Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Hukuman Untuk Tari


__ADS_3

Bab 32


Dua pria dilanda panik melihat istri mereka masing-masing mengerang kesakitan. "Astaga! ini kenapa?" tanya Rio dengan raut paniknya. Dalam kesakitan seperti itu, Jessica masih sempat menjawab suaminya, "Pelakor itu yang udah ngelakuin ini!" Tanpa banyak bicara Rio membawa Jessica, sementara Yudha sudah lebih dulu membawa Irene ke rumah sakit. Seketika kantor jadi heboh akibat pertengkaran istri sah, wanita simpanan dan istri mantan suami.


Masih di ruangan, Tari menangis ketakutan seraya mendapatkan cemooh dan tatapan sinis dari para karyawan. Semua karyawan mencibirnya yang bukan-bukan, tak ayal ada yang melontakan kata kotor pada Tari.


"Keluar kamu, pelakor!" hardik mereka tiada henti. Dalam keadaan kacau Tari berlari keluar kantor itu. Ke mana ia akan pergi sekarang, jika bukan kembali ke apartemen.  Entah kenapa ia masih kembali ke sana setelah apa yang dilakukannya pada istri Rio. 


"Mas, Rio nggak akan mungkin marah sama aku, kan?" gumamnya seorang diri. Air minum diteguknya sampai habis untuk menetralkan debaran jantung yang berpacu dengan cepat. Tubuhnya masih gemetar, dengan dada yang turun naik. Dari dapur, Tari masuk ke dalam kamar mandi membasuh wajah. "Mereka nggak apa-apa, kan?" ratapnya penuh takut. ditatapnya pantulan diri yang ada di cermin. Sejurus kemudian, luruh air mata ketika sesal mulai menyergap. 


Sementara di rumah sakit yang sama, Yudha maupun Rio sedang menunggui istri mereka yang keadaannya sama-sama miris. Jessica mendapatkan luka robek di kepala akibat hataman guci yang dilayangkan oleh Tari dan  Irene sedang berada di ruang bersalin untuk mengeluarkan janin yang telah gugur dalam rahimnya. Yudha meraung sejadi-jadinya ketika tahu bahwa calon anaknya bersama Irene harus tiada sebelum dilahirkan ke dunia.


"Aku nggak akan biarin kamu, Tari!" tekad Yudha. Ketika semuanya sudah selesai, Yudha menemui Rio yang sedang di dalam ruang rawat inap menemani istrinya.


"Permisi, Pak. saya mau ngomong sama Bapak sebentar," pinta Yudha. Keduanya keluar dari kamar rawat inap bicara sembari berjalan di koridor rumah sakit. "Pak, aku nggak terima dengan apa yang dilakukan Tari terhadap Irene, saya akan melaporkan Tari, Pak." Mendengarnya Yudha jadi dilema, di sisi lain Yudha memang berhak melakukan itu, tapi Tari ....

__ADS_1


Melihat Rio diam Yudha kembali berujar yang membuat Rio kaget. "Pak, Bapak tahu nggak, Tari itu sebenarnya adalah mantan istri saya. Sengaja nggak kasih tahu Bapak karena saya rasa ... itu sudah bukan hak saya."


Segenggam rasa kecewa bersarang dalam hati Rio. Ia kecewa sekali karena selama ini Tari diam menyembunyikan tentang hubungannya dengan Yudha. Bahkan, Tari terkesan seperti sengaja tidak mengenal diperjumapaan mereka yang sudah terjadi beberpa kali, bukan hanya sekali ia berada satu mobil atau satu meja dengan Yudha.


"Semua terserah kamu, Yud. Aku nggak mau ambil pusing lagi, Tari memang salah," tukas Rio mengakhiri pembicaraan. Pusing, kepalanya sakit laur biasa akibat kejadian hari ini. 


Sudah mendapatkan izin, Yudha saontak melaporkan Tari atas tuduhan penganiayaan terhadap istrinya yang menyebabkan keguguran. Polisi dengan cepat memproses laporan Yudha dan surat penangkapan dilayangkan oleh pihak kepolisian. Terkirimlah suarat itu ke alamat apartemen Rio, yang mana Yudha sendiri memberi tahu alamat itu, ia berkeyakinan bahwa tari masih ada di apartemen.


