Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Ditinggal Pergi


__ADS_3

POV Mentari


Tidak ada yang aneh dari pernyataan bang Yudha, tapi entah kenapa tetap saja hatiku rasanya menolak gagasan itu. Sudahlah, tidak aku hiraukan.


Aku masuk ke rumah menuju kamar diikuti oleh bang Yudha untuk mengambilkan baju yang dimaksudnya tadi.


"Di sini baju batik itu, Bang!" Aku mengambil baju batik itu di antara tumpukan lipatan baju. Tanpa membuang waktu dia mengganti kemeja cokelatnya dengan batik yang aku berikan.


"Oh!" Hanya itu yang diucapkannya, ber-oh ria saja. lantas setelah itu, berlalu seenaknya. Bang Yudha mengayunkan kaki begitu cepat menuju mobil seakan tidak ingin membuat orang yang ada di dalam mobil menunggu terlalu lama.


"Ma, Abang pergi dulu!" soraknya berpamitan seraya masuk ke mobil dan aku hanya mentap keduanya dengan heran.


Seperginya bang Yudha, aku kembali masuk ke rumah dengan pikiran yang berkecamuk.


***


Malam minggu terasa sangat dingin setelah diguyur hujan dari siang hingga sore tadi.


Kami duduk berdampingan di ruang keluarga menonton televisi ditemani oleh masing-masing secangkir teh hangat.


"Gimana tadi, Bang?" tanyaku seraya mengunyah bolu pandan buatanku sendiri.


"Apanya yang gaimana?" Dia balik bertanya dengan pandangan yang masih fokus pada layar yang berukran 32 inch itu.


"Acara yang tadi, katanya Boss Abang datang," tukasku.


"Oh itu ... nggak ada acara apa-apa, kok. Cuma kalau datang Pak Rio, memang semua karyawan harus pakai baju batik."


Aku hanya mangut-mangut mendengar jawabannya yang lugas.


Bang Yudha meraih teh yang ada di atas meja, menyeruputnya pelan. Baru sekali menyeruput, ponselnya yang ada di atas meja berdering nyaring.


Aku kira itu orang yang bernama kak Randy tadi, karena pria berwajah glowing itu bagi istri bang Yudha saja selalu menghubungi tiada henti, aku yang asli saja tidak sampai begitu menghubunginya.


Nama Rangga tertera di sana. Bang Yudha lekas menjawab panggilan telepon itu.


"Ada apa, Ga?" tanyanya tanpa basa-basi. Tidak bisa kudengar jelas apa yang dikatakan Rangga dibalik telepon, tapi ucapan itu sukses membuat riak wajah bang Yudha berubah, tadinya tenang, sekarang terlihat gusar.


"Kamu jangan macam-macam, Ga!"


Aku kaget ketika bang Yudha sontak berdiri seraya berteriak seperti itu.


"Bang, ada apa?" tanyaku. Dia tidak menggubrisku, bicaranya fokus pada Rangga. Entahlah ada apa? Yang jelas bang Yudha terlihat merah sekali.


Sambungan telepon sudah terputus, aku kembali bertanya, "Bang, ada apa?" Bukan menjawab dia justru mengajakku untuk segera ke rumah ibu.


Karena tergesa, aku pun mengikutinya hanya menggunakan piyama panjang yang aku pakai.


"Tunggu, Bang! Tari ambil kerudung dulu."

__ADS_1


Secepat kilat kuambil kerudung instan yang ada di lemari, menyesapnya di kepala dengan cepat. Marah, bang Yudha sampai mengendarai mobil dengan kecepatan lumayan kencang.


"Abang, nggak usah ngebut!" pintaku. Melihat wajah takutku, dia menurunkan laju mobilnya. Tak berapa lama sampailah kami di rumah almarhum ibu.


Brak!


Saking kesalnya, bang Yudha menghempaskan pintu mobil dengan kasar. Sekoyong-koyong ia masuk ke dalam rumah sambil meneriaki nama adiknya.


"Rangga!"


Kurasa pemilik suara kaget dengan seruan itu. Munculah Rangga bersama Mona, istrinya.


"Ga, apa maksud kamu mau jual rumah Ibu?!" Tidak banyak omong lagi, bang Yudha langsung bertanya pada intinya.


"Tenang dulu, Bang," sela Rangga. Ia menarik tangan bang Yudha mengajaknya untuk duduk di ruang tamu. Kini, kamu duduk saling berhadapan.


"Sekarang bilang sama aku, kenapa kamu mau jual rumah Ibu?" tanya bang Yudha, walau pelan tersirat ketidak-sukaan.


"Gini, Bang. Aku mau jual rumah Ibu karena mau pindah ke perumahan. Aku mau beli rumah di sana. Kita akan bagi dua hasil penjualan rumah," jelas Rangga.


Demi apapun, wajah bang Yudha seketia memerah. Aku yakin dia tidak setuju dengan keinginan adiknya itu.


"Buka soal hasilnya dibagi dua! Aku nggak setuju ya kalau rumah ini dijual! Kamu nggak mikir banget gimana susahnya Ibu berjuang bangun rumah ini buat tempat tinggal kita?!" Menegang urat-urat yang ada di pelipisnya menahan marah.


"Tapi Bang ...."


"Bang, tenang dulu." Kuusap punggungnya hanya untuk menenangkan.


