Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
New Day For Tari


__ADS_3

Bab 33


Di sini, sendiri, kesepian tanpa ada yang memberi dukungan atau sekedar menyemangati. 3 bulan adalah waktu hukuman untuk Tari dan itupun berkat campur tangan Rio yang sebelarnya tak rela bila Tari harus menerima hukuman sampai bertahun-tahun.


Jujur saja, masih ada rasa berat di hati Rio untuk melepaskan Tari, tapi ia sudah bertekad dalam hati bahwa akan kembali pada Jessica, menjalani kembali rumah tangga seharmonis dulu, tanpa dusta dan penghianatan.


Dibatasi oleh jerejak besi Rio memandangi lekat wanita yang beberapa bulan ini sudah menghangatkan malam-malam dinginnya, sudah menuruti semua apa yang diinginkannya termasuk urusan ranjang. "Jujur, aku sayang kamu, Tar. Tapi, aku juga nggak bisa ninggalin Jessica dan anak aku, apalagi sekarang Jessica sedang hamil anak kedua kami," ujar Rio. Untuk apa Rio mengatakan itu semua? Apa sengaja untuk meremukan hati Tari? Hanya senyum getir yang Tari tampilkan menanggapi ucapan Rio. Kini, dua kali Tari merasakan sakitnya dicampakan. 


"Aku ngerti, kok," sahutnya setegar mungkin. Perihnya lagi-Rio-bahkan mendo'a-kan Tari agar dapat pasangan yang jauh lebih baik darinya, bukankah itu terlalu kejam rasanya? Sebelum hati semakin hancur berkeping, Tari meminta Rio untuk pergi dan tak usah lagi mengunjunginya


"Semoga kamu bahagia selalu." Tak lupa juga Tari melambungkan do'a untuk Rio beserta keluarganya. Rio membalik badan berjalan perlahan meninggalkan Tari. Sedangkan Tari, hanya bisa menatapi pungung yang berlalu itu dengan pandangan mengabur. Desahannya terdengar panjang melepas segala sesak dan juga sebak.


Tari benar-benar ibarat orang yang sebatang kara. Padahal, ibunya seperti orang gila dalam bebrapa minggu ini mencarinya. Amalia, Astuti sama sekali tidak tahu di mana keberadaan Tari, bahkan sudah bertanya pada teman-teman Tari.


"Ya Allah, di mana anakku?" Marni meratap ketika keputus-asaan mulai melandanya. Entah ke mana lagi ia harus mencari keberadaan sang anak yang tidak tahu di mana rimbanya.


"Apa kita tanya sama Yudha aja, Mbak?" usul Astuti. Secepat kilat Marni menoleh memberikan tatapan tidak suka atas saran yang diajukan adiknya. "As, masih sah jadi suami aja, Yudha udah nggak peduli sama Tari. Gimana sekarang?" sela Marni. Jika dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan oleh kakanya itu. Lantas, ke mana harus mencari? Tidak mungkin kan, menghubungi polisi karena Tari bukan orang hilang atau korban penculikan. Tari pergi dari rumah karena Diusir, setelahnya hilang jejak bak ditelan bumi.


Tak sanggup rasanya sampai Marni terisak di tepi trotoar di mana dia dan Astuti  serta Amalia berteduh dari sengatan matahari siang ini. "Sabar, Mbak. Perbanyak do'a dan jangan putus asa untuk mencari," usap Astuti pada punggung Mari, hanya itu yang bisa Astuti lakukan untuk sementara ini.




Mengalami hal yang tidak menyenangkan selama berada di bui membuat Tari terbiasa, ia sudah terbiasa dengan segala cacian atau tindakan kasar dari bebrapa tahanan yang berada satu ruangan dengannya.



Mata lebam dan bibir yang terluka selalu menghiasi wajahnya, sang sipir pun seaskan tutup mata, tutup telinga dengan tindakan kekerasan yang acapkali terjadi dalam ruang tahanan. Hari ini pun masih terjadi, tapi beberapa tahanan wanita yang iba melihat Tari, sontak menghentikan adegan baku hantam yang dilakukan oleh tahanan senior penghuni tempat itu. Kali ini keadaan Tari lebih parah, ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena darah terus mengucur dari hidungnya.

__ADS_1



Akibat masalah ini, Tari dipindahkan ke rumah tahanan yang lain. Walau tetap saja masih berada di balik jeruji besi setidaknya, Tari merasa lebih aman dan nyaman di sini karena tidak ada tahanan brutal seperti sebelumnya, wanita yang berada satu ruangan dengannya terjerat hukum karena mencuri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ada juga yang menipu karena desakan ekonomi.