Di apartemen, Tari ketakutan luar biasa setelah mendaptkan surat dari kepolosian. Bersamaan dengan itu, Rio pulang ke apartemen memang berniat untuk melihat keadaan Tari.


"Kamu harus bertanggung jawab dengan perbuatan kamu, Tari," imbuh Rio. sejenak Tari terdiam merenungkan apa yang baru saja dikatakan oleh Rio. "Benarkah? Kalau gitu ... aku akan memenuhi surat panggilan ini sekarang." Air mata yang sedari tadi mengenang disekanya dengan cepat jangan sampai jatuh lagi membasahi pipi. Meski agak kecewa dengan sikap Tari, Rio masih mengantarnya bahkan menemani Tari selama berada di ruang penyidik.


Tari ditetapkan sebagai tersangka setelah ia mengakui semua perbuatan yang sebenarnya untuk membela diri. Tapi sudahlah, ia tidak punya kuasa untuk membela diri lagi. Sebelum berkas dilimpahkan ke pengadilan, Tari harus berada di sel tahanan yang ada di kantor polisi.


"Menurut undang-undang, setidaknya lima tahun kurunngan penjara sudah pasti akan didapat sama dia, tapi ... tergantung dari keputusan hakim hanti," ujar salah satu polisi yang tak lain adaalah teman Rio. lima tahun penjara, Rio pun melirik ke arah Tari yang baru saja masuk ke dalam sel tahanan.

__ADS_1


Keduanya menjauh untuk melakukan bahasan yang lebih rahasia, setengah jam berlalu Rio kembali menemui Tari yang duduk seorang diri. Wajah sembab yang sangat kentara membuat Rio tak sampai hati ingin meninggalkan Tari seorang diri. Namun, Rio sudah bertekad untuk mengakhiri hubungannya dengan Tari. Ia akan menjalani rumah tangga dengan Jessica seperti sedia kala.


Dilambainya melalui jerejaki besi hingga orang yang dilambainya mendekat. Dengan lembut Rio menangkup kedua pipi yang basah oleh air mata itu.


"Tar, sebelumnya aku minta maaf karena pada akhirnya kamu harus ngalami ini semua. Aku nggak bisa melakukan banyak selain, mengurangi masa hukuman kamu nanti," ujar Rio. Memang tidak banyak yang bisa Rio lakukan, ia hanya bisa memohon pertolongan pada temannya untuk mengurus persidangan Tari nanti dengan mengeluarkan uang tutup mulut yang tidak sedikit jumlahnya. Setidaknya, ia bisa mengurangi masa hukuman Tari dari tahun menjadi sekian bulan saja. 


"Maaf Tari," sesalnya sebelum pergi. Tak ada lisan apapun yang keluar dari mulut Tari, ia hanya tersenyum getir menatap punggung yang berlalu meninggalkannya. Pada akhirnya, ia memang menjadi wanita yang terbuang dan ditinggalkan begitu saja. 


Sendiri menanggung sakit seperti ini Tari sudah biasa. Kesedihan memang sudah jadi kawan akrabnya. Mungkin ... ini juga sebuah teguran dari sang Khalik untuk dirinya yang sudah jauh melenceng dari jalan kebenaran yang menjadi keyakinannya sejak lahir. 


"Aku kuat." Disekanya dengan cepat air mata yang hampir jatuh dari pelupuk. "Allah sayang sama aku, kalau nggak sayang ... nggak mungkin aku dikasih cobaan dan ditegur kayak gini," lirihnya lagi berusaha menguatkan diri sendiri.


Kini, Tari akan mencoba bertahan dan kuat semampunya, menjalani semua ini tanpa ada dukungan dari siapapun. Bahkan, wanita yang sudah melahirkannya begitu saja menyuruhnya untuk pergi menjauh. Miris!


Allah hantarkan sebuah cobaan bukan untuk membuat hambanya terpuruk. Pada hakikatnya ujian mencerminkan kasih sayang dan keadilan Allah pada hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah 'tidak rela' menimpakan azab yang tidak terperi sakitnya di akhirat kelak, hingga Ia menggantinya dengan azab dunia yang 'sangat ringan'. Dalam perspektif seperti ini, musibah berfungsi sebagai penggugur dosa-dosa.

__ADS_1


__ADS_2