
Terhenyak atas pertanyaan Yudha.
"Ha-hamil?" Suara pun seakan enggan keluar hanya untuk mengatakan satu kata itu. Belum kering luka yang Yudha torehkan dulu, kini kembali ia menabur garam di luka yang mengaga lebar. Duka belum hanyut menyelimuti Tari, tapi ia diterpa lagi oleh kejadian gila yang membuat hatinya sakit luar biasa.
Hancur tak berbentuk hati Tari, dirinya seakan mengambang tak lagi berpijak di muka bumi.
"Iya, Irene lagi hamil. Karena itu, aku nunggu waktu yang tepat buat ngomongin ini sama kamu."
Plak!
Omongan Yudha dihadahi telapak tangan oleh Tari. "Gila kamu, Bang! Nggak ada otak!" Akibat teriakan Tari, Randy jadi terbangun dan sontak masuk ke kamar di mana sedang terjadi keributan antara istri sah dengan selingkuhan.
"Tari?" Randy pun ikut kaget dengan kedatangan Tari yang tak disangka-sangka. Melihat keadaan serta pengakuan Yudha hati Tari bagi diremas-remas, sakit bukan kepalang.
"Kamu nggak punya hati, Bang!" Tangis Tari pecah, ia meraung di dalam kamar yang sesungguhnya adalah milik dirinya dan Yudha. Sebagai bentuk kekesalan, Tari memukuli dada suaminya yang masih tanpa pakaian itu.
"Kamu juga! Nggak punya malu!" Dari Yudha, Tari beralih menghardik Irene yang tertunduk seraya menutupi wajah karena malu. Tapi lagi-lagi, Tari harus menanggung perih melihat suaminya justru gigih melindungi sang selingkuhan.
"Tari! Apa-apaan kamu!" Menyala-nyala Yudha membentak istrinya, terlihat sekali ia lebih membela Irene yang keadaannya sedang hamil sekarang.
"Bawa Tari keluar, Kak!" pintanya pada Randy. Dengan paksa Randy menarik tangan Tari hingga keluar dari kamar. Amarah Tari membuncah, bagaimana tidak? Ia diperlakukan kejam di rumahnya sendiri.
"Aku laporin kalian yang udah melakukan perzinahan!" ancamnya. Sekian detik Yudha di dalam akhirnya keluar juga, Irene ia kunci di dalam kamar agar Tari tidak bertindak gila dengan melukai Irene.
__ADS_1
"Sini, kita bicara!" Ditariknya Tari masuk ke dalam kamar tamu. Di sana keduanya adu argumen tentang perselingkuhan yang sudah Yudha lakukan.
"Emang brengsek kamu, Bang!" Tari geram sontak kembali melayangkan telapak tangan ke wajah suaminya, tapi Yudha dengan cepat menangkap tangan itu, lalu mengibaskannya ke samping.
"Aku udah 2 bulan sama Irene dan sudah dua bulan juga dia mengandung anakku." Tidak berperasaan, tanpa rasa berdosa Yudha mengatakan kalimat menyakitkan itu seenak yang ia mau di depan Tari.
"Jadi, kamu selama ini tetap berhubungan sama dia? Lalu apa kemaren, Bang? Kamu mohon-mohon sama aku janji dan tobat nggak akan main gila lagi!" Suara Tari yang marah terdengar hingga keluar kamar. Jujur saja, Yudha memang sudah memutuskan hubunganya dengan Irene kala itu, tapi apalah daya ia sudah terlanjur terpikat pada Irene, ia terlalu cinta dan tak bisa lagi untuk meninggalkan Irene yang malam itu Yudha dapati sedang menangis di kontrakan seraya memegang alat uji kehamilan.
"A-aku hamil, Mas." Begitulah kata yang Irene ucapkan malam itu yang membuat Yudha dilema. Di satu sisi ia bahagia mendengar kabar kehamilan Irene, sedangkan di sisi lain ada Tari yang berstatus sebagai istri sah. Dan Randy adalah teman setia yang selelu pergi ke manapun Yudha pergi, tak lain tak bukan demi menutupi hubungan gelapnya dengan Irene.
"Untuk yang terakhir kalinya aku kasih kamu pilihan, Bang. Pilih aku atau dia?"
Sungguh Tari membunuh dirinya sendiri, bagaimana dia bisa memberikan pilihan sebodoh itu, padahal sejak tadi ia sudah melihat dengan mata kepalanya bahwa Yudha sangat membela Irene.
