Hijrahnya Mentari

Hijrahnya Mentari
Bukan Miliknya Seorang


__ADS_3

Bagaiamana mungkin takdir selucu ini, mempertemukan Yudha dan Tari dalam status yang sudah jauh berbeda. Kini, mantan istrinya itu telah jadi simpanan … istri kedua … argh! Yang jelas dia bukan wanita biasa sekarang. 


Di dalam mobil, Yudha bagai orang bodoh hanya diam mendengarkan percakapan antara mantan istri dan boss-nya itu, sesekali melirik mereka melalui kaca yang ada di dalam mobil. Benar-benar dijadikan supir pribadi.


"Pak, langsung ke apartemen, ya?" tanya Yudha.


Iya, awalnya akan langsung kembali ke apartemen, tapi Rio meralat niatnya itu. "Kita ke mall sebentar," pinta Rio. Sebagai bawahan Yudha hanya bisa menurut saja tanpa banyak protes, padahal dirinya sebentar lagi ingin menjemput Irene.


Selang beberapa menit, mobil berbelok ke mall dan berhenti di halaman cukup luas di depan gedung. 


"Pak, saya tunggu di mobil aja," imbuh Yudha. Rio hanya mengangguk dan Tari berekspresi benar-benar seperti orang yang tidak kenal. Menyebalkan melihatnya, tapi sudahlah! Kenapa pula Yudha merasa kesal dengan istri yang sudah ia buang?


"Mas, kamu mau beli apa?" tanya Tari. 


"Beliin kamu skincare, lihat muka kamu … kusam kayak gitu." 


Ada rasa malu yang terbesit tatkala mendengar Rio bicara begitu. Bukan dirinya tidak ingin merawat diri seperti orang-orang, tapi dana-lah yang menjadi masalah. Lagipula, beban dan masalah yang mendera memang membuat wajahnya tampak suram dan kusam, kuyu serta layu.


Tak hanya skincare yang Rio belikan, tapi juga beberapa pakaian, termasuk di antaranya pakaian dinas istri.


"Mas, kenapa beli ini?" Tari pun bertanya bagai orang bodoh.


"Buat siapa lagi? Buat kamulah, nggak mungkin buat istri aku, Tar. Dia udah bejibun yang kayak beginian." Rada jengkel melihat Tari yang sejak tadi seperti orang bodoh, bertanya untuk siapa dan apa semua barang-barang yang dibeli. 


Sementara di dalam mobil, Yudha tengah menunggu dengan ponsel yang tertempel di telinga, ia sedang berusaha membujuk Irene yang sudah merajuk karena sudah 30 menit berlalu Yudha belum datang menjemput.


"Sabar ya sayang, bentar lagi aku jemput, ya? Ini lagi nungguin Pak Rio soalnya," bujuknya pada Irene. Apa mau dikata Irene hanya bisa menunggu sampai Yudha menjemput ditemani rasa dongkol.

__ADS_1


Tak berapa lama, dua orang yang ditunggunya keluar dari mall. Wajah Tari tampak sumringah dengan menenteng beberapa papaer bag yang beriisi barang-barang yang tidak pernah didapatkannya dari Yudha dulu.


"Mas, makasih atas belanjaannya. Baru kali ini aku dibelanjaain kayak gini," ujar Tari yang sengaja mengatakan itu untuk menyindir orang yang duduk dibalik kemudi.


"Sama-sama. istri aku memang harus cantik dan dimanja."


Rasanya Yudha panas sekali, bukan karena melihat kemesraan keduanya, tapi kalimat bernada sindiran yang diucapakan Tari barusan.


"Pak, kita ke mana lagi? Bisa langsung pulang aja karena saya ingin jemput istri saya, dia udah lama nunggu," ujar Yudha.


Tari pun jadi berdecak mendengar Yudha mencemaskan gundiknya.


Maka , langsunglah Yudha melajukan mobil menuju apartemen. Setelah sampai, ia pamit singkat pada Rio dan kembali melaju pergi.


"Jijik banget aku lihat dia!" katanya sambil bergidik seorang diri. Entahlah, mungkin Yudha amnesia, padahal siapa yang lebih dulu main gila yang menyebabkan rumah tangganya bersama Tari harus kandas begitu saja.


