
Yudha pantas membelalakan mata melihat mantan istrinya yang kini tampil berbeda. Tiada lagi jilbab yang menutupi kepala, gamis ataupun pakaian tertutup sudah berganti dengan mini dres ketat di atas lutut, benar-benar seperti bukan Mentari dan sejak kapan Tari ingin berdandan mencolok begitu? Lipstik merah saja dia anti.
"Mas!" Disikutnya Yudha hingga tersentak. Irene sedikit kesal melihat Yudha sedari tadi memandangi mantan istri yang sedang mengeluarkan suara indahnya. Yudha tersenyum tak nyaman, kemudian kembali fokus pada tamu-amu undangan yang datang silih berganti.
"Apa dia depresi?" Yudha membatin perihal mantan istri yang tetiba berubah drastis sebualan setelah bercerai.
Di atas panggung sana, Tari bernyanyi seraya menahan sebak di dada. Mati-matian ia menahan air mata agar tidak tumpah melihat mantan suaminya kini bersanding dengan wanita lain. Jujur saja, tidak mudah melepaskan rasa cinta yang sudah bersemayam di dalam hati, meski Yudha sudah menghancurkan tempat bersemayamnya cinta jutaan keping, bahkan tak berbentuk.
Sampai habis Tari melantunkan lagu, tapi bukan lagu cinta yang patah. Ia sengaja menyanyikan lagu yang pada akhrinya membuat kedua mempelai pengantin merasa tersindir.
Sudahlah, lupakan! Semuanya sudah berakhir sekarang lelaki brengsek macam Yudha sangat tak pantas dicintai, hanya Irene wanita bodoh yang rela mengambil sampah. Memang susah meyakinkan lalat bahwa bunga lebih harum dan indah dari pada sampah.
Tari selesai membawakan satu lagu, kini ia kembali turun dari pangung dengan wajah sumringah sampai Yudha berdecak kesal melihatnya.
"Kenapa pula dia kayaknya bahagia banget?" runtukan demi runtukan tak ayal keluar dalam hati Yudha sedari tadi.
Masalah menghibur mantan suami yang kini jadi pengantin baru sudah selesai. Rombongan pun kembali. Pulang-pulang Tari disambut oleh tawa haha hihi di dalam rumahnya, pintu yang terbuka lebar membuatnya nyelonong masuk dan suara tawa itu ternyata keluar dari mulut Marni dan kekasihnya.
"Assalamu'alaikum." Tari mengucap salam seraya melengos masuk ke kamar, ia memang tak suka dengan kekasih ibunya itu sampai detik ini yang Tari anggap sebagai parasit, kerjaannya hanya berhutang, meminjam uang atau minta dibelikan ini dan itu pada Marni. Memang ibunya juga yang bodoh, tetap ingin diperalat pria itu.
Di dalam kamar, Tari duduk di atas ranjang mengeluarkan dompet serta isinya. Kini, di tanganya ada lembaran uang ratusan ribu dari hasilnya menghibur di pernikahan mantan suami tadi.
__ADS_1
"Alhamdulillah," syukurnya. Itulah imbalan hasil pertama kali ia manggung. Melihat penghasilan pertamanya yang lebih dari cukup, rupanya Tari ketagihan mengemban pekerjaan sebagai biduan panggilan dan image buruk harus siap ia terima karena pakaian minim nan menggoda yang selalu ia pakai. Terserahlah! Di zaman masa kini, Tari tidak perlu memikirkan omongan orang lain yang akan membuat sakit kepala toh, selama tidak merugikan siapapun sah-sah saja. Penilaian orang ambil belakangan.
Terlena sudah. Suara yang bagus, body yang aduhai wajah ayu membuat Tari akhirnya tidak lagi jadi biduan panggilan, ia sudah jadi biduan tetap di sana bersama Evi dan dua kawan lainnya.
Melalang buana oregen tunggal itu, mereka disewa sana dan sini akibat biduan yang cantik nan menggoda.
Di Sabtu malam, mereka menunaikan pekerjaan yang didapat dari saudagar setempat. Saudagar itu tengah menikahkan anak bungsunya, pantaslah pesta pernikahan dilakukan selama dua hari dua malam. Senang bukan kepalang karena selama dua hari itu bayaran dilipat-gandakan oleh pemilik acara. Malam ini dompet Tari semakin tebal.
Sudah lewat tengah malam Tari pulang. Baru saja menginjakan kaki di dalam rumah, Tari mendengar suara dengkuran yang sangat keras semakin masuk ke dalam suara itu semakin jelas dan tampaklah Bandi tengah tidur di sofa lusuh yang ada di depan televisi.
