Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Hari Kesedihan Yudha


__ADS_3

POV Mentari


Aku memalingkan wajah karena semakin memerah, apalagi jika bang Yudha nanti bertanya kenapa wajahku mirip kepiting rebus?


Harum minyak wangi tanpa alkohol menyeruak masuk ke hidungku saat bang Yudha mengoleskanya di pergelangan tangan dan leher.


"Abang sholat Subuh dulu, Ma," pamitnya, kujawab anggukan. Aku beranjak dari ranjang berdiri sambil meregangkan otor serta urat.


Sepagi ini orang di rumah sudah tampak sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang duduk di samping mayat ibu seraya membaca yasin, ada juga yang menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman ibu nanti.


Aku bingung ingin melakukan apa? Mungkin, ada baiknya aku menyibukan diri di dapur entah apa saja nanti akan aku lakukan?


Sebelum berkutat dengan pekerjaan, lebih dulu aku menunaikan sholat subuh. Kakiku mengayun menuju dapur untuk mengambil wudhu yang ada di belakang sana.


Sepi. Lantas, kubuka pintu belakang dapur. Dinginnya air yang ada di dalam tempayan membuat aku kembali segar dan bersemangat. Kubasuh telapak tangan, mulut, hidung dan seterusnya sampai selesai. Kuhadap kiblat dan berdoa.


Terlalu sunyi tempat di mana aku mengambil wudhu, jika ada yang berjalan saja terdengar sangat jelas. Tak sengaja pendengaranku menangkap suara dua orang yang berkelakar pelan.


"Tan, bisa-bisanya istri Bang Yudha tidur dalam keadaan kayak gini."


Mulutku bungkam dengan mata yang melebar. Aku kenal betul siapa pemilik suara yang sudah mengunjingkanku. Aku tak bergeming di tampatku berdiri, tetap menutup mulut rapat-rapat mendengarkan percakapan mereka dengan seksama.


"Entahlah, di mana pikiran Tari itu?"


Seketika marahku membuncah, tapi sebisa mungkin kutahan. Baru kutahu ternyata tante Nasri dan Mona sama busuknya, suka menikam dari belakang.


"Untung aja dia punya suami kayak Bang Yudha, orangnya nggak pernah banyak protes!"


Nyeri sekali rasanya mendengar cibiran mereka terhadapku. Padahal, Mona dan Tante Nasri adalah orang yang lumayan dekat denganku. Kami selalu berbincang ria bila keluarga bang Yudha sedang berkumpul.


Tidak ingin ketinggalan waktu sholat, aku sontak masuk ke dapur. Kontan diam Mona dan tante Nasri yang tadinya bercerita seperti kereta api.


"K-kak Tari?"

__ADS_1


Bisa kulihat jelas wajah mereka yang gugup.


"Kamu habis ambil wudhu ya?" Tante Nasri basa-basi tersenyum tak nyaman.


"Iya." Aku menyahut singkat, kemudian berlalu. Tidak menyangka Mona dan tante Nasri begitu sifat aslinya.


Dua rakaat sholat Subuh telah aku selesaikan. Kini aku ikut duduk di samping mayat ibu, meratapi kepergiannya yang masih belum kupercaya.


Selang beberapa menit, datanglah bang Yudha dan kami duduk berdampingan, wajahnya yang sembab membuatku tak tega. Tak lama, wanita paruh baya mendekatiku. "Tari, bisa minta tolong nggak? Tolong petikin bunga," pinta tante Sur, adik ibu yang satunya lagi.


"Iya, Bi." Aku bergegas bangun meninggalkan bang Yudha untuk memetik bunga di halaman depan rumah ibu yang memang lumayan banyak tanaman berbunga. Ibu memang pecinta tanaman.


Dua kantong pelastik sudah terisi penuh dengan berbagai macam bunga. Aku kembali masuk ke dalam menemui tante Sur.


"Tan, ini bunganya." Kusodorkan pada tante Sur dua kantong pelastik yang berisi bunga. Tak jauh dariku ada Mona yang duduk tertunduk mengiris daun pandan. Aku tahu dia merasa tak enak hati padaku akibat tertangkap basah sedang membicarakanku.


Umurnya baru 20 tahun, aku tahu emosinya sedang labil. Namun, jikalau sudah membicarakan keburukan orang lain, itu bukan soal kelabilan lagi, tapi memang sudah sifat wataknya. Tidak ingin satu ruangan dengannya, aku pun enyah dari sini.


