Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Kabar Duka


__ADS_3

POV Mentari


Suasana mulai gelap, lampu taman menyorot diriku yang duduk di bangku. Seperti orang kehilangan akal sehat, aku berdiam diri di sini dengan mata merah dan wajah sembab.


Pikiranku tak hentinya mengulang-ngulang kelakuan bang Yudha yang sangat keterlaluan. Bagaimana bisa dia menghianatiku seperti ini? Miris! Padahal baru tiga bulan yang lalu dengan percaya diri dia datang meminangku.


Apa aku tak cantik lagi? Apa dia bosan padaku? Apa aku kurang gesit melayaninya? Semua hal itu kutanyakan pada diriku sendiri.


Tidak! Sebagai istri, aku tidak mempunyai cela. Semua kutunaikan dengan baik segala macam bentuk kewajiban. Kuabdikan diri padanya, hanya dia yang tidak tahu diuntung telah beristrikan diriku.


Pikiranku mengawang, bimbang harus mengambil keputusan apa? Dikhianati adalah bentuk kesalahan yang tidak bisa termaafkan olehku. Maka ... kuputuskan untuk menyudahi pernikahan ini. Aku tidak sanggup lagi membina bahtera rumah tangga bersamanya.


Beberapa pejalan kaki yang lewat menatapku aneh. Tidak ingin menjadi pusat perhatian, aku pun lekas meninggalkan taman di mana aku merenung cukup lama. Bahkan, Magrib pun kulewatkan dengan duduk di sana sendirian. Apa jadinya manusia macam aku ini?


Pulang ke rumah hanya akan menciptakan perselisihan lagi dan aku muak berdebat dengannya. Tapi, aku harus pulang mengambil semua pakaian dan barang berharga, kemudian meninggalkan rumah dengan sepenggal kalimat menyesakan "Aku dan kamu akan bercerai"


Walaupun akan kembali ke rumah, aku tidak ingin buru-buru. Aku akan pulang saat malam sudah larut di mana bang Yudha sudah tidur dengan nyenyak. Aku tidak perlu membangunkannya nanti karena kami masing-masing memegang kunci rumah.


Sebelum pulang, aku singgah di mall menghabiskan waktu di area play fun bermain seperti anak kecil. Aku girang, walaupun hanya mendapatkan hadiah sebaris tiket. Setelahnya, aku mengisi perut di area food court.


Tak terasa kuhabiskan waktu selama 5 jam bermain dan berkeliling di mall besar ini. Kulihat jam di ponsel sudah menampilkan pukul 11.00 malam. Mungkin bang Yudha sudah tidur sekarang.


Kupacu motor membelah jalanan metropolitan yang tidak pernah sepi. Sekitar 15 menit sampailah aku di rumah.


Aku salah kaprah. Dari halaman, kulihat dalam rumah masih terang benderang dan itu tandanya bang Yudha sama sekali belum tidur. Aku lupa, jam tidur bang Yudha biasanya lewat tengah malam.


Akhirnya, kuparkirkan motor di depan rumah karena aku akan langsung pergi setelah mengemasi pakaian. Baru menapaki tanah dua langkah, pintu terbuka dan bang Yudha keluar berjalan menyongsongku.


Blep!


Aku tak bisa bergerak akibat dekapan erat dari bang Yudha. "Mama dari mana aja? Abang cemas, Ma. Mama jangan marah lagi, tolong maafin Abang." Suaranya terdengar lirih di telingaku. Permohonan yang dibubuhi penyesalan tidak akan membuatku luluh. Kudorong tubuhnya begitu keras sampai pelukan terlepas dan ia terpundur ke belakang. Dengan wajah kesal kulewati bang Yudha tanpa berkata apapun, mengayunkan kaki menuju kamar.

__ADS_1


"Ma, mohon maafin Abang. Abang salah udah khilaf!" Kudengar langkah bang Yudha mengikutiku dari belakang, tepat di depan kamar ia memapak langkahku.


"Mama, pleasee ... maafin Abang!" mohonnya tiada henti. "Kita sampai di sini aja, Bang!" Kukeluarkan kalimat pamungkas seraya menepis tangannya yang memegangku.


Aku masuk ke kamar, mengambil koper untuk diisi dengan barang-barang yang kuperlukan.


"Nggak, Ma! Abang nggak mau pisah sama Mama! Abang benar-benar janji nggak akan gitu lagi."