"Kamu udah enak tinggal di sini sama istri kamu, kenapa harus pindah? Kalau mau pindah terserah kalian, tapi jangan ada pikiran pengen jual rumah Ibu!"


Keputusan bang Yudha sudah final, ia tidak ingin ada yang membantah, apalagi itu adiknya sendiri.


Aku pun diam, sekilas kulirik wajah Mona yang tampak masam. Kenapa wajahnya seperti itu? Apa dia kesal karena bang Yudah tidak setuju rumah ibu dijual?


"Apa kata Abang kamu memang benar, Ga. Kalian tinggal aja di rumah ini." Aku menimpali hanya sekedar ingin mendamaikan keadaan yang mulai riwuh. Setelah menikah, Rangga dan Mona memang tinggal serumah dengan ibu, itu karena ibu yang kasihan melihat Rangga dan Mona mengontrak rumah, sedangkan saat itu Rangga masih bekerja serabutan.


Rupanya, ada yang tidak terima dengan pernyataanku. Mona menyulut keadaan yang panas dengan menuduhku yang bukan-bukan.


"Kamu itu nggak usah sok bijak, Kak!" tunjuknya garang kearahku. Kagetlah aku.


"Loh, aku cuma berusaha menengahi aja, Mona." Aku membela diri.


"Kamu itu sok baik di depan keluarga Ibu, tapi nyatanya apa?" sentaknya, kemudian beralih pada bang Yudha. "Bang, istri Abang ini sok baik, sok suci. Padahal kemarin aku lihat dia lagi jalan di mall sama cowok lain!" tudingnya begitu keji.


Bang Yudha spontan menoleh padaku dan aku menggeleng kuat menepis fitnah kejam ini.


"Nggak, Bang! Aku memang jalan-jalan ke mall kemarin, tapi bukan sengaja jalan sama cowo. Aku kebetulan ketemu sama Edwin teman SMA dulu."


"Nggak usah mengelak, Kak. Aku jelas banget lihat kalian jalan bareng. Mana pula, si cowok itu banyak banget bawain belanjaan!" tudingnya lagi.

__ADS_1


Kutoleh bang Yudha, dia memandangku begitu dingin. Aku jelas akan membela diri jika sudah difitnah seperti ini, "Itu belanjaan Edwin yang lagi cari barang-barang buat hantaran."


"Tega sekali kamu fitnah aku kayak gini!" sentakku. Tapi kelihatannya Mona sama sekali tidak peduli dengan segala kesalahannya padaku.


Tidak menjawab apapun, bang Yudha bangun meraih tanganku sampai aku berdiri mengikuti pergerakannya.


"Kita pulang!" ajaknya datar tanpa ekspresi. Aku tahu bang Yudha sedang marah, jadi kuikuti saja dirinya tanpa banyak mengoceh.


"Ingat ya! Aku nggak akan pernah setuju kalau rumah ini dijual. Kalau nggak senang, angkat kaki aja dari rumah ini!" Bang Yudha memberikan ultimatum sebelum pergi meninggalkan rumah ibu.


***


Sampai di rumah aku memohon pada bang Yudah untuk percaya padaku.


"Bang, Tari difitnah sama Mona. Tari nggak mungkin kayak gitu!"


Aku kaget, aku pikir bang Yudha termakan omongan Mona dan marah padaku, tapi ternyata ... dia mengusap lembut pipiku seraya menyahut, "Abang percaya sama Mama, kok."


Alhamdulillah, aku mengucap lega dalam hati.


"Nggak usah dipikiran, gimanapun Abang percaya dan sayang sama Mama." Bisikan itu terdengar lirih.


Aku tersenyum memeluknya erat seraya berbisik menggoda, "Tari rindu sama, Abang."


Aku memang rindu yang sudah hampir dua minggu tidak disentuh olehnya.


Bang Yudha peka dengan kode yang aku berikan, lantas menggiringku menuju kamar.


Bugh!


Tubuh kami berdua terhempas di atas ranjang dengan tubuhnya yang berada di atasku.


Aku merindu sentuhannya yang dahsyat ini, hingga tak sabar untuk segera menuntaskan hasrat yang sudah lama tak tersalurkan.


Mata terpejam meresapi setiap jengkal tubuh yang ia jelajahi. Kancing piyama sudah habis dilepaskannya sampai tubuh ini sudah setengah polos.


Disuasana yang sudah sepanas ini, ponsel bang Yudha malah nyaring terdengar. Sudah kuduga, bang Yudha menghentikan aksinya menjelajahi tubuhku, ia bangun untuk menerima panggilan telepon itu.


"Iya Kak Randy, kenapa?"


Mendengarnya mataku melebar.


"Oh iya, aku ke sana sekarang!"


Detik ini juga bang Yudha benar-benar bangun memakai bajunya yang sudah kubuka tadi.


"Ma, Abang pergi sebentar," ujarnya tanpa rasa bersalah.


"Bang ...." Aku memohon melalui mimik wajah agar dia tetap di sini melanjutkan percintaan kami yang tertunda gara-gara sebuah telepon dari lelaki itu. Namun, sakitnya aku ketika dia memilih untuk menemui kak Randy daripada aku yang sudah setengah polos ini gara-gara ulahnya.

__ADS_1


__ADS_2