
Sebelum pergi Bella mengirimkan pesan kepada Anggi, meminta gadis itu melakukan sesuatu untuknya. Setelah itu Bella pamit kepada bundanya dan segera berlalu menuju warung Bu Hana.
Langkahnya tergesa, rasa penasaran mengerubuti hatinya. Gosip apa lagi sekarang, tanyanya dalam hati.
Bella sering kali merasa heran sekaligus takjub kepada para tetangganya yang mendedikasikan hidupnya untuk hal-hal tidak penting.
Seperti kebiasaan me-review kehidupan tetangga lainnya, menyalahkannya tapi giliran ditanya soal solusi atau diminta bantuan semua mendadak bungkam atau pura-pura tidak tahu.
Dan untuk tetangganya yang hobi bergosip yang seakan tidak pernah kehabisan bahan gosip, mereka sungguh luar biasa, ya luar biasa menyebalkan.
Apa mereka tidak punya kehidupan, pasti punyalah mungkin mereka merasa kehidupan mereka kurang berwarna maka mereka mewarnai kehidupan mereka dengan berbagai review kehidupan orang lain terutama tetangganya.
Saat ada tetangga yang tertimpa masalah, mereka seolah punya wadah untuk menumpahkan segala celaan dan saat ada orang yang berhasil meraih sesuatu, cibiran pun terlontar.
Saat langkahnya semakin mendekati TKP, Bella memelankan langkahnya. Beruntung beberapa orang yang sedang berada di sana tidak ada yang melihat ke arahnya.
Mereka terlalu fokus membicarakan sesuatu. Salah satu dari mereka memperlihatkan layar ponselnya ke arah yang lainnya.
Bella juga melihat Anggi di sana, terlihat sangat tidak nyaman, seperti ingin memprotes mereka tapi dia coba menahan diri.
Celotehan mereka pun mulai terdengar di pendengaran Bella.
"Ini beneran si Bella, masa sih?" seorang ibu berbaju merah bertanya kepada yang lain sambil memperhatikan layar ponsel yang dipegangnya.
"Kan itu sudah ada buktinya, tuh lihat baik-baik fotonya, muka dia kan itu," ibu berbaju kuning menjawab sambil menunjuk layar ponsel itu.
"Dari tadi kan sudah saya bilang itu Bella, anaknya Bu Alya," kata ibu berbaju kuning lagi.
"Kelihatannya saja seperti anak baik-baik ternyata haduh...," mbak-mbak berbaju hijau turut menimpali.
"Lho bukannya anak kuliahan dia, bikin malu almamaternya atuh," ibu berbaju biru turut angkat bicara.
"Eh dia mah kerja di konter pulsa bukannya kuliah," ibu berbaju kuning menjawab.
"Ibu-ibu belum tentu seperti itu lho, jangan dulu suudzhan," kata ibu yang berada di dalam warung.
"Bu Hana sudah jelas ini ada buktinya," kembali ibu berbaju kuning menjawab.
"Anggi, kamu suka ngobrol bareng Bella kan?" tanya ibu itu kemudian kepada Anggi yang sedari tadi berdiri sambil memegang ponselnya.
"Ya Bu, Anggi sama Teh Bella memang temanan," jawab Anggi.
"Cari teman lain, nanti kamu kebawa-bawa, ih amit-amit deh."
"Bu Mar, Teh Bella mah enggak seperti itu," bela Anggi.
__ADS_1
Ternyata ibu berbaju kuning itu adalah Bu Mar alias Bu Damar, salah satu anggota geng Bu Ratih.
Bella melihat ke sekitar, tumben Bu Mar sendirian, biasanya tiga sekawan itu selalu seiring sejalan.
"Kamu tuh masih muda, masih polos banget, semua orang kamu bilang baik termasuk si Bella itu," Bu Mar mencoba mempengaruhi Anggi.
"Anggi jangan tertipu sama penampilan luarnya saja, kadang orang yang terlihat baik itu aslinya jahat."
"Sudah ah Ibu-ibu, kok malah sibuk ngomongin Bella terus ini," Bu Hana mencoba mengakhiri obrolan yang sarat fitnah ini.
"Eh Bu Hana, ini biar pada tahu saja kalau warga kita tuh ada yang enggak bener kelakuannya," kembali Bu Mar berucap.
"Jangan sampai karena kelakuan satu orang, satu komplek kita dicap jelek."
"Saya ini punya anak gadis, jangan sampai anak saya dianggap sama seperti Bella."
Bella baru tahu, Bu Mar ini ternyata sebelas dua belas tingkat kejulidannya dengan Bu Ratih.
