Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Memberi Tau Rio


__ADS_3

Semua yang terjadi memang sudah jadi bagian dari rencana Allah dan sudah pasti ada hikmahnya. Mendapati dirinya ternyata sedang berbadan dua sekarang luruhlah air mata dengan sangat deras. Ia bukan marah karena sekarang mengandung , tapi marah pada diri tatkala ingat dosa zina yang telah ia laukan secara sadar.


"Ya Allah!" Raungannya terdengar hinga keluar kamar. Bersamaan dengan itu Linda memeluk tubuh Tari mengusap punggungnya demi menenangkan wanita yang sedang dilanda shock.


"Istigfar Tari, Allah lagi nyiapin rencana indah buat kamu," ujar Linda. Yah, semoga kalimat kebenaran itu mampu meredam rasa yang sedang berkecamuk dalam hati Tari. Sebenarnya, bukan itu juga yang sedang dipikiran oleh Tari, jika sekarang ia sedang mengandung buah cintanya bersama Rio lantas, akan bagaimana akhirnya nanti? Sebab Rio bukanlah laki-laki single, ia adalah laki-laki beristri dengan anak yang hampir dua, Jesisica pun sedang hamil tua sekarang.


Sudah cukup kemarin Tari melakukan kesalahan besar dengan menjadi wanita simpanan untuk Rio yang membuat Jessica harus menanggung sakit teramat akbat penghianatan. Namun, dalam beberapa bulan semuanya berangsur membaik, bahkan sudah seperti sedia kala Tari sudah menjalani hukuman atas apa yang sudah diperbuatnya sementara Rio, sudah kembali berdamai dengan sang istri dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama.


Sayangnya, semua membaik hanya dalam hitungan tiga bulan saja dan Tari kembali dihadapkan oleh kenyataan yang ia sendiri pun tidak bisa membayangkan.


"Udah, nggak usah nangis lagi, Tar," pinta Linda tanpa menghentikan usapannya di punggung Tari. Bukan hal yang mudah untuk tidak menangis ketika sedang diterjang masalah, tapi Tari pun sadar bahwa menangis hanya akan membuatnya semakin terpuruk dan menangis pun juga tidak akan menyelesaikan masalah. Boleh menangis asal tidak berlarut-larut. Bukankah ia punya Allah yang masa segalnya? Ia bisa mengadu, meminta dan memohon untuk diberikan jalan terbaik dalam setiap masalah yang datang.


"Aku bukan nangis dan nyesal karena sekarang lagi hamil, Lin. Tapi ... aku takut kalau Mas Rio tahu tentang kehamilanku ini, aku nggak akan pernah sanggup kasih tau Mas Rio." Mendengar penuturan Tari, Linda jadi terdiam, bukan ia kehabisan kata-kata, tapi sedang mencerna baik-baik apa yang Tari katakan. Ketakutan yang Tari rasakan bisa dimaklumi karena ia sama sekali tidak ingin punya masalah dengan siapapun, terlebih menghancurkan kebahagiaan Rio dan Jessica.


"Aku nggak mau kasih tau Mas Rio. Aku nggak mau dia sampai tau tentang ini," ujar Tari yang tetap kekeh pada pendiriannya. Linda menghela napas dalam, lalu bertanya pada Tari, "Kenapa kamu nggak mau sampai Rio tau? Apa karena kamu nggak mau ganggu kebahagiaan Rio lagi? Aku paham betul dengan niat kamu itu, tapi bagaimanapun ... kamu harus tetap kasih tau Rio. Dia adalah ayah biologis dari janin yang kamu kandung sekarang, bukan apa-apa hanya untuk memudahkan jalan kedepannya nanti. Anak kamu harus tau nasabnya dan kalau nanti kamu melahirkan anak perempuan sudah pasti dia butuh ayahnya kalau mau nikah kelak. Kamu paham, kan?"


Kini, giliran Tari yang terdiam diterjang oleh rentetan kalimat panjang yang Linda ucapkan. Semua itu memang benar adanya, anak perempuan ataupun laki-laki memang sudah seharusnya tau siapa ayahnya dan ayaahnya pun juga harus tau tentang anaknya.


"Tapi ... istri Mas Rio juga lagi hamil. Gimana kalau dia sampai shock dengar kabar ini, udah pasti pengaruh sama kehamilannya." lagi-lagi yang dipikirkan Tari adalah perasaan Jessica. Namun, harus bagaimana lagi? Sepahit apapun kenyataan, tetap harus diungkapkan.

__ADS_1


"Aku cuma bisa kasih saran kayak tadi, selebihnya ... semua keputusan ada ditangan kamu." Setelah usai melakukan dialog, Linda pamit pergi membiarkan Tari istirahat. Seperginya Linda, lumayan lama Tari termenung di dalam kamar. Selang beberapa saat terdengarlah suara adzan Dzuhur yang mengaung dari masjid tak jauh dari rumah.


Waktu mustajab untuk berdoa dalam hadits di antaranya adalah setelah shalat wajib atau fardhu, pertengahan malam saat sholat tahajud, waktu di antara dua khutbah, dan setelah Ashar di hari Jumat. 


Selain itu, waktu mustajab berdoa lainnya ketika turun hujan, setelah adzan dan iqomah, khatam Al Qur'an, dan saat berbuka puasa.


