
"Al, Kamu percaya semua kata-kata Ratna?"
Ayah Aiman menatap Bunda Alya dengan pandangan sendu, ada kekecewaan yang dalam di sana.
"Memang kenyataannya seperti itu kan," jawab Alya.
"Kalian masih saling mencintai dan Aku cuma penghalang buat kalian bersatu."
"Aku menghargai apa yang sudah Mas lakukan selama kita menikah tapi maaf Aku tidak mau dimadu."
"Memang agama kita memperbolehkan Mas memiliki istri lebih dari satu orang tapi tidak sembarang orang bisa melakukannya."
"Harus mengerti dulu ilmunya dan Aku juga tidak yakin Mas bisa bersikap adil kepada kami."
"Aku..."
"Stop Al, stop," potong Ayah Aiman. Sebelum Bunda Alya bicara kemana-mana, dia merasa harus menjelaskan sesuatu.
"Pertama, Mas tidak pernah ada niatan untuk menikah lagi, ilmu agama Mas belum ada apa-apanya, poligami bukanlah hal mudah, pertanggung jawabannya dunia dan akhirat, dan lagi semua yang Mas inginkan dan Mas butuhkan ada semua di Kamu, Mas tidak butuh yang lain.
"Kedua, apapun yang pernah ada antara Mas dan Ratna itu sudah berakhir sejak dia memilih laki-laki lain."
"Ketiga, apa yang Ratna ceritakan kepadamu sebagian besar adalah bohong."
"Maksud Mas?"
"Soal Mas laki-laki pertama dia, demi Allah Mas tidak pernah melakukan hal seperti itu."
Tatapan penuh selidik Bunda Alya mengarah tajam ke mata Ayah Aiman, berusaha mencari kebenaran di sana.
"Al, Mas memang belum bisa menjadi laki-laki yang shaleh tapi Mas tidak akan pernah melakukan perbuatan hina itu."
"Bertahun-tahun pacaran, tidak mungkin kalian tidak pernah melakukan sesuatu bersama."
"Kami hanya pernah pegangan tangan."
"Terus?"
"Eeee...pelukan..," Ayah Aiman menjawab sambil menepuk-nepuk pelan pahanya. Dia mulai merasa gugup.
"Terus?"
"Yaaa....cium."
"Cium apa ciuman?"
"Cuma cium kening Al, sumpah tidak pernah lebih dari itu."
"Al, Kamu tahu nama lengkap Ratna?" tanya Ayah Aiman. Dalam hati berharap Bunda Alya tidak membahas lagi soal cara dia dan Ratna berpacaran.
"Tidak tahu, tidak penting juga untukku," jawab Bunda Alya datar.
Pikirnya buat apa tahu nama lengkap mantannya Ayah Aiman.
"Raden Ratna Ningsih Subagja."
"Terus?"
"Gelar raden yang tersemat di nama Ratna menjadi salah satu penyebab putusnya kami."
__ADS_1
"Keluarga Ratna yang memiliki garis keturunan darah biru merasa Mas tidak pantas menjadi pasangan Ratna."
"Mas hanya orang biasa, dari keluarga sederhana dan Mas hanya karyawan biasa di kantor."
"Mereka berharap Ratna mendapat jodoh yang sederajat, kalaupun bukan keturunan ningrat ya minimal orang kaya."
"Pernah suatu hari, ibunya Ratna ditemani Mbak Ratih kakaknya Ratna yang paling tua, menemui ibu di rumah."
"Mereka meminta ibu melarang Mas untuk terus menjalin hubungan dengan Ratna."
"Mereka menghina keluarga Mas."
"Jadi bukannya keluarga Mas, apalagi ibu yang tidak menyukai Ratna tapi keluarga Ratna yang tidak menyukai keluarga Mas."
"Keluarga Mas memang berhutang budi kepada keluargamu Al."
"Tapi bukan karena itu ibu menjodohkan kita."
"Ibu menyukai Kamu Al, di mata ibu, Kamu wanita yang tepat untuk Mas dan ternyata ibu benar, Kamu lah wanita yang tepat untuk Mas, Kamu melengkapi kehidupan Mas."
Bunda Alya terdiam, belum menangapi penuturan Ayah Aiman.
"Mas bersumpah demi Allah, Mas tidak pernah melakukan perbuatan dosa itu, tidak pernah Al, tolong percaya sama Mas."
"Kenapa waktu itu Kamu diam saja, kenapa Kamu tidak mengatakan apapun soal ini?"
"Kenapa Kamu lebih memilih mempercayai Ratna?"
"Kenapa Al...kenapa?"
"Ratna mengatakan kalau Mas akan datang ke rumahnya untuk melamar," jawab Bunda Alya.
"Ratna juga mengatakan kalau Aku tidak mengikhlaskan Mas menikahi dia, dia akan menceritakan semua yang sudah kalian lakukan dulu kepada ibu."
"Tapi Aku juga tidak mau diduakan, jadi Aku putuskan untuk meminta cerai darimu."
