
Pagi ini, sementara Tari masih tidur, Evi sudh berada di tempat Jamal.
"Kang, aku sama Tari undur diri ya?" pamit Evi.
"Lah, kenapa? Apa alasannya?" Mendengar Tari dan Evi ingin mundur, Jamal tak serta-merta mengiyakan karena dua biduannya itulah musik miliknya sampai terkenal di daerah sana.
"Kita mau pindah ke Jakarta, Kang," sahut Evi. Jamal menggaruk kepala bingung harus setuju atau tidak, ia pun tidak ingin rugi dengan kehilangan dua biduan andalannya.
"Gimana kalau aku naikin bayaran kalian?" Jamal melakukan negosiasi agar Evi mengurungkan niatnya. Sudah jelas Evi akan menolak, ia lebih memilih jadi wanita bayaran yang bayarannya membuat rekening membuncit dengan cepat.
"Gimana ya ...? Kayaknya nggak, kita udahan sampai di sini, Kang. Nggak mungkin juga kita bolak balik Jakarta-Solo cuma buat manggung. Jauh Kang, jauh!"
Yah, mau bagaimana lagi? Terpaksa Jamal merelakan dua biduanya itu hengkang dari grup musik miliknya. "Ya udah, kalau itu keputusan kalian."
Evi pun berpamitan, lalu pergi ia tidak ingin terlambat karena setengah jam lagi mereka akan dijemput oleh Ferdi. Sampai di kontrakan ternyata Tari masih belum bangun juga, memang agak susah membangunkan wanita itu setelah meneguk sebotol alkohol kadar tinggi semalam.
"Tari bangun!" gugah Evi. Tidak ada respon.
"Tari, bangun!" Digugahnya lagi hingga berapa kali barulah tubuh itu menggeliat dengan mata yang mengerejap-rejap pelan.
"Kenapa, Vi? Aku masih ngantuk," celetuk Tari ala-ala orang bangun tidur.
"Bangun! Ferdi mau jemput setengah jam lagi, apa kamu lupa, kita mau ke Jakarta pagi ini?"
Sontak Tari bangun seraya meringis memegangi kepala yang masih terasa berat.
"Kenapa nggak bangunin aku dari tadi, Vi," sungutnya. Evi menggeleng, bukan tidak membangunkan, tapi Tari tidur sudah seperti orang mati. "Ya udah, cepat mandi sana! Barang-barang sudah aku beresin termasuk pakainmu."
Lega, itulah yang Tari khwatirkan mengemasi barang-barang dalam waktu sempit, untung saja ada Evi, wanita itu memang patut diandalkan.
Kini, dua wanita itu keluar dari kontrakan dengan membawa masing-masing barang mereka.
"Eh Evi, kalian mau ke mana?" tanya tetangga sebelah.
"Ke Jakarta, Mbak." Evi menyahut singkat. Mulut tetangga memang tidak boleh diladeni apalagi yang sering ingin tahu urusan orang lain. Tidak ingin ada yang bertanya lagi, Evi bergegas mengajak Tari untuk menemui Ferdi yang sudah dari tadi menunggu.
__ADS_1
Dari solo ke Jakarta memakan waktu yang lumayan lama, hingga sampai di Jakarta Tari dan Evi langsung ambruk di kasur dalam sebuah rumah yang sudah Ferdi kontrak beberapa hari sebelumnya.
"Beb, Tari sementara waktu tinggal di sini ya?" pinta Evi. Ferdi mengangguk saja. Tidak ada masalah dalam kalimat yang Evi ucapakan, tapi Tari merasa tersinggung atas ucapan itu, kenapa? Karena ia merasa seperti benalu saja yang tinggal bersama Evi.
"Aku nggak bisa ngerepoti Evi terus," ujarnya dalam hati.
Ferdi keluar dari rumah, sedangkan dua wanita itu berkemas di dalam.
"Vi, sambil manggung apa sih kerjaan kamu?" Sudah lama Tari ingin menanyakan hal itu dan hari ini baru kesampaian. Evi yang masih mengemasi pakaiannya terdiam sejenak tersenyum penuh arti. "Kamu mau tahu?" tanyanya. Tari pun mengangguk antusias.
Evi menyahuti Tari blak-blakan, "Aku jadi wanita bayaran sampai akhirnya ketemu sama Ferdi yang udah punya istri."
Oh, wanita bayaran. Pantas saja jika Evi selama ini tidak pernah kekurang uang, meski kadang manggung kadang tidak.
"Zaman susah gini nggak perlu lagi dengerin omongan orang. Halal, haram, hantam!" tukas Evi terkekeh. Evi enak sudah jadi simpan Ferdi, lah Tari bagaimana? Dari mana sekarang ia akan membiayai hidup, sementara dirinya mengikuti Evi yang sudah tidak manggung lagi?
Lama Tari duduk memikirkan hal itu, waktunya benar-benar tersita hanya untuk memikirkan bagaimana ia menjalani hidup selanjutnya.
