Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Hilangnya Sebuah Surat


__ADS_3

Bab 19


Sungguh tidak tanggung-tanggung Yudha memberikan Tari rasa sakit. Dua hal sekaligus ia khianati, cinta pertama dan keyakinannya. Seakan tidak ada yang perlu lagi dibicarakan, Yudha berlalu dari hadapan Tari masuk ke kamar mengemasi pakaian serta barang-barang yang diperlukan.


Yudha masuk ke kamar, Tari pun mengurung diri di kamar tamu menumpahkan semua rasa yang telah mencabik hati. Penghianatan seperti ini tidak pernah terbayangkan oleh Tari, apalagi dilakukan oleh Yudha, lelaki yang sudah bersamanya sejak lima tahun.


"Hahaha ….!" Tari tertawa sumbang terkesan mencibir dirinya sendiri disertai air mata yang tiada henti bergulir. Sakit? Jangan ditanyakan lagi.  Sedangkan Tari masih bergelut dengan air mata, Yudha lekas mengemasi pakaiannya tidak ingin berlama-lama di rumah itu, terlebih berdua bersama Tari. Cintanya benar-benar sudah pupus pada wanita itu, wanita yang sampai detik ini masih sah jadi istrinya dimata hukum meski dirinya sudah menjatuhkan talak dengan lantang.


Sampai hati, kejam dan tidak perperasaan. Yudha berlalu melewati kamar tamu, tangisan Tari di dalam sana sama sekali tidak menghentikan langkahnya untuk angkat kaki dari rumah yang sudah ia bangun ketika baru menikah dengan Tari.


Ia memilih untuk kembali kepelukan wanita simpanannya. Apa spesialnya Irene? Apa karena sedang hamil?


Dua koper besar Yudha masukkan ke dalam mobil, tanpa berpamitan, tanpa mengucap maaf ia pergi begitu saja seakan benar-benar enggan untuk melihat dan melakukan dialog dengan Tari.


Suara deruman mobil perlahan menjauh dam suara rumah pun kembali hening. Tari berusaha menghentikan tangisnya, menyeka air mata dan bangun menuju pintu kamar. Dibukanya, memang tampak sepi.


"Dia udah pergi," lirihnya nyaris tak terdengar. Yudha sudah pergi meninggalkan kenangan dan rasa sakit untuknya. Sungguh, Tari benar-benar tidak dianggap berharga lagi oleh lelaki itu, hanya untuk berpaling melihat bayangan istrinya saja Yudha sudah tidak ingin. 


Memikat, mengkhianati, lalu pergi. Apa semudah itu jalan pikiran Yudha? Apa sesederhana itu ia pikir rasa cinta Tari padanya?


Dari kamar tamu, Tari masuk ke kamarnya memastikan sekali lagi apa suaminya benar-benar meninggalkan rumah, yang dilihatnya pertama kali adalah lemari Yudha.


Brak!


"Sialan!" Dihempaskannya dengan kuat pintu lemari milik Yudha ketika melihat isinya sudah kosong, bahkan dia sama sekali tidak menyisakan pakaian bersihnya di sana.


Tari merasa frustrasi, kehilangan arah sudah barang tentu pada akhirnya Tari lagi dan lagi melampiaskan semuanya dengan menangis di sudut kamar sampai lupa pergi membantu bibi Astuti.

__ADS_1


Hingga pegal menangis, Tari pun tertidur di lantai ubin yang dingin itu, membawa semua pesakitan ke alam mimpi kambali menangis di dalam sana.


Kini, matahari sudah berada di atas kepala, adzan Dzuhur pun sudah lama berkumandang. Bibi Astuti berkutat di dapur bersama Amalia yang baru datang sejam yang lalu.


"Ke mana ya Tari?" Bibi Astuti berdesis ketika sudah tengah hari tidak muncul juga batang hidung keponakannya. Padahal, janjinya jam 08.00 pagi akan datang dan menemani pergi ke pasar.


"Nggak tahu, Bi. Coba aku telepon," tukas Amalia. Lantas, Amalia mengambil ponselnya menghubungi Tari. Dua kali telepon tersambung, tapi Tari sama sekali tidak menjawab.


"Gimana?" tanya bibi Astuti. Amalia manjawabnya dengan gelengan pelan. 


"Ya udah, nanti kita ke rumah dia, tapi sekarang kita harus cepat, Lia," imbuh bibi Astuti. Oleh sebab itu, mereka bergegas merampungkan semua kerjaan mereka karena harus siap setelah Magrib nanti.


Di rumahnya, Tari terbangun setelah tidur selama 5 jam. Ia duduk di lantai dengan wajah mengantuk, dilihatnya jam di dinding sudah menunjukan pukul 02.00 sore. 


"Astaga! Aku keluapaan." Tari bergegas bangun menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang sembab, bagaimanapun membasuh tetap saja masih kentera ia habis menangis.


Tentang Yudha ia lupakan dulu dan lekas pergi ke rumah bibi Astuti yang sudah dari pagi mungkin menunggunya.


"Assalamu'alaikum." Ia menyapa seraya masuk ke dalam karena pintu rumah terbuka lebar.