"Sakit hatiku Mas saat tahu Mas masih mencintai Ratna, apalagi semua cerita tentang kalian dulu."
"Aku tidak mau Mas bertahan bersamaku karena terpaksa."
"Aku juga tidak mau sampai cerita masa lalu Mas terdengar oleh Bella."
"Buat Bella Mas itu super hero-nya, laki-laki terbaik dalam hidupnya, Aku tidak mau Bella melihat sisi burukmu Mas, Aku tidak mau melihat Bella kecewa sama Mas."
"Astagfirullah Al, seandainya Kamu jujur dari dulu, mungkin kita masih bersama sampai saat ini."
"Kalau Mas dulu tidak diam-diam berhubungan dengan Ratna, Aku juga tidak akan berburuk sangka sama Mas."
"Mas bilang tidak memiliki perasaan apapun lagi kepada Ratna tapi kenapa Mas banyak membantu dia, malah jadi tempat curhat Ratna segala," cecar Bunda Alya.
"Maafkan Mas, awalnya Mas membantu Ratna karena ego Mas sebagai laki-laki yang pernah diremehkan oleh keluarga Ratna, ingin menunjukkan kalau Mas bukan lagi laki-laki yang seperti dulu."
"Mas ingin menunjukkan kalau Mas sudah mapan dan memiliki kehidupan yang baik."
"Maafkan Mas Al, karena ini ternyata menjadi awal keretakan rumah tangga kita."
"Maafkan Mas yang telah membuatmu ragu dengan Mas."
"Maafkan Mas, Al, maaf untuk semua kebodohan Mas."
__ADS_1
Air mata yang sedari tadi coba ditahan oleh Bunda Alya akhirnya luruh juga. Isak halus terdengar, isakan yang membuat hati Ayah Aiman kian teremas.
"Al, Mas mohon beri Mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Izinkan Mas kembali kepadamu dan Bella."
"Mas mohon, Mas akan lakukan apapun untuk menebus semua kesalahan Mas."
"Al, kita kembali bersama ya, Mas, Kamu dan Bella."
"Al..."
"Mas, Aku..." Bunda Alya kembali terdiam, apa yang diyakininya selama ini dan semua penjelasan Ayah Aiman yang bertolak belakang tentu membuatnya bingung.
"Mungkin saat ini Kamu belum benar-benar percaya sama Mas tapi Mas bisa buktikan kalau semua yang dikatakan Ratna tidak benar."
"Setelah kita bercerai, Ratna masih terus mengganggu Mas."
"Akhirnya Mas putuskan untuk menemui keluarganya kembali untuk menyelesaikan masalah ini secara baik-baik jika tidak Mas akan melaporkan Ratna ke polisi karena segala tindakannya sudah membuat Mas tidak nyaman."
"Semua pesan yang pernah Ratna kirim kepada Mas, Mas tunjukkan kepada keluarganya."
"Mas juga ceritakan kepada keluarganya kalau Ratna sering datang ke kantor Mas."
"Saat itu mereka tidak terima, mereka terus menyalahkan Mas."
"Waktu itu entah mendapat pemikiran dari mana, Ratna pikir kedatangan Mas untuk melamar dia."
"Mas katakan kepadanya untuk tidak mengganggu Mas lagi."
"Ratna histeris, berteriak-teriak tidak jelas."
"Dia terus mengatakan masih mencintai Mas, dia juga mengatakan semua kesalahan ayahnya yang sudah memaksanya menikah dengan laki-laki lain."
"Kami kesulitan menenangkan dia, akhirnya Mas pergi dan berpesan kepada keluarganya kalau Mas serius akan bertindak jika Ratna masih mengganggu Mas."
"Terakhir Mas dengar Ratna menderita gangguan delusi, dia sering meyakini hal-hal yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya."
"Walau sudah terbukti bahwa apa yang diyakininya tidak benar, dia tetap berpegang teguh pada pemikirannya dan menganggap bahwa apa yang diyakini tersebut benar."
"Menurut salah satu keluarganya, kemungkinan karena Ratna stress berat, tekanan dari keluarganya yang menjadi penyebabnya."
"Sampai saat ini, Mas tidak tahu kabar Ratna lagi dan Mas memang tidak mencari tahu tentang dia."
"Kalau Kamu masih belum percaya, Mas bisa bawa Kamu menemui keluarganya Ratna yang pernah Mas temui itu."
"Bagaimana Al?"
"Mas bersumpah, Mas mengatakan yang sebenarnya."
Bunda Alya menghela napasnya pelan sebelum menjawab.
"Mas tolong kasih Aku waktu untuk memikirkan ini, semua terlalu tiba-tiba, Aku bingung Mas."
"Baiklah, Mas tidak akan memaksa Kamu untuk secepatnya memberi jawaban."
"Tapi Mas mohon Kamu percaya sama Mas."
"Mas mohon Kamu mau memaafkan Mas."
__ADS_1
Bunda Alya pun mengangguk sebagai jawaban.
"Alhamdulillah, Ya Allah terima kasih..."