Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Sosok Kak Randy.


__ADS_3

POV Mentari


Ada rasa bangga ketika aku sedang belajar menutup aurat seperti ini. Pujian pun tak hentinya aku terima dari bang Yudha.


"Abang senang banget, pulang-pulang lihat istri udah cantik kayak gini." Aku tersanjung, lagi-lagi pipi memerah. Kenapa aku mudah sekali terbawa perasaan seperti ini? Jika aku sudah berusaha memperbaiki diri seperti ini, setidaknya dia juga harus mengikuti jejakku.


"Semoga kita bisa sama-sama memperbaiki diri ya, Bang?" harapku. Kugandeng tangannya, lalu masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar.


"Abang mau kopi?" tawarku.


"Nggak usah, sebelum pulang Abang udah ngopi," katanya menyahutiku seraya membuka baju.


"Tadi ke rumah Ibu, nggak?" tanyanya. Mengingat itu, aku jadi keki sendiri. Sebab siapa aku seperti ini, jika bukan karena tante Nasri dan Mona.


"Pergi, tapi Tari cuma bantu sebisanya di sana karena ada acara di rumah teman." Sahutanku yang terdengar ketus dengan mimik wajah cemberut tak ayal membuat bang Yudha kembali bertanya penuh curiga, "Kenapa? Kayaknya nggak senang banget?"


Malas sebenarnya memberi tahu, aku tidak ingin disebut istri yang suka mengadu pada suami. Tapi, apa boleh buat? Aku pun tidak ingin bang Yudha bertanya terus menerus. Begitulah dia, akan tetap bertanya sebelum pertanyaannya dijawab.


"Tari itu jengkel banget sama Tante Nasri dan Mona, Bang. Nggak tahu salah Tari apa sampai mereka nggak suka gitu? Mereka tuh kerjaannya nyindir kalau Tari ada di dekat mereka!" jelasku panjang lebar.


Bang Yudha mendekat, memberikan usapan di pucuk kepalaku yang masih dibalut pashmina cokelat. "Nggak usah diladenin, biarin aja mereka, Ma."


Iya, dia bisa enteng berkata seperti itu. Tapi aku yang jadi bahan sindiran jelas merasa kesal dengan mereka. Hanya karena memandang mereka adalah keluargaku, aku jadi diam saja.


Terlibat pertengkaran disituasi yang tidak memungkinkan sangatlah memalukan dan tidak beretika sekali. Mungkin benar, aku lebih baik mengalah saja daripada sinting meladeni ocehan mereka yang tidak bermutu.


Kusandarkan kepala dengan lesu di bahu bang Yudha sembari menghela napas berat sampai suamiku ini bertanya lagi penuh cemas. "Kenapa lagi, Ma?"


"Apa salah kalau orang mau memperbaiki diri, Bang? Kenapa orang-orang malah mencibir mereka yang niatnya ingin menjadi lebih baik?" keluhku. Bang Yudha menatap heran sekaligus bingung. "Siapa yang dicibir, Ma?" tanyanya. Aku pun menegakan kepala dan bersitatap dengannya. "Orang-orang dikompleks ngatain Tari sok suci waktu lihat Tari udah pakai hijab," jawabku lirih.

__ADS_1


Tangan besarnya terulur memegang kedua pundaku, dia melancarkan kata-kata bijak yang dapat membuat aku jadi masa bodoh dengan suara sumbang yang orang-orang tujukan untuku.


"Nggak usah didengarin apa yang mereka bicarain, Ma. Yang penting Mama nggak ganggu mereka, nggak ngerugiin mereka, 'kan? Baju sama hijabnya juga beli pakai duit sendiri nggak ngemis sama mereka," ujar Bang Yudha panjang seperti rel kereta api, tapi aku senang mendapat dukungan darinya seperti ini.


Kulingkarkan kedua tangan di lengan kekarnya dan kembali merebahkan kepala di pundaknya. "Makasih karena Abang nggak pernah banyak protes dengan apa yang Tari lakuin."


"Abang selalu dukung semua keinginan Mama asal itu dalam hal kebaikan. Abang kan, sayang Mama." Makin meleleh hatiku ini mendengar kata dirinya yang dahsyat itu.