Hanya karena dirinya belum hamil kah sampai Yudha setega ini?
"Kalau kasih alasan yang jelas, Bang. Kita baru nikah 4 bulan dan kamu udah nyerah sama aku karena belum hamil juga dan aku bagaimana bisa hamil kalau kamu sentuh aja jarang, bahkan sebulan ini nggak kamu sentuh sama sekali!"
Yudha melengos, tak suka atas jawaban istrinya. Ia memilih utuk tidak peduli dan tidak ingin mendengar alasan Tari.
"Kalo kamu mau aku hamil ... ayok, sekarang kita lakuin mumpung aku masih dalam masa subur." Bersamaan dengan kalimat itu, Tari membuka jilabab yang menutupi kepalanya, lalu membuka ikatan hingga rambutnya yang panjang tergerai.
Bagai wanita penggoda, gamis motif kotak-kotak berwarna purpel itu terlepas begitu saja dan tampaklah lekuk tubuh yang sudah lama tak tersentuh. Malu? Janga ditanya lagi. Tari mengesampingkan rasa malunya membuang jauh-jauh demi mendapatkan kembali daya tarik suaminya yang jelas-jelas sudah menanam benih pada wanita lain.
__ADS_1
Didorongnya tubuh Yudha hingga ambruk di atas tempat tidur, lantas Tari perlahan menaiki tubuh telentang itu dengan gaya yang sangat menggoda.
"Kita harus coba sekarang, Bang." Rasa marah tadi ia lupakan dan berharap suami akan menunaikan nafkah batin yang sudah lama tertunda. Namun, rasa perih semakin dalam menghujam diri Tari tatkala Yudha menolak dan tubuhnya terhempas kesamping.
"Kenapa kamu bersikeras, Tari?" sentak Yudha.
"Karena aku juga ingin hamil, Bang! Aku istri kamu!" Air mata sudah menggenang di pelupuk, sekian detik akhirnya tumpah-ruah membanjiri pipi.
Yudha duduk di sisi tempat tidur membelakangi Tari yang terisak hanya manggunakan pakaian dalam. "Nggak usah keras kepala. Apa kamu lupa sebulan yang lalu kamu chek-up karena sering ngeluh sakit di perut bagian bawah dan apa hasilnya ... Dokter menyarankan agar rahim kamu diangkat, 'kan? Itu artinya kamu nggak akan bisa hamil!"
Dengan ari mata yang terus mengalir Tari menggeleng menepis alasan Yudha. "Itu cuma saran Dokter aja, Bang. Semuanya tergantung pada Allah bukan pada Dokter, aku yakin rahim aku nggak apa-apa, rahim aku baik-baik aja!"
Seperti tidak ingin mendengar ocehan Tari, Yudha bangun meninggalkan istrinya dan lebih memilih menemani Irene yang masih ketakutan di kamar.
Di dalam sana, Tari tidak meraung-raung marah bercampur tangis, tapi ia terisak dalam diam merampungkan semua sakit dengan air mata. Terhitung 5 tahun mereka bersama sejak masa pacaran dan semua itu terkhianati begitu saja oleh Yudha. Ia berpaling ke lain hati hanya sebuah alasan konyol tak masuk akal. Entahlah, apakah itu memang benar alasannya.
Marah dan bencinya sangat besar, tapi cinta masih terlalu besar mengalahkan kedua rasa itu. Tari lekas memakai bajunya dan keluar kamar hendak kembali menghampiri Yudha. Di dekat ruang keluarga mereka berpapasan karena Irene yang takut ingin segera minta diantar pulang.
"Bang ...." Tari baru saja akan mengatakan apa yang ada dalam hatinya, tapi Yudha sudah mencela dengan ucapan yang sungguh menyakitkan, "Maaf, Tari. Kita nggak bisa nerusin pernikahan kita, seperti yang kamu lihat sekarang hubungan kita udah berakhir."
"Ja-jadi ... kamu menceraikan aku, Bang?" tanya Tari meyakinkan diri.
"Aku nggak mau Irene yang lagi hamil jadi stres gara-gara hubungan kita yang belum tuntas. Kita akan bercerai dan aku akan mengurusnya."
__ADS_1
Tari tidak bisa menjabarkan lagi rasa yang mengaduk riuh, meluluh-lantakan hatinya. Yudha benar-benar memilih Irene dan daripada dirinya.