Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Hilang Entah ke mana


__ADS_3

Yudha masuk ke kamar dengan wajah masam. Bagaimana tidak? Dirinya yang lelah bekerja, malah dituduh yang bukan-bukan oleh sang istri.


"Ngeselin banget!" umpatnya seraya membuka kemeja. Tari ikut masuk ke dalam kamar dan melihat suaminya sudah bertelanjang dada. "Bang, mau mandi atau makan dulu?" tanya Tari hati-hati. Tanpa menoleh Yudha menyahut, "Udah makan di kantor."


Tari menghela napas mendengar Yudha menyahut dengan ketus. Suaminya itu pasti masih jengkel. Tari keluar kamar menuju dapur, ia memasukan lauk-pauk yang ada di atas meja ke dalam kulkas. Kecewa ada, sudah lelah memasak, tapi Yudha rupanya sudah makan di kantor.


Selesai memasukan makanan ke dalam kulkas, Tari kembali ke kamar. Suara percikan air yang terdengar dari kamar mandi menandakan suaminya sedang membersihkan diri.


Tari perlahan merebahkan tubuh di peraduan, ingin tidur dulu tanpa menunggu Yudha. Buat apa menunggu? Toh, suaminya itu masih marah pasti enggan untuk diajak mengobrol. Kalaupun mau, pasti menyahut dengan ketus.


Tari memejamkan mata. Lima menit kemudian, pintu kamar mandi terdengar berderit dan keluarlah Yudha dalam keadaan segar.


"Ma, udah tidur ya?" cetus Yudha tiba-tiba. Tari bergumam dalam hati ketika Yudha tak seketus tadi. Ia membuka mata, membalik badan ke arah Yudha yang berdiri memilih baju.


"Baru mau tidur. Kenapa, Bang?" tanya Tari.


"Kalau nggak keberatan, tolong buatin Abang kopi," pinta Yudha. Mata Tari bergulir ke arah jam dinding yang ada di kamar. Jarum jam menunjukan sudah lewat pukul 11.00 malam.


"Abang mau ngopi? Ini udah malam banget, Bang. Gimana nanti jadi nggak bisa tidur gara-gara minum kopi?" cecar Tari.


"Buatin aja, Ma. Abang juga nggak mungkin langsung tidur habis mandi begini, masih ada sedikit kerjaan juga."


Mendengar alasana Yudha, Tari tak bisa apa-apa selain menuruti keinginan suaminya. Padahal ingin Tari, Yudha itu langsung saja istirahat dan tidur karena besok masih harus bekerja.


"Ini, Bang!" suguh Tari.


Kini, secangkir kopi yang masih mengepul terhidang di meja kecil berbentuk bundar di samping kursi rotan yang ada di kamar.


"Mama tidur aja, nggak usah nunggu-nunggu," ujar Yudha. Tari hanya mengangguk pelan. Siapa juga yang ingin menunggu? Mata Tari sudah sayup-sayup karena mengantuk. Oleh sebab itu, Tari meninggalkan Yudha untuk tidur lebih dulu.

__ADS_1


***


Tengah malam, Tari terbangun karena ingin buang air kecil. Ketika membuka mata, yang di dapatinya adalah Yudha masih duduk di tempat tadi sambil senyam-senyum menatap layar ponselnya. Entah apa yang menarik perhatian Yudha dalam ponsel itu?


Tari melirik ke arah jam yang rupanya sudah pukul 03.00 dini hari.


"Bang, kenapa belum tidur?"


Yudha terlonjak kaget, padahal suara Tari begitu pelan.


"Em ... masih belum selesai, Ma."


Tari melemparkan tatapan selidik pada Yudha yang terlihat gugup. "Abang itu ngapain, sih? Tari lihat senyum mulu lihat hp," selidik Tari.


"Nggak ada! Lagi nonton konten yang lucu," sahut Yudha. Kemudian, ia mematikan laptop, berdiri meregangkan tubuh sambil menguap lebar. "Abang pengen tidur sekarang."


"Nggk boleh suudzon," tekan Tari pada dirinya sendiri. Namun, rasa penasaran semakin membuncah manakala, keluar dari kamar mandi mendapati layar ponsel Yudha menyala dalam mode senyap.


