
Bab 16
"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi!" Lima kali menghubungi Yudha, tapi lima kali juga operator yang menjawab. Merasa buang-buang waktu Tari tak lagi menelepon Yudah, pun dengan mengiriminya pesan singkat. Biarlah! Biarkan Yudha melakukan apapun di sana.
Berderai air mata Tari berada di dalam mobil jenazah bersama sang ayah yang sudah terbujur kaku. Sosok pahlawan dalam hidupnya kini telah berpulang, tidak akan ada lagi yang memanggilnya 'Nduk sayang'
"Ayah …." gumamnya lirih. Di rumah mereka disambut oleh sanak keluarga yang sudah menunggu. Keluar dari mobil jenazah tangis Tari semakin menjadi, ia meraung di samping ayahnya.
"Istigfar, Tari!" pinta orang-orang yang ada di sana. Ibunya pun tidak bisa mengeluarkan lisan apa-apa, selain air mata. Berkali-kali istigfar, reda juga tangisannya, sudah sedikit tenang Tari menghubungi Amalia dan bibi Astuti. Setelah menghubungi bibi Astuti, Tari menghubungi Amalia.
"Ya Kak Tari, kenapa?" tanya Amalia.
"Lia, Ayah udah nggak ada, Ayah udah pulang." Mengatakan itu Tari berusaha menahan air mata agar tidak banjir lagi.
"Innalillahi wa innaillahi rojiun. Kapan Paman meninggal?" Amalia pun tak bisa menyembunyikan air matanya yang menepik.
"Siang tadi," jawab Tari. Karena hanya memberi tahu kabar itu, Tari pun mematikan telepon setelah bicara singkat dengan sepupunya.
"Siang tadi?" Amalia bergumam mengulang kata itu seraya memikirkan sesuatu. "Lalu, Bang Yudha?" sambungnya heran. Masalahnya, Amalia sekarang sedang duduk di sebuah cafe seraya mengerjakan tugas kuliah. Nah, secara kebetulan Yudha datang bersama dua orang yang satu laki-laki dan yang satu perempuan, di sana Yudha tampak hahaha hihihi bahagianya, sedangkan istri masih berduka. Jika memang Yudha tidak tahu, tidak mungkin juga, 'kan? Pasti yang Tari hubungi terlebih dulu adalah suaminya, tapi ini ….
Beruntung saja Yudha sudah pergi dari beberapa menit yang lalu sebelum Tari menelepon jika tidak, akan Amalia hampiri suami kakak sepupunya itu. Mendapat kabar duka langsunglah Amalia pergi dari sana menemui bibi Astuti berniat akan mengajaknya pulang ke Solo sore itu juga.
Akhirnya, mereka pulang ke Solo. Selama berada di sana, Amalia sama sekali tidak memberi tahu Tari bahwa ia melihat suaminya hang-out di sebuah cafe.
"Kak, Bang Yudha nggak kelihatan?" Akhirnya Amalia memancing Tari. Tari menggeleng dengan wajah sendu, "Nomornya nggak bisa dihubungi."
"Iya nggak bisa dihubungi nggak mau diganggu karena lagi senang-senang." Sayangnya Amalia hanya bisa mengatakan itu dalam hati.
__ADS_1
Keesokan harinya, di pagi yang kelabu sebuah mobil innova berhenti di depan rumah duka. Sekoyong-koyong seorang pria masuk lengkap dengan pakaian koko hitam dan peci senada.
"Assalamu'alaikum."
Tari yang ada di samping jenazah ayahnya menoleh. Masuklah Yudha dengan wajah sedihnya.
"Ma …." panggilnya lirih di samping Tari. Diremasnya pundak yang dibalut daster cokelat itu, sorot matanya mengisyaratkan sebuah duka.
"Mas ke mana aja, sih? Tari telepon dari kemarin nggak diangkat-angkat." Dalam keadaan seperti itu tak menghentikan Tari untuk berprotes pada suaminya. Pelan Yudha menyahut, "Kemarin sibuk banget, Ma. Abang aja pulang jam 11.00 malam dari kantor. Abang minta maaf."
Terima ataupun tidak, Tari menerima saja karena enggan memperpanjang perdebatan. Tari pikir suaminya itu akan seharian di sini atau menginap misalnya, tapi Yudha justru pamit pulang setelah acara pemakaman usai dengan alasan klasik, yaitu pekerjaan. Tari kecewa, di saat seperti ini masih saja mementingkan pekerjaan.
"Ma, Abang pulang dulu ya? Kalau Mama mau pulang telepon aja, biar nanti Abang jemput."