"Nggak usah gombal-gombal, ini masih siang." Aku memberi kode, rupanya yang diberi kode malah tak paham. Ya sudaah, jatah ranjang selama dua hari tunda dulu sampai dia sendiri yang memintanya nanti.


***


Hari yang sangat membosankan. Beginilah jadinya jika seorang istri tidak bekerja, setelah semua pekerjaan rumah selesai yang aku lakukan hanya duduk menonton televisi atau mengutak atik-atik ponsel.


Tidak ingin membuang waktu percuma, aku putuskan untuk pergi ke mall saja, walaupun tidak belanja cukup cuci mata.


"Kayaknya nggak boleh lama-lama di sini." Aku bermonolog ketika hasrat ingin menghabiskan uang menggebu. Kumenuju tangga eskalator, tak disangka aku bersiborok dengan Edwin, teman SMA dulu.


"Tari!" Dia yang menyapaku lebih dulu. Lama tak berjumpa membuat aku kurang mengenalinya.


"Ya ampun, kamu rupanya, Win!" Aku terkekeh pelan.


"Gimana kabar kamu?" tanyanya masih seramah dulu. "Alhamdulillah, baik. Kalau kamu?" Aku balik bertanya dan dijawabnya dengan jawaban yang aku sebutkan tadi.


"Sendiri?" tanyaku lagi.


"Iya, aku lagi cari-cari barang buat hantaran, Tar. Insya Allah bulan depan aku nikah." Wajahnya tersipu ketika mengatakan itu. Kuucapkan selamat untuknya meskipun akad nikahnya masih lama berlangsung. Bila diundang aku bisa mengatakan selamat lagi padanya dan jika tidak diundang sudah kukirimkan doa untuk rumah tangganya nanti.


Cukup lama kami berbincang seraya berjalan menuju jalan keluar dengan Edwin yang membawa beberapa paper bag belanjaannya.

__ADS_1


"Tar, aku pulang dulu," pamitnya. Kujawab dengan seulas senyum. Kami pun berjalan ke kendaraan masing-masing.


Untung saja aku memilih untuk pulang, kenapa untung? Karena mobil bang Yudha terparkir di depan rumah ketika aku memasuki halaman.


Tumben pulang, padahal ini masih pukul 11.00 siang?


Aku memasukan motor ke garasi dan tampak bang Yudha keluar dari rumah.


"Abang!" panggilku, dia menoleh. Didekatinya aku yang masih berdiri di depan garasi.


"Kenapa, Bang?" tanyaku yang melihat dirinya tergesa sekali. "Ma, batik yang dari kantor dulu Mama simpan di mana? Abang mau pakai sekarang karena Pak Rio mau datang ke kantor," paparnya.


"Ada kok, Bang. Tunggu Tari ambil."


Bang Yudha mengikuti langkahku seraya berseru pada seseorang yang pasti bukan aku. "Kak Randy, tunggu ya?" serunya. Spontan kakiku berhenti melangkah, aku menoleh ke arah tujuan pandangan mata bang Yudha.


Ada seorang di dalam mobil, bang Yudha datang tidak sendiri. Detik kemudian, orang yang bernama Kak Randy itu membuka kaca mobil dan menyembulkan kepala dari pintu.


Aku tercengang. Dugaanku salah selama ini, aku kira orang yang bernama Kak Randy itu adalah seorang wanita meskipun namanya memang familiar untuk laki-laki.


Lelaki berwajah glowing itu tersenyum ke arah bang Yudha seraya mengacungkan jempol mengiyakan seruan bang Yudha tadi.


Senyumnya belum lepas, aku sontak balik menoleh pada bang Yudha, suamiku ini pun sama tersenyumnya, bahkan ia sunggingkan senyum yang sangat manis. Sangat konyol! Tapi setidaknya, khawatirku sedikit terkikis karena tahu sosok yang bernama Kak Randy itu adalah lelaki, bukan perempuan seperti apa yang aku curigai selama ini.


"Bang, jadi itu yang namanya Kak Randy?" Aku bertanya sekedar meyakinkan diri.


"Iya, emang dia yang namanya Kak Randy? Kenapa? Mama curiga? Mama cemburu?" Bang Yudha malah menggodaku dengan mencolek gemas daguku.


"Naggk cemburu, kok! Tari udah tahu dari namanya aja pasti dia cowok." Aku menyanggkal ingin terlihat biasa saja.

__ADS_1


__ADS_2