
Pov Mentari
Perih? Jangan ditanya lagi, rasanya di tengah malam seperti ini ingin kuberteriak mengeluarkan segala kesal. Sudah semalam ini entah pertolongan apa yang dibutuhkan oleh lelaki lembek itu? Tidak adakah orang lain, selain suamiku untuk dia minta tolong?
"Tega kamu, Bang!" Akhirnya keluar juga teriakanku. Mungkin, hanya bang Yudha lelaki yang bisa menahan hasrat di saat sudah membumbung tinggi ke ubun-ubun. Segera kuambil atasan piyama yang tergeletak di lantai akibat bang Yudha yang membuangnya sembarangan.
Dari kamar, aku melangkah menuju dapur mengambil segelas air putih untuk menormalkan diriku yang tengah di rundung kesal, resah dan gelisah.
"Sedekat apa hubungan Bang Yudha dan si Kak Randy itu?" Aku bermonolog, lalu kuteguk habis air putih dalam gelas yang aku pegang.
Sekali lagi kutekankan dalam diri ini, bahwa jangan ada yang namanya perasangka buruk. Namun, yang membuat aku marah dengan bang Yudha, dia justru lebih memilih orang itu daripada terus menuntaskan hasrat denganku.
Ya Allah, rasanya sebak sekali hati ini.
Waktu di jam dinding ruang keluarga ini sudah menunjukan pukul 01.00 malam, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kedatangan bang Yudha. Jangan sampai penasaran apa yang terjadi, aku masuk ke kamar untuk mengambil ponsel. Menyebalkan! orang yang ingin aku hubungi meninggalkan ponselnya di atas nakas. Lengkap sudah rasanya kejengkelanku gara-gara bang Yudha.
Akhirnya, aku memutuskan untuk menunggunya di ruang keluarga dengan menonton televisi agar tidak mengantuk. Lucu, justru tontonan di televisi malah membuat mataku meredup, aku mengantuk dan tidur tanpa aba-aba. Terbalik kan, televisi-lah yang menontonku yang ketiduran.
***
Gema sholawat tarhim dari masjid terdekat membangunkan yang hanya tidur lima jam. Ketika membuka mata yang aku lihat pertama kali adalah jam dinding.
"Jam lima."
Sudah pulangkah bang Yudha? Rasanya tidak, jika sudah pulang tidak mungkin dia tidak membangunkanku dan aku pasti bangun saat mendengar suara mesin mobilnya.
Setengah mengantuk, aku berjalan untuk mengintip garasi yang bersebelahan dengan ruang keluarga. Kuintai dari jendela, sama sekali tidak ada mobil bang Yudha di dalam sana.
"Belum pulang rupanya." Aku tersenyum getir menanggapi kenyataan. Pantaskan aku tidak menaruh curiga padanya? Yang membuat aku kian miris adalah suamiku itu tidak pulang hanya karena Kak Randy yang minta tolong.
Sholawat selesai, adzan pun tiba. Ada baiknya aku sholat Subuh, selain kewajiban, sholat juga dapat menenangkan pikiranku yang kalut.
***
__ADS_1
"Assalamu'alikum warahmatullah ...."
Bersamaan dengan selesai aku sholat maka, terdengarlah deruman halus sebuah mobil yang memasuki halaman dan berhenti di depan rumah. Siapa lagi, kalau bukan bang Yudha.
"Ma!"
Terdengar suaranya yang memanggilku seraya mengetuk pintu. Masih dengan mukena, aku bangun menuju pintu utama. Dengan kesal kubuka pintu.
"Ma, Abang minta maaf pulang telat," katanya tiba-tiba.
"Harusnya nggak usah pulang aja, Bang!"
kudorong tubuhnya hingga dia terpundur ke belakang. Istri mana yang tidak kesal melihat kelakuan suami seperti ini?
"Ma ...."
Kutepis dengan kuat tangannya yang ingin memegang tanganku agar dia tahu bahwa aku sedang marah sekarang. Tidak ingin terlibat pertengkaran di pagi buta begini, aku menjauh darinya kembali ke kamar.
"Ma, Abang minta maaf!"
