Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Salah Tuduh


__ADS_3

Sebagai pengantin baru, Mentari atau yang biasa disapa Tari sedang sibuk-sibuknya di dapur. Ia menyiapkan sarapan untuk Yudha, lelaki yang menikahinya tiga bulan lalu.


"Ma, kemaja abu-abu mana ya?" Dari dalam kamar Yudha berseru. Mendengarnya, membuat Tari bergegas menuju kamar dan mendapati suaminya sedang berkacak pinggang di depan almari yang terbuka.


"Baju abu-abu yang mana, Bang?" tanya Tari. Dirinya memang tidak tahu kemaja mana yang Yudha maksud karen bukan hanya satu kemeja abu-abu milik suaminya itu.


"Yang biasa Abang pakai setiap hari Jum'at," jawab Yudha memberi tahu. Tari pun mendekati suaminya ikut mencari kemaja yang dimaksud.


"Astaga!" pekiknya seraya menepuk dahi sampai Yudha telonjak kaget.


"Maaf Bang. Kemaja itu masih ada di keranjang, lupa Tari setrika," sambungnya dengan nada menyesal. Yudha mendengus gusar, lalu mengambil kemaja di almari dengan asal.


"Ngerjain apa aja di rumah sampai baju Abang nggak disetrika, Ma?"


Tari tersenyum lebar seperti orang bodoh meskipun sebenarnya, sepenggal kalimat itu membuat suasana hatinya mendadak tak nyaman.


Tari tak menyahut apapun, ia berlalu begitu saja dari hadapan Yudha yang mulai memakai kemejanya. Dari tiga bulan menikah, baru kali ini sikap Yudha terkesan ketus.


Selesai memakai pakaianya Yudha keluar kamar mendatangi dapur untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor. Ia menarik kursi duduk di sana dengan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat yang sudah terhidang di atas meja.


Tari mencuci tangan, lalu ikut duduk di hadapan suaminya. "Bang, hari ini Tari mau bantu Bibi masak-masak buat diantar ke panti," lapor Tari meminta izin pada suaminya.


"Iya, sekalian Abang antar," tukas Yudha.


Tari menggeleng seraya menyahut, "Nggak usah, Bang. Tari naik motor aja soalnya masih mau beberes di rumah dulu."


Yudha bukan tipikal suami yang pemaksa, jika Tari sudah menolak, ia akan mangut-mangut saja menerima penolakan itu tanpa banyak bertanya. Jangankan masalah seperti ini, Tari menolak diajak berhungan intim saja Yudha tidak pernah marah terlebih memaksa.


Aneh, padahal dulu tak begitu. Diawal-awal menikah Tari justru merasa terkekang dengan sikap posesif, pecemburu yang dimiliki Yudha, tapi sekarang sikap itu hilang entah ke mana? Berganti dengan Yudha yang terkesan tak acuh.


"Abang juga lembur malam ini, mau meeting sama anak-anak, Ma," ujar Yudha memberi tahu. Tari menganguk pelan mengiyakan, suaminya itu memang berkerja di sebuah perusahaan sebagai Supervisor.

__ADS_1


Yudha selesai menyantap sarapannya, pun dengan Tari. Ia sigap meraih ransel Yudha yang berisi laptop dan segala macam alat tempurnya di kantor.


"Abang berangkat dulu. Assalamu'alaikum."


Tari meraih tangan Yudha yang terulur untuk dicium.


"Wa'alaikumssalam," jawabnya setelah mencium pungung tangan Yudha.


Seperginya Yudha, Tari bergegas membereskan rumah karena takut akan terlambat membantu bibinya. Pukul 10.00 pagi, Tari pergi ke rumah bibi seorang diri mengendarai motor.


Sekitar 15 menit dalam perjalanan, sampailah Tari di rumah bibi Astuti. Di sana sudah ada Amalia, adik sepupunya yang tiba lebih dulu.


Kini, ketiga wanita itu mamasak sambil bercengkrama.


