Hello Bella

Hello Bella
Episode 39 : Three Things Can't Be Long Hidden:The Sun, The Moon & The Truth (4)


__ADS_3

Pukul 06.30 Ayah Aiman telah sampai di rumah Bella padahal janjinya pukul 07.00 WIB. Entah karena Ayah Aiman ingin segera bertemu dengan Bunda Alya atau mungkin Ayah Aiman ini penganut lebih baik datang lebih awal dari pada terlambat.


Bella menyambut kedatangan ayahnya dengan suka cita sementara bundanya sejak subuh tadi terlihat gelisah.


Saat ini Ayah Aiman dan Bella sedang duduk sambil mengobrol di teras. Bunda masih sibuk di dapur mempersiapkan nasi goreng spesial permintaan Bella.


Biasanya Bunda Alya bisa cepat dalam memasak apalagi hanya memasak nasi goreng. Entah mengapa hari ini ada saja yang membuatnya lambat.


Ada bumbu yang kurang lah, bahannya ada yang lupa dipersiapkan, mendadak lupa dimana menyimpan piring saji.


Pukul 7 lebih akhirnya nasi goreng itu tersaji di meja makan. Ayah Aiman, Bunda Alya dan Bella duduk bersama di meja makan.


Biasanya Bunda Alya tidak pernah membiarkan tamu laki-laki masuk ke dalam rumahnya kecuali jika ada keperluan mendesak seperti tukang perbaikan rumah atau servis AC.


Hari ini Bunda Alya mempersilahkan Ayah Aiman untuk sarapan bersama di dalam rumah.


Selain nasi goreng Bunda Alya juga memasak ayam goreng, telur mata sapi dan perkedel kentang.


Nasi goreng buatan Bunda Alya hari ini terlihat lebih wah dari biasanya. Ditata dengan cantiknya di atas piring saji dilengkapi dengan garnis yang dipotong dengan rapi.


Potongan ayam goreng yang hampir sama ukurannya dengan warna hasil pengorengan yang merata terlihat begitu menggoda. Begitupun dengan perkedel kentangnya.


Setelah berdoa bersama mereka pun mulai menyantap hidangan yang tersaji. Hanya Bella dan Ayah Aiman yang terlihat banyak bicara sementara Bunda Alya hanya menanggapi jika ditanya.


Ada keluarga yang membiasakan anggota keluarganya untuk duduk tenang tanpa banyak bicara saat makan. Sedangkan keluarga Bella, sejak Bella masih kecil saat berkumpul di meja makan pun digunakan untuk saling mengobrol, tentunya dengan bahasan yang ringan-ringan dan menyenangkan.


Selesai makan, Ayah Aiman kembali duduk di teras. Di hadapannya kini tersaji secangkir teh hangat dengan tambahan gula batu kesukaannya.


Beberapa toples berisi kue kering tersaji juga di meja itu. Kue-kue kesukaannya. Rupanya sang mantan istri tidak lupa dengan minuman dan makanan ringan kesukaannya.


Tak lama kemudian Bunda Alya datang dan segera duduk di hadapan Ayah Aiman. Mereka terlihat canggung. Bella yang dari tadi jadi pembangun suasana akrab memilih masuk ke kamarnya setelah sebelumnya membereskan meja makan dan mencuci piring.


Bella sengaja memberikan waktu untuk kedua orang tuanya untuk berbicara berdua saja. Bella rasa ada yang bundanya ingin bicarakan dengan ayahnya tapi bundanya tidak ingin Bella mengetahui isi pembicaraan itu.


"Terima kasih untuk makanannya, seperti biasa masakanmu selalu enak." ucapan terima kasih dan pujian Ayah Aiman sampaikan kepada Bunda Alya.


"Sama-sama Mas," singkat Bunda Alya menjawab.


"Semalam Bella menghubungi Mas lagi, Bella menceritakan apa yang kalian bicarakan sebelumnya."

__ADS_1


Mendengar hal itu Bunda Alya tidak terkejut, sudah dia duga kalau Bella akan menceritakannya kepada ayahnya.


Bella benar-benar berniat menjadi pemersatu kedua orang tuannya.


"Kenapa kamu bisa berpikir kalau Mas tidak mencintai kamu selama ini?"


"Kenapa kamu malah berpikir kalau Mas masih mencintai Ratna?"


"Dapat pemikiran dari mana itu?"