***


"Selamat jalan, Bu," lirih bang Yudha. Ia berikan kecupan terakhir di kening dan kedua pipi sang ibu. Ia tak kuasa membendung air mata sampai kembali menghujani pipi.


"Udah, Bang!" cegahku mengajaknya beringsut dari ibu. Bukan hanya bang Yudha, adiknya pun melakukan hal yang sama sampai orang-orang turun tangan menenangkan adik beradik yang sudah kehilangan si Penyemangat hidup.


Aku pun berduka, meluruhkan air mata tak sanggup melihat pemandangan pilu. Bang Yudha menggotong keranda yang dibaringi ibu, membawanya pergi ke masjid terdekat. Sementara aku, berboncengan bersama saudara bang Yudha mengikuti mobil jenazah hingga ke pemakaman.


Angin berembus pelan membawa semua kesedihan. Tanah yang berserakan perlahan dibuang ke liang lahat untuk mengubur raga yang sudah ditinggalkan ruh.


Suara tangis saling bersahutan, diiringin dengan kalimat tahlil. Perlahan tapi pasti, liang itu telah penuh terisi hingga tanah merah yang basah menyembul dari permukaan.


Doa-doa lirih membumbung menuju senjakala. Tangan menadah, memohon ampunan untuk orang yang sudah terkubur di dalam sana. Aku memegang keranjang bunga berdiri di samping suami, mengusap punggungnya yang tiada henti meratap atas duka dan kehilangan.


"Aamiin." Serempak kami mengaminkan doa itu agar melangit hingga mengetuk pintu ampunan Ilahi.

__ADS_1


Bunga kamboja putih, bunga kenanga dan kelopak bunga mawar kami taburkan di atas gundukan tanah sebagai tanda kehilangan kami.


Dia yang aku cinta, memeluk dengan erat papan nisan yang bertuliskan nama 'Nani Huraeni binti Mahmud Ilham' seakan enggan untuk berpisah, meskipun sebenarnya mereka sudah berpisah jarak, tempat tinggal dan alam.


Pemakaman yang penuh dengan air mata sudah usai. Para penghantar jenazah satu persatu pergi tinggalah aku dan bang Yudha serta Rangga dan Mona.


Menit berlalu mereka pun ikut meninggalkan area pemakaman dan tinggalah kami berdua. Dari sekian banyak orang hanya bang Yudha merasa paling kehilangan, atmosfer itu jelas terasa.


Matahari sudah hampir di tas kepala, dia masih betah meratap ingin menguras air matanya sampai puas.


"Bang, Ibu udah pergi, jangan banyak ditangisi. Sekarang kita pulang," ajakku. Bang Yudha yang menunduk menoleh padaku, pandanganya sendu dengan mata bengkak dan merah.


Kuisyartkan melalui mimik wajah mengajaknya pulang sekali lagi. Akhirnya, dengan berat hati dia menuruti ajakanku.


Langkahnya gontai berjalan bersamaku. Lemah, semangat hidup padam gulita.


Kami pulang berboncengan dengan motor yang di tinggalkan sepupunya. Sesampainya di rumah almarhum ibu, bang Yudha langsung masuk ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian yang kotor oleh tanah merah. Kuikuti dari belakang.


"Abang mau mandi?" tanyaku. Pertanyaanku tidak dijawab, tapi justru mendekat dan memeluku tiba-tiba.


"Ma, berpisah itu menyakitkan." Dia berbisik di telingaku. Jujur, aku tak paham maksud dari kalimat singkat itu. Tersirat makna yang mendalam.


Jika tahu berpisah itu menyakitkan, aku harap dia tidak mengulangi lagi kesalahan kemarin yang sudah bermain api di belakangku.


Sudahlah, kuikhlaskan hati untuk melupakan kesalahan yang sudah dibuatnya. Toh, sepertinya bang Yudha juga menyesal atas apa yang dilakukannya. Tidak ingin telibat pembicaraan ini lagi, kusuruh dirinya untuk segera mandi seraya mengambil pakaian lamanya yang ada di lemari.


"Mama nggak mandi?" tanyanya.


"Nanti aja di rumah. Tari nggak punya gantian, Bang," kataku menyahutinya.


"Pakai baju Abang dulu juga boleh," balasnya.


Tetiba aku ingat dengan satu kenangan indah yang membuat wajahku merona.

__ADS_1


"Maksud Abang ... kayak malam itu, 'kan?"


Dia paham malam apa yang aku maksud? Malam pengantin yang sangat memalukan di mana aku memakai bajunya yang kebesaran di badanku, setelah aku ceroboh lupa membawa koper pakaian milikku.


__ADS_2