
Seketika Tari meremas alat kontrasepsi yang masih terbungkus rapi itu, matanya memerah menahan tangis. Meski belum bertanya secara langsung, tapi sudah diyakini bahwa alat kontrasepsi itu memang milik Yudha.
Untuk apa Yudha menyimpan alat itu? Jika untuk berhubungan intim dengan Tari, tidak akan mungkin. Mereka suami-istri, membuat Tari cepat hamil harusnya jadi tujuan utama Yudha.
Di hari Minggu ini mood Tari hancur berantakan akibat kabar yang diberikan Lia ditambah lagi dengan penemuan alat kontrasepsi yang ada di saku celana suaminya.
Dari kamar mandi, Tari berjalan menuju kamar untuk menyimpan alat kontrasepsi dalam laci sebagai bukti tuduhannya nanti pada Yudha.
Tari duduk merenung di kamar, dadanya sesak tiap kali ingat dengan perubahan sikap Yudha. Kebohongan yang acapkali Yudha lakukan bukan tidak diketahui oleh Tari. Hanya saja, terlalu lelah untuk bertengkar karena masalah yang tak berkesudahan.
Dalam pikiran yang tengah kalut, Tari dikejutkan oleh ketukan di pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum." Suara yang berseru itu membuat Tari mengerenyitkan dahi, ia kenal betul dengan si pemilik suara.
Sebelum keluar kamar, Tari bergegas mencuci wajah tak ingin orang lain tahu bahwa dirinya habis menangis. Sejurus kemudian, ia lekas keluar kamar membukakan pintu untuk tamunya.
Saat dibuka tampaklah wanita paruh baya nemakai gamis biru dengan kerudung berwarna senada. Wajahnya cerah, secerah warna pakaian yang melekat di tubuh.
"Ibu udah sehat?" Tari kontan melamparkan pertanyaan itu karena mertuanya di depan pintu berdiri dalam keadaan segar bugar.
Wanita yang bernama Nani itu, memasang wajah heran ketika di tanya seperti itu.
"Sakit apanya? Ibu sehat-sehat aja, kok."
Jawaban Nani menambah daftar kecurigaan Tari pada suaminya. Ia tersenyum kecut menanggapi sahutan ibu mertua.
"Masuk, Bu!" silah Tari. Nani masuk seraya memberikan kotak bekal pada Tari yang isinya soto ayam. Dengan penuh perhatian Tari membawa Nani duduk di ruang keluarga, tak lupa membuatkan wanita itu secangkir teh tanpa gula.
Kini, keduanya duduk berbincang dengan ditemani minuman kesukaan masing-masing. Tari yang penasaran tentang omongan Yudha semalam, mencoba memancing ibu mertuanya dengan beberapa pertanyaan. "Kata Bang Yudha, Ibu semalam sesak napas. Apa sekarang udah sehat?" tanya Tari.
"Ngawur! Alhamdulillah udah dua minggu ini Ibu sehat, kok."
Tari mengumpat sejadi-jadinya di dalam hati, melontarkan sumpah serapah untuk suaminya yang ketahuan sudah berbohong.
__ADS_1
Aroma-aroma perselingkuhan mulai tercium. Adanya orang ketiga tak bisa dihindari lagi dalam bahtera rumah tangganya.
Ironis! Baru menikah tiga bulan, Yudha sudah berpaling dengan wanita lain. Terkadang, cantik, gesit di ranjang dan penurut tidak menjamin suami akan setia. Contohnya seperti Yudha, lelaki yang tak tahu syukur sudah dihadiahi istri terbaik seperti Mentari.
Diajak mengobrol oleh mertuanya, Tari lebih banyak diam akibat suasana hatinya yang tak mengenakan.
"Oh iya, Yudha mana?" tanya Nani.
"Pergi ketemuan sama temannya." Tari menjawab asal, untuk saat ini ia akan menutupi dulu kesalahan fatal yang dilakukan Yudha dan akan membongkar kebusukan itu ketika waktunya tiba.
***
Lumayan lama Nani bertandang ke rumah anaknya dan berbincang ria dengan menantu, meskipun menantunya seperti orang tak sehat. Banyak diam dan merenung dengan wajah sebab. Nani tahu pasti antara anak dan menantunya sedang terjadi perselisihan. Nani pun tidak ingin ikut campur yang akan membuat suasana semakin keruh. Biarlah! Bagi Nani anak-anaknya sudah sangat dewasa untuk menyelesaikan permasalahan mereka masing-masing.
"Tari, Ibu pulang dulu ya? Sampaikan salam Ibu sama orang tua kamu karena udah lama kita nggak ketemu." Setelah mengatakan itu, Nani pamit pergi. Walau suaminya bejat setidaknya, Tari mempunyai mertua yang sangat baik dan perhatian.
