
Di dalam rumah, Marni terlihat gelisah sekali mondar-mandir dari ruang keluarga sampai dapur. Sesekali ia mengumpat tatkala nomor kontak yang ia hubungi sama sekali tidak menjawab teleponnya.
"Kamu ke mana Bandi?" Ia bermonolog dengan ponsel yang tertempel di telinga. Sekian detik menunggu, lagi dan lagi berakhir pada jawaban dari sang operator.
Marni duduk di kursi lusuh depan televisi, dadanya turun naik akibat menahan rasa marah yang bergejolak. Bukan, iya bukan marah pada kekasih karena tidak menerima teleponnya, tapi marah pada anak sendiri yang ia tuding telah membuat Bandi tidak ingin lagi datang ke rumah. Padahal jika ia tahu, betapa bejat perbuatan yang dilakukan kekasihnya itu kemarin.
Masih dalam keadaan seperti itu, ponsel yang ia pegang kembali bergetar dan masuklah sebuah pesan. Dibukanya, lalu dibaca. Sungguh untaian kalimat singkat di dalamnya membuat darah Marni semakin mendidih. Bagaimana tidak? Bandi mengiriminya pesan agar tidak usah menghubunginya lagi karena dirinya sudah akan menikah dengan orang lain.
Kuat sekali Marni menggenggam ponsel, matanya memanas akibat isi pesan dari Bandi. Kini, barulah ia sadar betapa sialannya pria itu. Tak sanggup menahan, tangis Marni pun pecah ia menyesal telah percaya dengan Bandi dan menuduh anaknya sendiri berbuat yang bukan-bukan. Sesal Marni tak terkendali apalagi ketika ingat bahwa dirinya sendiri yang mengusir anaknya dari rumah.
"Tari, maafin Ibu, Nak!" Bersimpuh Marni di sana menumpahkan air mata penyesalan. Ia terisak-isak seorang diri, sesekali memukuli dada atau kepala akibat kebodohannya.
Sementara di dalam diskotik, Evi dan Ferdi kembali setelah bertemu seseorang di dalam kamar yang khusus disewakan di dalam diskotik sana. Mereka berjalan menuju bar di mana Tari mereka tinggalkan seorang diri.
Namun, hanya ada beberapa orang duduk di sana dan yang mereka cari tidak tampak batang hidungnya.
"Beb, Tari ke mana ya?" tanya Evi. Ingin menanyakan pada bartender, tapi orang itu terlihat sangat sibuk melayani orang-orang.
"Kita cari dulu di sini!" ajak Ferdi. Dengan seksama Ferdi dan Evi mencari Tari di dalam diskotik yang dihuni lumayan ramai orang-orang. Walau seramai itu, tapi mereka mencari dengan teliti dan dipastikan bahwa Tari tidak ditemukan di dalam diskotik.
"Beb, ke mana dia?" Mulai cemas Evi dibuatnya. Rasanya menyesal telah meninggalkan Tari seorang diri di tempat yang sama sekali belum pernah dikunjungi oleh temannya itu.
"Sabar, nggak usah panik. Coba telepon," usul Ferdi. Diajaknya Evi keluar dan di parkiran Evi pun mengeluarkan ponselnya langsung menghubungi Tari,
"Ugh!" Leguhan itu harusnya terus terdengar, tapi berhenti ketika ponsel yang tergeletak di ranjang berdering kencang. Setenga terpejam Tari meraba ponselnya hendak melihat siapa yang menelepon, tapi pergerakan tangannya terhenti akibat cengkraman Rio. Ia tidak ingin diganggu apalagi foreplay sudah sepanas ini. Diraihnya ponsel Tari dan seenaknya saja melemparkan ke sofa yang berseberangan dengan tempat tidur.
"Rio …." Tari pun sudah berujar lirih akibat sesuatu yang terasa semakin berdenyut di bawah sana.
"Aku ganti kalau hp kamu rusak." Rio balas mendesis di depan wajah Tari.
__ADS_1
Terus dijejalnya tubuh putih mulus itu sampai puas dan masuk ke inti permainan. Malam ini, Tari memang sudah menekadkan diri akan menyerahkan tubuh pada pria yang baru berapa jam ia temui dengan mengklaim diri sebagai wanita bayaran.
Setelah 3 bulan tidak merasakan sentuhan-sentuhan itu, Tari menggeliat-lihat hebat di atas tempat tidur akibat permainan panas yang mereka lakukan. Mungkin karena sudah lama tidak disentuh, Tari sampai menginginkan agar permainan dahsyat malam ini tidak berakhir begitu saja, ia ingin malam ini menjadi malam panjang tak terlupakan.
