
Tari bukan ingin berperasangka buruk, bukan pula ingin menuduh Yudha yang tidak-tidak, tapi siapa lagi yang akan masuk ke rumahnya mengambil surat itu? Tidak mungkin maling.
Diambilnya ponsel untuk menghubungi Yudha, tidak tahan ingin bertanya tentang dugaannya ini. Memang betul keterlaluan, tidak sekalipun Yudha menjawab panggilan telepon dari Tari.
"Buat apa dia bawa surat rumah tanpa ngomong sama aku?" Tari sampai bergumam bertanya pada dirinya sendiri. Untuk apalagi? Tari mulai berpikir yang tidak karuan jadinya.
Benar-benar banyak hal yang tak terduga yang dilakukan Yudha, kemarin-kemarin Tari sempat berpikir bahwa suaminya mengalami penyimpangan seksual sebab Yudha yang sepertinya lengket sekali dengan Randy, tapi semua itu hanya kedok untuk menutupi perselingkuhannya, supaya ia leluasa bertemu Irene menggunakan Randy sebagai alasan. Licik bukan?
Belum hilang sakit kepala akibat menangis seharian tadi, sekarang bertambah sakit gara-gara surat rumah yang mungkin sengaja Yudha bawa.
Tidak bisa begini. Tari mana mungkin diam saja, rumah dan mobil adalah harta milik bersama harta yang mereka dapatkan setelah menikah. Oleh sebab itu, Tari ingin menuntut hak daripadanya.
Keesokan harinya, sudah siap Tari untuk menemui Yudha yang sebenarnya ia pun tidak tahu di mana tinggalnya bersama Irene. Namun, ia tidak perlu khawatir masalah itu bisa diselesaikan dengan mudah, Tari bisa langsung menemui Yudha di kantornya atau menemui Irene saja di supermarket.
Baru memegang daun pintu terdengar suara deruman motor memasuki halaman. Dahi Tari mengerenyit, lalu ia mengintip dari jendela yang ada di samping pintu.
"Oh, Lia." Ia berdesis sembari membuka pintu.
"Lia, ada apa?" tanyanya pada Amalia yang berjalan mendekat.
"Aku khawatir sama kamu waktu dengar cerita Bi Astuti, Kak."
Sudah diduga bibi Astuti pasti akan mengadukan ini juga pada Amalia dan Tari pun tahu bahwa Amalia sebenarnya bukan hanya khawatir saja, ia ingin tahu lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi. Tari tidak marah, memang begitulah tabiat sepupunya itu.
"Aku baik-baik aja, Kok." Direntangkannya kedua tangan agar Amalia tahu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Padahal, Tari berusaha menyimpan semuanya dalam hati yang sudah hancur lebur itu.
"Kakak mau pergi ya?" tanya Amalia memastika karena melihat Tari sudah rapi begitu. Tari menyahut jujur bahwa dia akan menemui Yudha di kontrakan atau di kantor. Mendengarnya, Amalia sontak meminta Tari untuk mengajak dirinya.
"Boleh, asal jangan membuat onar," pinta Tari sebelum akhirnya mereka pergi. Karena tidak tahu di mana Yudha dan Irene tinggal maka, Tari berinisiatif untuk mendatangi Yudha di kantor, tapi sayang sekali, Yudha malah tidak masuk hari ini, katanya security.
Ya … Tari jadi kecewa, lalu bagaimana pula menemukan rumah kontrakan yang dihuni Irene dan Yudha?
__ADS_1
"Kak, kita langsung datang aja ke supermarket." Amalia memberi usul yang sangat bagus dan apakah Tari sanggup untuk bertemu Irene?
"Ayok Kak, kenapa malah diam? Kakak takut ketemu Irene?" singgung Amalia. Secepat kilat Tari menyanggah, "Bukan takut. Sanggup nggak aku lihat muka dia?"
"Terus, gimana nanti kalau ketemu mereka berdua secara langsung?"
Pusing akan pertanyaan Amalia, Tari pun menarik tangan Amalia pergi menuju supermarket. Kecewa harus kembali didapat ketika Irene juga tidak bekerja hari ini. Ada apakah gerangan dua manusia laknat itu kompak tidak bekerja?
"Mbak kenapa cari Irene?" tanya seorang gadis yang tak lain partner Irene bekerja.
"Ada perlu sedikit, kamu tahu rumahnya, nggak?" tanya Tari. Untung saja ada gadis itu yang langsung memberi tahu alamat rumah Irene.
Sedikit ragu Rea pun pergi ke tempat tinggal selingkuhan suaminya. Ia pergi bukan karena takut, melainkan takut dadanya kembali sesak melihat kebersamaan suaminya dengan wanita lain. Suami? Sudahlah Tari tidak akan menganggapnya suami lagi.
Setelah lumayan lama mencari sampailah mereka di sebuah rumah yang menurutnya lumayan besar dan bagus jika untuk sebuah kontrakan. Rumah itu sama sekali tidak terlihat seperti kontrakan.
"Kak, ini rumahnya." Amalia berdesis.
Wanita paruh baya itu mengangguk mantap seraya menyahut, "Iya, ini rumahnya Bu Irene."
Tidak salah lagi, Tari dan Amalia menghampiri pintu utama rumah itu, kemudian mengetuk tanpa ragu.
"Permisi!" Suara Amalia terdengar lantang berseru. Beberapa kali celingak-celinguk di depan rumah sembari berseru tak lama terbukalah pintu itu.
