Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Sang Ayah Pergi


__ADS_3

Bab 15


Marah, kesal, kecewa membaur jadi satu dalam hati Tari. Istri mana yang tidak marah dan kecewa melihat tingkah suami seperti ini? Pun Tari yang sudah bela-bela membeli lingerie hanya untuk membuat sang suami berhasrat padanya. Saat itu juga Tari membuka lingerie merah yang dipakai menggantinya dengan piyama.


"Kurang apa aku?" Di dalam kamar, Tari bersimpuh terisak di depan lemari. Kecewanya sungguh luar biasa ketika dirinya tidak dinomor-satukan.


Tidak ingin berlarut disekanya air mata, lalu bangun keluar kamar hendak mengambil air minum di dapur. Melewati ruang keluarga, tawa girang terdengar saling bersahutan, entah apa yang Yudha dan Randy bahas tampaknya bahagia sekali mereka?


Nyeri menyergap ketika melihat tawa Yudha yang begitu lepas. Semenjak kepergian ibu tidak pernah Yudha sebahagia itu, meskipun Tari selalu berusaha mengiburnya.


Yudha menoleh ketika menangkap bayangan dari ekor matanya, tawa pun senyap. Marah, Tari melengos dari depan pintu ruang keluarga. Berharap Yudha akan mengejar dan meminta maaf, tapi nyatanya … jauh dari harapan. Jangankan sosoknya, bias bayangan pun tak tampak. Alhasil, senyum getir tersungging.


Satu gelas air Tari teguk sampai habis supaya hawa panas yang berkobar dalam dirinya berangsur sejuk dan mereda. Dari dapur, ia melangkah lagi menuju kamar ingin melupakan kejadian ini dengan tidur.


****


Hawa dingin terasa menusuk ke tulang, lantunan suara indah Kalamullah menyapa indra pendengaran Tari. Mata itu mengerejap pelan, lalu digosok-gosok layaknya anak kecil yang baru bangun tidur.


Tari menoleh pelan ketika dengkuran halus terdengar, pulas Yudha tidur di sampingnya. Melihat wajah sang suami, perihnya kejadian semalam terlintas lagi di benak Tari. Tapi sudahlah, ia memilih untuk berdamai dengan rasa kecewa.


Tari bangun walau agak berat untuk menunaikan kewajiban. Bisikan-bisikan syaitan sangat dahsyat menyuruhnya untuk kembali tidur, atau lebih gilanya menggoda kembali sang suami yang masih tidur agar waktu ibadah diahlikan menjadi pergumulan panas di atas ranjang.


Tidak! Dengan tegas Tari menolak bisikan itu, ia kontan bangun berjalan menuju tempat wudhu yang bersebelahan dengan dapur. 


Dirasa dingin sekali air yang ada di dalam tempan, dalam hati Tari bergumam, "Ya Allah, semoga dinginnya air wudhu pagi ini jadi asbab penyejuk api neraka di akherat kelak."


"Bismillahirahmannirahim." Mulailah Tari berwudhu hingga selesai. Langkahnya mengayun kembali ke kamar di mana ia akan melaksanakan sholat Subuh. 


Assolatuhoiruminannaum … Assolatuhoiruminnanaum …..

__ADS_1


Allahuakbar, Allahuakbar la ilahaillallah


Tari berdiri di atas sajadah, tepat di samping Yudha yang masih tidur pulas ia melaksanakan sholat. Laki-laki adalah pemimpin di rumahnya, tapi jikalau melihat Yudha tidur dengan pulas sampai suara adzan tak menghentikan tidurnya maka, dia tak pantas disebut pemimpin.


Rada kesal, Tari tidak membangunkan Yudha biarlah tidurnya itu yang akan memanjangkan hisab-nya kelak. Sholat-lah Tari dengan khusyu', ia meluapkan segala isi hati yang kecewa melalui sujud-sujudnya. Tak sampai disitu, selesai sholat pun ia melangitkan doa agar segala kesakitan sirna dan rumah tangganya kembali hangat seperti dulu.


Telah selesai ia berdialog dengan sang Mahakuasa, ponsel yang ada di ranjang pun berdering. Masih menggunakan mukena, Tari bangun meraih ponsel yang tergeletak itu. Nama ibu tertera di layar. Ada apakah ibu menelepon subuh-subuh begini? Tak nyaman perasaan, Tari langsung menerima telepon itu.


"Assalamu'alaikum. Kenapa, Bu?" tanyanya. Tidak tahu ada apa, tapi suara itu terdengar panik di dalam sana, Tari pun jadi ikutan panik.


