
Bab 18
Sakit, sesakit-sakitnya. Tari lemas jatuh bersimpuh, tetesan air mata berjatuhan di lantai membasahi gamis kotak-kotak yang dikenakannya. Yudha merangkul Irene keluar dari rumah itu diikuti oleh Randy meninggalkan Tari tanpa rasa bersalah dan berdosa.
Kata bercerai adalah kata perpisahan yang paling menyakitkan diterima oleh Tari.
"Apa karena dia hamil? Aku pun bisa sepertinya!" Meraung Tari seorang diri melepaskan rasa yang meremas hatinya sedari tadi. Tiada yang bisa dilakukan selain menangis dan meratapi diri yang mungkin banyak kekurangan hingga sang suami sampai berpaling hati.
Hancur bahtera rumah tangga yang baru saja dibangun hanya karena diterpa badai sepelan itu.
Kini, di dalam rumah Tari seorang diri meresapi setiap sakit yang diberikan suaminya. Malam ini rasanya begitu panjang, Tari lewati dengan tangisan meringkuk di peraduan tempatnya dulu memadu kasih dengan sang suami.
Kini, atmosfer di sana mendadak berubah, dingin dan beku, sedingin hati Tari saat ini. Tiada lagi suasana hangat yang dibalut dengan canda tawa riang. Semuanya hampa, semuanya pergi.
Dipejamkannya mata berharap bisa tertidur dan berharap semua rasa sakit itu akan hilang keesokan harinya atau … lebih mustahil ia berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruk dan akan terbangun ketika sinar matahari terpancar dan menembus kamar.
Namun, ketika mata dipejamkan yang terlintas dalam isi kepalanya adalah sekarang suaminya sedang tidur memeluk wanita lain dalam satu ranjang, satu selimut.
"Ya Allah, sakit!" Ditepuknya dengan keras bagian dada berharap denyaran itu sirna. Air mata pun seakan enggan untuk berhenti membasahi pipi. Jadilah sepanjang malam Tari habiskan dengan meratapi kepergian suaminya bersama wanita lain.
Sepenggal malam, sepenggal kenangan meruncing menajamkan dua sisi. Seperti sebilah pedang, kenangan itu menebas hati seketika menguak luka yang terbenam, menciptakan lubang yang membuat kesadaran tersesat bila jatuh ke dalamnya.
Sepenggal malam yang kelam, pagi datang dengan gamang. Hawa dingin di pagi buta ini membuat Tari enggan beranjak dari tempatnya, wajah yang sembab tidak perlu ia basuh. Saat diberi ujian, ke mana iman-nya? Bukankah mengadu pada sang Pencipta adalah solusi terbaik untuk menenangkan hati yang tengah kacau-balau? Tapi sayang, hati Tari hanya diisi oleh semua kejadian menyakitkan semalam hingga sama sekali tak terpikirkan oleh Tari untuk mengadu pada Rabb-nya.
Keringnya tenggorokan setelah menangis dan berteriak semalam akhirnya memaksa Tari untuk bangun mengambil segelas air putih di dapur.
Bagian depan dadanya basah oleh air mata yang ia sapu dengan gamisnya itu. Keadaannya berantakan dan sungguh mengenaskan. Melihat kopi yang ada di wajah kaca, Tari justru tertarik untuk membasahi tenggorokannya dengan secangkir kopi.
Air mendidih, suara teko nyaring memecahkan kesunyian rumah itu, Tari lantas mengangkat teko, lalu menuang air panas ke dalam cangkir keramik yang sudah ia isi kopi tanpa gula.
__ADS_1
Diseretnya kursi makan dan duduk menghadap jendela yang sudah ia buka gordengnya. Tangan terus bergerak mengaduk kopi sementara pandangannya kosong menatap keluar.
"Awh!" Ia kepanasan ketika kopi itu melimbak dan sedikit tumpah mengenai punggung tanganya, tersadarlah ia dari lamunan kosong yang sedari tadi menyita waktunya.
Aroma-aroma kopi semerbak memenuhi ruangan, pada akhirnya aroma itu membuat Tari kembali menepikan air mata teringat akan sarapan yang setiap pagi ia buat untuk suami tercinta. Hah cinta? Terbunuh sudah Tari akibat cintanya itu. Air mata bercampur bersama kopi ketika Tari menyesapnya pelan sambil menangis. Pahitnya kopi tanpa gula sama pahitnya dengan kehidupan rumah tangganya.
"Sudah Tari, ngapain masih mikirin si brengsek itu!" Tari bermonolog mencibir dirinya sendiri yang bagai pecundang hina masih mengharapkan Yudha kembali, sudah jelas lelaki itu menyakitinya tanpa ampun, bahkan maaf tidak terlontar dari mulutnya.