"Tari!" Bibi Astuti dan Amalia serempak menyerukan namanya. "Maaf ya … aku baru muncul, tadi ada sedikit masalah," lapor Tari.  Bibi Astuti tidak menanyakan ada masalah apa? Dan tidak perlu diberi tahu, dari wajah yang sembab saja bibi Astuti sudah tahu jika Tari memang sedang ada masalah. Justru Amalia yang langsung bertanya, "Memangnya Kakak punya masalah apa?"


Sejenak Tari diam dengan wajah tak nyaman, bibi Astuti sampai menyikut rusuk Amalia gara-gara rasa keingin-tahuannya itu. "Biasalah," jawab Tari kemudian. Ia berusaha terlihat baik-baik saja meski hatinya sudah diporak-porandakan oleh Yudha. 


Oleh sebab waktu yang sempit, mereka kembali melanjutkan aktifitas dibantu oleh Tari Juga tentunya.


Dari Ashar datanglah Magrib. Di meja panjang itu sudah tersusun dengan rapi kotak-kotak yang berisi nasi pesanan salah satu kepala perusahaan. 

__ADS_1


"Bi, aku nggak bisa ngantar karena ada kerjaan lagi sama teman," ujar Amalia tergesa. Bibi Astuti memaklumi keponakannya yang sangat sibuk itu, ia justru berterima kasih karena Amalia sudah membantunya meski sedang sibuk.


"Biar bibi antar sama Tari aja, Lia," sahut bibi Astuti seraya melirik Tari yang memang banyak diam hari ini.


Kini, 25 kotak nasi berada di bagian depan motor matic Tari dan 25 kotak lagi di pangkuan bibi Astuti yang sudah siap dibonceng oleh Tari.


"Di antar ke mana ini, Bi?" tanya Tari sembari melajukan motornya. Di atas motor, bibi Astuti bersuara agak kencang memberi tahu ke mana mereka akan mengantar nasi-nasi pesanan itu.


Apa? Tari membulat ketika mendengar bibi Astuti menyebutkan arah tujuan mereka. Kenapa harus mengantar ke kantor yang di mana suami brengseknya bekerja? Kenapa harus dirinya? Kenapa tidak Amalia saja tadi?


Sampai di kantor, Tari memarkirkan motornya di depan gedung. Ia enggan masuk dan meminta bibi Astuti saja yang membawa masuk ke dalam.


"Kenapa? Suami kamu bekerja di sini, Kan? Apa kamu malu?" tanya bibi Astuti begitu polosnya, ia tidak tahu konflik besar sedang melanda bahtera rumah tangga keponakannya itu.


"Bibi masuk aja," sela Tari yang masih sama tidak ingin masuk. Akhirnya dibantu security, bibi Astuti membawa pesanan itu. Memang takdir ingin mempertemukan Tari dengan Yudha, di saat Tari tidak ingin masuk untuk menghindari bertemu Yudha, justri ia bersiborok dengan suaminya itu di parkiran.


Belatih kembali tertancap ketika mobil Yudha memasuki halaman kantor dan keluarlah Yudha, tapi tidak sendiri, ia keluar bersama Irene yang baru dijemputnya dari supermarket di mana Irene ditempatkan sebagai SPG.


Entah sengaja atau tidak, dengan mesra dan tanpa malu Yudha merangkul pinggang Irene yang mulai berisi itu, padahal Tari duduk di motor yang hanya berjarak empat meter darinya.


Tari menundukan kepala memainkan ponsel, pura-pura tidak melihat datangnya Yudha. Paling menyedihkan, Yudha seperti tidak kenal dengan sosok yang duduk di motor matic itu, merangkul pinggul Irene ia masuk ke dalam untuk ikut merayakan ulang tahun kepala perusahaan.


Benar-benar menyakitkan, Tari akhirnya memilih untuk berpisah dan enyah dari kehidupan Yudha.


Pulang ke rumah dalam keadaan menangis, apalagi setelah dinasehati bibi Astuti untuk melupakan saja suaminya itu, orang mengatakan memang mudah, tapi untuk Tari yang mengalami semua itu tidaklah mudah. Katakan sejujurnya, bisakah kita melupakan begitu saja orang yang kita sayangi meski sudah disakiti sedemikian rupa? Tidak, Kan? Semua itu tidak akan mudah. Namun, tidak ada cela juga untuk Tari mempertahankan rumah tangganya yang sudah carut-marut.


Jika begini, ada baiknya Tari pulang ke rumah orang tuanya untuk menenangkan diri. Ia pun mengambil satu tas besar untuk diisi dengan pakaian. Semua Tari masukan ke dalam tas tak terkecuali barang berharga. Namun, ada yang membuatnya kelimpungan barang yang dicari tidak ditemukan di dalam lemari itu.

__ADS_1


"Di mana surat rumah?" gumamnya sembari berpikir keras. Mungkin saja lupa menaruh, Tari pun mencari di seluruh tempat-tempat yang ada di kamar, tapi tidak ditemukan juga.


"Bang Yudha?" tebaknya. Tidak salah lagi pasti Yudha yang sudah membawa surat rumah di kala dirinya waktu itu mengemasi pakaian.


__ADS_2