"Ayah jatuh dari kamar mandi, Nak." Ibu menyahut dengan suara bergetar menahan tangis.


"Astagfirullah! Kok bisa, Bu? Sekarang Ayah di mana? Gimana keadaannya?" Semakin paniklah Tari mendengar ayahnya jatuh di kamar mandi. Bukan hal sepele jika ayahnya memang sampai dilarikan ke rumah sakit.


"Ayah sekarang di rumah sakit, Ayah di ICU." 


"Bang bangun!" gugahnya. Yudha tidur seperti orang mati, tubuh digoncang sekuat itu tidak juga bangun.


"Bang bangun!" Kali ini lebih keras dan bangunlah Yudha. Melihat Tari sudah rapi, Yudha membuka mata lebar-lebar.


"Mama mau ke mana?" tanyanya sembari melirik ke arah jam dinding. Tidak mungkin sepagi ini ingin pergi ke pasar atau jogging dengan gamis.


"Bang, bisa antar Tari nggak? Tari mau pulang ke rumah Ibu, Tari dapat kabar kalau Ayah jatuh dari kamar mandi dan sekarang lagi di rumah sakit," terangnya.


Mendengarnya, Yudha jadi salah tingkah menggaruk kepala yang tak gatal. Harusnya ia mengucap kalimat istirja, bukan bertingkah seperti orang bodoh.


"Ma, gimana kalau Abang antar ke Terminal aja? Nggak mungkin Abang antar Mama sampai ke sana, Jakarta-Solo lumayan jauh, loh." 


Lagi, Tari kecewa. Siapa yang bisa Tari andalkan di saat seperti ini selain suaminya sendiri? Tapi Yudha enggan mengantar dengan alasan jarak dan kerjaan. Bukankah izin satu hari tidak masalah?

__ADS_1


Tari tak mengeluarkan lisan apapun lagi, ia bangun berjalan keluar kamar tanpa peduli lagi dengan panggilan Yudha. Setengah berlari Yudha mengejar Tari yang sudah sampai di pintu depan. 


"Ma, nggak usah marah. Ayok, Abang antar ke Terminal."


Tari mengibaskan tanganya menolak tawaran Yudha. Namun akhirnya, ia menerima tawaran itu karena sebuah keter-paksaan, tidak ingin menimbulkan keributan di pagi begini.


"Mas Yudha, mau ke mana?" 


Tari spontan menoleh, pun dengan orang yang dipanggil namanya.


"Mas?" ulangi Tari. Rasanya mual sekali mendengar Randy memanggil suaminya dengan sebutan 'Mas'. Sehari semalam menginap, baru pagi ini Tari tahu bahwa suaminya dipanggil dengan sebutan itu. Tari memilih terserah, ada hal lebih penting daripada memikirkan itu, meski tak dipungkiri tergangu juga.


"Kak, tunggu di rumah ya? Aku mau antar Tari dulu ke terminal, dia mau pulang ke Solo." Setelah menyahuti Randy, Yudha buru-buru membawa Tari masuk ke dalam mobil.


Pikiran kalut membuat Tari tak mengeluarkan suara ketika berada di dalam mobil, pun dengan Yudha yang sepertinya menjaga pembicaraan. Walhasil, sepanjang perjalanan hanya bisa dihitung dengan jari kata yang mereka keluarkan.


"Kayaknya Mama nggak tertarik ngomong sama Abang." Akhirnya Yudha mengelurkan juga pertanyaan sesampainya mereka di terminal.


"Tari harus ngomong apa, Bang? Bukannya Abang yang kayaknya nggak tertarik ngomong sama Tari?" Telak, pertanyaan balik yang Tari lontarkan sampai Yudha terdiam bersama riak wajah tak mengenakan.


Hanya sampai di sini Yudha mengantar istrinya itu. Kini, Tari pergi seorang diri tanpa Yudha menemani. Bukan tidak sakit, tapi … ya sudahlah.


Datang ke Solo, Tari langsung menuju rumah sakit di mana ayahnya sedang terbaring dalam keadaan kritis.


Namun, baru dua jam berada di sana kabar duka menyambutnya.  Sang Ayah berpulang ke Hariban Ilahi setelah kritis selama 4 jam.


Lengkap sudah kesedihan hati Tari hari ini. Dalam keadaan kalang-kabut begitu ia menghubungi suaminya untuk mengabarkan kepergian ayahnya, tapi suaminya itu justru tak menerima telepon, lebih parah tidak bisa dihubungi di detik berikutnya.


Menyungai air mata Tari akan kekecewaan yang ia terima untuk kesekian kali.

__ADS_1


__ADS_2