
POV Mentari
Aku membeku duduk di atas motor yang aku parkirkan di pinggir jalan. Mataku tak lepas memandangi mobil Innova hitam yang terus menjauh.
Para khalayak yang berkumpul tadi perlahan bubar. Benar-benar tinggal aku seorang diri ditengah terik matahari terpaku dengan rasa tak percaya.
Kemarin aku masih bisa mentoleransi setiap kelakuan bang Yudha, tapi kali ini ... rasanya berat. Bagaimanapun sikap bang Yudha tadi tidak pantas ditunjukan untuk orang sesama jenis.
"Astagfirullah!" Aku beristigfar untuk meredam hati yang mulai berperasangka tak karuan ini. Lantas, aku melajukan motor meninggalkan tempat yang sempat menjadi heboh gara-gara ulah suamiku dan lelaki lembek itu.
Aku ingin segera sampai di rumah karena bang Yudha selalu makan siang di rumah. Aku tak sabar ingin menanyakan tentang kebenaran hal menjijikan tadi.
Namun rupanya, aku kalah cepat. Mobil Bang Yudha kulihat sudah terparkir di halaman, dia lebih dulu sampai daripada aku.
Kustandarkan motor, lalu kubuka helm. Pintu tidak dikunci dan aku masuk begitu saja.
"Assalamu'alaikum!" sapaku.
Aku yang tadi sudah kesal, semakin kesal. Bang Yudha tidak pulang sendiri, dia mengajak kak Randy pulang rumah.
"Bang!" Aku menegurnya dengan nada serta raut wajah tak suka. Di dapur mereka berdua terlihat asik sekali mengobrol sampai tak mendengar aku mengucap salam, atau lebih parahnya mereka tidak tahu kalau aku pulang.
Mendengar suaraku, bang Yudha maupun kak Randy menoleh bersamaan.
"Mama udah pulang?" Dari pertanyaannya jelas menandakan bahwa dia tak tahu aku pulang.
Aku melangkah menghampiri mereka, laki-laki yang dipanggil kak Randy oleh suamiku mengumbar senyum ke arahku.
Niat ingin menanyakan hal tadi sudah hilang. Bukan apa-apa, aku merasa tidak nyaman saja menanyakan kejadian tadi di depan laki-laki lembek ini. Akhirnya kutunda sampai nanti malam. Itupun jika aku tidak lupa.
"Ma, kita makan bareng ya ... sama Kak Randy.
Aku sudah badmood bertambah badmood. Bukan aku tidak ingin menerima kak Randy makan siang di sini, tapi kehadirannya benar-benar menganggu ketentraman rumah tanggaku.
__ADS_1
"Iya." Aku menyahut singkat dengan senyum yang aku sunggingkan begitu lebar, jangan sampai aku dicap yang bukan-bukan.
Kini, kami mulai makan siang bersama. Aku duduk di samping bang Yudah dan kak Randy duduk di depannya.
"Kak, beneran udah nggak marah lagi, 'kan?"
Aku melirik bang Yudha sekilas dengan alis yang bertaut. Lembut sekali tutur katanya pada temannya ini.
"Kamu kayak nggak tahu aja sama aku, aku itu nggak pernah lama kalau marahnya," balasnya tak kalah lembut. Ngerinya, suara kelaki-lakian itu hilang berganti suara yang mendayu-dayu manja.
Jika bisa bersumpah, aku akan bersumpah karena jijik mendengar kelakar mereka berdua seperti seorang yang ... entahlah! Sulit bagiku untuk mendeskripsikannya.
"Ma, Abang sekalian mau minta izin kalau Kak Randy mau nginap di sini untuk berapa hari."
Aku yang sedang menyuap makanan, hampir saja tersedak gara-gara mendengar ucapan bang Yudha. Ingin menginap? Yang benar saja.
"Bukannya dia tinggal di kontrakan?" selaku.
"Tapi, Bang ...." Aku ingin menyangkal, tapi bang Yudha malah kekeh membela kak Randy untuk tetap tinggal di sini selama 3 hari. Aku kembali diam, sudah malas berdebat. Akhirnya, aku memilih untuk terserah.