"Al, Mas akui Mas memang melakukan kesalahan itu, tapi tidak ada sedikitpun niat Mas untuk mengkhianati pernikahan kita."


"Mas juga tidak memiliki perasaan apapun lagi kepada Ratna."


"Kenapa susah sekali bagimu untuk mempercayai Mas?"


"Sebegitu besarkah rasa kecewa kamu sama Mas sampai-sampai kamu benar-benar menutup hatimu untuk Mas."


"Semalam Bella mengatakan kalau kamu bilang kamu masih mencintai Mas, betul itu?"


Bunda Alya masih terdiam, dari sekian pertanyaan Ayah Aiman belum satupun yang dijawabnya.


"Al, ada apa sebenarnya?"


"Mas, bukannya Mas masih sangat mencintai Ratna?"


"Bukannya Mas hanya menganggap Aku sebagai bentuk bakti Mas sama orang tua Mas dan kemudian Mas anggap sebagai tanggung jawab?"


"Maksud kamu apa?"


"Sejak Mas menerima perjodohan kita, Mas sudah bertekad menghapus semua perasaan Mas kepada Ratna."


"Tolong Mas jangan berdusta, Aku tahu Mas masih mencintai dia."


"Tahu dari mana Al, sebelum Mas bertemu kembali dengan Ratna waktu itu, tidak pernah sekalipun Mas bertemu dengannya."


"Saat dia memutuskan Mas, saat dia menolak untuk berjuang bersama Mas dan malah memilih menikah dengan laki-laki pilihan ayahnya, Mas sudah memutuskan untuk menghapus namanya dalam hidup Mas."


"Saat orang tua Mas berniat menjodohkan kita kembali, Mas memohon petunjuk kepada Allah melalui shalat istikharah, setelah itu hati Mas seolah selalu digerakkan ke arah kamu."

__ADS_1


"Allah seperti memperlihatkan inilah jodoh Mas."


"Mas pernah memimpikan kamu sedang tersenyum ke arah Mas sambil menggendong seorang bayi."


"Mas yakin sekali itu pertanda dari Allah makanya Mas menyetujui perjodohan kita."


"Dan ternyata pilihan Mas tepat, jika awalnya Mas hanya tertarik kepadamu tapi setelah kita menikah, rasa tertarik itu mulai berkembang menjadi cinta."


"Mas tidak sedang apa ya... kalau kata Bella itu menggombal, tidak Al, Mas serius."


"Semudah itu Mas melupakan Ratna dan tidak butuh waktu lama sudah merasakan cinta kepadaku, Mas jangan bercanda, Aku bukan anak ABG yang mudah percaya kata-kata seperti itu."


"Al, kamu tahu kan Mas itu orangnya seperti apa, Mas mencoba menjadi laki-laki yang realistis, saat seorang wanita dengan sukarela melepaskan Mas dengan begitu saja demi laki-laki lain, Mas anggap dia tidak menganggap Mas penting lagi."


"Saat Mas sudah tidak dianggap apa Mas masih mau mengharapkan wanita seperti itu, tentu saja tidak."


"Ego Mas jelas-jelas menolak dan Mas juga menganggap dia memang diciptakan bukan untuk Mas, dia hanya singgah beberapa saat di hati Mas sebelum akhirnya pemilik hati Mas yang sebenarnya datang."


"Dan wanita itu kamu Al, hanya kamu, dari dulu sampai sekarang, mungkin sampai nanti akan selalu kamu."


"Mas..."


Bunda Alya terdiam tidak melanjutkan kata-katanya. Apa yang dia dengar langsung dari Ayah Aiman jelas-jelas membuat hatinya tidak karuan.


Apa yang diyakininya selama ini dan apa yang didengarnya barusan sangat bertolak belakang.


"Tolong katakan dengan jujur mengapa kamu begitu teguh meminta cerai kepada Mas waktu itu?"


"Mas tahu kamu kecewa kepada Mas tapi Mas juga tahu kamu wanita penyayang dan pemaaf."


"Please Al, tolong katakan semuanya, Mas mohon."


"Apa ada hal lain yang membuatmu begitu sulit memaafkan dan menerima Mas kembali?"


Bunda Alya menatap mantan suaminya, suara mengiba dan tatapan penuh harap itu seakan menusuk-nusuk hatinya.


Baiklah inilah saatnya dia akan mengatakan semuanya, semua yang selama ini dia simpan rapat-rapat.


"Mas..."

__ADS_1


__ADS_2