Saking nyaman duduk di sana sampai deringan ponsel yang terdengar dari kamar tidak membuatnya beranjak. Ia sedang dalam mode malas untuk menerima telepon dari siapapun, untuk sekian detik senyap hanya terdengar suara-suara dari luar rumah, tapi kemudian ponsel itu kembali berdering mengharuskan Tari menyudahi lamunanya.
Ia berjalan gontai meninggalkan kopinya yang masih mengepul di atas meja. Siapa yang meneleponya berkali-kali Tari pun penasaran.
Rupa-rupanya bibi Astuti yang menghubunginya sepagi ini.
"Assalamu'alaikum. Ada apa, Bi?" tanyanya.
"Tari, hari ini kalau kamu nggak sibuk, Bibi mau minta tolong karena ada yang pesan nasi 50 kotak dan mau diambil malam nanti selesai Magrib," terang bibi Astuti via telepon. Bagaimana bisa membantu bibi Astuti dalam suasana hati mendung kelabu seperti ini? Tapi, jika tidak dibantu kasihan juga hanya ada Amalia seorang yang membantunya, itupun bila Amalia tidak disibukan dengan kuliah.
"Jam delapan aku akan ke rumah Bibi. Bibi masih mau belanja bahan-bahan, 'kan?" tukasnya. Tiga detik berikutnya ia memutus sambungan telepon setelah bibi Astuti setuju menunggunya di jam delapan pagi.
Diliriknya jam dinding menunjukan pukul 07.00 pagi, lekas Tari mandi agar tidak terlambat membawa bibinya ke pasar. Mandi kilat, berpakaian pun kilat hari ini Tari tidak ingin merias diri, sekedar memoles bibir dengan lips blam saja Tari malas. Masa bodoh dengan penampilannya hari ini toh, ia hanya akan berkutat di dapur dengan segala macam aroma termasuk keringat nantinya.
Dipakainya celana jeans dan blouse lengan panjang warna kuning kentang, serta pasmina hitam yang menutupi kepala. Baru menutup pintu kamar, indra pendengarannya menangkap suara deruman mobil. Tak lama pintu utama pun diketuk.
"Bang Yudha kah?" Bergegas Tari berjalan untuk membuka pintu utama dan benar saja bahwa suaminya yang pulang setelah menghabiskan malam dengan selingkuhannya yang sedang berbadan dua itu.
Entah kenapa Tari senang melihat suaminya pulang pagi ini? Atas nama cinta, Tari akan melupakan semuanya dan memberi maaf pada Yudha yang mungkin datang dengan rasa sesal.
"Abang ...." Didekatinya Yudha yang masih berdiri di depan pintu. Dari jarak sedekat itu, Tari bisa mencium parfum yang bukan biasa suaminya pakai.
__ADS_1
"Perempuan itu!" Tari mengumpat dalam hati.
"Abang, pulang untuk ...."
"Untuk bawa barang-barang aku, Tar," sela Yudha. Luka semakin menganga, kecewa Tari sungguh luar biasa. Ia pikir Yudha akan meminta maaf, tapi malah ingin mengemasi pakaiannya.
"Apa Abang beneran cinta sama dia, sampai rela nyakitin aku kayak gini?" sentak Tari. Tidak sia-sia ia tidak berdandan pagi ini karena air mata lagi dan lagi lolos menghujam pipi.
Yudha hanya diam.
"Aku masih bisa maafin Abang dan mungkin nerima Irene di rumah ini." Tari sudah gila, Yudha secara gamblang berselingkuh di depan matanya, tanpa ragu pula melontarkan cerai, tapi masih saja sebodoh ini.
"Nggak mungkin kita bersama, Tar. Aku bukan hanya tidak cinta lagi sama kamu, tapi kita juga udah nggak seiman," ujar Yudha pedas nan tajam.
"M-maksud kamu apa nggak seiman? Apa kamu udah ...."
Tari terhenyak ketika pikiran yang paling buruk menggerayangi kepalanya.
"Iya Tar, kita nggak seiman lagi. Aku memilih untuk nikah sama Irene yang berbeda agama, itulah sebabnya aku nggak mau lagi berhubungan intim sama kamu, takut nambah dosa."
Plak!
Pagi-pagi Yudha sudah sarapan telapak tangan dari Tari.
"Kamu bilang takut nambah dosa, Bang? Apa kamu nggak kepikiran bagaimana besarnya dosa kalau udah mengkhianati agama? Kamu memang gila, Bang! Menggadaikan iman hanya demi cinta."
Tari benar-benar dibuat shock pagi ini. Ternyata Yudha selama ini bukan hanya mengkhianati dirinya, tapi juga agama yang sudah ia peluk sejak lahir.
"Aku akan menikah secepatnya dengan Irene, sebelum kandungannya semakin besar."
__ADS_1
Untuk apa pula Yudha mengatakannya? Apa memang sengaja untuk merobek hati Tari yang sudah tak berbentuk itu?
"Begitukah? Jika iya, nikah aja, bangun mahligaimu dengan air mataku."