Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Sang Mantan Jadi Istri Boss


__ADS_3

Setujunya Tari untuk jadi wanita simpanan mengundang senyum di bibir Rio. Tampak sumringah sekali dia dengan pilihan yang Tari ambil. Setelah Tari bercerai dengan suaminya karena memiliki wanita simpanan, kini dirinyalah yang jadi wanita simpnanan. Pemikiran macam apa itu? Sudahlah, jangan salahkan Tari, sakit hati dan trauma yang telah membuatnya keluar dari jalur semestinya.


"Yuk pulang! Aku nggak ada waktu," imbuh Rio, lantas Tari meraih tasnya dan berjalan mengikuti Rio.


Di dalam mobil, Tari lebih banyak diam. Ia masih merenungi keputusan yang baru ia ambil beberapa menit yang lalu. Hati kecilnya berteriak mengatakan bahwa ini salah, tapi otaknya tetap saja berpikiran tidak waras bahwa tidak mengapa jadi wanita simpanan.


"Di mana kamu tinggal, Tar?" Rio berusaha mencairkan kebekuan yang terjadi.


"Aku tinggal di kontrakan bareng teman aku, nggak jauh dari pasar Senen," sahut Tari.


"Orang tua?"


Mendadak ada rasa tak menggenakan yang menghampiri Tari ketika Rio menanyakan perihal orang tuanya. Kejadian nahas itu bermain lagi dalam pikirannya.


"O-orang tuaku ... ada di Solo." Mendengar suara Tari yang bergetar Rio pun menoleh, dilihatnya Tari yang membuang muka ke samping pura-pura memandangi keadaan.


"Tar, kamu kenapa?" tanya Rio cemas. Tari hanya menjawabnya dengan gelengan kecil.


"Tari!" Rio pun mengulurkan tangan meraih dagu Tari yang sejak tadi membuang pandangan, agak kaget Rio melihat Tari ternyata menangis.


"Kamu nangis? Emangnya pertanyaan aku ada yang nyakitin kamu? Ada yang buat kamu tersinggung?" cecarnya. Tari bungkam, ia tersenyum getir berusaha tetap menahan air mata yang sebentar lagi akan meluap membanjiri pipi.


"Nggak." Bukan hanya suaranya, tapi tubuhnya ikut bergetar menahan lonjakan di dalam dada yang seakan ingin mencuat keluar.


"Kalau nggak ada apa-apa kenapa kamu malah nangis?"


Pertanyaan Rio kali ini sukses membuat tangis Tari pecah. Alhasil, Rio langsung menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. 


"Tar, kamu kenapa? Apa aku udah nyakitin kamu? Aku minta maaf." Rio merasa tidak ada yang salah dari pertanyaannya, tapi Tari menangis seperti ini seakan tersakiti sangat. Dipeluknya Tari mencoba menenangkan wanita itu sampai baju hem di bagian pundak yang Rio kenakan telah basah oleh air mata Tari.


"Jangan tanya tentang orang tua aku," lirihnya memohon. Rio tidak tahu apa-apa, mungkin Tari memang punya masalah dengan orang tuanya dan sekali lagi Rio meminta maaf berjanji tidak akan bertanya lagi tentang orang tua ataupun yang lainnya.

__ADS_1


Namun, tanpa diminta, Tari sendiri yang menceritakan semua kejadian pilu yang dialaminya.


"Aku nggak marah atau benci sama Ibu, aku hanya kecewa. Ibu ngusir aku dari rumah karena lebih percaya sama kekasihnya yang jelas-jelas sudah menodai aku."


Rio agak kaget dengan pernyataan Tari yang mengklaim dirinya sebagai korban pelecehan. Mendengarnya membuat Rio jadi menaruh iba. "Terus, pelakunya udah dilaporin?"


Tari menggeleng. "Nggak ada yang melaporkannya, Mas. Ibu ngusir aku dan aku pun udah nggak terpikirkan lagi untuk melaporkan manusia bejad itu!"


Rio menyayangkan tindakan Tari yang satu ini. Yah, mau bagaimana lagi? Tari pun tidak bisa disalahkan karena siapapun yang ada diposisinya saaat itu pasti akan berpikiran sama.


"Udah, nggak usah dipikirin lagi jangan sampai jadi stres mikirin itu," imbuh Rio. Bersamaan dengan kalimat itu sampailah mereka di sebuah rumah yang Ferdi kontrak khusus untuk ia tinggali bersama Evi.


"Di sini aja, Mas. Rumahnya yang itu!" tunjuk Tari pada sebuah rumah bercat kuning. Ia pun keluar dari mobil dan Rio pergi. Tari berjalan seorang diri, tanpa menghiraukan tatapan sinis dari tetangga sekitar. Ia sudah masa bodoh dengan apa yang dipikirkan orang-orang tentangnya.


"Evi!" serunya sembari mengetuk pintu. Dua kali mengetuk terbukalah pintu menampilkan Evi yang rupanya baru bangun tidur.


"Masih tidur, Vi? Dipatuk ayam rezeki kamu," candanya sambil masuk ke dalam.


Tari pun jadi terkekeh mendengar jawaban temannya itu.


"Kamu itu bikin kita panik aja semalam, Tar. Yo nggak ngomong-ngomong kalau mau pergi," sungut Evi. Kini, keduanya duduk masing-masing dengan sebatang rokok yang dihisap. "Aku lupa mau kasih tahu. Waktu kamu nelepon itu, aku malah nggak disuruh jawab dari dia," sahut Tari.