Jika bukan ingin menanyakan surat rumah, Tari sama sekali tidak ingin menampakan wajahnya di depan yudha atau melihat wajah suaminya itu. Hati yang sudah terluka semakin terluka melihat Yudha keluar bersama Irene dengan keadaan acak-acakan sehabis tidur.
"Tari?" Yudha maupun Irene kaget bukan main melihat Tari yang berdiri di ambang pintu.
"Mau ngapain kamu ke sini?" tanya Yudha dengan nada tak suka. Ck, Tari berdecak dalam hati mencibir dua orang di depannya. Bagaimana jika ia laporkan Yudha dan Irene pada ketua RT setempat dengan tuduhan kumpul kebo? Kerena keduanya memang belum mempunyai ikatan apapun selain sepasang kekasih tanpa status yang jelas.
Tapi sudahlah, tujuan Tari datang kemari bukan itu. Waktunya sangat berharga bila hanya dibuang untuk berlama-lama di rumah Yudha.
__ADS_1
"Mana surat rumah." Langsung dan tanpa basa-basi. Yudha pun terhenyak.
"Surat rumah yang mana?" Wajah gugup tidak bisa terelak dari wajah Yudha.
"Emang kamu punya berapa rumah, selain rumahku dan rumah dengan wanita ini, Bang?" sindirnya pedas.
"Ada sama aku, rumah itu mau aku jual dan kita akan bagi hasilnya," imbuh Yudha. Untuk yang satu ini mereka sepemikiran, Tari menyetujui niat Yudha ingin menjual rumah. Memang rumah itu harus dijual dan hasilnya dibagi dua agar tidak ada perselisihan tentang harta gono-gini.
"Aku tunggu itu, Bang!" tegas Tari. Setelah benar-benar lepas dari Yudha nanti, tidak ada yang akan diandalkan lagi untuk memenuhi kebutuhan hariannya oleh sebab itu, Tari ingin membuka usaha dari hasil uang jual rumah, tinggal berdua dan menghidupi ibunya juga.
Pada akhirnya menunggu rumah laku terjual, Tari menjalani proses sidang perceraiannya dengan Yudha. Benar-benar saling cinta sekali Yudha pada Irene sampai-sampai tidak pernah terlihat mereka berjalan sendiri-sendiri selalu saja berdua.
Untuk menenangkan pikiran yang kalut karena hancurnya rumah tangga, Tari memilih untuk pulang ke Solo tinggal bersama ibunya beberapa minggu. Dua minggu ditinggal ke Solo, rumah yang ia tinggali bersama Yudha dulu sudah hampir setengahnya digusur. Tari bingung, lantas mendekat dan bertanya pada operator alat berat yang masih duduk istirahat di sana, "Pak, ini kenapa digusur?"
"Udah diperintah dari Pak Indra, Neng," sahut orang itu. Nah, bisa ditarik kesimpulan bahwa rumah sudah terjual. Masalahnya, kenapa Yudha tidak memberi tahunya. Alhasil, Tari langsung mendatangi Yudha di kantor menanyakan tentang uang hasil penjualan rumah.
"Uangnya baru dibayar setengah, Tar. Kalau udah dibayar semua baru kita bagi dua." Begitulah kalimat terakhir kali yang Yudha katakan hingga kalimat itu sampai detik ini belum terbukti.
Tari sudah cukup sabar menunggu, sampai bosan mendengar alasan Yudha yang setiap hari ada-ada saja.
"Ini namanya penipuan, Bang! Kamu udah nipu aku, jangan main-main aku bisa laporin kamu kalau kayak gini!" ancam Tari. Yudha hanya menanggapi ancaman Tari dengan senyum mengejek dipikirnya ... Tari tidak akan mampu atau berani melaporkan. Namun, Tari sungguh-sungguh dengan ancamannya setelah tiga hari Yudha kembali hilang tanpa kabar tidak ada etikad baik untuk bertabayun maka, dengan senang hati Tari melaporkan mantan suaminya itu.
Namun, sungguh takdir sedang mempermainkannya. Laporan penipuan yang dilakukan Yudha justru tidak diproses oleh pihak kepolisian dengan berbagai alasan, tidak cukup buktilah dan sebagainya.
Tari marah, tapi ke mana lagi ia harus melayangkan rasa marahnya? Ke mana ia harus mengadu atas ketidak-adilan yang sedang menimpanya?
Dalam kabut malam, diderasnya hujan Tari berdiri di depan rumah Yudha. Orang memandangnya tidak waras karena berteriak malam-malam ditangah hujan lebat sampai suaranya kalah oleh deruan air hujan yang memecah keheningan malam itu.
Ke mana orang-orang yang mengaku punya hati dan perasaan? Ke mana orang-orang yang mengaku menjunjung tinggi hak kemanusiaan? Tidak satupun dari mereka merasa iba, lalu datang sekedar mengajaknya pulang dari depan rumah Yudha.
"Aku menuntut hakku, Yudha!" Mata meriak hangat, bergulir cairan bening bersama deraian air hujan. Ia menyuarakan rasa sakit di hati, tapi tidak ada satupun yang peduli. Hati Yudha membatu sama sekali tidak terketuk oleh jeritan pilu diluar sana, ia justru nyaman mengerang dan mendesah memadu kasih bersama Irene dalam dinginnya malam.
__ADS_1