Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Menemui Wanita Lain


__ADS_3

Pergi berdua, pulang sendiri. Pergi naik mobil Innova, pulang naik taksi. Semenyedihkan itu kisah Tari hari ini padahal tadi, ia datang dengan wajah sumringah ke pesta pernikahan bersama suaminya.


Jika tidak malu dengan supir taksi, Tari ingin meraung sejadi-jadinya karena kesal dengan kelakuan Yudha yang dianggapnya keterlaluan.


Sesampainya di rumah, Tari buru-buru keluar dari taksi karena tak kuasa menahan air mata yang sudah menggenang, Tari sontak berlari masuk ke rumah tanpa mengambil uang kembalian pada supir taksi.


Brak!


Jika punya mulut, pintu akan berteriak karena Tari menutupnya dengan kencang. Di sofa ruang keluarga Tari duduk disertai dengan air mata yang luruh tak terbendung.


"Tega banget kamu, Bang!" makinya seorang diri. Deringan ponsel yang terdengar nyaring membuat Tari menoleh ke arah handbag miliknya yang tergeletak di meja persegi.


Jangankan untuk menerima panggilan telepon, meraih benda itu dari dalam tas saja Tari enggan. Ia sudah tahu telepon itu pasti dari Yudha, tak digubrisnya sampai ponsel kembali hening.


Puas menangis, Tari beranjak dari ruang keluarga menuju kamar. Air mata yang keluar dari tadi membuat riasan di wajah meleleh sampai Tari mirip zombie.


Dihapusnya riasan yang sudah luruh itu dengan muncuci wajah. Ada rasa yang menyengat kalbu ketika menatapi diri di depan cermin westafel, senyumnya nanar. Sungguh, Yudha telah membuat dirinya bagaikan orang bodoh tadi, duduk sendiri diacara pernikahan dengan sepiring nasi.


Sikap Yudha yang aneh akhir-akhir ini membuat Tari tak mengerti. Kenapa suaminya itu bersikap seperti bunglon berubah-ubah saban waktu?


Tak lama, terdengar deruman sebuah mobil masuk ke halaman. Tari bergegas keluar dari dalam kamar mandi mengintai dari jendela kamar.


"Pulang juga!" umpatnya kesal. Tari bisa melihat suaminya keluar dari mobil dengan raut yang yang tak mengenakan. Entah panik, takut atau cemas?


"Tari!" Yudha berseru seraya masuk ke dalam rumah. Tari? Itu tandanya Yudha marah karena dalam keadaan apapun Yudha selalu memanggil Tari dengan panggilan sayangnya, kecuali sedang marah.


Di dalam kamar, Tari tak bergeming sampai Yudha masuk.


"Tari! Kamu itu buat aku panik, pergi gitu aja dari sana!" hardik Yudha dengan intonasi yang meninggi. Amarah Tari pun memuncak, yang harus marah adalah dirinya, tapi justru Yudha yang koar-koar tak terima.

__ADS_1


"Kamu itu sadar nggak, sih? Harusnya aku yang marah karena kamu tinggalin gitu aja! Ke mana kamu sampai 30 menit, Bang? Meeting lagi di toilet?" sarkas Tari begitu tajam disertai tatapan nyalang pada suaminya.


"Ngeyel kalau ngomong! Dari toilet tadi Abang ketemu sama Pak Nugraha jadi kami ngobrol sebentar."


Tari mendengus membuang muka. Yudha memang punya sejuta alasan untuk berkilah. Jika iya sedang mengobrol dengan Pak Nugraha kenapa ditelepon berkali-kali tidak dijawab? Namun, Tari tidak akan bertanya soal itu karena sudah tahu jawaban apa yang akan Yudha berikan. Alasan klasik!


Dipikir Yudha, Tari akan langsung hilang marahnya setelah mendengarkan alasan logis tapi kali ini ... marah Tari sungguh tak akan lenyap hanya karena Yudha berkilah panjang lebar.


Dengan wajah masam luar biasa Tari keluar kamar tak ingin berlama-lama satu ruangan dengan suami yang sudah ia cap penipu ulung.


***


Seharian didiamkan oleh Tari mambuat Yudha tak betah juga. Segala cara ia lakukan untuk meluluhkan Tari yang masih marah.