Di Jumat pagi ini, para tahanan berkumpul di aula. Seperti jumat sebelumnya, mereka akan mendapatkan siraman rohani dari salah satu ustadzah. Namun siapa yang menyangka, ustadzah yang mengisi ceramah pagi ini adalah Linda-teman Tari yang dulu sering memberikannya pakaian syar'i baru secara cuma-cuma.



"Masya Allah." Linda berdecak saat tak menyangka akan berjumpa dengan sahabatnya di tempat seperti ini. Selesai mengisi ceramah, Linda meminta sedikit waktu pada sipir untuk berbincang dengan Tari.


"Tari, apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai ada di sini?" tanya Linda. Lebam yang masih kentera di wajah Tari membuat Linda semakin menaruh iba.




"Sabar, karena Allah bersama orang-orang yang sabar. hidup pasti akan selalu dipenuhi oleh ujian, Tar. Ujian dalam hidup itu selayaknya hujan, kamu lihat aja … sederas apapun hujan turun pasti akan berhenti juga, entah itu dalam waktu lama atau waktu singkat. Kadang … hujan lebat akan turun sepintas saja, demikian dengan hujan kecil atau gerimis, meski kecil kadang ia berhenti untuk waktu yang lama. Nah, begitulah umpamanya ujian hidup."



Lama Tari terdiam dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Linda. Untaian panjang kalimat itu sangat menyentuh dan meresap langsung ke dalam hatinya, sungguh dahsyat sampai meluruhkan air mata Tari secara perlahan. "Allah memberi cobaan karena Allah masih sayang, masih peduli sama hambanya. Jangan sampai kita jadi hamba yang dijauhi sama Allah sehingga kenikmatan kita di dunia akan jadi asbab untuk azab kita di akherat kelak."



Linda meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Disodorkannya pada Tari sebuah buku yang di depan covernya bertuliskan 'Fiqih Sunnah Wanita' dan Tari menerimanya dengan senang hati. "Makasih, Lin," lirihnya.


__ADS_1


~~~ 



Waktu yang Tari punya terbilang sengang, ia menghabiskan waktunya dengan membaca buku yang diberikan oleh Linda. Tiap kali membaca buku itu meleleh air mata Tari karena tersentuh atau kadang ada bagian halaman yang seakan tepat menyindir kelakuannya di masa silam. 



"Ya Allah," isaknya. Tari tak menghiraukan tatapan heran dari kawan satu ruangan. Ia terus menangis meratapi dosa diri yang sudah terlalu banyak.



Kini, di malam yang sepi ini, Tari bersujud, bersimpuh pada Rabb-nya. Ia melakukan sholat taubat dua rakaat dengan sungguh-sungguh sampai mukena pemberian Linda itu basah di bagian depannya oleh air mata. Di sepertiga malam, ia melakukan sujud yang sangat lama sampai teman yang terbangun melihatnya jadi panik karena Tari sama sekali tidak bergerak-gerak.



"Allahu Akbar." Barulah temannya itu merasa lega. Mulanya, ia akan menggugah Tari seandainya tidak bergerak juga.



"Ya Allah, hamba tidak tahu Engkau akan mengampuni dosa-dosa hamba atu tidak. Namun satu hal yang hamba tahu, bahwa ampunan-Mu sangatlah besar dan luas. Mohon terima permintaan maaf dan taubat hamba." Di sudut ruangan itu, ia tersedu-sedan meratapi dosa yang mungkin sudah sebanyak buih di lautan. Bukankah Allah itu lebih menyukai tangisan taubat seorang pendosa?



Tari berharap, mulai detik ini akan jadi hari baru untuknya. Kiriman pakaian syar'i dari Linda membuat Tari  menutup aurat kembali sesuai sunnah dan tuntunan dalam Al-qur'an bilamana, Rasulullah memerintah wanita untuk menjulurkan jilbabnya hingga menutupi dada, tidak tabaruj dan juga tidak memakai jibab seperti punuk Unta. Wanita yang menutup aurat tapi telanjang adalah ciri wanita yang tidak akan mencium harum syurga meskipun berjarak hanya sehasta darinya.



Ketahuilah, ketika Rasulullah melakukan perjalanan di malam Isra Mi'raj, beliau melihat penghuni neraka paling banyak adalah wanita.

__ADS_1


__ADS_2