Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Jadi Wanita Simpanan


__ADS_3

Evi dan Ferdi panik setengah mati mencari Tari, rupanya yang dicari sedang asik bersama seorang pria, selesai memadu kasih.


"Bikin orang takut aja!" Evi menggerutu ketika tahu di mana dan sedang apa temannya itu. 


"Terus gimana? Apa kita pulang?" Ferdi pun bertanya sudah seperti orang bodoh. Jelas saja mereka harus pulang, tidak mungkin menunggu Tari hingga pagi di diskotik, sedangkan yang ditunggu tidur dengan nyenyak.


"Kamu aja yang nunggu, aku mau pulang, Beb!" sungut Evi. 


***


Pagi buta Marni sampai di Ibukota setelah menumpangi mobil barang yang membawa hasil kebun ke Jakarta. Penyesalannya tak terkira sampai nekad datang ke Jakarta untuk mencari anak yang sudah ia usir karena terlalu bodoh lebih mempercayai pria brengsek macam Bandi. Dari pukul 12.00 malam sampai jam 06.00 pagi ia duduk di atas barang yang ada di bagian belakang mobil pick-up itu. Dingin pun tak lagi dirasa setelah angin malam terus menghunus tubuh ringkihnya. 


Mobil berhenti di pasar Senen dan Marni pun turun. Didekatinya sang supir yang membantu anak buahnya menurunkan barang.


"Pak, ini!" Ia menyodorkan selembar uang lima puluh ribu sebagai jasa karena telah membantunya.


"Nggak usah, Bu." Supir itu menolak, tak sampai hati juga melihat Marni yang sepertinya sedang kesusahan. 


Marni berterima kasih, lalu pergi dari sana. Ia akan datang ke rumah adiknya, Astuti. Ia sampai datang ke Jakarta karena tahu dari para tetangga bahwa anaknya pindah ke Jakarta bersama Evi. Di Kota metropolitan ini, di mana lagi Tari akan tinggal, selain di rumah bibinya.


Masih pagi begini, Astuti mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. 


"Siapa yang datang pagi-pagi begini?" Astuti yang masih berbaring di kamar langsung bangun.


"Assamalu'alikum." Mengerenyit dahi Astuti mendengar suara yang tidak asing baginya.


"Kayak suara Mbak?" Ia pun menerka dan terkaannya itu tidak meleset. Dari balik jendela, Astuti melihat kakaknya berdiri di depan pintu dengan satu tas yang ia sandang. Lekas dibukanya pintu.


"Mbak?" Heran Astuti kenapa kakaknya ada di sini sepagi ini.


"Masuk, Mbak!" silah Astuti. Marni lantas masuk membawa wajah murungnya. 


"Mbak, kapan datang? Pagi gini udah di sini?" tanya Astuti seraya menggiring kakaknya duduk di kursi ruang tamu. 


Wajah yang tampak murung dan kosong itu, membuat sebuah kesimpulan bahwa sedang ada masalah yang melanda.

__ADS_1


"As, Tari mana? Lagi tidur ya?" tanyanya tiba-tiba. Kegetlah Astuti dapat pertanyaan seperti ini. Setahunya, Tari di Solo.


"Tari? Bukannya Tari di solo, Mbak? Aku juga mau nanya Mbak kenapa datang sendiri, soalnya aku nggak lihat ada Tari," sahut Astuti.


Berkaca-kaca netra kepuh milik Marni mendengar jawaban adiknya. Ia belum yakin bahwa Tari tidak ada di rumah itu sampai ia bertanya kembali, "Tari nggak ada di sini? Udah beberapa hari yang lalu Tari pergi dari Solo. Tuh, motor Tari ada," ujar Marni yang melihat motor Tari terparkir di teras rumah.


"Nggak Mbak! Tari nggak pernah ke sini setelah pulang sebulan yang lalu dan motornya emang ditinggal di sini, Mbak," terang Astuti.


"Tari pasti ada di sini, 'kan?" Marni menuntut agar dugaannya benar, tapi Astuti pun tetap menyangga bahwa sudah lebih sebulan dirinya tidak melihat Tari. 


"Ada apa, Mbak? Apa yang udah terjadi?" tanya Astuti. Ia pun bingung konflik apa yang di hadapi kakakanya itu sampai sang anak pergi dari rumah.


Mengenangnya berurai air mata Marni, ia benar-benar menangis menumpahkah rasa penyesalan. "Tari, As! Tari!" Ingin rasanya memekik agar sebak hilang dari dalam hati.


Astuti iba, memeluk kakaknya dan mengusap punggung mencoba meberikan ketenangan pada wanita yang sedang bersedih itu. "Tari kenapa, Mbak?" Astuti berharap tidak ada sesuatu yang menimpa keponakannya karena Tari bukan tipe anak yang akan kabur dari rumah jika ada masalah, bahkan ia tipe orang yang tetap bertahan sesakit apapun.


Dengan perasaan hancur dan air mata yang terus berderai, Marni menceritakan semua yang terjadi pada anaknya.


"T-tari ... Tari dilecehkan oleh temanku, As. Dia udah jadi koran pelecehan Bandi, tapi ... aku bodoh percaya sama Bandi dari pada anakku sendiri, aku yang ngusri Tari pergi dari rumah!" Marni meraung, ia menangis sejadi-jadinya. Perasaan ingin sekali mengakhiri hidup bila teringat betapa bodoh dirinya. Sesal tiada guna lagi, Astuti pun shock mendengar kenyataan ini.


