Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Siapa Kak Randy


__ADS_3

POV Mentari


Sehari sudah ibu pergi dan malam ini kami akan mengadakan tahlilan untuk ibu. Sebelum itu, aku dan Bang Yudha pulang ke rumah terlebih dulu untuk menganti pakaian dan segala macam.


"Abang, jangan terlalu dipikirin ya?" Aku cemas melihat wajah murungnya dan lebih cemas lagi pandangannya seperti kosong.


"Awas, Bang!" Aku memekik sekeras-kerasnya, takutku menjadi tatkala mobil menabrak pengendara motor. Refleks bang Yudha menginjak pedal rem sampai terdengar suara decitan ban mobil.


Brak!


Mendengar itu, aku dan bang Yudha secepat kilat keluar mobil untuk memeriksa pengendara yang sempat tetabrak. Allah masih melindungi, mobil kami hanya menyengol sedikit ujung motor pengendara itu.


"Pak, apa yang luka? Aku minta maaf, Pak!" sesal bang Yudha. Bang Yudha membantu bapak ini untuk bangun, kemudian menggiringnya ke trotoar.


Ada kejadian seperti ini orang-orang dengan cepat berkerumun.


"Nggak ada yang terluka." Bapak itu menyahut. Syukur kalau begitu. Sebagai rasa bersalah bang Yudha mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan memberikannya pada korban yang kami tabrak ini, hitung-hitung untuk ganti rugi bagian belakang motor yang sedikit lecet.


Bapak itu pergi, kami pun masuk ke mobil.


"Bang, biar Tari aja yang nyetir," tawarku. Resah juga melihat keadaan bang Yudha seperti ini. Selalu merenung.


"Abang minta maaf kurang fokus. Nggak apa-apa biar Abang aja yang nyetir." Akhirnya, kubirkan saja bang Yudha kembali menyetir meski was-was hatiku membuncah.


Alhasil, dengan rasa was-was itu sampai juga di rumah. Aku mengucap syukur dalam hati karena masih merasa bergetar akibat tabrakan tadi.


Aku dan bang Yudha masuk ke rumah. "Mama mandi aja dulu, habis itu kita langsung ke rumah Ibu," suruhnya. Aku mengangguk patuh.


Kami berjalan beriringan menuju kamar, aku hendak mandi dan bang Yudha sontak merebahkan tubuh di tempat tidur. Semalaman tidak tidur membuat kantuk tanpa persetujuan langsung menyerangnya.


Baru ingin masuk ke kamar mandi, sudah terdengar dengkuran halusnya. Aku menggeleng sambil tersenyum, lelah sekali dia.


Drett... dret....


Aku menoleh ke asal suara di mana ponsel bang Yudha yang ada di atas nakas terlihat bergetar dengan layar yang menyala. Satu kaki yang sudah melangkah melewati pintu kamar mandi, terpaksa kutarik lagi hanya untuk melihat siapa yang menelepon. Siapa tahu ada hal penting.


'Kak Randy'. Aku tercengang ketika nama itu lagi yang menghubungi suamiku, kenapa orang itu saban waktu menelepon bang Yudha? Belum sempat menerima, panggilan itu sudah terputus.


"Astaga!" Ingin kumengumpat di telinga orang yang bernama 'kak Randy' itu. Aku pun meletakan kembali ponsel bang Yudha.


Mulailah pikiran buruk dan pertanyaan aneh bergentayangan di dalam kepalaku.


"Nggak boleh suudzon, Tari. Siapa tahu itu rekan kerja Bang Yudha." Kutekankan kalimat ini pada diriku sendiri.


Lupakanlah! Ada baiknya aku mandi saja, kemudian beberes rumah sebisanya memanfaatkan waktu sebelum bang Yudha bangun.

__ADS_1


***


Suara jarum jam yang terus berdetak memecah keheningan rumah yang hanya dihuni olehku dan bang Yudha.