Selama ini yang Bella lihat sosok Bu Ratih lah yang paling menonjol diantara mereka bertiga.
Dari tadi Bella merasa Bu Mar ini terus mengarahkan orang-orang di sekitarnya untuk menyetujui opininya. Opini sesat tentunya.
Bella menjadi penasaran foto apa sih yang dari tadi mereka bicarakan.
"Assalamu'alaikum," salam terucap dari mulut Bella.
"Wa'alaikumussalam," serempak mereka menjawab sambil menoleh ke belakang.
Betapa terkejutnya mereka, objek pembicaraan mereka sedari tadi tanpa sounding sudah berdiri di hadapan mereka dengan tatapan datar.
"Eh Bella, mau belanja ya," tanya ibu berbaju biru sedikit gugup.
Keheningan langsung menyelimuti warung Bu Hana, mulut yang dari tadi berceloteh kini terdiam.
Ibu-ibu yang berada di sana ada yang saling lirik, ada pula yang tiba-tiba sibuk dengan ponselnya.
"Maaf Bu, boleh saya lihat ponselnya?" pinta Bella kepada salah satu ibu yang tadi sibuk menunjukkan sesuatu yang katanya foto dirinya.
Si ibu melihat ke kiri ke kanan seakan bertanya kepada yang lain, berikan jangan. Yang lain hanya memberi tatapan yang sulit dia terjemahkan artinya.
"Boleh Bu?" tanya Bella kembali.
Akhirnya ibu itu menyerahkan ponselnya kepada Bella sambil berdoa semoga ponselnya dapat kembali ke tangannya dalam keadaan utuh tanpa kekurangan apapun.
Bella menerima ponsel tersebut, dilihatnya foto yang ada di layarnya. Foto itu benar foto dirinya bersama seorang laki-laki.
__ADS_1
Dalam foto itu terlihat Bella bergelayut manja di lengan laki-laki itu dan mereka terlihat jelas berada di sebuah hotel.
"Oh foto ini," kata Bella dengan nada suara yang datar.
Tidak terlihat raut terkejut atau was-was, Bella terlihat biasa-biasa saja.
Bella hanya merasa heran kok ada orang yang sempat-sempatnya memfoto dirinya. Benar-benar orang kurang kerjaan pikirnya.
"Ini Bu ponselnya, terima kasih," ucap Bella sambil menyerahkan kembali ponsel itu kepada pemiliknya.
"Dari mana Ibu mendapat foto itu?" tanya Bella.
"Ada yang mengirim foto itu ke nomor saya, ke nomor ibu-ibu yang lain juga," jawab ibu tersebut.
"Ibu tahu siapa pengirimnya?" tanya Bella lagi.
"Kami tidak tahu, nomornya tidak kami kenal," kata ibu yang lainnya.
"Itu benar kan kamu?" tanya Bu Mar dengan senyum sinisnya.
"Iya itu foto Saya," jawab Bella singkat.
"Sepertinya Kamu tidak terkejut atau setidaknya merasa malu melihat foto itu?" Bu Mar merasa heran kenapa Bella terlihat tenang.
Menurutnya, seharusnya Bella terkejut karena tertangkap basah sedang berduaan dengan seorang laki-laki dengan pose mesra di dalam hotel pula.
"Kenapa Saya harus terkejut atau malu Bu Mar?" tanya Bella sambil menatap ke arah Bu Mar.
"Ya itu foto Kamu yang maaf menurut kami tidak pantas, memalukan bahkan," kata Bu Mar dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Entah mengapa Bu Mar terlihat sedikit sewot mendapat tanggapan yang biasa-biasa saja dari Bella.
"Tidak pantas bagaimana Bu?" tanya Bella.
"Atas dasar apa Ibu menilai pantas tidaknya apa yang Saya lakukan dalam foto itu?"
"Ibu tidak tahu apa-apa tapi langsung memberi penilaian seperti itu kepada Saya."
"Menurut Saya apa yang sedari tadi Ibu bicarakan dengan ibu-ibu yang lain adalah fitnah yang keji buat Saya."
"Hanya karena sebuah foto yang dikirim orang tidak dikenal semua langsung membuat penilaian buruk tentang Saya."
"Tidakkah terpikir oleh ibu-ibu adanya kemungkinan lain selain hal yang buruk tentang Saya."
"Saya perhatikan dari tadi Bu Mar yakin sekali dengan tuduhan Bu Mar terhadap Saya."
__ADS_1
"Coba Bu Mar lihat lagi fotonya, lihat baik-baik, kesampingkan dulu rasa tidak suka Ibu kepada Saya agar penglihatan Ibu jelas."
"Apa maksud Kamu bicara seperti itu hah!" seru Bu Mar.