"Ngelamun mulu!"
Tari tersentak dengan tepukan di pundaknya. Lama melamun membuat Tari tak sadar jika hari sudah gelap dan Evi telah prepare untuk malam ini.
"Pergi cari hiburan dong," sahutnya sombong. Tidak tega meninggalkan Tari seorang diri, lantas Evi mengajak temannya itu. Sekoyong-koyong Tari mengiyakan, kemudian pergi mengganti pakaian.
"Tari, Tari." Evi pun menggeleng lucu jadinya.
Sebelumnya, Tari tak tahu hiburan macam apa yang dicari oleh Evi hingga mereka sampai di sebuah diskotik.
"Kita ke sini?" Tari bertanya meminta penjelasan.
"Lalu, ke mana lagi? Kamu nggak suka, ya udah pulang!" Tari pun dengan cepat menggeleng, bagaimana dia tidak suka? Di sanalah ia bisa melupakan segala penistaan yang dialaminya. Dengan alkohol ia bisa mengoceh sepuasnya menumpahkan rasa sakit, tanpa merasa malu. Dengan lantunan musik keras ia berjoget-joget melepaskan segala sesak disertai teriakan-teriakan kesenangan.
Evi dan Ferdi meninggalkannya seorang diri di bar. Belum, saat ini Tari belum melakukan hal gila itu, ia masih duduk anggun dengan segelas tequila yang disuguhkan bartender. Dipandanginya orang-orang yang sedang berjoget di depan sana dan itu jadi hiburan tersendiri baginya. Ia tak sadar dari jarak beberapa meter di sisi kanannya ada seorang pria berperawakan tinggi tegap, berwajah oriental memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi. Oleh sebab penasaran, pria itu lantas mendekati Tari.
"Nggak baik cewek duduk sendirian!"
__ADS_1
Tari tersentak kaget dengan orang yang tiba-tiba ada di sampingnya, kemudian Tari menjawab omongan pria itu, "Aku nggak sendiri, kok. Aku ke sini sama teman cuma mereka nggak tahu lagi ke mana."
Tari kembali diam, ia sedang mengingat-ingat karena wajah pria di sampingnya ini terlihat familiar, tapi di mana Tari pernah melihatnya?
"Kok, bengong?" Pria yang berusia lebih tua lima tahun dari Tari pun terkekeh. "Nggak," sanggah Tari.
"Dari pada bengong ...." Pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Tari, "mending kita ngamar."
Membelalak mata Tari mendengarnya.
"Ngamar? Maksud kamu ...." Tari sampai tak jadi melanjutkan kalimatnya karena terlalu vulgar jika didengar. Seakan paham pria itu menaik-turunkan kedua belah alisnya.
"Kamu nggak ngamar cuma-cuma sama aku. Bilang aja kamu mau dibayar berapa?"
Lebih kaget lagi Tari mendengarnya, sekilas ia melirik ke arah bartender yang mendengar langsung percakapan mereka.
"Santai, Sis. Udah biasa di sini yang kayak begituan," tukas bartender.
Tari beralih menatap pria berwajah oriental di depannya ini. Mungkinkah ini kesempatan untuk Tari meraup rupiah? Haruskah ia jadi wanita bayaran seperti temannya?
Lama Tari berpikir keras sampai pria itu kembali menyentuh lengannya. "Kok, bengong mulu, sih?"
Tanggung, dirinya sudah kepalang tanggung jadi wanita tidak baik-baik, apalagi dirinya pun sudah pernah dinodai tempo hari. Oleh sebab itu, Tari setuju.
"Nah gitu dong! Aku bakalan bayar mahal tergantung gimana kamu puasin aku. Oh iya, kenalan dulu nama aku Rio Vikaldo." Pria yang bernama Rio itu mengulurkan tangan dan disambut oleh Tari, "Mentari," balasnya.
"Nice, namanya bagus benget!" tukas Rio mengakhiri pembicaraan mereka di sana. Ia membayar tequila yang Tari minum, kemudian membawa Tari pergi.
Sekitar pukul 10.00 malam, mereka mendatangi sebuah hotel bintang lima yang ada di Ibukota setelah Rio mengajak Tari makan malam. Mereka chek-in dan masuk ke dalam kamar.
"Tari, biasanya kamu dibayar kayak gimana? Cash kah, atau trasnfer aja?" tanya Rio seraya membuka sepatu serta baju hem yang ia pakai.
Tari kebingungan atas pertanyaan itu. "Em ... aku ... bisa dibayar gimana aja, cash ayok, transfer pun ayok," jawabnya gamblang.
"Oh gitu. Aku transfer aja nanti."
__ADS_1
Sejurus kemudian, Rio melemparkan begitu saja ke tempat tidur alat kontrasepsi yang ia beli sebelum menuju ke hotel, kemudian menarik Tari masuk dalam pelukannya.
"Kamu milik aku malam ini, Mentari," bisiknya tepat di telinga Tari.