Waktu sudah menunjukan pukul 03.00 sore dan suamiku itu belum juga bangun. Tidak heran, aku tahu batin dan fisiknya sangat lelah.


Namun, aku takut orang yang berkumpul di rumah ibu akan membicarakan kami, kenapa belum juga muncul di sana? Oleh sebab itu, aku berinisiatif untuk membangunkan suamiku, walau rasanya tak sampai hati.


Di depan westafel, aku membasuh tangan selesai dari mencuci piring. Saat membalik badan ....


Bugh!


Aku menabrak tubuh suamiku yang ternyata sudah lebih dulu bangun sebelum aku mengacaukan tidurnya.


"Tari baru mau bangunin Abang," selorohku.


Dia tersenyum manis mengusap pucuk kepala hingga poniku berantakan. "Nggak perlu, Abang udah setting alaram di hp," jawabnya. Senang sekali aku melihat wajahnya yang mulai menampilkan senyum.


"Ya udah, mau langsung berangkat atau gimana?" tanyaku. "Abang mandi sebentar. Oh iya, bawa pakaian Mama soalnya kita akan nginap di rumah Ibu."


Aku mengangguk, kemudian melangkah ke kamar menyiapkan pakaian untuk dibawa ke rumah ibu. Namun, langkahku harus terhenti karena bang Yudha mencekal lenganku. Kubalikan badan menatapnya heran.


"Kenapa, Bang?" tanyaku dengan alis bertaut sampai dahi berkerut. "Tunggu dulu, Abang punya sesuatu," cegahnya.


Heran bercampur penasaran aku mendengarnya. Sesuatu apa itu? Kenapa aku jadi berdebar begini?


Bang Yudha meraih tanganku dan meletakan benda itu di tepak tangan.


"Ini ...." Aku sampai tak bisa berkata.


"Maaf ya ... Abang baru sempat kasih ini ke kamu dalam keadaan kayak gini pula," ujarnya pelan. Aku terharu, mata pun sudah berkaca-kaca. Bang Yudha membelikan aku gelang yang tempo hari begitu aku inginkan, karena saat itu ada masalah mendesak yang mengharuskan mengeluarkan uang banyak jadi, aku hanya bisa menatapi gelang ini dari kaca toko perhiasan.


"Terima kasih, Bang." Kupeluk dirinya dengan erat. Ingin menangis, tapi takut dikatai cengeng.


"Mama suka, nggak?"


Tak perlu lagi ditanya, aku suka dan senang bukan main. "Suka banget, Bang," sahutku.


Mesraan di dapur sudah usai, aku memasukan satu set pakaianku ke dalam tas, sementara Bang Yudha sedang mandi.


20 menit berlalu, kami sudah siap untuk kembali ke rumah ibu. Sebelum sampai, tak lupa kami membeli beberapa barang yang diminta tante Sur melalui sambungan telepon pada bang Yudha.


Kini, kami sampai di rumah ibu. Aku dan bang Yudha masuk dengan membawa beberapa belanjaan.


"Tan, ini barangnya." Bersama bang Yudha kuletakan belanjaan di lantai. Aku memang datang terlambat karena beberapa hidangan telah selesai dimasak.

__ADS_1


Tak sengaja aku menoleh pada tante Nasri yang berhadapan denganku di seberang meja. Entah kenapa dia merengut. Mungkinkah karena aku datang sudah kesorean, jadi tidak banyak membantu?


"Nggak usah banyak diam dan santai, ini harus selesai sebelum Magrib!"


Aku hanya diam. Jujur saja, aku sedikit tersindir dengan omongan tante Nasri.


"Mana boleh santai-santai, waktu mepet," Mona menimpali. Memang cocok mereka berdua seperti ibu dan anak saja, tabiatnya sama. Tukang gibah, suka menyindir.