"Gila! Lama-lama jadi tempat tinggal dia rumah ini!" Tari mengumpat pelan jangan sampai didengar oleh ibunya yang tidur di dalam kamar. Bisa saja rumah itu akan jadi tempat tinggal Bandi, bukankah pria itu adalah calon ayah tirinya?
Masuk ke kamar Tari langsung mengganti pakaiannya dengan piyama pendek, menghapus riasan, setelah itu duduk di atas ranjang seperti biasanya menghitung hasil pendapatannya malam ini disisihkannya uang itu untuk ditabung dan sisanya untuk keperluan sehari-hari. Malam yang kian larut membuat Tari perlahan mengantuk dan memilih untuk langsung tidur.
Namun tak lama, antara mimpi atau bukan ia merasakan ada sesuatu yang menggerayangi kakinya, semakin naik dan Tari sontak bangun ketika sentuhan itu perlahan menyusup dari bawah celana piyama pendek yang ia pakai.
Matanya melebar melihat Bandi sudah ada di atasnya.
"Kamu ... empph!" Dengan kuat Bandi membekap mulut Tari agar tidak berteriak. Apa yang akan dilakukan Bandi? Tentu saja bukan hal yang baik. Pakaian Tari yang selalu minim membuat Bandi saban waktu tergoda bila melihat tubuh molek dibalik dres ketat pendek.
"Emph!" Sembari berusaha mengeluarkan suara, Tari terus meronta supaya bisa lepas dari kungkungan pria tinggi hasrat itu. Tidak dapat menggauli ibunya, anaknya pun jadi. Sialnya, kesempatan ini memang sudah ditunggu oleh Bandi dan sekaranglah waktnya ketika Tari sedang tidur dan Marni sudah pergi ke rumah majikannya, wanita itu memang bekerja sebagai pembantu.
__ADS_1
Dalam keadaan Tari meronta, Bandi berhasil melepaskan atasan piyama yang Tari pakai hingga tampaklah buah sintal yang indah itu. Demi apapun, nasib Tari sangat nahas pagi ini. Tenaga yang sudah habis terkuras membuatnya harus menerima pelecehan yang dilakukan kekasih ibunya dengan berurai air mata. Pagi ini ia dilecehkan sampai dua kali, puas sudah Bandi menodai Tari.
Setelah puas menuntaskan hasrat, Bandi bangun dari atas tubuh Tari memakai semua pakaiannya kembali. Hasil kebejatannya berceceran di speri biru ranjang itu.
"Masih legit punya kamu, Neng," sindir Bandi. Tari bangun, meraih selimut menutupi tubuhnya, ia takut sampai menangis di sudut kamar. Takut karena Bandi mengarahkan pisau dapur ke arahnya. Tak sampai disitu kebejatan Bandi, ia mengambil uang hasil Tari menyanyi semalam dari dalam dompet tanpa sisa, setelah itu pergi entah ke mana, menjauh dan mengilang.
Satu jam setelah kejadian penodaan itu, Marni pulang dan mendengar suara tangisan anaknya dari dalam kamar. Seketika Marni masuk ke kamar, ia kaget bukan main melihat anaknya duduk bersandar menekuk kedua kaki hanya dengan selimut yang menutupi tubuh.
"Tari, kamu kenapa, Nak?" Marni pun menghambur memeluk anaknya.
"B-bandi, Bu. Bandi!" Kembali Tari meraung.
"Kenapa Bandi?" tanya Marni yang belum paham
"Bandi udah menodai aku, Bu! Dia udah menodai aku dan pergi bawa semua uangku!" Tari meraung sejadi-jadinya menumpahkan segala sesak dan sebak. Kenapa takdir seburuk ini?
Dengan mengatakannya Tari berharap bisa dapat perlindungan dari orang yang ia sayangi satu-satunya, tapi Marni justru menggeleng tidak percaya.
"Nggak mungkin, Tari! Bandi nggak mungkin kayak gitu!" sanggah Marni. Terkejutlah Tari atas reaksi ibunya sendiri.
"Nggak mungkin apa, Bu? Dia udah ...."
__ADS_1
"Kamu yang selalu berpakaian kayak wanita malam diluar ataupun di dalam rumah. Semua ini salah kamu, Tari! Salah kamu!"
Tidak tahu bagaimana lagi perasaan Tari sekarang. Masih basah luka yang Yudha torehkan, kini ia mendapat tindak pelecehan dan parahnya sang ibu justru menyalahkannya. Hancur Tari luar dalam.