"Mas, lama banget, sih?" Baru juga sampai Irene sudah melayangkan protesnya.


"Maaf sayang, tadi habis temani Pak Rio." Hanya dengan kata manis dan sedikit rayuan, Irene pun luluh. Yah begitulah tipe-tipe buaya rawa lihai dalam merayu dan menggoda.


D dalam apartemen, Tari sedang berdiri di depan kulkas besar. Ia memendangi dengan seksama isi di dalam kulkas itu yang lebih banyak minuman bersoda daripada bahan makanan.


"Ampun dah, isinya minuman semua!" Tari bermonolog.


"Ya iyalah, namanya juga bujangan." Rio tiba-tiba saja datang dan menyambung ucapan Tari seraya memeluknya dari belakang. Bujangan? Tari pun jadi terkekeh mendengarnya.


"Iya, bujangan anak satu. Terus, Mas nggak pernah masak?" tanya Tari tanpa melepaskan pelukan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Nggak pernah. Aku beli terus, sayangku.  Aku pula nggak bisa masak."


Tari mangut-mangut ketika apa yang dikatakan Rio benar adanya. 


"Kalau gitu kita ke market beli bahan-bahan, aku pengen masak buat malam ini, Mas," ujar Tari, tapi dijawab gidikan bahu oleh kekasihnya itu karena  Tari lupa bahwa mobil Rio sedang di tempat pencucian.


"Nggak usah ribet-ribet, kita makan di luar aja nanti. Kalau mau masak besok aja."Jikalau begini Tari menurut saja.


Alhasil, malam ini Tari kembali merasakan nikmatnya makan malam diluar setelah sekian lama. Masih berstatus sebagai istri Yudha bisa dihitung dengan jari pria itu mengajaknya makan romantis diluar, yang dilakukannya hanya kerja, pergi pagi pulang malam. Lebih tepatnya, sibuk menghabiskan waktu dengan sang selingkuhan.


"Kamu mau makan di mana?" tanya Rio ketika bingung harus mengajak Tari makan di mana. Tari tak ingin banyak tingkah dia ikut saja apa kata Rio. Jadilah mereka makan disebuah restoran Jepang yang ada di kawasan Jakarta pusat.


Sesampainya di sana, Rio dan Tari masuk. Mata bulat milik Tari tak hentinya melirik ke sana kemari kagum dengan desain restoran yang kental dengan budaya Jepang.


Wajah bahagia yang Tari tampilkan tak ayal membuat Rio ingin bertanya, "Kamu sering ke sini, ya?" Sayangnya Tari menggeleng.


"Berarti aku yang perama ngajak kamu ke sini ,'kan?" tambah Rio dan dijawab singkat oleh simpanannya itu. 


Kini mereka duduk berhadapan, saling menatap penuh arti. Tari berharap ada sesuatu yang menghentikan rasa canggung yang tercipta di antara mereka. Sebab, Tari jengah dipandangi seperti itu oleh Rio. Dan untunglah,  tiba-tiba ponsel Rio berdering sehingga membuat pandangannya teralihkan.


Tanpa sungkan ia menerima panggilan telepon yang tak lain dari istrinya sendiri.


"Sayang, kenapa baru telepon, biasanya sehari sampai tiga kali?"


Tari hanya diam dengan hati yang tiba-tiba diserang rasa tidak enak. Ia benar-benar merasa jadi wanita terjahat di dunia, tapi dibalik itu pun ada rasa sedih saat bukan hanya dirinya yang mendapatkan panggilan sayang. Nelangsa ketika menerima kenyataan bahwa tak hanya dirinya yang memiliki Yudha.


"Udahlah Tari, apa-apa itu nggak perlu pakai hati, biar nggak terbawa suasana yang nantinya sakit hati." Alhasil, Tari jadi menggumamkan kalimat itu dalam hatinya.

__ADS_1


Sekarang pikirkan saja tentang uang dan kesenangan cukup sudah menderita akhir-akhir ini. Nikmati, nikmati saja hidup selagi masih bisa dinikmati dan moto inilah yang akan ia terapkan kini setelah kebahagiaan serta hidupnya berhasil diporak-porandakan oleh suaminya dulu dan juga kekasih dari ibunya sendiri.


__ADS_2