
Seorang ibu bukannya melindungi dan mendukung anakn justru sebaliknya. Tari sudah jelas dinodai dan jadi korban pelecehan, tapi masih ibu menyalahkan dirinya atas kejadiaan nahas itu.
"Bu, aku ini anak Ibu. Kenapa Ibu malah membela dia? Dari kelakuan aja udah bisa dilihat bagaimana bejatnya dia!"
Marni sama sekali tidak sadar, ia kekeh membela Bandi yang sudah dicintainya itu. Memang cinta membutahkan segalanya.
"Kamu jadi anak kurang ajar banget, Tari!"
Dimaki dan dicaci oleh ibu sendiri membuat Tari ingin mati saja saat itu. Keadilan kembali tak berpihak padanya. Air mata berderai begitu deras, tak tahan dituduh yang bukan-bukan oleh ibunya sendiri. Harusnya Marni mendukung anaknya dengan menemai ke kantor polisi untuk melaporkan Bandi, tapi ....
"Kalau akan jadi kayak gini, mendingan kamu nggak usah pulang dari Jakarta!" hardik Marni. Bukankah itu artinya secara tidak langsung Marni mengusir anaknya sendiri? Tidak menginginkan keberadaan anaknya?
"I-ibu ngusir aku?" Rasanya tercekat suara akibat hardikan sang ibu tadi. Marni tidak menyahut, ia melengos meninggalkan Tari yang dalam keadaan kacau itu. Tak lama dari arah dapur terdengar kambali sindiran ibunya, "Mending nggak usah pulang aja, aku malu punya anak kayak gitu."
Diusir oleh ibu sendiri membuat Tari semakin terisak dalam diam. Detik itu juga ia bangun memakai pakaiannya dan mengemasi barang-barang memasukannya dalam tas besar. Sakit luar biasa rasanya apalagi meliihat cairan kental milik Bandi yang berceceran di atas sprei.
Sudah dikemasi pakaian, Tari pun berjalan ke dapur hendak berpamitan pada ibunya, tapi wanita paruh baya itu sepertinya memang tidak ingin ada yang namanya berpamit-pamitan hingga ia menghindari anaknya dengan berjalan ke belakang rumah.
"Bu, apa salah aku?" lirihnya nyaris tak terdengar. Diremasnya pakaian di bagian dada ketika rasa nyilu menyerang tiada henti. Akhirnya, Tari pun pergi meninggalkan ibu yang sudah mengusirnya. Kenapa Marni sampai tega? Ia padahal hanya punya Tari seorang.
Tari melangkah keluar rumah sembari bertekad dalam hati bahwa ia tidak akan kembali ke rumah ibunya lagi. Tatapan aneh nan sinis diberikan oleh para tetangga ketika melihat Tari berjalan dari rumah dengan menyandang tas besar.
"Tari, mau ke mana?" Tak ayal ia disapa oleh tetangga yang bersiborok dengannya. Tari hanya menjawab dengan sebuah senyum terpaksa.
"Ya Allah, aku harus pergi ke mana?" tanyanya dalam hati. Ia hanya punya sedikit uang yang ia sisihkan dari tiap kali manggung. Untung saja Bandi hanya mengambil uang yang ada di dompet tidak sampai mengacak lemari pakaian yang uangnya Tari selipkan di bawah baju.
__ADS_1
Hati kalut dan bingung, ke mana Tari harus pergi sekarang? Apa ia harus kembali ke Jakarta dan tinggal bersama bibi Astuti atau Amalia? Tapi, ia tidak ingin bibi Astuti tahu dan akhirnya jadi bersedih karena wanita itu menyayanginya bagi anak kandung sendiri.
Kebetulan keluar dari jalan setapak menuju jalan raya Tari kebetulan bertemu dengan Evi yang baru pulang entah dari mana dengan pakaian semalam habis manggung.
"Vi, kamu habis dari mana?" tanya Tari. Evi menunjuk ke arah mobil hitam yang masih berada di pinggir jalan. "Lah, kamu mau ke mana?" Evi kemudian balik bertanya. Atas pertanyaan Evi, mata Tari sontak berkaca-kaca ingat akan kejadian yang menimpanya beberapa jam lalu.
Tidak sampai hati melihat keadaan Tari, Evi pun membawa Tari ke kontrakannya yang tak jauh dari depan gang.