Hanya karena takut mubadzir, kuhabiskan makanan yang baru beberapa sendok aku suap jika tidak, aku sudah enyah dari ruang makan ini karena sudah tak memiliki ***** makan.
Selesai makan dan beberes di dapur, aku melangkah ke kamar, melewati kamar tamu yang pintunya terbuka, kulihat ada 2 koper di dalam sana. Tak disangka memang sudah berencana menginap di sini rupanya.
"Biarlah Tari, anggap aja sedang membantu orang yang kesusahan." Begitulah aku membatin berusaha menghibur diri sendiri yang sedang gunda gulana.
***
Pafrum kusemprotkan ke seluruh tubuh, wajah kupoles dengan sedikit make up, rambut panjang kugerai begitu saja dan yang terakhir kupakai baju dinas malam, sesuai warna kesukaannya, yaitu merah.
Sengaja membeli yang agak menggoda seperti ini supaya bang Yudha tanpa aba-aba akan menyerang. Tipis, sampai menerawang kulit tubuhku.
Di depan cermin, aku menatap nanar diriku sendiri. Jujur saja, selama 4 bulan kami menikah aku tidak pernah memakai pakaian seperti ini untuk menggodanya. Aku tersenyum getir, ketika diri ini benar-benar seperti wanita penggoda yang ingin menggoda suami orang lain. Namun, rasa malu harus aku kesampingkan demi mendapatkan sentuhannya yang sudah lama kudamba.
__ADS_1
Suara percikan air dari kamar mandi sudah tak terdengar lagi, itu artinya bang Yudha sudah selesai mandi.
Dari depan meja rias, aku beranjak menuju tempat tidur dan duduk bersandar di sana, pura-pura memainkan gawai.
Menatap layar ponsel, aku tersenyum ketika tahu bang Yudha yang baru keluar dari kamar mandi memandangku lekat.
"Ehem!" Dia berdehem, mengedipkan mata sambil berlalu menuju lemari. Tapi ... kenapa lemari? Bukan harusnya langsung naik ke tempat tidur.
Apa aku harus bangun mendekatinya, lalu menggoda dengan manja tak ubahnya wanita malam? Ya Salam, aku malu melakukan itu.
"Abang ...." Suaraku terdengar lirih melihatnya malah memilih baju. Tapi detik kemudian, dia menutup lemari berjalan pelan mendekatiku masih dengan handuk yang meilingkar di pingangnya.
Wush....
Tubuhku sontak menegak hingga berdiri berhadapan dengannya ketika dia menarik lenganku.
"Cantik banget Mama kalau pakai baju ini." Di depannya, pipiku langsung memerah karena malu dengan pujian itu.
Kali ini aku harus lebih berani dan agresif dari sebelumnya. "Mama rindu, Bang," kataku dengan manja seraya meraba dadanya yang ditumbuhi sedikit bulu.
"Rindu ya? Abang lebih rindu," balasnya. Akhirnya, usahaku tidak sia-sia, setelah malam menyebalkan itu di mana bang Yudha meninggalkanku ketika sedang panas-panasnya.
"Tapi ... agak malam sedikit ya, Ma? Abang nggak enak sama Kak Randy, Abang mau temani dia dulu."
Good Job! Aku sudah melambung tinggi hampir ke awan, tapi detik berikutnya melesat jatuh terhempas dengan keras. Binar bahagia di wajahku sirna, hasratku yang tadi menggebu bergantikan dengan rasa kecewa yang teramat dalam.
Kurasakan tangan bang Yudha yang melingkar di pinggangku, perlahan mengendur dan terlepas. Dia menjauh berjalan kembali menuju lemari. Diambilnya pakaian, lalu memakainya.
"Abang nggak akan lama," ujarnya sembari berlalu dari kamar.
"Abang ...." Mataku memanas, menahan air mata yang meringsek ingin keluar. Tak menunggu detik berikutnya ari mataku tumpah ruah, aku menangis terduduk di sisi tempat tidur.
Bukan masalah lama atau tidaknya dia kembali, tapi sebagai istri rasanya aku seperti tidak diprioritaskan lagi. Dia lebih memikirkan perasaan orang asing, daripada memberikan aku nafkah batin. Miris! Sia-sia aku berdandan dan memakai baju seperti ini, jika akhirnya reaksi suamiku akan begini.
__ADS_1