Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Ada Sesuatu di Kantong Celana Yudha


__ADS_3

Yudha pergi ke sebuah rumah yang khusus ia kontrak untuk Irene. Lampu yang menyotot serta deru mesin mobil membuat Irene mengayunkan kaki ke arah pintu utama.


Yudha baru keluar dari mobil, Irene sudah menunggu di ambang pintu dengan senyumnya yang cerah.


"Yang, ada apa?" tanya Yudha ketika sudah berada di depan Irene, wajahnya menampilkan kecemasan.


Irena berlagak manja bergelayut di lengan Yudha sembari menyahut, "Nggak ada apa-apa, nyuruh Ayang ke sini aja aku lagi kangen."


Dasar buaya! Tersungging senyum Yudha mendengar rengekan manja Irene.


"Aku kira kamu kenapa-kenapa, tahunya lagi kangen. Maaf ya ... tadi kita ketemu cuma sebentar soalnya ada Tari pergi sama aku. Eh, dia rupanya pulang sendiri gara-gara kelamaan aku tinggal," ujar Yudha seraya membawa Irene masuk ke dalam.


Hubungan terlarang antara Yudha dan Irene sudah terjadi sejak sebulan yang lalu, di mana saat itu Irene baru bekerja di perusahaan yang sama dengan Yudha. Irene bekerja sebagai Sales Promotion Girl, sedangkan Yudha adalah Supervisor.


Bagaimana Yudha tidak tergoda dengan body aduhai milik Irene, serta gadis itu selalu memakai pakaian lumayan minim karena pekerjaannya sebagai sales promotion girl.


Pertemuan intens setiap hari membuat Yudha dan Irene semakin dekat, akhirnya memutuskan untuk menjalin kasih setelah mereka saling mengungkapkan perasaan. Irene tahu bahwa Yudha sudah menikah, tapi masih saja kekeh ingin menjadi kekasih lelaki itu.


Yudha yang pergi diam-diam di tengah malam tak pernah khawatir karena ia punya seribu alasan untuk bisa berkilah dari tuduhan Tari.


Akhirnya, malam panjang itu Yudha habiskan dengan Irene, bergumul di atas ranjang hingga lelah dan tertidur.


***


Pagi buta Tari bangun dan tak mendapati suaminya tidur di samping.


"Abang!" panggil Tari. Ia pikir Yudha sudah bangun. Karena tak ada jawaban Tari memanggil suaminya berulang kali seraya mengecek ke ruangan mana saja yang ada di rumah.


Suasana hening tak terdengar sahutan apapun.


"Ke mana Abang?" Tari pun bingung dibuatnya. Sepagi ini ke mana Yudha pergi? Olahraga? Tidak mungkin, 'kan?


Dalam kebingungan Tari mengambil ponsel untuk menghubungi Yudha, tapi seperti biasa susah untuk dihubungi. Lebih tepatnya, Yudha sengaja tidak menerima panggilan telepon dari Tari.

__ADS_1


Ingin sekali Tari membanting ponsel untuk melampiaskan kekesalannya.


"Banyak tingkah kamu, Yudha!" Tari memaki dengan keras seorang diri. Mungkin tetangga terdekat bisa mendengar teriakannya itu.


Dengan jengakelnya Tari mulai mengerjakan pekerjaan rumah seraya menunggu suaminya pulang.


Sekitar jam 07.00 pagi, mobil yang Tari kenali masuk ke halaman. Tari berang melangkah cepat untuk membuka pintu. Baru saja Yudha menginjakan kaki di teras rumah, Tari sudah mencecarnya dengan pertanyaan yang menyudutkan, "Abang dari mana? Kenapa main pergi aja? Abang pergi dari semalam, 'kan?"


Merasa tak nyaman dengan tetangga, Yudha meraih tangan Tari membawanya masuk ke dalam rumah.


"Lepas, Bang! Aku nggak suka kalau kayak gini!" sergah Tari.


"Mama nggak usah marah-marah dulu. Abang pergi semalam karena Rangga yang telepon kasih tahu kalau Ibu tiba-tiba sesak napas. Abang sengaja nggak bangunin Mama karena kayaknya capek banget."


Pandai sekali Yudha mencari alasan agar Tari percaya. Jika sudah menyangkut soal kesehatan mertuanya, Tari pasti melemah.