Di dalam kontrakan sepetak itulah tangis Tari pecah ia terisak-isak dalam pelukan Evi.
"Tari, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Evi seraya mengusap pungung Tari berusaha menenangkannya. Meski susah payah, Tari pun menceritakan apa yang sudah ia alami tadi.
"Astaga! Gila banget tuh orang! Ibu kamu juga, kenapa sampai kayak gitu?" Evi pun marah mendengar kisah pilu itu. Sungguh, siapapun akan menaruh iba.
Malam pun tiba. Hari ini tidak ada job apapun untuk mereka, tapi Evi sudah sejak Magrib berada di depan kaca merias diri. Wajahnya seperti biasa dipoles dengan make-up agak tebal, rambut ia buat curly dan yang pasti pakaian minim tidak ketinggalan.
"Vi, kamu mau ke mana?" tanya Tari. Evi tersenyum, ia tidak menjawab malah mengajukan tawaran pada Tari, "Kamu mau ikut?"
Tari diam, mungkin memikirkan tawaran temannya itu.
"Udah, nggak usah kebanyakan mikir. Daripada kamu di sini sendiri kayak orang bodoh, mending ikut aku aja," sela Evi.
"Tapi, kita mau ke mana?" tanya Tari. Evi menghentikan aktifitasnya, lalu beralih menatapi Tari. "Kita bersenang-senang dong, cari hiburan," jawabnya. Memang iya, Tari butuh hiburan untuk saat ini demi melupakan ketidak-adilan yang terjadi padanya.
Akhirnya, Tari membasuh wajah agar sembabnya tidak kentera, kemudian mulai merias diri seperti apa yang dilakukan Evi.
__ADS_1
Pukul 09.00 malam, mereka keluar rumah berjalan sampai ke ujung gang di mana sudah menunggu sebuah mobil hitam tadi pagi yang mengantar Evi pulang. Sampai di sebelah mobil, terbukalah kaca itu dan menampilkan seorang pria.
"Beb, masuk!" suruh pria itu. Sebelum masuk, Evi berujar, "Aku bawa teman malam ini." Pria itu tampak mengangguk tanda ia tidak masalah dengan kehadiran Tari dan masuklah mereka ke dalam mobil.
Entah itu siapa, tapi yang pasti bukan hanya sekedar teman karena sedari tadi dua orang di depannya saling menggenggam tangan.
"Beb, besok aku pindah kerjaan ke Jakarta, kamu mau ikut nggak?" tanya Pria itu.
"Ikutlah, tapi istri kamu nggak ikut?" Evi balik bertanya. Mendengarnya, Tari jadi mendengus pelan memalingkan wajah. Pasalnya, ia masih trauma dengan yang namanya wanita perebut suami orang dan sekarang temannya justu begitu.
Evi menyetujui akan pindah ke Jakarta, pun dengan Tari yang juga ikut. Terpaksa karena hanya Evi seorang tempatnya berkeluh-kesah.
Malam ini mereka habiskan dengan bersenang-senang di sebuah rumah yang ternyata jadi sarangnya maksiat.
"Ayo Tar, habisin!" Rupanya tempat itu sangat cocok bagi Tari yang sedang dilanda depresi. Ia yang tidak pernah merokok dan merasakan alkohol jadi merasakannya juga di tempat itu. Di sana ia benar-benar belajar bagaimana jadi wanita nakal dan inilah job sampingan Evi ketika tidak manggung jadi wanita bayaran.
Pulang pukul 03.00 dini hari dalam keadaan teler pula. Susah payah Evi membawa Tari dari mobil menuju kontrakan.
Bugh!
Akhirnya, Tari menemukan kasur juga setelah beberapa kali muntah akibat banyak minum.
"Evi, kepala aku pusing banget!" selorohnya sambil tertawa-tawa tidak jelas. "Udah, nggak usah banyak ngoceh, tidur aja besok kita mau ke Jakarta," imbuh Evi. Belum disuruh saja, Tari sudah tidak bereaksi, ia tak sadarkan diri akibat mabuk berat. Evi hanya menggeleng melihat temannya itu.
Tari malam ini benar-benar mengekpresikan dirinya yang selalu disakiti melalui sebotol alkohol dan rokok sambil berjoget-joget ia lepaskan segala beban yang menghimpit dada selama ini sampai tak sadarkan diri.
__ADS_1