Abiyan tahu, apapun masalahnya, itu tidak akan dia biarkan mempengaruhi hubungannya dengan Bella.
"Saya bisa mengerti perasaan Bapak, sebagai seorang ayah pasti Bapak ingin memastikan kalau Bella akan baik-baik saja."
"In Shaa Allah Pak, Saya akan selalu berusaha menjaga Bella dari apapun yang mungkin akan menyakitinya termasuk jika itu datang dari keluarga Saya."
"Saya pegang kata-kata Kamu dan kalau sampai Kamu kelak lalai menjaga Bella, Saya akan lakukan apapun untuk membawa dia pergi."
"Baik Pak, Saya mengerti."
"Oh ya Abiyan, Kamu bisa panggil Saya ayah seperti Bella memanggil Saya, rasanya seperti sedang bicara dengan orang lain kalau Kamu terlalu formal begitu."
"Iya Pak...eh Ayah, terima kasih," Abiyan merasa bahagia, ini seperti pengakuan atas statusnya sebagai calon suami Bella dari ayahnya Bella, yah walaupun belum ada ikatan pertunangan atau apapun.
Abiyan merasa dia sudah dianggap sebagai anak oleh Ayah Aiman, bukan lagi sebagai orang luar.
Pembicaraan mereka kemudian berlanjut dengan suasana lebih santai. Sampai satu jam kemudian Abiyan pamit untuk pulang.
Pembicaraan mereka seputar kekhawatiran Ayah Aiman tentang kemungkinan berurusan kembali dengan Ratna dan keluarganya.
Bunda Alya yang juga memiliki kekhawatiran yang sama pun mencoba untuk menyakinkan mantan suaminya itu untuk tidak terlalu mengkhawatirkan apa yang belum tentu terjadi.
Apapun yang akan terjadi kelak terjadilah dan selalu yakin saja Allah lah sebaik-baiknya pengatur hidup dan kehidupan umat-Nya dan Allah lah sebaik-baiknya pelindung.
Mendengar penuturan Bunda Alya, Ayah Aiman merasa lebih tenang.
Bunda Alya juga menyarankan agar mereka lebih fokus kepada kehidupan mereka saat ini.
Keesokan harinya Ayah Aiman kembali ke Jakarta, kembali kepada rutinitas harian yang bekerja di salah satu perusahaan besar di sana.
Hubungan Ayah Aiman dan Bunda Alya semakin membaik. Komunikasi melalui ponsel terjalin setiap hari.
Terkadang hanya sekedar menanyakan kabar, sudah makan atau belum atau pembicaraan ringan lainnya.
__ADS_1
Tidak jarang mereka juga terlibat dengan pembicaraan serius yang bisa menghabiskan waktu lebih dari satu jam.
Setiap Jum'at malam Ayah Aiman pergi ke kota tempat Bella dan bundanya tinggal. Dia memilih menginap di hotel yang letaknya tidak terlalu jauh dengan rumah Bella.
Ayah Aiman kembali ke Jakarta pada hari Minggu sorenya. Hampir setiap pekan dia melakukan ini. Kecuali ada acara dari perusahaan yang mengharuskan dia hadir, barulah dia absen mengunjungi Bella dan Bunda Alya.
Melelahkan, tentu saja namun itu tidak sebanding dengan rasa bahagia yang dia rasakan.
Dia kembali merasakan rasanya memiliki "rumah", tempat dia kembali untuk melepas lelah, melepaskan rindu dan rumah itu adalah Bella dan bundanya.
Beberapa bulan kemudian Ayah Aiman kembali meminta Bunda Alya untuk kembali membangun rumah tangga kembali dengannya.
Dan tanpa keraguan, Bunda Alya pun menerima niat baik Ayah Aiman tersebut.
Setelah menemui keluarga besar baik dari pihak Ayah Aiman maupun pihak Bunda Alya untuk memberitahu rencana rujuk mereka sekaligus memohon restu maka segala persiapan mulai dilakukan.
Tidak ada kendala dari pihak keluarga, semua memberikan restu dan berharap mereka segera kembali bersama.
Keluarga memberikan nasihat agar keduanya selalu saling terbuka jika ada masalah. Sehingga apa yang pernah terjadi dahulu tidak akan terulang kembali.
Yang paling berbahagia di sini tentu saja Bella. Dia merasa hari-harinya lebih menyenangkan.
Apa yang sedari dulu dia harapkan akan segera terwujud.
Memiliki keluarga yang utuh, tinggal dalam rumah yang sama, setiap hari bisa bertemu. Tidak sabar rasanya Bella menunggu saat itu.
Satu-satunya kendala yang sempat menghadang adalah masalah akan tinggal di kota mana mereka.
Ayah Aiman yang tinggal dan bekerja di Jakarta, tidak bisa begitu saja pindah kerja mengingat karirnya di perusahaan itu sudah mapan.
Sementara Bunda Alya, tidak bisa pindah mengikuti Ayah Aiman karena di kota ini dia memiliki usaha yang cukup berkembang.
Bukannya mementingkan usahanya sendiri namun Bunda Alya memiliki pegawai yang tidak sedikit, yang menggantungkan hidupnya pada usahanya tersebut.
Setelah keduanya membicarakan hal ini, akhirnya mereka sepakat untuk tidak mempermasalahkan soal tempat tinggal.
Ayah Aiman tetap bekerja di Jakarta sambil berusaha mencari kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di kota tempat tinggal Bella.
__ADS_1
Dia akan pulang setiap seminggu sekali atau Bunda Alya dan Bella yang akan ke Jakarta jika usahanya bisa dihandle oleh pegawainya.
Tinggal menghitung hari saat bahagia itu akan datang, semoga semua berjalan dengan lancar, semoga tidak ada aral melintang, semoga...