"Eh, kalian tahu nggak? Semalam heboh loh? Kak Risma menggerebak suaminya sama cewek labil di salah satu kontrakan Bu Yuni." Pembicaraan seputar masak-masak, tetiba menjurus ke arah topik yang agak panas, siapa yang memulai gibah itu lebih dulu, jika bukan Lia.


"Masa iya? Jangan ngada-ngada kamu, Lia," bantah bibi Astuti.


"Kasihan sama Kak Risma lagi hamil besar malah diselingkuhi sama suaminya. Emang gila suaminya, lebih milih pelakor itu daripada Kak Risma yang jelas-jelas istri sah udah hamil, padahal tinggal tunggu berojol," runtuk Lia.


"Katanya, Risama udah lama tahu kalau suaminya itu ada main belakang. Dari sikap suaminya yang udah berubah, Risma bisa nebak kalau ada sesuatu sama suaminya itu," balas bibi Astuti.


Sambil memotong sayuran, Tari meneguk ludah ketika dirinya merasa tertampar dengan untaian kalimat panjang yang diucapakan bibinya.


"Apa benar, suami berbubah karena ada perempuan lain?" Tari membatin bertanya pada diri sendiri. Akibatnya, kepala Tari mulai diisi dengan pikiran-pikiran buruk tentang suaminya yang juga mulai berubah akhir-akhir ini.


"Kak Tari! Kok, ngelamun?"


Tari tersentak dengan ucapan Lia.


"Nggak ada. Lagi dengerin kalian gibah." Tari berkilah.

__ADS_1


***


Waktu sudah menunjukan pukul 11.00 malam dan rumah Yudha Gantara terang benderang, seluruh lampu masih menyala.


Dengan gelisah seorang istri duduk di sofa ruang tamu, sesekali mengintip keluar dari balik gorden jendela.


"Bang Yudha kenapa belum pulang?" Cemaslah Tari karena suaminya belum pulang sudah semalam ini. Untuk kesekian kali, Tari mencoba menghubungi suaminya walau sedari tadi tak pernah dijawab atau dibalas pesannya.


"Kok, nggak dijawab teleponku?" keluh Tari sedikit kesal. Ke mana Yudha, tidak mungkin masih meeting sudah semalam ini? Dengan rasa cemas bercampur takut, Tari terus menghubungi Yudha menelepon serta mengirimi pesan.


Karena kesal, Tari mulai mengirim pesan yang menuduh Yudha melakukan hal macam-macam di luar rumah.


"Nggak, nggak mungkin! Orang gila yang masih ada di kantor jam segini!" Tari tetap pada asumsinya yang meyakini bahwa suaminya sudah bermain api.


Tak sampai 10 menit, ada lampu menyorot ke arah rumah ketika sebuah mobil masuk ke halaman. Tari lekas bangun membuka pintu dan tampaklah mobil Yudha sudah terparkir di depan garasi.


Brak!


Pintu mobil terhempas karena Yudha menutupnya dengan kasar. Dengan langkah gusar Yudha mendekati Tari, wajah yang tak sedap di pandang membuat Tari berdebar takut.


"Nagapain sih, Ma? Ngapain kamu kirim pesan kayak gitu?!" sergah Yudha. Hilang rasa takut Tari, berganti dengan rasa tak terima karena Yudha datang-datang langsung marah.


"Jujur aja, Abang ke mana? Nggak mungkin masih meeting jam segini?!" tuding Tari.


"Astagfirullah! Kamu suudzon banget sama suami. Abang beneran meeting. Nih!" Dengan cepat Yudha meraih ponselnya, masuk ke galeri dan memamerkan Video meeting-nya tadi pada Tari.


Detik itu juga Tari merasa bersalah karena sudah menuduh suaminya tanpa bukti apapun.


"Maafin Tari, Bang," sesalnya. Menyedihkan, Yudha tak menyahut sepatah katapun, ia berlalu begitu saja dari hadapan Tari yang tertunduk dengan segala sesal dan salah.


Melihat reaksi Yudha tak acuh, hati Tari teriris. Meski dirinya telah sembarang tuduh, apa salahnya Yudha memberikan maaf? Wajar saja Tari khawatir karena suami tak memberikan kabar sudah semalam ini.

__ADS_1


__ADS_2