"Sabar ya, Mbak. Nanti kita cari sama-sama, sebaiknya Mbak istrirahat dulu," pinta Astuti melihat keadaan kakaknya yang menyedihkan.


***


Malam panjang nan indah telah berlalu, datanglah pagi dengan cerahnya. Tari duduk di sisi ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Diperhatikannya Rio yang sedang memakai satu persatu pakaiannya.


Pria keturuan Indo-Chinese itu, memang mempesona, kulitnya putih besih, hidungnya tegak berdiri dengan alis tebal yang hampir menyatu. Badan Rio memang tidak sixpack, tapi cukup ideal. Bahunya yang lebar dengan bobot tubuh yang pas membuatnya terlihat maco. 


Selesai berpakaian, Rio duduk di samping Tari. Jemarinya lincah menari-nari di layar itu, detik kemudian, ia memamerkan bukti transfer yang tertera di layar ponsel. Tari sedikit tercengang, ia tidak menyangka Rio akan membayarnya dengan nominal sebesar itu.


"Cukup?" Masih ditanya olehnya. Bukan cukup lagi, tapi kelebihan cukup. 


"Udah." Tari menyahut singkat. Setelah bayaran selesai, semua pun selesai tidak ada ikatan lagi perihal bayaran dan sebagainya. Rio pun pergi begitu saja tanpa pamit, seperti apa yang selalu ia lakukan pada wanita bayaran yang sudah tidur dengannya.


Tari menghela napas, memang beginilah nasib wanita bayaran, telah selesai diabaikan begitu saja. Seperginya Rio, Tari tak lantas keluar dari kamar hotel, ia masih membersihkan diri, duduk santai sejenak dengan sebatang rokok seraya memandangi keramaian kota.

__ADS_1


Hampir sampai Rio di apartemennya, tapi ia mendadak membelokan setir putar balik kembali ke hotel teringat akan jam tangan yang ketinggalan. Sebenarnya bukan hanya jam tangan yang membuatnya kembali, melainkan Tari. Entah kenapa Rio merasa tak enak hati pergi meninggalkan Tari begitu saja.


Ia tiba di hotel dan bergegas mendatangi kamar yang semalam jadi saksi bisu percintaannya dengan Tari.


"Aku baru aja dapat uang dan uang itu akan aku gunakan buat cari kontrakan dan sebagainya, Vi. Baru sekali ini aku jadi wanita bayaran jadi nggak nyangka dibayar segitu banyak."


"Kalau mau lebih banyak boleh juga!"


Tari seketika menoleh akibat suara yang menginterupsi di dekat pintu. Tari memang tidak menyadari ke datangan Rio karena ia berdiri memunggungi pintu.


Rio berjalan mendekat, meraih pinggul Tari dengan satu tangannya.


"Kamu mau uang lebih?" tanyanya serius.


Siapa yang tidak ingin mendapatkan uang banyak? Pun dengan Tari yang sekarang memang butuh suntikan dana.


"Kerja, 'kan?" tebak Tari. Rio pun jadi menyeringai. "Ya kerja dong, tapi kerjanya nggak berat, kok," sahut Rio. Penasaran setengah mati Tari, pekerjaan seperti apa yang Rio maksud, ia pun kembali bertanya, "Pekerjaan apa?"


Dieratkannya tangan di pinggul Tari sampai tiada jarak bagi mereka. "Jadi simpanan aku, Tar. Kamu mau jadi simpanan aku?" Sungguh Rio memberikan tawaran gila pada Tari. Tari terkesiap, mendorong tubuh Rio tiba-tiba. "Jadi, kamu udah punya istri?" Tari benar-benar tidak tahu bahwa pria yang sudah tidur dengannya ternyata sudah beristri.


"Emangnya ... kamu pikir aku single? Aku udah punya istri dan satu anak, Tar. Tapi keluarga aku ada di Bandung. Jadi, wajar kalau aku memuaskan diri kayak gini. Daripada aku jajan diluar kayak gini terus-terusan lebih baik kamu jadi simpanan aku aja, Tar. Tinggal sama aku di apartemen," ujarnya blak-blakan.


Tari terdiam, ia menatap lekat manik yang berkilat pria di depannya. Jadi wanita simpanan? Tidak pernah terpikiran oleh Tari.


"Maksud kamu, aku hanya jadi wanita simpanan?" 


Kalimat itu membuat satu alis Rio terangkat menyelidik. "Iya wanita simpanan, apa kamu mau jadi istri kedua aku? Apa kamu siap berhadapan dengan istri aku, em?"


Wanita simpanan, hanya simpanan, kan? Tari tidak akan terikat dengan apapun, jika sewaktu-waktu ada masalah ia bisa pergi begitu saja tanpa pusing dengan hubungan pernikahan. Toh, pernikahan juga masih membuatnya trauma.


"A-aku mau," jawabnya meski ragu.


"Pilihan yang bijak," tukas Rio seraya mengecup bibir Tari sekilas.


Rio melepaskan tangannya yang bertengger di pinggul Tari, lalu mengambil jam tangannya.

__ADS_1


"Masih ada 20 menit, aku antar kamu pulang dan kamu kemasi pakaianmu, sorenya aku jemput" perintah Rio.


__ADS_2