Seperginya Nani tinggalah Tari seorang diri, suasana hati yang buruk membuatnya enggan ingin berkatifitas, yang ia lakukan sekarang adalah pergi tidur berharap nyeri yang ia rasakan akan hilang.
***
Mulutnya sudah gatal untuk mencaci-maki Yudha. Sholawat Tarhim menuju Magrib sudah terdengar, Yudha pun pulang.
Di sofa ruang tamu Tari duduk seraya melipat kedua tangan di depan dada menunggu Yudha dengan wajah tak sedap dipandang .
"Assalamu'alaikum!" Seru Yudha seraya masuk. Melihat Yudha di ambang pintu, Tari segera bangun menyongong lelaki itu bukan dengan sebuah pelukan dan cium tangan, tapi dengan sebuah telapak tangan yang mendarat di pipi Yudha begitu keras.
"Apa-apaan kamu!" Otomatis Yudha akan membentak tak terima pulang-pulang dihadiahi tamparan.
"Dari mana aja kamu?" tanya Tari berapi-api.
"Kenapa kamu nanya lagi? Aku udah pamit sama kamu pagi tadi!" Suara Yudha tak kalah tinggi menyahuti istrinya yang ia anggap sudah kurang ajar.
"Buat kamu pakai sama siapa alat kontrasepsi ini?!" sarkas Tari tajam menatap nyalang Yudha seraya melemparkan alat kontrasepsi itu tepat di wajah Yudha.
__ADS_1
Detik itu juga Yudha terdiam. Matanya liar memperhatikan benda dibungkus plastik merah yang tergeletak di lantai.
"I-ini ...." Seketika Yudha gugup. Lidahnya tiba-tiba keluh untuk menjawab pertanyaan sakmat yang Tari lontarkan.
"Jangan bilang benda ini kamu pakai saat berhubungan sama aku!" sentak Tari menyudutkan Yudha bertubi-tubi. Jika bisanya Yudha punya seribu alasan untuk menyanggah tudingan Tari, kali ini ia seperti orang lingung yang tak punya akal. Ia diam seribu bahasa.
"Tega kamu, Bang! Aku tahu kamu tadi pergi sama selingkuhan kamu yang kerja di supermarket, 'kan?"
"Siapa yang bilang? Kamu udah salah sangka, itu Irene SPG di tempatku kerja, aku jemput dia buat ketemu sama Pak Rio."
Plak!
Bantahan Yudha dibalas Tari dengan sebuah tamparan. Terhitung hari ini sudah dua kali Tari melayangkan telapak tangannya di wajah Yudha.
"Mentari!" bentak Yudha tak terima. Dengan kuat tangan kokohnya mencengkram kedua lengan Tari sampai Tari meringis kesakitan.
"Jangan sentuh aku!" Sontak Tari menepis tangan Yudha sampai cengkraman itu terlepas.
"Emang bajingan kamu, Bang!" Setelah memaki, Tari masuk ke kamar, mengambil tas dan kunci motor.
Tanpa menoleh Tari berlari melewati Yudha yang masih berdiri di ruang tamu.
"Tari! Kamu mau ke mana? Kembali!" teriak Yudha.
Tari tak menggubris teriakan Yudha yang memintanya untuk kembali. Ia terus saja berlari menuju motornya dan pergi meninggalkan rumah dengan air mata yang berderai.
"Argh!" Yudha memekik frustrasi.
Tanpa tujuan Tari mengendarai motornya dengan kaca helm yang tertutup karena tak sanggup menghentikan laju air mata yang sedari tadi meluap.
Selain bibi Astuti dan Amalia, Tari tak punya keluarga lagi di Ibukota, semua keluarganya berada di kampung termasuk ayah dan ibunya.
Akhinya, Tari membelokan motor ke taman kota. Orang-orang sedang melaksanakan sholat Magrib, tapi Tari justru duduk seorang diri di bangku taman dengan wajah sembab dan mata yang memerah.
__ADS_1
Semua kesalahan akan Tari maafkan, tapi tidak dengan sebuah penghianatan. Sampai hati Yudha menghianati cinta tulusnya, padahal mereka menjalin kasih sejak duduk di bangku kuliah terhitung dudah 5 tahun mereka bersama hingga memutuskan untuk menikah.
Tari tersenyum getir dengan mata yang mengembun, perlahan ia terkikik lama-kelamaan berubah menjadi tawa sumbang yang terkesan mencemooh dirinya sendiri. Usia pernikahan yang masih seumur jagung harus kandas setelah di otaknya terus muncul kata berpisah.