Ketika adzan masih baru berkumandang, Tari berbegas mengambil wudhu, setelahnya duduk di atas sajadah dengan mukena yang sudah ia pakai seraya menjawab setiap seruan adzan.


" ... Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah." Adzan selesai dikumandagkan Tari pun membaca doa dan disambung oleh permohonan untuk jalan keluar atas cobaan yang sedang dilimpahkan padanya. Tari melakukan sholat sunnah qobliyah dua rakaat sebelum sholat fardu dan disambung dengan sholat sunnah badiyah setelah melakukan sholat fardu-Dzuhur. Jika menjalankan ibadah semata-mata karena Allah maka, setelahnya kau akan merasakan ketenangan jiwa serta manfaat dari ibadah yang telah kau jalani dengan sepenuh hati.


Sudah tertulis dalam  Al-Qur'an dalam surah Al-Baqarah ayat 45, "Wasta’inu bisshabri washolati." yang artinya, "Carilah pertolongan Allah dengan sabar dan sholat." Karena sejatinya, hanya Allah sebaik-baik penolong dan kau akan meleleh ketika melihat bagaimana cara Allah memperbaiki hidupmu.


"Tari!" pangilan itulah yang membuat Tari menghentikan Dzikirnya dan lekas bangun untuk membuka pintu kamar. Tampak Linda berdiri di depan pintu dengan raut cemas. Jelas saja ia cemas setelah Tari tidak keluar kamar sejak ditinggalkan tadi.


"Kenapa, Lin?" tanyanya.


"Makan siang, yuk!" ajak Linda. Tari sama sekali tidak menolak meski kondisi hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ia keluar mengikuti Linda ke dapur setelah mengemasi mukena dan sajadahnya. Tari datang dengan wajah sembab karena menagis sejak tadi.


Apa yang sedang Tari alami terpaksa harus Linda katakan pada  keluarganya karena tidak ingin menimbulkan spekulasi yang bukan-bukan meskipun,  keluarga Linda bukanlah keluarga yang suka menghakimi orang lain karena masa lalunya.

__ADS_1


Di saat makan siang ini, Tari kembali terisak setelah menceritakan kelamnya masa lalu. orang tua serta suami Linda pun hanya bisa menguatkan dengan kata'"sabar". Harus bagaimana lagi? Allah sedang memilih Tari untuk diberikan cobaan dan sudah pasti hanya Tari seorang diri yang harus menjalani cobaan itu. Namun, dukungan semangat dari keluarga Linda tak hentinya mengalir membuat Tari sedikit terhibur.


Di saat begini, Tari jadi ingat akan sosok ibunya, bibi Astuti dan keluarga yang lain. Ingin ia pulang, tapi belum sanggup untuk mengatakan banyak hal yang telah menimpanya. Bukan tidak rindu dengan wanita yang sudah melahirkannya masih banyak kata "tapi" yang membuat Tari mengurungkan niatnya untuk pulang, biarlah nanti menunggu waktu yang tepat.


Melihat wajah murung Tari, Linda mengusap punggung tangan Tari sambil berkata, " Ya udah, jangan terlalu dipikirin kasihan sama yang ada di dalam perut. Nanti ... kalau udah agak baikan kondisinya harus langsung kasih tau Rio, Tar."


Tari hanya menyahut singkat dengan raut yang tak meyakinkan.


"Enggak bisa kayak gini," batin Linda. Jikalau seperti ini, Linda akan bertindak bersama suaminya untuk menemui Rio yang ia tahu bekerja di mana karena dulu Tari sempat mengatakan identitas Rio secara lengkap, bukan ingin mencampuri urusan pribadi Tari, tapi lebih tepatnya memberi bantuan sebab, bila dilihat dari cara Tari bicara terlihat enggan untuk memberi tahu tentang kehamilannya pada Rio.


"Sebelum sore, kita sudah harus di sana, Mas. Takut Rio udah pulang nanti," imbuh Linda. "Mungkin bisa sekarang aja, Dek," saran Ali-suami Linda. Alhasil, tanpa membuang waktu keduanya pergi ke kantor di mana Rio adalah kepala pemimpin di sana, tanpa sepengetahuan Tari tentunya.


Didatangi tamu yang tak dikenal membuat Rio memandang heran dua orang yang sedang duduk di depannya. "Maaf, Bapak dan Ibu ini siapa, ya? Dan ada keperluan apa?" tanya Rio membuka pembicaraan. Linda agak segan untuk mengatakan niat mereka datang kemari, tapi ia pun tidak ingin membuang waktu hingga langsung bicara pada intinya. "Begini, Pak.  Aku adalah sahabat Tari dan Tari tinggal sama aku sekarang setelah keluar dari Lapas. Sebenarnya ... disini aku mau kasih tau hal yang penting banget mengenai Tari, Pak."


Tari? Ada kabar tentang Tari membuat kedua belah alis Rio bertaut. "Ada apa sama Tari?" tanya Rio.


"Tari hamil, Pak. Tari lagi mengandung anak Bapak."


Sungguh, mata Rio melebar nyaris keluar mendengar apa yang keluar dari mulut Linda. Lantas, apakah Rio akan mengakui janin yang sedang Tari kandung dan menemui mantan kekasihnya itu atau tak terima dan tidak mengakui janin yang sedang tari kandung adalah darah dagingnya?

__ADS_1


__ADS_2