"Jadi, semalam Abang bawa Ibu ke rumah sakit?" tanya Tari sekali lagi.


"Iya, Abang langsung pergi ke rumah sakit semalam, untungnya Ibu nggak sampai di-opname," tukas Yudha.


"Kalau gitu, nanti Tari mau jenguk Ibu," imbuhnya. Menolehlah Yudha dengan wajah gugup.


"Ibu nggak apa-apa, Kok. Kalau mau jenguk besok-besok aja, sekarang biarin aja Ibu istirahat."


Tari tersenyum penuh arti mendengar jawaban ambingu dari suaminya. Jujur saja, jawaban itu sungguh tak masuk akal.


"Kayaknya kamu mau main-main sama aku, Bang!" Tari bergumam dalam hati.


***


Setelah menghilang semalaman, siang ini Yudha pamit pada Tari, katanya ingin menjemput Bapak Rio, Direktur perusahaan.


Yudha berpenampilan sangat rapi dengan pakaian casual-nya, aroma parfum menyengat hidung ketika Yudha lewat. Lucu saja, Yudha terkesan seperti ingin kencan daripada menjemput Direktur tempatnya bekerja.

__ADS_1


Sudahlah, Tari tak ingin banyak tanya yang berakhir dengan perdebatan. Terlalu lelah bertengkar setiap saat.


Yudha tidak berbohong, ia memang menjemput atasanya di bandara. Namun, setelah mengantar Pak Rio ke hotel, Yudha berbelok arah, bukannya langsung pulang, Yudha justru menjemput Irene di salah satu supermarket di mana Irene di tempatkan sebagai SPG.


Begitu mesra Yudha melingkarkan tangan di pinggul berisi milik Irene membawanya masuk ke dalam mobil.


Jangan dikira ia sudah pandai menyimpan bangkai agar bau busuknya tidak tercium. Yang Mahakuasa ingin menunjukan pada Tari bagaimana bejatnya Yudha. Di saat yang bersamaan Lia datang ke supermarket dan melihat dengan jelas bahwa suami kakak sepupunya pergi bersama gadis lain.


Tak sempat mengambil bukti secara lengkap, Lia hanya bisa mengambil foto bagian belakang mobil milik Yudha yang perlahan menjauh bersama Irene di dalamnya.


"Astagfiullah! Banyak banget pelakor zaman gini hari." Tanpa membuang waktu Lia langsung mengadu pada Tari dengan mengirimkan foto itu dibubuhi dengan teks yang akan membuat darah Tari mendidih.


Dari pagi Tari hanya berbaring karena sakit kepala yang menyerangnya. Sudah merasa mendingan Tari berjalan ke kamar mandi yang ada di dekat dapur untuk membilas pakaian yang tadi sudah dicucinya.


Ting!


Sebuah pesan masuk. Baru sekian detik membaca pesan itu, wajah Tari sudah merah padam. Detik berikutnya Tari sontak menelepon Lia untuk minta panjelasan secara langsung.


"Ada apa, Kak?" Lia bertanya di seberang telepon.


"Lia, apa benar yang kamu kirim ini?" Tari balik bertanya.


Dengan tegas Lia menyahut, "Nggak mungkin aku melakukan fitnah, Kak! Jelas banget aku lihat Bang Yudha pergi sama cewek dan akupun tahu cewek itu kerja di supermarket ini."


Bergemuruh dada Tari mendengar penjelasan Lia.


"Terima kasih info-nya." Karena kesal, Tari langsung memutus penggilan telepon itu. Tari marah, tapi setidaknya, feeling buruk yang ia rasakan selama ini memang terbukti. Bagus juga bila ia sudah tahu perempuan mana yang telah menjadi penghancur kebahagiaannya.


"Keterlaluan!" pekiknya seraya melemparkan kembali celana panjang yang ia pegang sampai sebuah benda kecil jatuh dari saku celana itu.


Tari meletakan ponsel di meja yang tak jauh dari sana, kemudian memungut benda kecil yang bungkusnya berwarna merah mirip permen.


"Kok, ada alat kontrasepsi di kantong celana Bang Yudha?"

__ADS_1


Detik itu juga kecurigaan Tari langsung membuncah.


__ADS_2