Mengenai siapa 'dia' yang Tari maksud, Evi pun bertanya karena penasaran. Tari pun belum mengetahui banyak tentang hal itu, ia hanya menyebutkan nama saja dan  mengatakan bahwa Rio sudah berkeluarga.


"Nggak salah pilih kamu, Tar. Mending jadi simpanan aja nggak perlu nungguin job di diskotik. Yah gitu enaknya kalau jadi simpanan," ujar Evi. Belum ketahuan istri sah memang enak, bagaimana nanti jika ketahuan istri sah? Mungkin akan porak-poranda satu rumah karena diamuknya. Namun, Tari tidak ingin memikirkan hal buruk itu dulu, ia hanya ingin menikmati jadi wanita simpanan, apalagi Rio kelihatannya memang orang berduit.


"Vi, makasih ya, atas tumpangannya selama ini. Sore nanti aku mau pamit karena disuruh tinggal sama dia di apartemennya," ujar Tari. Senang Evi mendengarnya, bukan karena Tari akan angkat kaki dari rumahnya, melakikan sudah terlihat perubahan pada diri Tari yang kemarin murung terus sekarang bersemangat kembali.


"Iya sayang. Jangan lupa kasih alamatnya biar aku bisa main ke sana," pinta Evi dan Tari pun mengangguk mantap.


Di sini Tari sedang merasakan senang. Sementara di tempat lain, ada seorang wanita yang tiada henti meratapi penyesalannya. 

__ADS_1


Sejak kepergian Tari, Marni selalu gelisah ia tak bisa tidur dengan nyenyak sepanjang malam. Pertanyaan ke mana anaknya pergi selalu muncul dalam benak Marni saban waktu. Terlihat jelas bahwa wanita paruh paya itu punya beban berat. Wajahnya murung, berat tubuh ringkihnya semakin susut, mata kepuh selalu mengembun.


"As, ke mana kira-kira aku akan cari Tari? Apa kamu tahu teman-temannya Tari?" tanya Marni. Kakak-adik itu sedang duduk santai di dapur dengan masing-masing secangkir kopi hitam.


"Aku nggak tahu siapa teman-temannya Tari, Mbak," sahut Astuti. Hilanglah semangat Marni yang ingin mencari anaknya. Orang satu-satunya yang Marni tahu di Jakarta adalah Yudha mantan menantunya. Namun, Marni bersumpah tidak ingin lagi melihat Yudha yang sudah menyakiti anaknya. Sakit hati sekali Marni dengan perlakuan Yudha terhadap anaknya.


"Mungkin, bisa kita tanya dengan Lia nanti, Mbak." Astuti memberikan usulan yang bagus dan dijawab anggukan setuju oleh Marni. Sore nanti mereka akan mendatangi Amalia di kost-nya karena siang begini gadis itu masih berada di kampus.


Sekitar pukul 04.00 sore karyawan di kantor satu persatu pulang. 


Rio yang keluar dari ruangannya, lantas mencari Yudha yang mungkin masih berada di kantor. Kebetulan, mereka berpapasan di lobi.


"Yud, bisa antar saya, nggak? Soalnya mobil mau saya bawa ke tempat cuci," pinta Rio. Mana mungkin Yudha akan menolak permintaan atasannya itu. "Baik, Pak," jawabnya singkat.


Setelah mengantar Rio ke tempat tujuan, barulah Yudha akan menjemput Irene di supermarket. Mobil Rio sudah berada di tempat pencucian dan kini ia masuk ke dalam mobil Yudha minta diantarkan.


"Yud, jemput istri saja dulu, setelah itu antar ke apartemen," pinta Rio dan lagi-lagu Yudha mengangguk patuh. 


Yudha melajukan monilnya sesuai arahan Rio, sampai di sebuah rumah ia pun terheran. "Apa Ibu Jessica tinggal di sini?" Yudha pun sampai membatin penuh tanya. Ia paham betul bahwa istri atasannya itu terkenal royal dan bergaya sosialita jadi, tidak mungkin akan tinggal di rumah sederhana itu.


"Kamu di mana? Aku udah di depan rumah," ujar Rio dari balik telepon. Sejurus kemudian tampaklah seorang wanita keluar dari rumah dan berjalan ke arah mobil. Sungguh mata Yudha ingin melompat keluar dari tempatnya melihat mantan istri.


Rio membuka pintu mobil dan masuklah Tari. "Barang-barangnya cuma ini?" tanya Rio yang melihat Tari hanya membawa satu tas pakaian berisi pakaiannnya.


"Cuma ini aja, nggak ada yang lain, Mas," sahut Tari. Tari pun bukan tidak terkejut melihat pria yang duduk di balik kemudi itu, tapi ia berusaha biasa saja seolah-olah tak kenal.


"Yud, antar saya sama istri saya pulang."


Yudha benar-benar tercengang, mantan istrinya menjadi istri simpanan atau istri kedua boss-nya, entahlah? Yang jelas atasannya itu menyebut Tari sebagai istrinya.


"B-baik, Pak." 

__ADS_1


Berada satu mobil dengan mantan istri yang kini menjadi wanita simpanan boss membuat Yudha mengumpat dalam hati tiada henti. Ia tak menyangka, istri yang ia cerai justru sekarang jadi istri boss yang sewaktu-waktu bisa memerintahnya juga, seperti apa yang selalu dilakukan Jessica jika datang ke Jakarta dan mampir ke kantor.


__ADS_2