Jam di dinding terus berganti detiknya menjadi menit dan terus bergulir. Peluh semakin membanjiri keduanya, napas sudah tak beraturan lagi di bawah sana tubuh Tari bergoncang hebat, tidak ada yang keluar dari mulutnya selain suara indah nan menggoda seraya menyebutkan nama Rio tiada henti.
"Nice Tari, terus sebut nama aku!" sela Rio. Mendadak Tari membuka mata, terpintas dalam pikirannya tentang hari nahas di mana Bandi menggaulinya kala itu.
Suara indah yang tadinya mengisi kamar tidak terdengar lagi, Tari mengigit bibir bawah menahan air mata agar tidak meleleh. Namun, air mata justru lancang keluar tanpa disuruh, padahal Tari sudah mati-matian menahannya.
Air mata yang bergulir dari sudut mata Tari sukses menghentikan pergerakan Rio.
"Kok, kamu nangis?"
Ia tidak akan mungkin berkata jujur pada Rio, tidak ingin malam ini rusak gara-gara sebuah kejujuran.
"Perih," sahutnya pelan dengan nada manja. Terpaksa Tari harus berbohong.
Dipenghujung permainan, pergerakan pun semakin cepat suara indah yang keluar tadi berubah jadi sebuah rengekan. Apa yang dinanti datang juga, semua rasa tertuntaskan sudah.
Dikecupnya kening Tari sebagai penutup permainan.
"Amazing, Tari," desisnya. Tari tersenyum samar seraya mengalungkan lengannya di leher pria yang sudah berhasil meluluh-lantakan pertahannya.
"Siapa yang amazing? Aku atau kamu?" Tari pun menggoda. "Yah akulah! Kamu, kan cuma diam sambil merengek-rengek."
"Apaan sih?" Tari malu memukul lengan kekar itu pelan, kemudian Rio beranjak menuju kamar mandi, sedangkan Tari terkapar dengan napas yang masih terengah-engah.
Malam hebat membuat senyumnya ingin tersungging tiada henti, tapi sudahlah jangan sampai ia dikatai tidak waras karena terus tersenyum. Ia bangun dengan sisa-sisa tenaga meraih ponsel miliknya yang dilemparkan oleh Rio tadi.
__ADS_1
Tak lama Rio pun keluar. "Gimana? Nggak rusak hp-nya, 'kan?" tanya Rio. "Nggak!" jawab Tari singkat seraya membolak-balikan ponselnya.
Masih tanpa pakaian apapun, Rio menarik tangan Tari membawanya duduk di atas tempat tidur. Sebagai wanita bayaran yang dikuasai penuh oleh Rio, Tari menurut saja duduk di depan pria itu yang kini duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Diraihnya selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Tari duduk bersandar pada dada bidang itu, sedangkan Rio duduk diam memeluk Tari dari belakang, diperhatiakannya apa yang Tari sibukan di dalam ponsel. Sejurus kemudian, benda pipih itu kembali berdering tertera nama Evi di layarnya.
Baru ingin menjawabnya, ponsel sudah lebih dulu dirampas oleh Rio.
"Sini hp-nya, teman aku telepon," pinta Tari.
"Apa nih orang yang dari tadi ganggu kita?" tanya Rio dan Tari pun mengangguk. Tanpa persetujuan Rio malah menggser tombol hijau menerima telepon itu.
"Hallo, ini dengan teman yang punya hp? Kalau iya, teman kamu sedang aku culik sekarang!"
Tut….
Parahnya, setelah mengatakan itu, Rio langsung memutus sambungan telepon membuat Tari jadi membulatkan mata.
"Yah, matilah kalau nanti temenku sampai lapor polisi!" sungut Tari, bukan takut Rio justru tertawa. Tidak ingin membuat masalah, Tari pun menghubungi Evi kembali, tapi temannya itu sudah lebih dulu melakukan video call.
Meski ragu, Tari tetap menjawab panggilan itu.
"Tari!" Evi langsung memekik, detik kemudian ia bersama keksaihnya menampilkan raut kaget.
"Apa yang terjadi? Kamu di mana, Tari? Jangan nakutin kita!" sentak Evi. Bukan Tari, tapi Rio yang menjawab, "Udah, nggak usah ganggu, temen kamu lagi one night stand sama aku, besok aku pulangin."
Tut….
Kembali diputusnya sambungan telepon itu tanpa persetujuan. "Rio! Ih …!" Dan lengannya kali ini jadi sasaran empuk cubitan Tari.
__ADS_1
"Udah yuk tidur, aku capek banget. Besok nggak boleh nggak ke kantor lagi, takut anak-anak nungguin meeting," tukasnya.