"Apaan sih, Bang?" sentakku tak suka sembari mengibaskan tangan yang hendak ia genggam. Di depanku, dia sontak memasang wajah sesal dan memohon, memelas.
"Ma, bukan maksud Abang mau pergi gitu aja dan pulang telat kayak gini. Abang habis bawa Kak Randy ke rumah sakit, dia mengeluh sakit perut udah dari sore, makanya Abang nungguin dia di rumah sakit sampai pagi gini."
Lagi, dia beralasan. Aku tidak tahu kali ini alasannya jujur atau akting belaka, dengan wajah merengut kulewati dia.
"Percaya sama Abang, Ma," mohonnya kembali. Maranya aku adalah diam. Jadi, aku bungkam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Mama ...." Desahannya terdengar di telinga saat aku berlalu di hadapannya. Terserah! Biarkan saja dia merenungi kesalahan di dalam sana, itupun jika dia memang benar-benar merasa bersalah.
Untuk menghindarinya sengaja aku masih pagi begini sudah sibuk membereskan rumah, tubuh pun sudah dibanjiri keringat.
Pukul 08.00 pagi, bang Yudha pamit berangkat kerja. Khusus hari ini tidak ada sarapan untuknya yang sudah membuatku jengkel setengah mati.
__ADS_1
Aku yang masih menyapu di halaman rumah sama sekali tidak menyahuti pamitannya itu. Pergi, pergi saja aku tidak peduli.
"Udah dong ... nggak usah marah lagi!"
Aku yang masih menyapu langsung mendongak pada orang yang meninggikan suaranya ini. "Loh, kenapa malah Abang yang marah?" Aku balas menghardiknya.
"Lagian kamu, marahnya nggak reda-reda dari tadi."
Sapu yang aku pengang ini langsung kuhentakan ke tanah karena panas mendengar omong kosongnya.
"Siapa yang nggak marah lihat kelakuan suami kayak gitu, Bang! Wajar aja aku marah karena Abang lebih mementingkan orang lain daripada istri Abang sendiri!"
Suaraku naik satu oktaf dari suaranya tadi yang membuat tetangga jadinya memandangi kami heran. Memang tetangga di sini jika urusan orang lain pasti heran meninggikan telinga.
Merasa tidak enak, bang Yudha kembali meminta maaf, setelahnya masuk ke mobil dan pergi ke kentor.
***
Berkunjung ke rumah Linda membuat aku banyak dihadiahi pakaian syar'i olehnya.
"Semoga bisa jadi amal jariyah," tandasnya seraya memberikan paper bag berwarna ungu padaku. Pakaian muslimah yang dia berikan masih baru dengan merk yang masih menempel.
Linda memang punya usaha toko pakaian, walaupun teras rumah yang ia sulap jadi sebuah toko, tapi usahanya ini sangat laris karena harga yang lumayan terjangkau.
"Aamiin. Terima kasih ya, Lin." Kuraih paper bag itu dengan senang hati.
Sebelum waktu Dzuhur tiba, aku harus segera pulang. Ditengah cuaca sepanas ini, aku mengendarai motor seorang diri. Ketika melewati jalan dekat pasar kota, dari kejauhan kulihat ada sedikit keramaian yang menganggu jalan, ada beberapa pengendara yang berhenti di bahu jalan, penghuni pasar pun berdiri di pinggir jalan.
"Woi! Lekong!"
Aku sedikit melaju ketika mereka berteriak seperti itu, penasaran juga ingin tahu. Astagfirullah! tolong jernihkan mataku ini Ya Allah, salah lihatkah aku dengan pandangan di depanku? Yang mereka teriaki sedari tadi adalah suamiku sendiri. Di tengah panas begini dia berjalan mengejar seseorang yang tak lain adalah lelaki yang datang bersamanya hari itu, Kak Randy.
Dia terlihat sedang membujuk leleki lembek itu yang sepertinya sedang merajuk. Tidak malu kah mereka jadi pusat perhatian seperti ini? Bang Yudha tak ubahnya seperti lelaki yang sedang membujuk kekasihnya saja.
__ADS_1
Ingin kuhampiri, tapi yang aku lihat bang Yudha meraih tangan lelaki lembek itu, segera mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Jangan sampai aku mengecap mereka yang bukan-bukan.