Tari diam-diam meraih ponsel Yudha yang ada di atas nakas, terdengar dengakuran halus, secepat itu Yudha tidur. Tari mencoba membuka ponsel ingin tahu pesan apa yang dikirim oleh kontak dengan nama 'kak Randy' karena nama itu sejak tadi mengirimi pesan dari mulai Tari keluar dari kamar mandi. Tari kesal saat tidak bisa membuka ponsel Yudha, sejak kapaan Yudha mengganti kode kunci ponselnya?


Apalah daya, tari kembali meletakan ponsel itu karena tidak tahu apa kode ponsel suaminya padahal, segala tanggal-tanggal spesial sudah Tari masukan ke dalam kode pin ponsel Yudha tetap saja tidak terbuka. Akhirnya, Tari tidur membawa rasa penasaran.


***


Pagi hari, Tari sibuk di dapur seperti biasanya. Ia wara-wiri di dapur dengan pikiran yang berkecamuk. Siapa yang mengirimi suaminya pesan di tengah malam sungguh mengganggu pikiran Tari. Nama kontak itu memang lelaki, tapi rasanya janggal sekali.


"Selamat pagi, Mama!" Tari tersentak dengan suara itu. Wajah yang tadi murung seketika tersungging senyum tatkala melihat suaminya seperti tak marah lagi.


"Ayok sarapan!" ajak Tari seraya meletakan susu low fat untuk suaminya.

__ADS_1


Yudha menyeret kursi duduk dengan tenang menatapi sarapan yang menggugah selera di depannya.


"Ma, nanti sore siap-siap ya? Abang pulang kerja kita langsung pergi ke kondangan," ajak Yudha disela menikmati sarapan.


"Siapa yang nikah, Bang?" tanya Tari.


"Teman sekantor Abang," sahut Yudha dengan mulut penuh menguyah sarapan. Seperti biasanya, sarapan pagi diselingi dengan obrolan hangat bagai tak terjadi apapun semalam. Padahal, Yudha pulang dalam keadaan marah dan Tari kesal karena ponsel Yudha yang sudah diganti kode kuncinya.


"Abang kenyang," tukas Yudha yang tak menghabiskan sarapannya, kemudian pamit pergi pada Tari.


***


Di sebuah gedung, tampak ramai orang yang keluar masuk. Yudha dan Tari bergandengan tangan masuk ke dalam gedung di mana acara pernikahan diselenggarakan.


Tak ada yang aneh, semua berjalan seperti biasanya. Selesai memberi selamat pada pengantin, Yudha dan Tari menuju di mana hidangan tersedia. Memang tidak ada yang aneh dari acara itu, tapi sikap Yudha-lah yang terlihat aneh.


Di depan meja hidangan, Yudha tertegun dengan mata yang tak berkedip. Tari heran, kemudian menoleh ke arah di mana pandangan Yudha tertuju.


"Dia menatap siapa?" batin Tari. Di depan sana banyak orang yang berdiri dan berlalu lalang. "Abang!" gugah Tari dan Yudha tersadar. "Abang, ngapain? Apa yang Abang pelototi?" tanya Tari penuh curiga.


"Nggak lihatin apa-apa, kok. Oh iya, Mama makan duluan aja, Abang mau ke toilet dulu." Tanpa menunggu jawaban istrinya, Yudha pun pergi. Tari yang bingung, berjalan seorang diri membawa makananya mencari kursi duduk.


Sungguh menyebalkan! Entah ke mana Yudha, tidak mungkin ke toilet selama ini? 10 menit Tari duduk sendiri seperti orang bodoh.


"ke mana, sih?" gumam Tari cemas. Sampai habis makanan yang ada dipiring, tapi Yudha belum juga kembali. Tari mengambil ponsel untuk menghubungi Yudha. Namun parahnya, Yudha tidak menjawab telepon dari Tari. Siapa yang tidak kesal bila seperti ini?


Tari dongkol bukan main, tanpa mencari Yudha akhirnya Tari pergi dari gedung itu, pulang sendiri dengan taksi.


"Keterlaluan banget kamu, Bang!" maki Tari dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2