"Ma, Abang minta maaf soal tadi. Abang janji nggak akan lupa diri lagi," mohon Yudha dengan wajah memelas. Seharian ini entah sudah berapa kali Yudha mengulang kalimat serupa?


"Benar udah maafin Abang?" tanya Yudha meyakinkan.


Tari mendelik kesal seraya menyahut ketus, "Iya Bang!'"


Terkembanglah senyum Yudha setelah mendapatkan maaf dari istrinya meskipun, terdengar tidak ikhlas.


"Abang janji nggak ...."


"Iya, nggak usah dibahas lagi!" pungkas Tari memotong ucapan Yudha. Akibat kesal yang masih menghampiri, Tari bangun dari duduknya meninggalkan Yudha di ruang kekuarga.


"Ma, nanti makan malam di luar yuk!" ajak Yudha setengah menjerit karena Tari sudah menghilang dari balik pintu.


Tari tahu ajakan itu adalah sebuah sogokan. Tidak ingin larut dalam kemarahan, Tari mengiyakan saja ajakan Yudha.

__ADS_1


Malam yang ditunggu tiba, dengan tak sabar Yudha menunggu Tari di depan pintu kamar. Suasana hati yang masih belum baik membuat Tari berdandan seadanya, bahkan terkesan sangat sederhana.


"Ayok!" Dengan wajah sumringah, Yudha menggandeng tangan istrinya hingga ke mobil. Diajaknya Tari makan malam ke tempat makan yang dulu sering mereka kunjungi sewaktu masih pacaran, ingin mengulang kembali masa-masa indah itu, lebih tepatnya bernostalgia.


Diajak ke tempat favorite, Tari mendadak senang, rumah makan itu menjadi mood booster bagi Tari. Yudha tersenyum tipis manakala sesederhana itu membuat istrinya kembali ceria.


"Udah lama kita nggak ke sini, Bang!" seloroh Tari. "Maaf ya ... Abang selalu sibuk cuma punya sedikit waktu buat kamu." Jika suasana hati tengah senang, mendengar kalimat seperti itu saja Tari sudah sangat bahagia.


Akhirnya, rayuan Yudha sukses membuat istrinya kembali cerita seperti sedia kala.


***


Malam ini, Yudha sudah memenuhi semua keinginan Tari, tinggal giliran dirinya yang ingin minta dipenuhi.


"Malam ini, malam apa ya?" Yudha yang duduk di sisi ranjang sengaja berceloteh seperti itu memberi kode.


"Jadi ... ada timbal baliknya?" sindir Tari bergurau. Tari tak menolak keinginan Yudha yang satu ini karena suaminya itu memang jarang minta jatah ranjangnya.


Akhirnya, timbal balik pun terjadi. Rasa marah dan kesal Tari tadi siang benar-benar lenyap tergantikan dengan rasa nikmat tiada tara saat beradu dengan suaminya di atas ranjang.


Dua ronde selesai dalam tengang waktu 30 menit. Waktu bermain selama itu membuat Tari terkapar lemas.


Yudha bertanya tatkala melihat mata Tari yang sudah sayup-sayup, "Mama udah ngantuk?" Dengan lembut Yudha membelai rambut istrinya yang sudah awut-awutan.


"Iya." Tari menyahut singkat. Ia tidur tanpa aba-aba akibat mata yang sudah sangat mengantuk ditambah lagi dengan belaian lembut yang diberikan Yudha. Sekian menit berlalu, Yudha juga sudah mulai mengantuk. Baru saja akan terlelap, mata Yudha kembali membelalak karena ponselnya yang bergetar.


Yudha bergagas bangun memakai pakaianya, lalu keluar kamar ketika nama Irene tertera di layar benda pipih itu. Entah apa yang mereka bicarakan sampai Yudha buru-buru mengambil jaket dan keluar diam-diam tanpa sepengetahuan Tari.


"Tunggu sebentar. Ini sudah di jalan, Yang," ujar Yudha pada Irene yang menelepon tiada henti. Bukan tidak kurang ajar suami seperti Yudha, secara gampang pergi menemui wanita lain di tengah malam, padahal Tari masih dalam keadaan polos tanpa pakaian setelah melayaninya setengah jam yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2