Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Sama-Sama Pelakor


__ADS_3

Bab 20


Sebuah motor yang dikendarai oleh dua wanita paruh baya melaju menyusuri jalanan metropolitan. Marni ditemani oleh Astuti pergi ke kontrakan Amalia. Marni tak sabar ingin mengetahui di mana anaknya berada, mungkin saja Amalia tahu.


Sekitar 15 menit, sampailah mereka di sebuah kontrakan yang dihuni oleh Amalia, kebetulan pagi ini gadis itu baru saja akan pergi ke kampus.


"Bibi?" Amalia pun heran melihat bibi Astuti datang bersama bibinya yang satunya, yaitu Marni. Keduanya turun dari motor dan Marni lekas menghampiri keponakannya itu. "Lia, kamu mau pergi, ya?" tanya Marni. Amalia mengangguk singkat, kemudian balik bertanya perihal bibinya datang kemari, "Ada apa, Bi?"


"Bibi lagi cari Tari, barangkali kamu tahu di mana dia, Lia!" sahut Marni. Seperti Astuti sebelumnya, Amalia pun kaget dengan pertanyaan itu.


"Loh, emangnya Kak Tari nggak ada di rumah, Bi?" Jikalaupun ada kenapa juga Marni sampai jauh-jauh datang ke Jakarta? Cepat-cepat Marni menggeleng, sejurus kemudian ia menceritakan kejadian pilu yang menimpa anaknya.


"Astagfirullah! Bibi tega banget, sih!" Pantaslah Amalia bersungut kesal, Siapa yang tidak kesal mendengar sikap Marni terhadap anaknya sendiri? Menyesal memang tidak ada gunanya lagi dilakukan sekarang yang harus dilakukan adalah mencari keberadaan Tari biar hati menjadi lega.


"Jujur, aku nggak tahu di mana Kak Tari. Terakhitr aku berhubungan sama dia sebelum pulang ke Solo hampir dua bulan yang lalu."


Marni kembali dirajam sedih. Ke mana pula ia akan mencari anaknya dengan minim informasi seperti ini? Namun, Amalia menjanjikan akan membantu mencari di mana kakak sepupunya.


Wajar saja Tari pergi setelah mendapatkan pengusiran dari ibunya sendiri dan kini ia sedang menikmati waktunya yang menjadi wanita simpanan boss-boss


"Sayang, mau ikut ke kantor nggak hari ini?' tawar Rio. Tari yang sedang menyiapkan sarapan kontan menghentikan aktifitasnya, ia mendongak menatap kekasihnya yang duduk bertopang dagu bagai anak kecil sedang menunggu sarapan dari sang ibu.


"Mas ngajak aku?' Tari sampai mengulangi pertanyaan agar telinganya tidak salah dengar.


"Aku ajak siapa lagi? Memangnya ada istri aku di sini?" sahut Rio. Bukan apa-apa, Tari merasa malu jika Rio mengajaknya datang ke kantor. Apa kata orang-orang nanti? Tapi sepertinya, Rio justru tidak masalah dengan semua itu. Baiklah, Tari akan ikut kalau begitu. Lumayan kan, bisa membuat panas hati mantan suaminya, itupun bila Yudha merasa panas.


Selesai sarapan pergilah pasangan sejoli itu. Sesampainya di kantor, keduanya sama-sama keluar dari mobil berjalan beriringan bergandengan tangan seakan Rio ingin menunjukan dengan bangga pada dunia inilah wanita cantik simpanannya.

__ADS_1


Karena Rio tadi menghindari macet dengan pergi  agak pagi jadi, sampai di kantor baru datang segelintir karyawan. Rio masuk ke ruangannya bersama Tari, baru saja datang mereka sudah menimbulkan opini miring di antara segelintir karyawan yang menyaksikan Rio membawa wanita lain bukan istrinya, Jessica.


'Jujur, kalau tiap hari kayak gini, aku makin semangat kerja." Masih pagi Rio sudah melancarkan rayuan gombalnya membuat Tari menyunggingkan senyum.


"Tipe Buaya rawa emang gini," canda Tari. 


"Walau Buaya begini, tapi kamu suka, kan? Kalau nggak, nggak mungkin tiap hari nurutin aku," balas Rio seraya meremas pelan pinggul Tari yang mana sedang ia lingkarkan tangan.


"That true!" Untuk pagi ini Tari memberikan kecupan singkat di bibi kekasihnya yang berakhir pada cumbuan panas di dalam ruangan yang sebenarnya dingin.


Rio sadar keadaan dan situasi oleh sebab itu, ia menyudahi cumbuan panas yang mereka lakoni, ia membenarkan dress Tari yang sudah tersingkap hingga ke bagian perut.