Tidak ada lisan apapun yang keluar untuk membalas ucapan Yudha, keluh sudah lidahnya atas rasa kecewa.
Dua hari menginap di rumah orang tua Tari, bibi Astuti dan Amalia pun pamit pagi tadi kembali ke Ibukota.
"Bu, Ibu ikut Tari aja ke Jakarta, tinggal sama Tari," pintanya. Namun, ibu menolak ajakan anaknya dengan alasan tidak ingin merepotkan di sana.
"Ngerepotin apa sih, Bu? Aku juga cuma tinggal berdua sama Bang Yudha," imbuh Tari berharap ibunya akan setuju.
"Nanti aja Ibu tinggal sama kamu kalau kamu udah lahiran," sahut ibu. Ya sudah, Tari pun tidak memaksakan kehendaknya lagi. Berapa hari di Solo membuat Tari hari ini juga harus pulang ke Jakarta, berat hati meninggalkan ibunya sendiri, tapi di sisi lain ia juga suami yang harus diurus. Niatnya akan pulang naik bus saja karena Tari takut kecewa lagi jika minta jemput dengan Yudha, tapi tidak bisa dengan seribu alasan.
"Bu, Tari pamit pulang ya? Insya Allah, hari minggu nanti Tari ke rumah Ibu lagi. Ibu jaga diri ya?" Diraihnya tangan itu, lalu dikecup. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumssalam."
__ADS_1
Matahari sudah tak menampakan sinarnya 6 jam perjalanan dari Solo ke Jakarta membuat tubuh lumayan penat. Sekitar pukul 08.00 malam akhirnya Tari tiba juga di rumah. Dari depan, tampak rumahnya sudah terang dengan mobil Yudha yang terparkir di depannya. Tari melangkah masuk ke halaman dan berhenti di pintu utama.
"*** ...." Baru ingin mengucap salam, tapi urung ketika matanya menangkap benda yang tergeletak di depan pintu. Ada tiga pasang sepatu, duanya sepatu laki-laki dan satu sebuah heels, yang satu Tari kenali bahwa itu sepatu suaminya.
"Heels? Kok, ada heels?" Tari bermonolog heran. Dia tidak punya heels seperti itu. Ada yang membuat hatinya curiga, Tari lantas masuk ke rumahnya yang sama sekali tidak di kunci. Tari masuk bagai maling, diam-diam.
Di ruang keluarga ia mendapati Randy tidur telentang di sofa dengan tangan bersidekap.
"Di mana Bang Yudha?" batinnya.
Tari terus berjalan samapi ia mendengar lamat-lamat suara dari kamarnya, bukan orang yang sedang berbicara, tapi suara khas yang biasa dirinya keluarkan ketika memadu kasih dengan sang suami.
Suara erangan dan ******* terdengar dari kamarnya.
"Suaranya ...." Sontak Tari membuka pintu kamarnya yang juga tidak dikunci. Pecah jutaan keping hati Tari melihat pemandangan erotis di depannya. Luruh seketika air mata ketika suaminya sedang bergumul di atas ranjang dengan wanita lain tanpa sehelai benang pun. Terlalu asik menyatukan diri, keduanya sampai tak sadar bahwa Tari bergetar tubuh menyaksikan percintaan keduanya.
"Abang ...."
Kaget, Yudha lantas mendorong Irene yang masih berada di atas tubuhnya menarik selimut menutupi tubuh mereka.
"Ma-mama ...." Yudha kedapatan sedang berhubungan intim dengan gadis SPG itu, parahnya ia lakukan hubungan badan bersama Irene di kamarnya bersama Tari biasa melewati malam.
Terlalu marah dan kecewa sampai Tari ingin mati saja saat itu juga karena tak sanggup. Matanya merah mengisyaratkan kesakitan dan kesedihan, luka teramat dalam Yudha torehkan.
"Tega kamu, Bang!" Akhirnya dengan sisa-sisa tenaga keluarlah raungannya. Tari berjalan mendekati suaminya yang masih di atas ranjang bersama Irene. Ingin disibakannya selimut itu, lalu meraih tangan Irene agar menjauh dari suaminya, tapi ... rasa sakit terus menghujam Tari manakala Yudha pun kekeh melindungi Irene dari amukannya.
"Udah, Ma udah!" cegah Yudha. Tari tak peduli, terus menarik Irene agar bangun, jika perlu ia akan membawamya keluar walau tanpa pakaian.
__ADS_1
"Udah Ma! Irene lagi hamil!" Lantang Yudha bersuara, wajahnya merah padam menatap ke arah Tari. Membeku tubuh Tari atas apa yang baru didengarnya.