"Tari, tolong kamu kupas juga kentangnya," pinta tante Sur. Sebenarnya malas sekali berkumpul dengan Mona, tapi aku tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak bisa diandalkan.


Aku beringsut duduk di samping Mona ikut mengupas kentang atas perintah tante Sur. Sambil mengupas kentang, aku menyadari bahwa mata Mona sesekali melirik ke arah pergengan tanganku di mana terpasang benda yang diberikan oleh bang Yudha tadi. Jangan sampai dia merasa iri hanya melihat aku memakai gelang ini.


Merasa tidak nyaman atas tingkah Mona, aku memilih untuk beralih kepekerjaan lain.


"Tan, kerupuk ini mau digoreng, 'kan? Aku goreng ya?" pintaku pada tante Sur, beliau mengangguk saja.


***


Masakan yang kami masak tadi sudah terkemas rapi di dalam kotak. Bang Yudha dan kerabatnya yang lain membawa nasi kotak itu ke masjid yang tidak jauh dari rumah. Hanya pihak lelaki, sementara kami kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing membersihkan sisa-sisa memasak tadi.


"Aku puas rasanya seharian ini udah bantuin Tante," seloroh Mona. Ada tante Nasri, Mona dan ibu Indun sedang duduk berceloteh sembari mencuci perlengkapan memasak yang menjibun.


Aku yang berdiri tak jauh dari mereka merasa nyeri mendengar cakap yang lagi-lagi sepertinya menyindirku.


"Di saat kayak gini, kita dihadapakan mana orang yang peduli mana yang nggak!" Seperti sengaja tante Nasri menekan akhir kalimat yang diucapkannya.


Entah ada apa dengan mereka, tetiba jadi tidak suka begini denganku? Mungkinkah karena aku yang pulang dan kembali ke rumah ibu sudah sore? Atau karena secuil barang berharga yang melekat di pergelangan tanganku ini?


"Tari, kamu tolong sapu rumah aja." Tante Sur pun paham bila ketiga orang itu sedang menyindirku. Aku mengambil sapu dan segera meninggalkan dapur.


Semua rumah ibu aku sapu, masih jelas tercium aroma kapur barus dan kayu cendana di rumah ini. Dari ruangan keluarga, aku beralih ke kamar bang Yudha. Kembali kudapati ponsel bang Yudha yang tidak dibawa menyala layarnya, baru ingin menjawab telepon sudah terputus.


Ada empat panggilan tidak terjawab dengan nama orang yang sama seprti siang tadi. Aku duduk di sisi ranjang seraya memegang ponsel bang Yudha, siapa tahu orang itu menelepon lagi.


Benar saja, ponsel ini kembali bergetar dengan nama Kak Randy tertera di layar. Lekas kujawab, "Hallo, siapa ini?"


Menyebalkan. Dia malah langsung mematikan telepon. Sumpah! Aku penasaran setengah mati dengan orang ini. Dengan perasaan berkecamuk, kutunggu bang Yudha.


20 menit selepas adzan Isya berkumandang, yang ditunggu pulang. Tanpa menunggu, kutarik tangan bang Yudha masuk ke kamar, dia pun bingung.


"Ma, ada apa?"


"Abang, jawab jujur. Siapa sebenarnya Kak Randy itu? Tari memergoki nama itu menghubungi Abang terus? Dan kenapa Abang ganti kunci kode hp-nya?" cecarku.


"Oh Kak Randy? Dia itu ... admin di tempat kerja Abang, biasa aja kalau dia neleponin Abang, wong namanya juga teman dan Abang sengaja ganti kunci kode karena teman-teman sering jail buka pesan chat kita, mereka tahu berapa pin kode ponsel Abang," jawabnya panjang lebar.

__ADS_1


"Kalau gitu, kasih tahu kode-nya sama Tari," pintaku. Bang Yudha terdiam dan aku mulai menaruh curiga.


Sejurus kemudian, dia memberikan kode pin ponselnya padaku.


__ADS_2