Seberapa keras bang Yudha memohon, aku tidak akan peduli. Sakit hatiku sungguh luar biasa akibat dibohongi dan selingkuhi olehnya.


Masih dalam suasana yang dramatis, deringan ponsel bang Yudha memecah keheningan kamar. Bang Yudha tak hirau dengan panggilan telepon yang masuk ke ponselnya, yang ia lakukan hanya memohon agar mendapatkan maaf dariku.


"Terima aja teleponnya, siapa tahu selingkuhanmu minta dijemput!" kataku menyindir. Karena berdering tiada henti, bang Yudha pun meraih ponselnya yang ada di ranjang. "Rangga?" Kudengar gumamannya dan kulihat secepat kilat ia menjawab telepon dari Rangga, adiknya.


Baru sekian detik menjawab telepon, bang Yudha memekik, "Innalillahi wa innaillahi rojiun!"


Aku sontak menoleh mendengarnya mengucapkan kalimat istirja itu.


bang Yudha mematikan telepon menatapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Ibu," sahutnya begitu lirih.


Aku pun kaget, mendadak kaki jadi lemas mendapat kabar bahwa ibu mertuaku telah pulang keharibaan Ilahi. Padahal kemarin, beliau masih sempat mengunjungiku dengan membawa soto ayam yang memang jadi makanan kesukaanku.


Bang Yudha menyambar kunci mobil yang ada di atas nakas, ia pamit padaku sebelum pergi. Mertuaku sudah tiada dan tidak mungkin aku tidak datang untuk melihat ibu mertua terakhir kalinya.


"Tunggu, aku ikut!" cegahku pada bang Yudha. Untuk saat ini, kukesampingkan marah dan kesalku.


Sepanjang perjalanan bang Yudha hanya diam dengan raut kesedihan. Tak sampai 20 menit, kami sampai di rumah orang tuanya yang ternyata sudah cukup ramai di dalam sana.


Bang Yudha bergegas keluar dari mobil, berlari kecil masuk ke dalam rumah.


"Ibu!" Dia menghambur memeluk sang ibu yang sudah terbujur kaku dengan sehelai kain batik yang menutupi tubuh itu.

__ADS_1


Detik itu juga rasa ibaku muncul, apalagi melihat tangis bang Yudha yang sudah pecah.


Aku mendekat dan kuusap pungungnya memberikan kekuatan dan ketenangan. "Abang yang ikhlas, Ibu udah pergi sekarang."


Tak ada yang keluar dari lisannya, selain isakan. Aku tahu bagaimana sekarang perasaan bang Yudha. Ibu memang sosok yang sangat bang Yudha puja karena ibu adalah satu-satunya orang yang paling berjasa dalam hidup bang Yudha setelah ayahnya meninggal ketika dia masih berumur 6 tahun. Sosok itulah yang sudah berjuang mati-matian untuk menghidupi kedua anaknya.


Aku beranjak dari samping bang Yudha, hendak ke dapur mengambilkannya air minum.


"Ma!" Aku telonjak kaget, untung saja air minum yang sedang kutuang tidak tumpah.


"Abang ngegetin aja!" celetukku seraya mengusap dada.


"Abang, minta maaf. Abang nggak ...."


Secepat kilat kupotong ucapannya, "Udah, nggak usah dibahas, Bang! Nggak pantas bahas yang kayak begitu kalau kita sedang berduka. Nih, Abang minum dulu."


Tahu aku sudah tidak marah lagi, dia tersenyum samar terkesan getir. Aku tahu susuh untuknya mengembangkan senyum saat diserang duka begini.


Setelah minum, aku meraih tangannya untuk kembali ke ruangan di mana jasad ibu berada.


Kami duduk berdampingan dengan masing-masing membaca surah Yasin.


Sambil membaca, tanganku tak henti mengusap pungung bang Yudha karena ia menangis sedari tadi.


"Bang, cukup nangisnya." Aku berbisik.


Blep!


Bang Yudha mendekapku erat, ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukanku. Orang-orang sampai menatapnya dengan iba.


"Ibu udah ninggalin Abang dan Abang harap kamu nggak ninggalin Abang, Mentari," mohonnya lirih di telingaku.

__ADS_1


Sungguh, aku terdiam dibuatnya. Dalam keadaan seperti ini marahku lenyap berganti dengan rasa tak sampai hati. kubalas pelukannya seraya menyahut, "Tari nggak akan ninggalin Abang."


__ADS_2