"Sayang banget ini di kantor," rajuk Rio. Tari hanya terkekeh mendengar kekasihnya merajuk.


"Salah sendiri. Tersiksa jadinya, kan?" Rio semakin merajuk akibat ejekan Tari.


"One shoot dari mna, Mas? kamu itu nggak pernah one shoot, ujung-ujungnya aku nggak dibolehin turun ranjang sampai sore, bahkan sampai besok." Kali ini bergantian, Rio-lah yang terkekeh atas rajuakan itu.


"Ya sudahlah, apa boleh buat bini nggak mau disentuh. Jadi, biarlah adek di bawah sana bersemedi dulu," ujar Rio seenaknya.


Di jam 09.00 pagi para karyawan sudah full datang ke kantor. seperti biasa sebelum memulai pekerjaan masing-masing, Rio lebih dulu melakukan breffing pada anak asuhannya.


Mata Yudha tak lepas sedari tadi memandangi Atasannya itu, seperti ada yang aneh. Jika hari-hari sebelumnya raut wajah Rio tampak garang dengan sedikit senyum, tapi kali ini tak hentinya kedua sudut bibir melengkung ke atas menciptakan sebuah senyuman sampai lesung pipinya terlihat jelas.


"Ada apa sama Pak Rio? Apa ada Bu Jessica datang dan udah dikasih servis?" Yudha sampai bergumam penuh tanya dalam hati.


Bukan diservis dari istrinya, tapi tadi hampir diservis oleh mantan istrimu, Yudha. Asal kamu tahu saja. Sepanjang breffing rasa keingin-tahuan Yudha terus berkeliaran dalam kepala. Entahlah kenapa dia se'kepo ini pada atasannya?

__ADS_1


Setelah 20 menit breffing, semuanya bubar.


"Yudha, tunggu!" cegah Rio. Terhentilah langkah Yudha yang hampir mencapai pintu.


"Ya, kenapa, Pak?" tanya Yudha.


"Kamu makan siang di mana nanti? Kalau ada waktu bolehlah kita makan siang bareng," ajaknya.


Dugaan Yudha tak salah bahwa atasannya itu baru saja ketiban rezeki nomplok. Sejurus kemudian, Yudha menyahut, "Aku nggak sibuk, sih! Cuma mau makan siang aja bareng Irene, Pak."


"Ya udah, sekalian sama Irene aja, Aku yang teraktir nanti." Yudha sangat paham jikalau atasannya itu memang orang yang royal, tapi ... ah, entahlah! Yudha pun akhirnya mengiyakan ajakannya.


Jam makan siang tiba.


"Apa? Pak Rio sama ...." Tak terteruskan kalimat itu gara-gara melihat Rio keluar dari kantor bersama mantan istri. Menyebalkan sekali! tahu begini Yudha tidak mengiyakan ajakan tadi.


Bukan hanya Yudha, Irene pun yang baru dijemput dan masuk ke mobil tercengang tidak percaya mantan istri suaminya berada satu mobil dengannya.


"Kita makan di mana, Pak?" tanya Yudha. Rio mengajak makan ke salah satu restoran favorite. Yudha melirik Tari sekilas yang sedang menyandarkan kepala di bahu Rio memainkan ponsel dengan wajah tak acuh sekali.


Kini, tibalah mereka di restoran yang ditunjukan oleh Rio. Kedua pasangan itu melangkah masuk ke dalam. Sebelum itu, Tari permisi pada Rio untuk ke toilet. Detik berikutnya, Irene yang ikut pamit ke Toilet, bukan untuk menunaikan hajat, tapi untuk mencemooh Tari.


Keduanya bersiborok tepat di depan pintu toilet.


"Eh, pelakor!" ejek Irene tiba-tiba, Mendengar dirinya dikatai palakor, Tari pun tidak akan tinggal diam. "Siapa yang kamu sebut pelakor? Apa kamu nggak nyadar diri? Udah merebut laki-laki yang sudah beristri?" tuding Tari.


"Hellow! Terus, apa bedanya aku sama kamu, hah?" sergah Irene.

__ADS_1


 Tari melangkah lebih dekat hingga jarak di antara mereka hanya setengah meter. "Bedanya? Jelas jauh berbeda, aku pelakor laki-laki berduit.  Sedangkan kamu, pelakor dari laki-laki yang cumanya bisa dzolim sama mantan istrinya. Apa kamu lupa kalau kalian berdua udah makan uang hasil jual rumah yang di sana ada hakku? Tapi  nggak apa-apa, aku anggap itu sedekah buat selamatan anak kalian nanti kalau udah lahiran. Aku memang wanita simpanan, tapi aku simpanan Boss-mu. Oke?" Setelah melancarkan kalimat pedasnya, Tari pun berlalu.


__ADS_2